Satu Kamar Yang Sama

1125 Kata
“Tidak akan,” jawab Julia singkat, ia melepas genggaman tangan Ravi dan segera mencuci piring dan gelas yang sudah selesai di gunakan Ravi. Pria itu hanya bisa menatap Julia dari belakang, melihat gadis itu mencuci piring memunggunginya seperti itu membuat nya mendapat ide yang lebih gila lagi dari pada hujan-hujanan tadi. Ravi beranjak dari kursinya, berjalan mendekati Julia lalu berdiri tepat di belakang gadis itu dan tangan kekar itu langsung melingkari pinggang ramping Julia dari belakang. Ravi memeluk gadis itu hingga Julia mematung di tempat karena terkejut. “Rav, kamu ngapain sih?!” seru Julia, tangan nya masih basah, memegang spons cuci piring yang berbusa. Ravi menghembuskan napasnya tepat di leher bagian belakang Julia yang membuat gadis itu merinding hebat, lalu pria itu menaruh dagunya tepat pada bahu kanan Julia. Julia segera menyelesaikan cuci piring nya, ia tidak bisa melepaskan Ravi sekarang, atau piring dan gelas itu akan pecah. Setelah selesai Julia mencoba melepaskan Ravi yang memeluknya dari belakang namun ia kalah tenaga. “Ravi!” Julia memanggilnya dengan suara yang terdengar frustasi. Pelukan di pinggang itu kini berpindah, Ravi melingkarkan lengan di antara d**a dan leher Julia, sedangkan posisi kepalanya masih sama meski ia harus sedikit membungkuk karena tinggi Julia jauh di bawahnya. “Julia aku mohon, setidaknya dengarkan dulu alasanku, jika menurutmu tidak masuk akal dan tidak bisa kamu terima, barulah kita benar-benar berpisah,” ucap Ravi, kali ini suaranya juga terdengar putus asa. Julia tidak tahu kalau Ravi yang saat ini sedang berakting atau sungguhan. Hening menyelimuti mereka, hanya terdengar degupan jantung dan hembusan napas yang saling bersahutan dalam keheningan malam. Memang benar, apa yang akan berubah jika Julia tahu sejak awal kalau Ravi dan Seano ternyata bersahabat dekat? Tidak ada. Tapi Julia bisa menolak Ravi sejak awal, ada pilihan lain sebelum ia bisa menerima cinta pria itu agar tidak jatuh ke dalam nya. Tangan Julia mulai menyentuh tangan Ravi yang melingkari lehernya dengan longgar, kehadiran Ravi memang menyembuhkan rasa sakit di tinggalkan oleh Seano dan Julia juga tidak menampik hal tersebut. Hanya saja, hatinya masih sedikit berat dengan fakta itu. Julia menghembuskan napas nya kasar, akhirnya ia melepaskan perlahan pelukan Ravi itu, berbalik menghadap pria itu. Ravi masih menatap Julia dengan penuh harap kalau wanita itu akan memaafkan nya. Namun ternyata hal yang terjadi selanjutnya membuat pria itu terkejut, Julia memeluknya, ia menenggalamkan wajahnya pada d**a bidang Ravi. Dengan hati yang menghangat, Ravi mendekap gadis itu erat. Mereka bertahan dalam posisi itu beberapa saat, hingga akhirnya Julia mendongak, menatap wajah tampan yang lebih tinggi darinya itu. “Aku memaafkanmu,” bisik Julia, “tapi aku masih marah padamu.” Ravi tersenyum tipis, tangan kekarnya memegang pipi ranum Julia dengan lembut, kemudian ia mencium gadis itu tepat pada bibirnya. Ciuman lembut yang membuat Julia kaget, namun sesaat setelahnya matanya ikut terpejam menikmatinya. Kecupan demi kecupan Ravi lakukan, lembut, membuat Julia terbuai. Perlahan tangan Julia mengalung pada leher Ravi sebagai topangan tubuhnya. Sementara Ravi, satu tangannya memegang pinggang gadis itu dan yang satunya lagi menekan tengkuknya. Mereka saling menginginkan satu sama lain, namun Julia masih berpegang teguh pada gengsi dan amarahnya. Akhirnya ciuman itu terhenti karena mereka membutuhkan pasokan oksigen, sebelum hawa semakin panas, Julia mendorong Ravi pelan. “Kita harus segera tidur, besok kita kerja,” ucap Julia pada Ravi. Pria itu tak suka mendengarnya, lagi pula ia ini CEO, banyak hal bisa di lakukan olehnya. “Aku kemungkinan akan demam, kau bisa izin sakit juga,” ucap Ravi kemudian pria itu mendekati Julia lagi namun gadis itu mendorongnya. “Kita harus tidur, Ravi.” “Tidak mau.” “Ravi!” Julia akhirnya menyeret pria itu untuk ikut bersamanya ke dalam kamarnya. Julia tidak sadar kalau perlakuan nya itu menguntungkan Ravi dan juga membuat pria itu tersenyum begitu lebar. Kasur untungnya cukup luas, bukan tipe single. Gadis itu bahkan mengunci pintu kamarnya. Ravi mengambil posisi di sisi kiri dan Julia pada sisi kanan, merapat menghadap tembok. Gadis itu membatasi kasur dengan guling, barulah ia berbaring memunggungi Ravi. Ravi senang meski hanya begini, walau ia sangat ingin memeluk Julia saat ini tapi Ravi tahu kalau gadis itu akan mengamuk jika ia melakukannya. Namun, Ravi sendiri tahu kalau Julia hanya pura-pura tidur. “Aku tidak tahu kamu sudah tidur atau belum, tapi ada hal yang harus kamu tahu tentang ku,” ucap Ravi, suaranya memang pelan, sengaja, tapi ia berharap Julia mendegarnya. Gadis itu memang masih terjaga, matanya masih terbuka dan ia menanti Ravi untuk terus berbicara. “Semuanya, berawal dari beberapa tahun lalu saat kamu lulus SMA, aku yakin kamu juga tidak ingat kalau kita pernah bertemu,” Ravi bergeser sedikit, ia memiringkan tubuhnya menghadap Julia yang masih memunggungi nya. “Saat itu Seano meminta ku untuk datang ke acara kelulusan kamu, di sana kamu sangat cantik, senyuaman mu benar-benar indah dan saat itulah aku sadar kalau aku jatuh cinta pada kekasih sahabatku sendiri.” Julia terkejut mendengarnya, sekarang ia mengerti mengapa Ravi terasa familiar, ternyata memang mereka pernah bertemu sebelumnya. “Selama itu aku memperhatikan kamu, Julia. Aku memendamnya dalam diam hingga akhirnya aku merasa memiliki kesempatan untuk merebut kamu dari Seano, ketika dia tiba-tiba meninggalkan… kamu,” lanjut Ravi, setiap ucapan nya terdengar tulus, tatapan pria itu sendiri sarat makna pada Julia. Perlahan tangan pria itu terulur, membelai lembut rambut Julia dari ujung kepala. “Ternyata Seano tahu kalau selama ini aku menyukai kamu, dan dia membiarkan aku mendekati kamu. Secara ajaib kita bertemu seperti takdir pada malam adik ku bertunangan, aku merasa itu adalah kesempatan terbaik yang tidak bisa aku lewatkan demi bisa mendapatkan kamu,” ucap Ravi. Julia masih mendengarkan nya, ia menanti pria itu. Hatinya tersentuh, tentu saja, ternyata selama itu Ravi mencintainya dalam diam. “Kalau kamu merasa sakit hati karena tahu aku adalah sahabat Seano, itu wajar, semua orang pasti akan merasakan salah paham yang sama, tapi aku mencintaimu dengan caraku sendiri selama bertahun-tahun ini hingga akhirnya aku bisa mendapatkan mu sekarang.” Ravi menanti Julia merespon, pria itu masih setia mengusap rambut Julia. Julia menarik napasnya dalam, ruangan yang hangat ini terasa jadi lebih hangat setelah pengakuan Ravi yang begitu menyentuh hati Julia. Jika harus memilih antara berpisah atau tidak, maka Julia sekarang akan memilih tidak, hati nya tidak bisa berbohong kalau ia masih ingin bersama dengan Ravi yang tidak meninggalkan nya seperti Seano. Julia akhirnya berbalik menghadap pria itu, Ravi yang sedang bersidekap seketika terkejut, namun hatinya jadi lebih lega. Gadis itu mendengarkan semua penjelasan nya sejak tadi. Mata Julia yang indah menatapnya dengan lembut dan mencari kejujuran pada pandangan Ravi terhadapnya, mereka saling menyelami satu sama lain dalam keheningan untuk beberapa saat. Tangan Ravi kembali terulur, ia membelai lembut pipi Julia dan merapikan anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya. “Berjanjilah, janji kalau kamu tidak akan mengkhianati hubungan ini, Rav.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN