The End

1861 Kata
"Kupikir lelaki itu yang membawa anak-anak" "Dirinya memang membawanya, tapi dipertengahan jalan anak-anak diselamatkan oleh Kate dan Tyler" "Kau pergi bersama mereka kesini?" "Mereka lebih duluan" Aku tenang mendengarnya, Jake memang penyelamat untukku dan keluarga kecil kami. "Bagaimana perasaanmu, lenganmu" Jake menatap lenganku, sambil mengendarai SUV hitam miliknya. "Ini sudah tidak begitu sakit, Jake terima kasih, kau benar-benar penyelamatku" "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, maafkan aku tadi jika kau terluka" "Ini tidak begitu parah, tenang saja, kau penyembuhku, dan akan lebih cepat sembuh jika kita segera bertemu dengan anak-anak" Jake terus melaju, membawa mobil dengan cepat, lalu berhenti disebuah penthouse bernuansa minimalis mewah. Jake memarkirkan mobilnya didepan gedung lalu dipindahkan oleh lelaki berpakaian merah.  "Ayo kita temui mereka" Aku mengikuti langkah Jake disebelahnya dirinya menggenggam tanganku, beberapa gadis pelayan dan receptionist menatap Jake dengan kagum, berbinar-binar menatap Jake yang sedang berantakan tak seperti biasanya.  "Selamat sore tuan William"  Sapa gadis yang memiliki rambut blonde ikal itu, lalu menatapku sedikit sinis, aku mengabaikannya, Jake memang belum pernah membawaku kemari sebelumnya.  Jake tidak menjawab gadis itu, Jake melaluinya begitu saja. Kami naik dan sampai didepan kamar memiliki nomor 899, Jake menekan kode kamar itu, aku tidak pernah tau Jake mempunyai penthouse. "Apakah ini milikmu?" "Iya, aku yang memiliki gedung penthouse ini sayang" Aku segera mengerti, Jake benar-benar mempunyai banyak inventaris menurutku, aku tidak sabar bertemu dengan anak-anak. Baru saja Jake membuka pintunya aku melihat anak-anakku sedang tertidur lelap.  "Kate"  Aku mendekati Kate yang sedang duduk santai bersama Tyler, Kate menoleh lalu melihatku terkejut. "Emma, oh may, what happen with you, dear" Emma mendekatiku lalu menatap kearah lenganku, aku menatap Tyler, sepertinya Tyler merasa canggung saat melihat luka dilenganku.  "Aku tertembak, tapi ini baik-baik saja, Jake menyelamatkanku" "Itu luka serius" "Jake sudah membawaku kerumah sakit, don't worry, bagaimana anak-anak? Terima kasih Kate, Ty, kalian sudah menolongku"  "Sudah seharusnya, mereka sangat manis, mereka sibuk bermain dari tadi dan akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan"  "They're very sweet you see" "Yeah, i love them" "kau menjaganya dengan sangat manis, mereka tertidur bersamamu" "Aku harap aku bisa memiliki seperti mereka juga" "Kau akan memilikinya, sayang" Jake mendekatiku setelah medekati Meghan dan Dante, lalu mengecup pipiku lembut, menyentuh lembut lenganku. "Maafkan aku sayang, aku benar-benar terlambat membantumu" "Tidak, kau tidak terlambat, aku mencintaimu" "Aku mencintaimu lebih dari segalanya" "Katakan padaku bagaimana Mario?" "Saat dirinya menuju kesini untuk menyusulku, mobil yang ditumpanginya menabrak sebuah mobil lain"  "Benarkah, bagaimana bisa?" "Aku juga tidak tau, tapi itu semua terjadi begitu saja" "Kau lihat bagaimana keadaannya?" "Aku tidak melihatnya, tapi sepertinya mobil yang ditumpanginya masuk kedalam jurang" "Kau tidak terlihat sedih sedikitpun" Kate menyeru. "Aku akan lebih sedih jika kehilangan hidupku yaitu Emma dan anak-anakku" Jake menggelengkan kepalanya lalu menatapku tajam dan berseringai manis, Jake memeluk pinggulku.  "Hidupku terikat pada mereka, Mario sudah banyak melakukan kesalahan dimasa hidupnya, walaupun aku anaknya tapi aku tau dimana lektak kebenaran dan kesalahan, tidak semua keinginannya harus terwujudkan dengan cara membunuh siapapun, apalagi jika dirinya berani menyentuh istri dan anak-anakku"  "Jika dirinya mati dengan cara kecelakaan, sudah waktunya, setidaknya dirinya mati bukan ditanganku" Aku terdiam, Jake menyentuh erat pinggulku, Meghan terbangun, membuka mata mereka perlahan, aku dan Jake mendekati mereka. Meghan tersenyum lembut padaku, lalu menatap Jake, seketika langsung terbangung dan berlari mendekati Jake, Sepertinya sudah sangat rindu pada ayahnya. "Ayah, aku merindukanmu, apakah ayah membawakanku sesuatu?" Meghan mengintip kearah belakang Jake, seperti biasa, jika Jake pulanh dari pekerjaan terkadang membawakan anak-anak hadiah, Jake tersenyum lembut padanya. "Meghan, ayah tidak membawa apa-apa hari ini tapi ayah janji akan membawamu berkeliling kota New York" "Aku sudah pergi bersama ibu" "Tapi kau belum pergi bersamaku" Jake tersenyum, Meghan juga memberikan senyuman lembut, lalu mencium lembut pipi Jake dan memeluknya.  "Apakah aku bisa ikut dengan kalian?" Kate mengajak Meghan berbicara, Meghan menatap Jake meminta persetujuan dari Jake, tentu saja Jake mengangguk tersenyum.  "Tentu saja, kau ikut" Kate bertepuk tangan lembut, Tyler tersenyum disamping Kate, aku merasakan kebahagiaan didalam penthouse itu, aku mencintai keluarga kecilku.  "Kita tunggu Dante bangun, setelah itu kita pergi" Jake bersuara, sambil menunggu Dante bangun semua bersiap-siap, tidak lama Dante terbangun dan Gail menyiapkan semuanya, memandikan Dante dan lain sebagainya.  "Kita mau kemana ayah?" "Time Square, kalian akan suka"  "Apakah tempat yang sama seperti kemarin ibu membawa kami?" Tanya Dante.  "Berbeda, sayang. Disana lebih ramai, aku akan membelikan apa yang kalian inginkan disana" Dante dan Meghan bersorak kesenangan, mendengar Jake ingin membelikan apa yang mereka inginkan, layaknya anak kecil, penuh dengan permintaan, aku mencintai mereka, mereka adalah hidupku.  ___ "Ayah, boneka itu lucu sekali" Meghan menunjuk boneka panda yang besar, aku tertawa melihatnya, aku ingat saat Jake memberikanku boneka panda seperti itu.  "Ayo kita kesana" Jake menggendong Meghan lalu mengarah memasuki toko yang menjual boneka panda itu. "Lihat, dia mirip dengan ibumu kan?" Jake memberikan boneka panda itu lalu mengejekku, Meghan tertawa. "Lebih lucu boneka ini, yah" Aku tertawa mendengar ocehan Meghan, Dante kesana kemari berlari melihat-lihat mainan yang ada didalam toko itu, dan akhirnya mereka memborong banyak mainan. ___ "Sayang" Jake memanggilku, lalu mendekatiku. "Maafkan aku" "Untuk apa?" "Karena aku kau masuk kedalam sebuah permasalahan, begitu banyak masalah yang kau dapatkan ketika hidup bersamaku" Aku menggeleng, berdiri diteras penthouse. "Aku tidak pernah merasa berat selama hidup bersamamu" "Aku tau, tapi begitu banyak luka yang kau dapatkan karenaku" "Tidak, don't talk to much" Aku menyentuh bibirnya dengan jari telunjukku, aku menatapnya dalam. "Kau adalah jiwaku, kau adalah hidupku, aku bahkan tidak memikirkan apapun selain dirimu, sekarang kita bersama, kita berdiri bersama, anak-anak bersama kita" "Aku tidak peduli betapa besar masalah yang harus kuhadapi asal denganmu aku merasa aman, karena kuyakin kau akan selalu ada denganku, dan kutau kau tak akan pernah membiarkanku" "Aku tidak akan pernah membiarkanmu merasakan kesulitan bagaimanapun, tapi maafkan aku jika kemarin kau terluka" Mata Jake menatap kearah lenganku, mata gelapnya berkaca-kaca. "Aku bisa menahannya, ketika melihatmu saja semua rasa sakitku menghilang" "Kau bisa saja, apakah kau baru saja sedang menggodaku?" Aku tersenyum lalu mencubit pipinya, aku rindu dengannya.  Jake mencium bibirku lembut lalu mengangkatku, aku naik keatas pangkuannya. Duduk berhadapan dengannya, aku mengenakan rok mini, Jake menjalarkan tangannya masuk kebagian pangkal pahaku.  "Jake" "Hmmm" Jake bergumam sambil mencium leherku. "Aku menginginkanmu" Jake memasukkan jarinya kedalam diriku, aku terkesiap merasakannya. Hingga akhirnya kami melakukan hubungan intim diteras atas penthouse yang mempertontonkan keramaian kota New York.  ___ Three month laters "Ada apa denganmu, sayang?" Aku merasakan tubuhku yang bergetar lemah, aku beberapa kali jatuh pingsan. "Aku sepertinya harus kedokter, tubuhku lemah sekali" "Ayo pergi sekarang" Aku berpakaian seadanya, Jake membawaku kedokter dengan cepat dirinya mengendarai mobil.  "Selamat, istri anda sedang mengandung, dan usianya sudah satu bulan" Aku menatap Jake terkejut, jantungku berdebar, secepat itukah?. "Benarkah?" Jake terlihat begitu sumringah mendengarnya, aku bangun dari tidurku. "Sikembar akan mendapatkan adik" Jake terlihat begitu senang, kami pergi meninggalkan rumah sakit.  "Sayang, kau benar-benar wanita yang hebat" "Hebat mengandung?" Tanyaku, Jake selalu memujiku, mendengar pertanyaanku Jake tertawa terbahak-bahak.  "Kau benar-benar wanita sempurna buatku, kau mengandung anak kita lagi"  "Aku ingin membuatnya menjadi sebelas" Jawabku asal, Jake tertawa kesenangan. Matanya bersinar dan aku menyukainya. "Aku akan selalu siap untuk mewujudkannya" Aku dan Jake sudah sampai dirumah, ada sebuah mobil terparkir dihalaman rumah kami.  "Siapa itu Jake?" "Aku juga tidak tahu, ayo kita turun, lalu lihat siapa yang datang" Aku mengikuti Jake, masuk kedalam rumah, aku mendengar suara tawa Meghan dan Dante, siapa sebenarnya didalam. Aku terkejut menatap mata Mario, apakah itu benar-benar Mario, dirinya selamat atas kecelakaan yang dikatakan Jake sebelumnya. "Jake" Jake dan aku hanya terdiam menatapnya, tapi anak-anakku begitu senang bermain bersamanya.  "Sejak kapan kau disini?" "Satu jam yang lalu, darimana saja kalian, aku sudah menunggu" Gail terlihat begitu tegang, takut menatapku dan Jake.  "Tenanglah dulu, aku kemari hanya ingin bertemu dengan cucu-cucuku yang manis dan lucu, lihatlah mereka begitu asyik bermain denganku" "Jangan sentuh mereka, atau aku akan melalukan sesuatu untukmu" "Aku kemari hanya ingin meminta maaf pada kalian" Aku terkejut mendengarnya, Jake membulatkan matanya, benarkah Mario ingin meminta maaf. Mario maju mendekati kami, aku sedikit takut tapi aku mencoba tenang.  "Aku merindukanmu, nak" Jake menatapnya, Mario berkaca-kaca, wajahnya sedikit memerah saat mendekati Jake dan diriku. Mario menatapku lembut. "Emma, maukah kau memaafkanku?" Mario mendekatiku, aku tersenyum lembut padanya, walau begitu dirinya adalah ayah tiriku juga, tapi memang aku masih marah padanya karena telah meninggalkan ibuku dengan keadaan sakit, aku tak mengerti harus bagaimana, aku menatap Jake.  "Ada apa denganmu?" "Aku tulus ingin meminta maaf, tolong maafkan aku, aku tau kalau Luke dulu belum tidak mati ditanganku, aku baru tau dirinya meninggal beberapa tahun yang lalu, aku sudah mendatangi makamnya" Jake terdiam, menatap Mario tajam, tapi wajah Mario benar-benar terlihay memelas, aku bisa melihat ketulusan dari wajahnya.  "Darimana kau tahu tentang Luke?" Tanyaku. "Seseorang memberitahuku, maafkan aku Emma, aku sudah meninggalkan ibumu dulu" Aku mengangkat bahuku tapi tak menjawab apa-apa.  "Apakah kalian mau memaafkanku?" "Kakek, mengapa kalian terus saja berbicara, ayo bermain lagi bersama kami" Dante berlari mendatangi Mario, mereka terlihat begitu dekat, kali ini aku merasa luluh ketika melihat Dante mendekat kearah Mario, Mario mengikuti Dante, bermain bersama dan tertawa bersama-sama. Aku dan Jake hanya berdiri menatap mereka bermain, Mario menatap kami. "Mengapa kalian terus saja berdiri, kemarilah bermain bersama kami" "Ayo ayah, ibu kemari bermain bersama" Meghan menarik Jake, Jake berlari kecil mengikuti langkah Meghan, aku mengikuti mereka mencoba mendekati.  "Mereka begitu lucu dan manis, aku ingin melihat mereka tumbuh besar" Mario bergumam, Jake ingin menyampaikan sesuatu tapi tertahan, entah apa yang ingin dikatakannya.  "Aku akan menerima permintaan maafmu" Mario terdiam lalu membalikkan badannya menatap Jake, matanya berkaca-kaca wajahnya memerah.  "Benarkah?" Jake hanya mengangkat kedua bahunya, entahlah apa yang sedang dipikirkan oleh Jake, tapi aku merasa Mario memang tulus.  "We will see" "Thank you my son" Mata Mario terlihat berbinar-binar, terlihat begitu bahagia. Aku merasakan mual, dan pusing lalu aku langsung berlari menuju toilet, semua orang melihatku.  "Ada apa dengannya, Jake?" Aku mendengar Mario menanyakanku, Jake menyusulku, tidak menjawab Mario, Mario juga menyusulku.  Aku selesai, aku memuntahkan semua isi dalam perutku, sepertinya Mario harus tau kalau dirinya akan mendapatkan cucu lagi, sebelum aku beritahu tiba-tiba bel pintu berbunyi. Gail segera membukakannya. "Emma, sayang" Belle dan Lucas datang, ah aku merindukan mereka, Lucas terlihat membawakan banyak hadiah untuk Meghan dan Dante.  "Nenek, kakeek" Meghan dan Dante berseru berlari menuju Belle dan Lucas memeluknya secara bergantian, aku tertawa kecil melihat tingkah mereka.  "Meghan, pelan-pelan, kurasa Lucas tidak akan kuat menggendong kalian berdua" Jake mengejek, Lucas menyipitkan matanya, lalu tertawa mencoba untuk menggendong kedua anakku.  Aku melihat wajah Belle menatap bingung kearah Mario, aku lupa belum memperkenalkan mereka satu sama lain. "Belle, Lucas, aku lupa memperkenalkan kalian, ini Mario, ayah Jake" Belle terlihat begitu terkejut begitupula dengan Lucas yang sedang menggendong Meghan, mereka memang tidak pernah bertemu sebelumnya, bahkan saat merkea mengadopsi Luke. "Mario, berarti ayah kandung Luke juga?" Aku dan Jake mengangguk, aku melihat wajah Mario memerah, entah apa yang sedang dipikirkannya.  "Apakah kalian orang tua yang sudah mengadopsi Luke anakku?" Lucas menatpanya sedikit tajam, aku melihat ada sedikit kemarahan darinya.  "Iya, benar" "Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini"  "Dengar, aku tau kalian pasti berpikir aku adalah lelaki terkejam, tapi kumohon, aku kemari untuk meminta maaf, dan kalian adalah orang tua dari anakku juga, maukah kau memaafkanku juga" Belle dan Lucas terlihat sedang berpikir, Belle terlihat berkaca-kaca ingin meneteskan air matanya, aku tau apa yang sedang dipikirkannya. Aku mendekatinya, lalu memelekunya. "Aku merindukannya, aku sangat menyayangi Luke dan mencintainya, Luke tumbuh menjadi lelaki yang begitu luar biasa" Tidak terasa pipiku sudah basah karena tetesan air mataku yang tanpa permisi jatuh begitu saja, aku menyekanya, Mario menangis.  "Maafkan aku, aku adalah lelaki bodoh" Aku mencoba menenangkan suasana, aku ingin memberitahukan tentang kehamilanku. "Sepertinya tidak ada gunanya jika kita menangis bersama-sama, apakah kalian mau mendengar kabar bahagia?" Jake mendekatiku, lalu memeluk lembut pinggulku, mencium kepalaku dengan manisnya.  "Aku hamil" Semua mata membulat menatapku, Belle begitu terkejut mendengarnya, Lucas dan Mario-pun terlihat terkejut.  "Oh my, you will have the little baby again?" "Yes" Aku menjawab pertanyaan Belle dengan semangat, Belle menciumku lembut dan memelukku.  "Congratulation my dear" Semua orang terlihat tersenyum bahagia mendengarku.  ___ Nine month laters Aku melahirkan bayi laki-laki yang begitu lucu, matanya biru, persis seperti mata Luke, aku menatapnya lembut, Jake meraihnya dari gendonganku. "I love you, little Graham" "I love you daddy" Aku memberinya nama persis seperti nama Luke, Luke Graham, Jake tidak mempermasalahkannya, Jake yang memintaku untuk memberikan nama saudaranya untuk bayi laki-laki kami.  "Thank you, Emma" "Don't ever say, i'm yours, i never feel bad with you, you're my life"  "You're my sweet wife for me, don't ever go from me" "Never"  ***** END
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN