1. PROLOG
Nayna terbangun dari tidurnya saat mendengar kegaduhan di dalam rumahnya.
Meski hal itu tak berlangsung lama.
Bocah perempuan berumur lima tahun itu bangkit dari tempat tidur, dia berjalan menuju ruang tamu, sepi.
Lalu, Nayna berjalan hendak masuk ke dalam kamar sang Bunda yang ternyata pintunya terbuka meski hanya sedikit.
Seperti biasa, Nayna mengintip terlebih dahulu ke dalam kamar itu sebelum dia masuk. Sebab, Nayna pernah satu kali menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar itu dan dilihatnya sang Bunda sedang bersama Papahnya tidur saling tindih tapi tidak memakai baju. Entah apa yang sedang mereka lakukan, Nayna tidak tahu, tapi sejak saat itu, Nayna tak berani lagi menerobos masuk malam-malam ke dalam kamar Bunda dan Papahnya. Nayna takut Papahnya akan marah.
Jadilah Nayna hanya mengintip dari ambang pintu itu.
Suara-suara aneh sempat tertangkap oleh indra pendengaran Nayna.
Dan bola mata makhluk mungil itu terbelalak kaget saat dilihatnya sosok lain yang tak dia kenal sedang duduk menindih kaki sang Bunda yang tidur dalam posisi telentang di atas tempat tidur. Sepertinya kedua kaki dan tangan sang Bunda telah diikat.
Karena posisi orang asing itu membelakanginya, Nayna jadi tidak bisa menangkap wajahnya. Tapi, dari rambut panjang orang asing itu yang tergerai, Nayna bisa menebak kalau orang asing itu adalah perempuan.
Nayna mendorong pintu itu sedikit supaya bisa melihat lebih jelas.
Bocah itu pun menyaksikan apa yang tak seharusnya dia saksikan dari balik pintu itu.
Detik-detik dimana sang Ibundanya meregang nyawa dengan cara yang begitu mengenaskan.
Nayna tergugu diambang pintu itu dengan deraian air matanya yang mengalir dan rasa takut yang berkecamuk dibenaknya. Kaki anak itu gemetar. Bibirnya pucat pasi. Nayna benar-benar ketakutan.
"Bunda..." gumam Nayna lirih untuk ke sekian kalinya.
Sialnya suara Nayna kali ini, berhasil di tangkap oleh si pembunuh.
Nayna terkesiap saat tiba-tiba orang asing itu menoleh tepat ke arahnya.
Detik itu juga Nayna berlari ke tempat persembunyiannya.
Bocah itu menangis dengan mulutnya yang dia bekap dengan sangat kencang.
Bayangan tubuh Ibunya yang tak bergerak dengan wajah yang basah oleh air mata, mulut yang menganga serta ke dua bola mata yang melotot ditambah aliran darah yang keluar dari dalam mulut sang Ibunda. Darah berwarna hitam kental itu meleleh dan mengotori seprai tempat tidur. Semua hal mengerikan itu terus terbayang-bayang dalam ingatan Nayna.
Hingga pada saatnya, bocah itu justru kehilangan kesadaran disertai satu bisikan lirih yang keluar dari mulut mungilnya.
"Bunda... Jangan pergi..."