Pagi hari yang cerah, Nathan sudah siap dengan kendaraan sporty beroda duanya. Sebuah kawasaki ninja 250 CC berwarna dasar hitam dan putih yang berhasil dia dapatkan dari pasar gelap, dimana barang-barang bagus dan oke punya bisa di dapatkan dengan harga yang terjangkau.
Dengan sedikit modif sana-sini dan pembuatan plat palsu, motor hasil curian itu berhasil di sulap hingga berubah drastis dari wujud aslinya.
Pemuda itu sesekali melirik ke arah kaca spion untuk memastikan bahwa penampilannya sudah oke. Sebab, hari ini, Nathan di beri mandat oleh sang kekasih untuk mengantar Joyce ke kampus. Dan menjadi sebuah kesempatan emas bagi Nathan untuk berdekatan dengan Joyce, kapan lagi? Kesempatan tidak akan datang dua kali, jadi dia harus memanfaatkannya sedemikian rupa. Pikirnya membatin.
Dari kejauhan, Nathan melihat Joyce melangkah menuruni tangga rusun. Seperti biasa, gadis itu selalu tersenyum manis pada setiap orang yang dia jumpai. Menyapa dengan ramah, bahkan sesekali terlihat bercanda dengan bocah-bocah penghuni rusun yang berseliweran ke sana kemari. Tatapan Nathan sama sekali tak teralihkan. Baginya, menatap Joyce itu sama sekali tidak membosankan.
Tawa cerianya, lirikan genitnya, serta bahasa tubuhnya yang begitu energik dan periang, membuat Nathan kian dirasuki rasa penasaran terhadap sosok Joyce.
Langkah Joyce terhenti saat dia keluar dari pintu masuk utama rusun, tepatnya saat ke dua manik hitam matanya menangkap sosok Nathan yang sedang bertengger manis bersama motor balapnya di jalan setapak gang rusunnya.
"Pagi, Joyce," sapa Nathan dengan mempersembahkan senyuman termanis yang dia miliki.
Joyce tersenyum tipis. "Pagi," sahutnya. "Lo ngapain di sini?" tanya Joyce heran. Bukankah semalam, dia sudah mengatakan pada Jovan bahwa dia tidak mau di antar ke kampus oleh Nathan?
"Mau jemput lo. Jovan yang suruh, biar irit ongkos katanya," jawab Nathan apa adanya. Padahal dia tahu kalau Jovan sudah membatalkan perintahnya itu, sayangnya Nathan memilih untuk berpura-pura tidak tahu kalau Jovan membatalkannya. Jelas, dia tak ingin kehilangan kesempatan berharga ini.
"Hm... Gimana ya?" Joyce jadi garuk-garuk kepala.
Gimana nolaknya nih? Males banget gue naik motor sama dia! Gerutu Joyce dalam hati.
"Yaudah kita berangkat sekarang aja? Nanti kamu telat lagi, nih helmnya,"
Joyce mendengkus. Dia tidak memiliki alasan yang tepat untuk menolak. Jadilah Joyce terpaksa menuruti ajakan Nathan. Di pakainya helm yang Nathan berikan padanya dan duduk dengan gusar di atas motor itu.
"Pegangan ya," seru Nathan memberi komando, sebelum akhirnya dia pun melajukan motor itu dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sebagai seorang laki-laki Nathan tau kelemahan seorang wanita. Apalagi ini bukan kali pertama dia boncengan motor dengan Joyce. Rasanya, Nathan sudah sangat tidak sabar merasakan ke dua tangan Joyce melingkar di perutnya serta tubuh Joyce yang menempel begitu erat dengan tubuhnya. Sensasi itu tak terbayang nikmatnya. Getaran itu tak mampu dia pungkiri lagi. Joyce membuat dirinya lupa pada statusnya saat ini.
Persetan dengan semua itu, yang Nathan tau, dia bahagia jika sudah bersama Joyce.
Nih cowok! Mancing banget ya? Lo pikir gue takut apa sama aksi kebut-kebutan tengil lo ini! Kalo aja, gue ini nggak harus melulu di tuntut untuk menjadi orang lain di depan orang banyak, lo pasti bakal mati kutu ngedepin gue! Dasar cowok gatel! Inget woy, lo itu pacar Kakak gue!
Keluh Joyce dalam hati, saat tangan Nathan menarik lebih jauh tangan Joyce untuk mendekat.
Joyce semakin mempererat pelukannya dan terus berpura-pura berteriak ketakutan saat Nathan kian menggila di jalanan. Gairah pemuda itu dalam memacu motornya semakin tak terbendung saat dia merasakan dekapan hangat Joyce di punggungnya.
Saat itu, jalanan memang masih lengang, dan semua itu memuluskan aksi Nathan untuk terus memacu kendaraanya dengan kecepatan maksimum. Seolah dirinya adalah sang raja penguasa jalanan.
Sebuah Honda CBR merah melesat dengan kekuatan full, mendahului kendaraan Nathan. Deru bising mesin knalpotnya terdengar memekik telinga.
Sialan! Berani-beraninya tuh motor ngeduluin gue! Maki Nathan geram, merasa tersaingi. Dia pun memacu kawasaki ninjanya semakin gila-gilaan.
Sang pemilik Honda CBR itu menoleh sekilas saat kendaraan Nathan kembali mendahuluinya bahkan dengan cara yang begitu kurang ajar. Nathan mengacungkan jari tengahnya pada si pemilik Honda CBR itu saat dia berhasil mengungguli kembali jalanan di sepanjang jalur Kuningan-pancoran yang kini mereka lalui.
Merasa tertantang, sang pemilik Honda CBR itu pun mengikuti permainan yang dimulai oleh Nathan.
Dia menambah kecepatan laju motornya dan...
Suiiinggg....
Kendaraan itu melesat bak sebuah peluru tak bermata. Tak terlihat. Dan tak tertandingi. Kecepatannya seperti kilat yang menyambar di langit. Dalam kedipan mata, Honda CBR itu berhasil mengungguli Nathan kembali.
Jadilah di pagi hari yang kian cerah itu, sebuah aksi kebut-kebutan tengil telah dilakukan dua pemuda tak dikenal.
Jalanan yang lengang dan sepi menjadikan mereka semakin tertantang untuk berlomba satu sama lain demi memenangkan harga diri.
Hingga pada akhirnya, sebuah kampus yang menjadi tujuan mereka tengah jadi saksi bisu bahwa sang pemilik Honda CBR itu memang lebih hebat dari Nathan.
Ke dua motor itu kini terparkir berdampingan di sebuah lahan parkir luas di kampus IBM.
Kampusnya Joyce.
Sang pemilik Honda CBR itu membuka helm full facenya dan tersenyum miring ke arah Nathan yang juga tengah membuka helmnya saat itu.
Nathan menatap tajam dan bengis ke arah laki-laki itu.
Tanpa pernah mereka ketahui, bahwa ada seseorang yang begitu terkejut saat dia melihat wajah dibalik helm, si pemilik Honda CBR itu.
Itukan? Cowok yang udah gue rampok duitnya di ATM sama bang Rojak? Aduh, mampus! Jadi, dia kuliah di sini juga?
Keluh batin Joyce yang terkejut setengah mati. Seperti melihat hantu di siang bolong, Joyce bahkan tak berani membuka helmnya saat itu. Dia takut pemuda si pemilik honda CBR itu mengenalinya.
Joyce benar-benar mati kutu!
Ragu, Joyce turun dari atas motor Nathan.
Tanpa mengatakan terima kasih, Joyce langsung kabur dari parkiran itu menuju kampus. Nathan hanya dibuat melongo oleh tingkah aneh Joyce saat itu yang bahkan membawa kabur helmnya.
"Eh, Joy... Joyce?" panggil Nathan tanpa sedikit pun digubris oleh Joyce. "Kenapa sih dia? Buru-buru banget!" umpatnya terheran-heran.
Si pemilik Honda CBR itu masih di sana. Sedang membuka jaket kulit yang dipakainya, saat tiba-tiba sebuah suara tertangkap oleh indra pendengarannya.
"Lo kuliah di sini juga?" tanya Nathan pada laki-laki itu.
Lelaki berkemeja putih itu menoleh, dilihatnya Nathan kini berdiri persis di belakangnya. "Gue baru mau daftar," jawabnya santai.
"Oh... Anak baru?"
"Ya, begitulah,"
"Lo anak genk motor mana?" tanya Nathan lagi, merasa penasaran. Dari kelihaian lelaki itu memacu motornya di jalanan, Nathan yakin dia bukan laki-laki biasa.
Lelaki itu tersenyum kecut. "Gue nggak suka gabung-gabung sama yang begituan, buang-buang waktu,"
Sialan! Belagu banget nih orang! Pikir Nathan.
Merasa terhina karena telah kalah dalam aksi balapan dadakannya tadi, Nathan pun tertantang untuk mengajak lelaki itu berduel.
"Gue tantang lo balap motor nanti malem di jalan baru siliwangi, kalo lo emang laki-laki sejati, lo pasti dateng!"
Dan lelaki si pemilik Honda CBR itu pun tertegun.