Kembali ke rutinitas yang sama setiap harinya. Berangkat dari rumah jam tujuh lewat sepuluh , mengikuti apel pagi , memastikan stok gudang sesuai dengan catatan yang ada lalu menerima laporan pekerjaan dari petugas lapangan. Untuk memastikan tidak ada yang terlewat dari pengamatanku , saat berangkat kerja aku selalu melewati jalan utama untuk memantau kondisi taman yang berada di jalan utama , sedangkan untuk pulang aku akan mengambil jalur lain yang melewati Tugu makugawene yang berada di pertigaan.
Itu bukan pekerjaan utamaku , hanya kewajiban untuk selalu memantau kondisi taman kota yang di bagi sesuai rute perjalanan pulang. Tugasku kurang lebih sama dengan Mbak Dewi , mengurus pembebasan lahan dan anak lapangan.
membosankan memang tapi itulah hidup. so , enjoy it!
Gampang-gampang susah bukan?
gampangnya ya kalo lagi santai bisa drakor maraton seharian , susahnya itu ya siapkan telinga menerima bujuk rayu dan segala hasutan dari ibu-ibu rempong penggila bunga. Salah satunya Nyonya besar.
"El , itu bunga yang warnanya merah di depan kantor gubernur , bagus deh , rumayan kan buat di tanam di depan rumah"
Aku memutar bola mataku jengah.
"yaa kali Bu! Tugas aku tuh mengawasi lalu dokumentasi. Bagian tanam-menanam dan nyiram tuh bunga bukan urusan anaknya Ibu Mila yang cantik jelita ini. Lagian katanya Bos aku tuh lagi nyari bibit bunga lagi biar lebih berwarna katanya."
Ibu menatapku penuh semangat. selain koleksi tuperware , Ibu salah satu penggila bunga.
"Oh ya? emang lagi nyari bunga apa?"
"Nggak tau , kalo gak ketemu mungkin di ganti sama cabe rawit kali. Rumayan kan."
Jawabku santai
Ibu mendengus kesal dengan jawabanku.
"Ngawur kamu tuh! Bisa kacau kalo sepanjang taman di kota ini di tanami cabe rawit."
Aku tergelak dengan ekspresi muka ibu yang terlihat sedang membayangkan deretan cabe rawit di seluruh taman di kota ini.
• • •
"Hai! Adik abang yang paling unyu"
Bang Fariz yang baru datang langsung mengapit leherku seperti biasanya.
"Ih abang! Kebiasan deh". Aku mengendus kesal sambil memukul lengannya yang mengapitku.
Bang Faris ini anak dari sahabat papa yang udah di anggap saudara. Sejak SD Bang Faris sudah di tugaskan khusus untuk menjagaku dari kaum Adam. Entah sudah berapa banyak kaum Adam yang di hempaskan secara paksa oleh Bang Faris.
Masih teringat jelas di ingatanku , bagaimana Bang Faris dengan otak liciknya memanfaatkan temen-temennya yang kebetulan sedang patroli di dekat rumah. Bang Faris menjemputku di Warnet dengan mobil polisi lengkap dengan bunyi sirine menambah keyakinanku bahwa saat ini aku benar-benar sedang di grebek hanya karna telat pulang ke rumah.
Mobil polisi yang terparkir tepat di depan pintu , tepat dalam arti ban mobil polisi itu hampir menyentuh keset bertuliskan welcome milik Warnet, di ikuti dengan turunnya dua anggota polres berseragam dinas lengkap yang langsung menyeretku keluar , sedangkan Bang Fariz masih asik menertawakan ekspresi mukaku yang sebelas duabelas dengan PSK abis kena razia. Pemandangan tak lazim itu di tonton oleh puluhan penghuni warnet dan berhasil menjadi trending topic di kampusku. Kegembiraanku menjadi anak kuliah sirna sudah , nyatanya tidak ada kelonggaran dalam bentuk apapun yang menyangkut ijin jalan malam. Gila kan? Anak kuliahan loh! Ke warnet doang udah kayak buronan.
Pernah protes? Pernah! Sering malah.
Mulai dari protes secara halus , ngegas , ngotot sampe ngesot juga percuma.
Dari SD sampe kuliah , hanya satu kaum Adam yang bisa dekat , keluar masuk rumah bahkan makan sepiring berdua denganku. Dia adalah Rifal , saking nempelnya kita , dia pernah di bujuk ibu buat operasi ganti kelamin di thailand hahaha. Rifal itu tipe sahabat yang cara menjaganya beda tipis sama Bang Faris , tapi dalam versi yang lebih manusiawi dan berjiwa simbiosis mutualisme.
Uang jajanku sebulan pernah habis karna nyogok dia , setelah dia berhasil membawaku keluar dari rumah , memberiku kesempatan jalan berdua dengan gebetan tanpa sepengetahuan Bang Faris.
"Demi Tuhan Elena, kehidupanmu di masalalu benar-benar menjyjykan"