Bab 9

715 Kata
Berbekal tampang memelas dan rengekan penuh drama , akhirnya aku berhasil menyeret Gita dari ruang kerjanya dan Rifal yang terpaksa membatalkan janji nonton sama pacarnya.  Hahaha! and here we are now.  "Tumben lo ngajak ke klub?" Rifal menatapku penuh tanya setelah selesai meneguk birnya. "Palingan juga lagi galau dia , kayak gak tau aja sih lo". Gita melirik Rifal dan melemparnya dengan kulit kacang. "Masih?" Rifal menatapku serius Aku menghembuskan napasku kasar , lalu menatapnya dengan senyuman yang ku paksakan. "Nggak gitu juga , gue lagi otw move on kok."  Rifal dan Gita menatapku jengah , aku tau kedua mahluk yang berada di hadapanku saat ini ingin mengumpatku yang terlalu lemot untuk bangkit dari segala keterpurukanku. "Lagian ya , gue heran aja sama lo. Dari dulu ngajakin kesini kerjaan lo cuma duduk berjam-jam disini. Gak ada yang lebih drama dari ini ya Na?" Tanya Rifal yang saat ini asik mengunyah kacangnya. And fyi again , hanya orang-orang terdekat yang akan memanggilku Nana. "Yah gimana dong! dengan duduk disini dan mengamati orang-orang yang asik joget , mabuk sampe lupa diri dan orang yang gak saling kenal bisa ciuman di toilet tu menurut gue Moodboster banget" "Anjir!" Gita melempariku dengan kulit kacang. "Wah , fix! Otak lo perlu di sedot!" Rifal yang ikutan Gita melempariku dengan kulit kacang. Inilah alasannya kenapa aku lebih memilih ke tempat seperti ini dari pada menyendiri di pantai atau di kamar. Yang ada otakku makin sakit , bisa-bisa terpengaruh sama ajakan setan buat gantung diri di pohon tauge. OH NO! Aku terlalu cantik untuk mati sia-sia hanya karna patah hati. • • • "Cari makan yuk!" Ajakku kepada Rifal dan Gita "Mcd aja!" Ajak Rifal yang langsung masuk ke mobilnya. "Oke!" Sahutku dan Gita bersamaan. Setelah memarkirkan mobilnya , aku dan Gita langsung masuk ke dalam Mall meninggalkan Rifal yang sibuk berdebat panjang lebar dengan ponsel yang tengah menempel di telinganya. Dari perdebatan yang sengaja ku dengar , sepertinya Rifal sedang berdebat dengan seseorang yang dia telpon , siapa lagi kalau bukan pacarnya. And fyi , hal itu udah sering terjadi dan mungkin akan terus terjadi hingga aku dan Gita yakin bahwa Rifal telah menemukan orang yang tepat untuknya. Saat itulah aku dan Gita akan benar-benar menjadi sahabat yang baik , dalam arti aku dan Gita akan berhenti merecoki hidupnya Rifal yang selalu berakhir dengan dia yang di putuskan pas lagi sayang-sayangnya.  Sesuai dengan kesepakatan bersama , kita gak akan mengorbankan persahabatan yang udah terjalin bertahun-tahun ini hanya untuk seseorang yang hanya mampir di hidup kita dan belum tentu berakhir di pelaminan. Tau kan maksut aku? Kita gak akan saling menjauh , mengesampingkan keperdulian kita kepada sahabat hanya karna pacar yang belum tentu jodoh ngambek karna ngerasa kita lebih memprioritaskan sahabat. Contohnya kayak aku yang lebih memilih nemenin Rifal di Rumah sakit pas di sakit tifus dan ninggalin Aby yang saat itu ngajak ketemuan setelah dua bulan lamanya kita gak ketemu. Dan Gita yang mutusin pacarnya setelah pacarnya itu mengajukan pertanyaan bodoh 'kamu pilih aku atau Rifal?' . Padahal Gita sayang banget sama tuh cowok , tapi dia lebih milih Rifal yang saat itu terbaring di Rumah sakit. "Berantem?" Tanyaku setelah melihat Rifal meletakan ponselnya di meja tempat kami duduk. Rifal mengangguk dengan wajah memelas. "Iya nih! Gara-gara lo sih kampret." "Eh nyantai dong! Pacar ini bukan istri kan?" Tanya Gita "Tau tuh!" aku ikut mengompori Gita yang terlihat kesal. "Susah sih ngomong sama jomblo ngenes" ujar Rifal dengan nada putus asa "What?" Tanyaku setengah teriak Teriakanku membuat Rifal meringis menutup kedua telinganya. "Gila ya lo! Itu mulut apa toa sih?" Di saat kalian lagi berusaha melupakan seseorang dan sedang dalam proses move on Dan ini setan dengan seenak jidatnya ngatain jomblo ngenes. Kan bangke! "Gi! Bantuin gue" rengekku sambil menggoyang-goyangkan tangan Gita "Enaknya di apain?" Tanya Gita yang langsung menggulung lengan kemejanya. "Sleding aja Gi , atau lo cabut deh paku di kepalanya".  Jawabku asal tapi aku lupa bahwa Gita akan selalu melakukan apa yang aku suruh. "Lo pikir gue kuntilanak? Akh...aaaaakk!" Teriak Rifal histeris sambil berusaha melepaskan tangan Gita yang mengapit lehernya. "Gila ya lo! Gi tenaga lo udah kayak preman tanah abang". Ujar Rifal bersungut-sungut. Aku tidak bisa menahan tawaku lagi , aku benar-benar merindukan saat-saat seperti ini. Kedua mahluk astral bernama sahabat ini benar-benar moodboster-ku. "Nana..." Deg! "Elena kan?" Tanyanya memastikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN