Tidur Di Rumahnya

1162 Kata
Julia segera keluar dari kamarnya, ia membawa handuk yang besar. Gadis itu berlari keluar dari rumahnya menuju halaman depan dimana Ravi sedang berdiri sambil memeluk dirinya sendiri dalam keadaan menggigil. Julia langsung melingkarkan handuk itu dan memeluk Ravi, berharap pria itu baik-baik saja dan merasakan sedikit kehangatan dari tubuhnya. Gemetar, menggigil, gigi Ravi bergemelutuk, saling beradu antara atas dan bawah karena sebadan-badannya dingin. Julia bukan hanya memeluknya semata, tapi juga mengusap tubuhnya dengan handuk itu agar sebagian darinya kering. “Bodoh, buat apa kamu menyiksa dirimu sendiri?!” Tatapan Julia sengit pada Ravi, rasa kesal dan khawatir bercampur, untuk sejenak Julia melupakan kalau dirinya sedang membenci pria itu. “Karena aku mencintai mu, Julia.” Pria itu masih bisa tersenyum dengan wajah pucatnya itu. Jawaban itu bukannya membuat Julia senang, namun membuat gadis itu semakin kesal, “kamu ini gila ya?” “Ya, aku gila karenamu, Julia.” Bisik Ravi dengan suara yang pelan dan tak bertenaga. Julia melepas pelukannya, ia kemudian menuntun Ravi untuk masuk ke dalam rumahnya, Julia menyiapkan air hangat untuk pria itu mandi sebentar. Gadis itu mendorongnya ke kamar mandi, sementara Ravi membersihkan dirinya dengan air hangat, Julia mempersiapkan pakaian untuk pria itu. Ia meminjam baju Taddeo yang ada di gudang, yang kemarin baru selesai Taddeo cuci dan setrika dengan rapi. Mau bagaimana lagi, Julia tidak mungkin meminjamkan pakaiannya pada Ravi dan juga kakaknya itu sudah tertidur lelap dengan kondisi kamarnya terkunci rapat. Kemudian Julia berlari ke dapur, menyiapkan teh hangat dan beberapa kudapan yang ia miliki di rumah. “Julia, aku tidak punya baju ganti,” suara Ravi terdengar dari dalam kamar mandi, pria itu sedikit berteriak. Julia menggantungkan totebag yang berisi baju untuk Ravi dan juga handuk tambahan, “aku sudah menggantungkan tas berisi pakaian, pakailah untuk sementara.” Ravi dengan spontan membuka pintu kamar mandi, Julia nyaris menjerit melihat Ravi yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya saja. Tubuh atletis itu terpampang dengan jelas, Julia segera mengambil totebag berisi pakaian itu lalu melemparkannya pada Ravi. “Dasar m***m, pakai baju sana!” Julia kembali berlari ke dapur dengan wajah yang memanas, ia tidak menyangka akan melihat Ravi dalam kondisi seperti itu. Ini benar-benar gila! Ravi kenapa semenggoda itu? Julia merasa bersalah, dan juga canggung, pria itu sekarang mau tidak mau harus ia tawari untuk menginap di rumahnya tapi tidur dimana dia? Tidak mungkin kan Julia membiarkan pria itu tidur di sofa ruang tamu, dia akan kedinginan meskipun memakai selimut. Julia memang masih marah pada Ravi tapi melihat pria itu dalam kondisi menyedihkan membuatnya bersimpati. Tentu saja, sedikitnya ada rasa takut kalau pria itu terkena hipotermia, karena suhu malam sangat dingin di tambah hujan deras. Ravi menghampiri Julia ke dapur, pria itu memakai kaos dan celana pendek milik Taddeo yang sangat ketat pada badannya. Tentu saja, Ravi itu sepertinya rajin berolahraga sehingga otot-otot itu kencang dan membuat badan nya besar. Julia duduk di depan meja makan, di sana sudah tersedia roti bakar yang baru saja di buat oleh gadis itu dengan secangkir teh hangat untuk Ravi. Pria itu mendekati Julia, bohong jika Julia sudah tidak menyukainya hanya karena menangkap basah kalau Ravi berteman dengan Seano, gadis itu sudah terlanjur menyukai Ravi. Tangan Ravi terulur menyentuh pipinya, Julia memegangnya. Dingin. Ravi menatap Julia masih dengan tatapan yang sama, lembut dan penuh kesedihan, membuat Julia sendiri bingung dengan apa yang harus ia lakukan ke depan nya. “Kenapa kamu nekat begitu sih?” akhirnya Julia memecah keheningan itu. Ravi menghela napasnya sejenak, kemudian ia menarik kursi agar bisa berhadapan dengan Julia dalam jarak yang dekat, pria itu duduk di sana. “Aku akan melakukan cara apapun agar kamu mau mendengarkan alasanku, mendengarkan kebenaran yang seharusnya kamu ketahui,” jawab Ravi, tatapan serius kali ini. Julia berpaling, kemudian ia menepis tangan Ravi, ia menarik piring yang berisi kudapan dan juga mendekatkan gelas berisi teh hangat itu. “Makan dan minumlah dulu, aku sedang tidak ingin membahasnya sekarang,” ucap Julia, gadis itu masih enggan menatap Ravi lama-lama. Ravi mencondongkan tubuhnya tiba-tiba, lalu pria itu mengecup pipi Julia singkat. Sebelum Julia berbalik ke arahnya, Ravi segera menjauh dan menyesap teh buatan Julia. Ia membiarkan gadis itu tersipu malu dan melotot padanya, lagi pula mana mungkin Ravi bisa tahan untuk diam saja saat sedang berduaan seperti ini dengan Julia? Hasratnya mulai menggebu, ingin menyentuh gadisnya lebih dari ini. Bisa di bilang, Ravi bukan hanya jatuh cinta pada Julia, tapi ia tergila-gila dengan segalanya tentang gadis itu yang selalu mengganggu pikiran nya. Untuk mendapatkan Julia pun ia harus menunggu bertahun-tahun, dan selama itu juga ia menahan hasrat cinta nya. “Julia,” Ravi memanggilnya dengan suara khas nya yang menggoda. Berat dan penuh kharisma. Gadis itu menoleh, melihat Ravi saat ini dengan rambut setengah basah membuatnya menelan ludah dengan berat. Sangat menggoda. Sial. “Kenapa?” tanya Julia dengan nada sedikit judes. Ravi menghela napasnya sejenak, “aku boleh pulang?” tanya Ravi. “Tidak! Ehm, engga, maksud aku ini sudah malam, baju kamu itu masih basah dan kamu kan pinjam bajunya Tad,” jawab Julia, gadis itu tiba-tiba jadi salah tingkah. Ravi tersenyum, “jadi… apakah aku harus menginap?” pria itu bertanya lagi. Julia berpaling lagi, entah kenapa jantungnya mendadak berdetak lebih kencang dari biasanya, pipinya juga sedikit merona mendengar Ravi berkata menginap. Akhirnya Julia kembali menoleh pada Ravi yang sedang memakan roti bakar buatannya tadi, pria kalau sedang makan terkadang tampak menyedihkan dan itu terjadi pada Ravi sekarang. Setelah di rasa cukup, Ravi menghabiskan teh nya lalu kembali menatap Julia. “Baiklah, kamu harus menginap, tapi karena tidak ada kasur cadangan, juga kamar tamu—,” Julia menghentikan ucapan nya sejenak. Ia menatap Ravi tepat pada matanya dengan serius, berharap pria itu tidak melakukan apapun padanya malam ini. “—jadi kamu tidur di kamarku dengan satu syarat.” Lanjutnya. Ravi mengangguk pelan, dalam hatinya ia merasa senang bukan main, usahanya membuah kan hasil bahkan ia bisa menginap di kamar Julia. Ia bisa menggunakan kesempatan ini untuk memancing gadis itu agar mau berbincang dengan nya hingga larut dan membahas semuanya. “Apa syaratnya, sayang?” tanya Ravi, suaranya sangat sexy, membuat Julia nyaris tidak bisa bicara. Sebenarnya apa yang terjadi pada Julia? Gadis itu seperti tersihir oleh suara pria itu. Seakan suara Ravi mengandung sihir yang memikatnya, membuat Julia tidak bisa berpikir dengan jernih dan lagi-lagi melupakan amarah dan rasa sakit hatinya. “Jangan lakukan apapun padaku, tanpa terkecuali, sentuhan berlebihan pokoknya tidak,” jawab Julia dengan tegas akhirnya. Ravi mengulurkan tangan nya lalu menggenggam tangan Julia, mengusap tangan gadis itu dengan lembut. “Kalau seperti ini, boleh kan?” tanya Ravi. Julia tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk. Ravi kemudian menatap gadis itu dengan lembut, memandangnya dengan penuh cinta seperti yang selalu ia lakukan. Julia hendak berpaling namun Ravi memegang dagu gadis itu, agar kepala Julia bertahan menatap lurus padanya. Jika begini, sikap dominan Ravi mulai terlihat, pria itu sangat menginginkan Julia dalam segala aspek. “Julia, apa kamu sudah memaafkan aku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN