Perintah Mutlak

1139 Kata
‘DRRTT DRRTTT’ Ponsel Julia bergetar di atas meja, yang berada di sebelah kiri ranjang, lalu mulai berbunyi menandakan alarm sudah menyala. Julia masih nyenyak dalam tidurnya mulai terbangun, ia merasakan sebuah lengan kekar melingkari pinggang nya. Julia perlahan meregangkan tubuhnya namun ia sedikit kesulitan karena tubuhnya terhimpit, padahal kasurnya ini cukup besar. Awalnya ia mengira ini mimpi, tapi dalam keadaan mata masih terpejam, Julia meraba lengan kekar itu, nyata. Terasa sedikit kasar kulitnya, dan sedang mendekap pinggangnya erat. Seketika matanya terbuka, ia langsung berbalik dan melihat, Ravi sedang tertidur lelap sambil memeluknya. Guling pembatas itu entah kemana, sekarang sudah tidak ada jarak yang memisahkan mereka. Sial, aku lupa dia menginap di sini. Ia memperhatikan Ravi yang sedang terpejam itu, kalau sedang seperti ini pria itu tampak ramah, seperti remaja. Tapi jika sedang tersadar, tatapan matanya itu cukup tajam dengan wajah maskulin yang mendukung, awal bertemu bahkan Julia mengira pria itu akan memarahinya. Namun wajah judes nya itu hanya pajangan saja, sikap nya benar-benar baik dan lembut kepada Julia. Dia sangat gentleman, itulah alasan Julia shock kemarin, kalau orang seperti Ravi yang ia sangka tidak akan merahasiakan apapun dari nya justru merahasiakan hal yang sangat besar. Julia perlahan menggeser tubuh nya lalu bangkit, gadis itu mau tidak mau melintasi tubuh Ravi yang berada di ranjang bagian sebelah kiri. Ia mematikan alarm ponselnya yang menyala di jam empat pagi. Ravi bergerak, ia menarik kembali Julia untuk berbaring setelah alarm di ponsel Julia berhenti berdering. Gadis itu terkejut dengan perlakuan Ravi yang sangat spontan, pria itu masih belum membuka matanya sementara Julia sedang menatapnya dengan sengit. “Tidur lagi sayang, ini masih terlalu pagi,” ucap Ravi yang masih terpejam. Pria itu kembali memeluk Julia seolah menjadikan gadis itu guling, Julia menghela napasnya malas. Ketika kulit mereka bersentuhan, Julia sedikit tersentak bukan karena sensasi yang berbeda, tapi ia jadi bisa merasakan suhu tubuh Ravi yang sebenarnya. “Panas,” gumamnya, ia menjadi khawatir pada pria yang semalam nekat berdiam satu jam lebih di bawah guyuran deras nya air hujan demi di terima permohonan maaf nya. Seketika Julia langsung memeriksa dahi Ravi, mengecek suhu tubuhnya apa benar pria itu demam. Ravi mendesah pelan, menepis tangan Julia. “Ravi, badan kamu panas, kamu demam,” ucap Julia pelan, seraya menyentuh lagi dahi pria itu. “Hmm.. kan sudah ku bilang semalam Julia, kalau aku pasti demam,” ucap Ravi yang masih enggan bangun. Julia menghela napasnya, ia membenarkan posisi selimut Ravi dan bangkit dari kasur, pria itu sempat menahan nya tapi Julia menepisnya. “Aku mau ambil plester penurun demam, nanti kalau sudah jam tujuh pagi baru kita ke dokter,” ucap Julia. Ravi langsung membuka matanya, ia menahan tangan Julia, “tidak perlu, aku hanya perlu obat penurun demam, pasti sembuh. Sekarang aku lebih membutuhkan mu di sampingku.” Mata pria itu terlihat memerah, ia sedang demam tinggi dan Julia tidak mungkin hanya memberinya paracetamol bukan? Julia memutar mata nya, menepis tangan Ravi dan tetap keluar dari kamarnya untuk mencari obat. Pintu kamar Julia kembali tertutup, menyisakan Ravi yang tersenyum sendiri. Akhirnya, aku bisa terus bersama Julia. … Julia mencari obat penurun demam dan juga plester penurun demam yang biasa ia gunakan, ia berada di depan kotak P3K yang ada di dapur. Taddeo sudah bangun, pria itu menguap lebar dan menghampiri Julia. “Gimana Pak Ravi semalam?” tanya Taddeo, pria itu melangkah melewati Julia untuk menyalakan penghangat air, ia biasa menyeduh kopi dan juga bersiap untuk membuat sarapan seperti biasa untuk mereka berdua. Julia menoleh sekilas, “aku pinjam baju mu kak, Ravi sedang demam dan dia tidur di kamarku,” jawab Julia dengan polosnya yang langsung membuat Taddeo merasa jantungnya melompat keluar. Pria itu langsung melotot pada Julia, ia sudah bersiap akan mengeluarkan jurus seribu bahasa kemarahan sang kakak. “Jul, aduh, Julia, kamu ini gimana sih?!” “Kak, kasihan kalau dia pulang semalam dia hampir kena hipotermia! Lalu sekarang dia demam.” Julia membela dirinya sendiri sebelum Taddeo marah. “Tapi kan itu salah kalian yang bertengkar, bukan berarti dia boleh menginap di sini apalagi di kamar kamu!” “Kak! Maka nya kalau tidur kamarnya jangan di kunci, ini kan salah Kakak juga,” ucap Julia tak kalah sengit. “Tapi Julia, dia itu bos kita…” Taddeo mendesah frustasi. Julia menatap sang kakak acuh tak acuh, “tapi dia pacarku Kak.” Gadis itu membawa segelas air dan juga obat-obatan untuk Ravi, ia mendelik kesal pada Taddeo dan langsung kembali ke kamarnya lagi untuk memberikan obat pada Ravi. Taddeo menghela napasnya dalam-dalam, tidak habis pikir dengan Julia dan CEO nya yang mungkin cinta mati pada adiknya itu. Dalam hati, Taddeo sebenarnya senang, Julia sudah move on dari Seano dan lagi, gadis itu mendapatkan hati seorang CEO tapi sekarang ia harus bagaimana sebagai kakak? Ayah Taddeo menikahi ibu Julia saat usia Taddeo menginjak dua belas tahun dan Julia saat itu baru empat tahun. Lalu kedua orang tua mereka meninggal dalam kebakaran besar, bersama seluruh keluarga besar mereka yang tak sempat melarikan diri. Saat itu Taddeo sudah berusia Sembilan belas tahun dan Julia sepuluh tahun, mereka sedang bermain di tepi pantai saat kejadian di villa keluarga, mereka harus hidup berdua saja tanpa harta yang tersisa, hanya tanah kosong yang di huni puing-puing sisa kebakaran yang sampai saat ini masih belum mereka berdua jual. Harta keluarganya yang lain, sudah habis di pakai biaya hidup selama ini dan juga untuk mempertahankan rumah sederhana ini. Namun sekarang, mereka berdua juga sudah bukan remaja lagi, Taddeo suatu saat akan menikah dan ia harus melepaskan Julia juga, bukankah harusnya Taddeo senang ada yang menyayangi Julia seperti dirinya? “Ah sial, aku jadi harus membuat sarapan lebih banyak dari biasanya kalau begini, mereka yang berantem kok jadi aku yang repot.” … Julia akhirnya pasrah, hari ini ia izin tidak masuk kerja karena CEO nya masih demam dan bergelung di kamar Julia seharian, di ajak ke dokter tidak mau dan hanya ingin tidur sambil memeluk Julia yang sudah kepanasan. Suhu tubuh Ravi masih belum turun, Julia sendiri sudah berpesan jika nanti sore saat Taddeo pulang Ravi masih demam, maka mereka akan membawa paksa pria ini ke rumah sakit. Lama-lama demam nya bisa menular dan Julia tidak mau hal itu terjadi, meskipun Ravi pemilik perusahaan itu adalah kekasihnya, tapi Julia masuk ke sana murni karena lolos seleksi sebelum mengenal Ravi. Ravi sendiri sudah mengakui kalau hasil wawancara Julia tidak ada sangkut paut dengan nya sedikit pun meski ia tahu Julia melamar pekerjaan ke kantornya. “Sayang, kamu harus tinggal bersama ku, di rumah ku ya,” ucap Ravi tiba-tiba membuat Julia menyentil dahi pria itu. “Semudah itu kamu mengajak aku tinggal bersama,” ucap Julia judes. Ravi menyeringai kecil, tatapan pria itu masih sayu, tubuh nya bergelung tepat di samping Julia dengan setengah memeluknya. “Aku bukan mengajak, tapi itu perintah mutlak.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN