Suara halus sayatan daging antara garpu dan pisau yang menjadi menu utama malam ini sangat berkesan bagi Nana, bagaimana tidak setelah sekian lama menunggu, dengan sendirinya laki-laki itu mengajaknya untuk berkencan, dan seperti janjinya kini mereka resmi berpacaran. “ada apa? Kenapa kau senyum begitu” tanya Ali menukar piringnya yang sudah ia potong pada milik Nana. “aku bahagia akhirnya bisa menjadi pacarmu, penantianku selama ini berjalan sesuai harapan” ujar perempuan itu tersenyum manis “memangnya kau tidak mempermasalahkan dua reputasiku? Pertama aku seorang duda dan yang kedua aku dikelilingi wanita cantik?” “tau dan aku tak perduli” jawab Nana dengan cengiran yang memperlihatkan dua lesung pipinya. “baiklah, tapi yang pasti kau jangan merasa tersakiti, dan aku juga mau berte

