7. Sang Pangeran

1080 Kata
Aku mengabaikan panggilan masuk dari nama itu, nama yang aku hindari tadi. Bagaimana mungkin aku menerima panggilannya setelah aku kabur darinya? "Kau selalu sendiri, Ze, nggak kesepian?" Seva bertanya dengan nada yang sama. Dia lalu tertawa rendah, seolah sendirinya aku adalah dosa. Aurel juga tertawa. Mereka bersulang seakan merayakan diamnya aku. "Sepi itu relatif," jawabku tenang. "Kadang yang duduk beramai ramai pun bisa merasa sendirian." Tawa mereka mereda sesaat. Para lelaki hanya diam. Kulihat tadi Bram berusaha untuk menenangkan istrinya, Seva, tapi wanita itu tidak mau mendengarkan, menipis kasar tangannya. Lalu Faisal, aku sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa dengan mudahnya dikendalikan seorang wanita. Padahal, alasan aku jatuh cinta padanya adalah karena dia begitu gentleman dan perhatian pada perempuan. Tapi sekarang? Rasanya mengecewakan. Kedua pria itu tidak ada yang berani menegur, apalagi membela. Itu membuat aku kesal dan ingin segera pergi saja dari sini. Seva dan Aurel kembali tertawa, kali ini lebih keras, lebih lepas dan aku sangat ingin membungkam mulut mereka yang masih saja meloloskan ejekan yang ditujukan padaku. Padahal, mereka sendiri tidak lebih dariku, membandingkan diri mereka sendiri bukanlah sama saja dengan bahwa kau kalah? Semakin lama percakapan mereka semakin membuat dadaku sesak. Tawa kecil itu, sindiran yang dibungkus perhatian palsu, semuanya menumpuk di kepalaku. Aku sudah tidak sabar ingin pergi. Duduk di meja ini terasa seperti sedang diuji kesabaranku sendiri. Ponselku bergetar di atas meja. Nama yang sama muncul di layar, Rheef. Tanpa pikir panjang, aku menerima panggilan itu. "Ya?" Suatu terdengar lebih tenang daripada yang aku rasakan. Dan aku merasakan perhatian mereka tertuju padaku. "Kau di mana?" Rheef bertanya dari sambungan. "Restoran dekat teater," jawabku singkat. "Kenapa?" Aku bertanya, terselip harapan dia akan datang atau setidaknya menunggu di luar agar aku punya alasan untuk pergi. "Aku di luar. Baru mau masuk," katanya. Dadaku berdebar secara tiba-tiba. Nyaris saja aku bersorak senang. Tapi aku memutuskan untuk tetap diam, tak mempedulikan tatapan ingin tahu yang lain. Aku mengangguk kecil kemudian berkata, "oh iya, aku tunggu. Datang saja." Sambungan pun dia matikan. Aku menunggu dengan tegang. Kira-kira apa yang akan terjadi? Aku kembali meletakan ponsel di meja. Seva melirikku dengan sorot dan senyum ingin tahu. Dia selalu begitu, kepo dengan urusanku, terutama soal pria. Aku harus berhati-hati kali ini. Aurel juga mencondongkan tubuh sedikit, seolah percakapan barusan menarik dan hiburan untuknya. "Siapa, Ze?" Seva bertanya ringan. "Seseorang," jawabku singkat, sok misterius. Seva memberengut. Belum sempat mereka menanggapi, pandanganku tertarik ke arah pintu restoran. Seorang pria masuk, langkahnya tenang, sorot matanya menyapu ruangan sejenak sebelum berhenti tepat ke arahku. Refleks aku mengangkat tangan, memberi tahu posisiku. Rheef berjalan mendekat tanpa ragu, lalu berhenti di meja kami. "Kau datang," sambutku dengan senyuman. Udara mendadak berubah. Aku mendongak, mengigit bibir gugur. Dia datang, si pangeran kesiangan akhirnya muncul jadi pahlawan. Aku bernapas lega. Aku belum sempat berdiri megkma Rheef justru menarik tangank, tegas, tanpa ragu. "Ayo pergi, Ze," katanya. "Eh, kok buru-buru? Duduk dulu, gabung aja sama kami," kata Seva cepat, bahkan terdengar antusias. Tatapannya jelas, terpesona dengan Rheef. Tapi Rheef tidak menoleh sedikitpun, sorot matanya hanya tertuju padaku, terlebih ketika dia menyadari ada sosok yang tidak asing di meja ini. Pandangan Rheef mengarah pada satu titik, Faisal. Udara seketika menegang. Aku bisa merasakannya. Faisal membalas tatapan itu, rahangnya mengeras, sorot matanya tak seramah tadi, dia juga tidak setenang tadi. Ingatan lama tiba-tiba muncul dalam benak, tentang perkelahian yang pernah terjadi antara Rheef dan Faisal yang entah karena apa alasan mereka berkelahi. Tapi itu cukup memperburuk suasana. Bram sandiri membeku. Dia tahu siapa Rheef. Tangannya yang memegang sendok berhenti di udara, dan menaruhnya kembali di piring. Dulu, sewaktu pacaran dengan Bram, Rheef pernah menemuiku yang sedang berkencan. Raut wajahnya tidak ramah, persis seperti sekarang. Si sisi lain, Aurel juga menatap Rheef penuh rasa ingin tahu, matanya bergerak cepat, membaca situasi yang jelas-jelas tidak nyaman. Aku tidak bisa menunggu lebih lama, atau sesuatu yang lebih buruk terjadi. Dengan gerakan cepat, aku meraih ranselku, lalu berdiri di sisi Rheef. Jantungku berdetak kencang, terlebih ketika kulihat kedua tangan Rheef mengepal erat pun dengan Faisal. "Maaf, aku harus pergi," kataku tersenyum tipis, berusaha untuk tetap sopan paksakan pada Faisal meski aku tidak tahu ada dendam apa antara dua pria ini. Aku meriah tangan Rheef, menggenggamnya erat. "Kekasihku sudah datang. Aku pergi dulu. Selamat tinggal." Dengan cepat berbalik, tanpa sadar kata itu meluncur dari mulutku. Dalam benakku hanya hanya satu, segera pergi dari sini membawa Rheef yang seperti siap untuk menghantamkan bogemnya ke wajah Faisal. Aku tidak peduli saat menyadari tatapan Rheef padaku, terasa begitu menusuk. Yang aku inginkan saat ini hanyalah pergi sejauh mungkin dari meja itu, dari orang-orang yang selalu ingin tahu urusanku dengan pria. Begitu kami keluar dari restoran, udara malam menyambut dengan dingin yang menusuk. Lampu jalanan mentulkan bayangan kami di trotoar basah. "Kau bawa mobil?" Aku bertanya tak sabar, tanpa menoleh padanya. "Iya, bawa," jawabnya. Dia berjalan lebih dulu, dan ternyata mobilnya tidak jauh dari tempat parkir restoran. "Baguslah. Aku masuk, dingin," katanya berdalih. Aku masuk ke mobilnya lebih dulu. Rheef menyusul kemudian dan duduk di balik kemudi. Aku hanya ingin segera pergi jadi aku memintanya untuk segera pergi. "Kau mau ke mana?" Dia bertanya. " Ke mana saja, tempat jauh, jauh dari mereka. Dari para parasit itu," kataku. Rheef hanya mengangguk. Dia mengemudi dengan tenang. Di dalam mobil hanya ada hening. Aku menolak ditanya, hanya ingin diam sambil memejamkan mata. "Kau tinggal di mana?" Aku bertanya tanpa membuka mata. Kepalaku mendadak sakit, tubuhku lelah. "Apartemen. Tidak jauh dari sini. Kau mau mampir?" Aku diam beberapa saat, berpikir untuk menerimanya atau tidak. "Ayo, ke apartemenmu saja. Aku sedang tidak ingin ke hotel," kataku akhirnya. "Oke. Bukan masalah," katanya. Mobil terus melaju, dan jarak antara aku dan malam yang melelahkan ini akhirnya mulai terbentang, aku bisa beristirahat, jauh dari gangguan, hanya ada satu orang yang mungkin harus aku hadapi, Rheef. Aku membuka mata ketika merasa mobil berhenti. Rheef tidak mengatakan apa-apa, hanya diam dan memperhatikan. "Sudah sampai," katanya ketika aku menoleh dan menatapnya. "Butuh bantuan?" "Tidak usah. Aku bisa sendiri." Tolakku. Dia mengangguk. Aku turun dari mobil. Lututku terasa lemas, entah karena capek, atau karena pertemuan hari ini yang penuh kejutan. "Biar aku bawa." Rheef mengambil alih tas ranselku, membawanya. Aku hanya diam saja, mengikuti langkah kakinya menuju lantai apartemen miliknya. Tapi, entah kenapa, dadaku tiba-tiba bergemuruh, terasa sesak saat aroma parfum mahalnya menyeruak. "Sial. Jangan." Aku membatin. Memejamkan mata. Aku tidak benci Rheef, tapi hadirnya kali ini berbeda, seakan membawa sesuatu, sebuah pengaruh yang begitu hangat dan sialnya, aku membutuhkan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN