POV Hanna Tatapan

1689 Kata
Selesai menikmati hidangan mewah yang tersedia untuk para tamu undangan, Ken mengajak aku pulang. Namun, sebelum itu kami menemui keluarga Sanjaya dan berpamitan terlebih dahulu pada sang tuan hotel sekaligus pemilik acara itu. Aku masih bersikap tenang seperti biasanya, meskipun jantungku sudah tidak bisa lagi di ajak bekerja sama, ketika mata itu terus menatap intens kearah ku. "Om Sanjaya!" Ken menyapa laki - laki paruh baya yang terlihat sangat sangat berwibawa malam ini, dan aku masih berdiri di belakangnya seperti para sekretaris pada umumnya. Jangan ditanyakan lagi dimana laki - laki yang sejak tadi mengganggu pikiranku. Karena saat ini, dia berdiri tepat dihadapan Ken, bersama seorang wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik di usianya yang tidak lagi muda. "Nak Ken, bagaimana menikmati pestanya?" Tanya Sanjaya. "Luar biasa, Saya sangat menikmatinya. Terimaksih untuk acar yang luar biasa ini." Jawab Kendrik. " Kami mau izin pamit pulang, Om." Lanjutnya "Oh iya nak, baiklah. Sampaikan salam ku pada Ayah dan Ibu mu." Jawab Sanjaya "Mam ini Kendrik, putra dari Bramantyo dan Dokter Indira. Ingatkan?" Sanjaya menoleh ke arah wanita anggun yang sedang memeluk lengan putranya. "Dan ini sekretaris pribadinya-Hana." Imbuhnya, memperkenalkan aku dan Ken pada istrinya. "Hai, Nak Ken. Hallo Nona, Hana. Senang bertemu kalian." Wanita paruh baya yang tidak kalah cantik dengan wanita-wanita lain yang berada dalam ruangan itu, mengulurkan tangannya ke arahku dan Ken, bergantian. Aku pun menyambutnya dengan senyum terbaikku. "Senang bertemu denganmu juga, Nyonya." Jawabku, sambil menyambut uluran tangannya. "Tante, panggil saja tante Mira. Kata Aroon, kamu adik Kendrik yang merangkap jadi sekretaris. Jadi panggil tante saja, sama seperti Ken." Ujar wanita itu lagi, dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Aku menoleh, melihat kearah Kendrik, dan yah, seperti biasanya dia akan terlihat tidak senang ketika orang lain membicarakan aku. Namin, aku sangat mengerti itu, karena bukan kali ini saja laki-laki yang berkedudukan seperti Aroon, sengaja mengusik kehidupanku. Setelah selesai bebasa basi dengan keluarga Sanjaya sekaligus pemilik acara, Kendrik berbalik melangkah meuju ke arah pintu keluar aula hotel mewah itu tanpa sepatah katapun Dan aku hanya bisa mengikutinya dari belakang dengan diam. Beberapa saat melangkah melewati kerumunan, tiba-tiba telapak tanganku terasa hangat. Aku langsung menundukkan pandanganku, menoleh ke arah tangan ku yang kini sedang digenggam dengan erat. Jangan tanya lagi siapa yang begitu lancang melakukannya. Yah, laki-laki yang membuat jantungku berdetak hebat malam ini, sedang menggenggam tanganku dengan begitu erat. Dan anehnya, aku membiarkan saja hal itu terjadi. Aku menikmati kehangatan sentuhan tangan laki-laki itu di jemariku. Aku hanya menatap khawatir pada laki-laki yang ada di hadapanku, yang kini terus melangkah menuju pintu keluar. Setelah genggaman hangat itu terlepas, ada secarik kertas terselip di telapak tanganku. namun aku belum berani melihat apa itu. Aku mengangkat kepalaku, melihat tubuh yang tadi sedang melangkah tepat disampingku, kini sudah berdiri mematung di belakang. Melihat tubuhku yang mulai berlalu, menjauh dari tempatnya berdiri. Seejenak, [andangan kami bertemu. Tidak ada senyum jahil mengesalkan yang selalu dia tunjukan padaku dan Ken di dalam ruangan tadi. Tatapan kali ini seperti memohon, namun, aku belum tahu apa yang dia inginkan dariku. Dan lebih aneh lagi, aku berharap dia akan menahanku lebih lama dalam genggaman tangannya yang terasa sangat hangat dan nyaman itu. "Ayolah sadarlah, Hanna. Jangan seperti ini. Aroon Sanjaya bukanlah bagian dari impian yang akan kau tuju. Tetaplah berjalan di arah yang seharusnya sesuai rencanamu, jangan berbelok ketempat yang mungkin suatu hari nanti akan membuatmu semakin menyesali pengorbanan harga dirimu beberapa tahun lalu!" Logiku ingin mengajak sang hati yang sudah mulai berbelok arah dan tidak ingin lagi di ajak kerja sama. Aku menarik nafasku pelan agar laki - laki yang sedang berjalan tepat di depanku tidak menyadari kegundahan hatiku malam ini. Aku hanya ingin secepatnya sampai di apartemenku dan membersihkan tubuh serta pikiranku yang mulai tersentuh kembali oleh laki-laki yang sudah lama hilang dari ingatan ku. "Hana, biar aku yang akan mengantarmu ke apartemen." Suara Kendrik kembali menyadarkan aku dari lamunan. Tanpa suara, aku segera merogoh tas mahal kecilku, lalu mengambil kunci mobil yang aku simpan di dalamsana. Tidak lupa pula, aku memasukkan secarik kertas yang di berikan Arron tadi, dan menyimpannya di dalam tas kecil ku itu. Tiba di pelataran hotel, aku dan Ken langsung masuk ke dalam mobil dan mobil yang kini di kendarai Ken, mulai melaju meninggalkan bangunan megah dengan puluhan lantai itu. "Kau terlihat lelah. Istirahatlah Hana. Aku akan membangunkanmu jika kota sudah sampai di Apartemen." Suara Kendrik kembali memecah keheningan di dalam mobil. "Tidak apa-apa, Ken. Aku hanya duduk tadi. Padahal aku masih bisa membawa mobil dan mengantarmu sampai rumah malam ini dan kembali menjemputmu besok." Jawabku Kendrik tersenyum hangat, lalu menggeleng. "Istirahatlah malam ini. Besok hari minggu aku akan menjemput Nania dan Flora di Bali, jadi kamu tidak perlu ke kantor kecuali jika ada hal yang mendesak. Aku akan memberitahu mu. Ujar Kendrik, dan aku mengangguk paham. "Baikalah." Jawabku singkat. Biasanya meskipun hari minggu aku tetap harus ke kantor bersama Kendrik. "Dan satu lagi, jangan memikirkan si kampret itu. Jika dia mengganggumu menjauhlah, atau beritahu padaku. Biar aku yang akan menghabisinya." Kali ini, suara Kendrik terdengar tegas dan tidak main-main. " Ini perintah, Hanna. aku tidak suka kamu dekat dengan orang seperti dia." Sambungnya. "Tapi kenapa, Ken? Apa Arron pernah bermasalah?" Tanyaku "Tidak, Tapi aku ingin kamu bertemu dengan laki-laki yang biasa - biasa saja, sederhana dan baik seperti dirimu, membangun sebuah keluarga kecil dan hidup dengan bahagia." Jawab Ken membuatku terdiam. "Jika memilih hidup dengan orang-orang seperti kami, kamu tidak akan pernah merasa nyaman dan tenang." Lanjutnya lagi, membuatku terharu. Dengan mata yang berkaca aku menoleh, mentap lekat laki - laki yang masih terus berkonsentrasi dengan kemudi di tangannya, namun, terus berceloteh seperti seorang ibu yang sedang memperingati putrinya untuk berhati-hati dalam memilih pasangan pasangan hidup. "Kamu tahu, mungkin Aroon benar - benar menginginkanmu, aku melihat itu dari cara dia menatapmu. Aku rasa itu bukanlah masalah besar. Yang aku khawatirkan adalah, jika nanti kalian menjalin hubungan, dan tidak mendapat restu dari keluarganya. Kamu tahu, Hana. Pak Sanjayab terkenal nekat dengan segala tindakannya. Aku tidak ingin kamu terluka. Dan yang membuatku semakin takut adalah kolega bisnis mereka, karena jika kamu sudah masuk di dalam kehidupan Aroon, itu berarti kamu akan siap masuk ke dalam dunia bisnis. Semua rekan bisnis mereka akan mempertanyakan kehidupan kamu, dan aku menyukai hal seperti itu." Jelas Ken panjang lebar "Ken." Panggilku. Aku menatapnya lekat tanpa berkata apapun. "Ada apa, Hana?" Tanyanya saat melihatku hanya diam. "Kamu seperti ibuku saja. Tapi terimakasih, Ken." Ucapku tulus, lalu segera memutuskan tatapan kami. Aku kembali menunduk, melihat jemariku yang saling bertautan. "Terimaksih untuk kamu dan Nia. Aku tidak tahu akan seperti apa hidupku tanpa kalian berdua, Ken. Aku sangat menyayangi." imbuhku, lirih "Baiklah gadis kuat, kita sudah sampai." Ujar Kendrik sambil tersenyum meledek seperti biasanya. Ia menepuk pelan puncak kepalaku karena tidak menyadari mobil yang dia kendarai, sudah terparkir di depan Apartemenku. "Jika hanya ingin berteman, bukanlah masalah besar, Hanna. Menambah satu teman lagi dalam hidupmu tidaklah masalah. Aku hanya ingin kamu tetap menjaga hati dan juga harga dirimu. Aku tahu, sangat sulit menolak pesona laki - laki seperti Aroon. Bahkan mungkin, di luar sana ada banyak wanita yang rela memberikan tubuh mereka secara percuma pada seorang Arron, dan aku tidak ingin kamu menjadi salah satu dari mereka." Kalimat Kendrik terdengar lirih namun menakutkan bagiku. Bagaimana jika Kendrik tahu apa yang sudah aku perbuat dengan harga diriku beberapa tahun lalu, meskipun itu tidak percuma karena Aroon membayarnya dengan sangat mahal. Namun, tetap saja, aku tidak bisa membayangkan kemarahan Nania dan Kendrik jika mengetahui hal itu. "Tentu saja, Ken!" Aku mencoba setenang mungkin menepis ketakutan ku. " Tidak ada orang lain yang lebih mengenal ku. selain kau dan Nia. Aroon bukanlah bagian dari impian ku, kamu sangat tahu hal apa yang aku inginkan di masa depanku nanti. Dan kini saatnya aku keluar dari mobilmu boss, hati-hati di jalan!" sambil tersenyum riang dan mengejek, aku keluar dari dalam mobil mewah milik Kendrik, membuat laki-laki itu ikut tertawa. "Cih, kau selalu saja seperti itu, Hana." Ucap Ken masih dengan senyum hangat di bibirnya. "Sampaikan salam sayang penuh cinta untuk keponakan ku ya." Pintaku sambil membungkuk di kaca jendela mobil setelah keluar dari dalam mobil mewah itu. Ken mengangguk dan terlihat senyum lega setelah mendengar kalimat panjang lebar yang tentu saja tidak sesuai dengan isi hatiku. Aku berdiri sambil melambaikan tangan padanya. Setela mobil itu tidak lagi terlihat oleh pandanganku barulah aku melangkah meninggalkan pelataran dan masuk kedalam lobi Apartemen. "Selamat malam, Hanna." Seorang penjaga keamanan, menyapaku. "Selamat malam, Pak." Jawabku ramah. "Saya ke atas ya, Pak." Pamitku. "Iya, Neng." Jawabnya Aku tersenyum sopan padanya, lalu melangkah masuk kedalam lift yang kemudian mulai bergerak membawaku menuju lantai dimana apartemen ku berada. Sampai di depan pintu apartemenku aku menekan beberapa digit angka untuk membuka unit yang sudah dua tahun ini aku tempati. Aku memebelinya dengan gajiku selama setahun, tidak setahun juga sih karena masih banyak digit yang tersisa di rekening pribadiku. aku sangat jarang menggunakannya, bukan tidak ingin namun tidak punya waktu bersenang-senang dengan hasil kerjaku. Tempat yang paling ingin aku tuju saat ini adalah kamar. Setelah tiba di ruangan mewah itu, aku langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak hanya tubuhku yang ingin aku bersihkan, tetapi juga isi kepala ku yang mulai dihuni oleh laki-laki yang mulai mengganggu akal sehatku. Hanya berendam sebentar di dalam bathtub yang berisi air hangat serta busa sabun yang bercampur aroma terapi. Setelah merasa lebih segar, aku berdiri di bawa aliran air shower dan membersihkan busa sabun yang masih menempel di tubuhku. Setelah merasa jauh lebiih segar, aku segera meraih bathrobe dan handuk kecil yang tersedia di sana, lalu membungkus tubuh dan rambut panjangku dengan dua kain halus berwarna putih itu. Walk In Closet menjadi tujuanku saat ini. Mencari dress tipid favoritku, kemudian mengenakannya. Rambut panjangku masih terbungkus handuk kecil berwarna putih. Mendudukkan tubuhku di atas tempat duduk yang ada di depan meja rias. Melirik sebentar tas kecil yang aku gunakan tadi. Hati ingin sekali memeriksa sexarik kertas yang aku sembunyikan di sana, namun, akal sehatku tidak ingin melakukan hal yang tidak berguna itu. "Sialan kamu, Hanna!" Makiku pada diri sendiri sambil meraih tas kecil dan mencari kertas yang ada di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN