Rasanya pagi datang terlalu cepat, bahkan hari berganti pun begitu cepat sampai aku tidak sadar bahwa kebersamaan dengannya usai. Aku harus kembali ke Morphile. Aku berdiri di depan pinter apartemen Rheef dengan ransel di punggung, koper di sampingku. Rheef membawakan barang-barangku dari hotel ke apartemennya. Udara pagi Engpile terasa dingin, tapi dadaku terasa lebih hangat dari semalam. Perjalanan menuju bandara kami lalui hampir tanpa kata, hening. Aku lebih suka menikmati kebersamaan ini, tapi bagaimanapun aku harus tahu diri. Kota masih belum ramai, seperti masih mengantuk, daun daun gugur berserakan di trotoar, seolah menunda kepergianku. Di area keberangkatan, aku berhenti melangkah. "Terima kasih," ucapku pelan. "Untuk apa?" Rheef bertanya dengan senyum jahilnya. Aku me

