Sudah malam, Jake belum juga pulang bahkan memberiku kabar saja tidak ada.
"Ibu, mengapa ayah lama sekali?"
"Ibu juga tidak tahu,sayang. Kita tunggu saja dulu ya"
Meghan bertanya padaku, mata gelapnya membulat, Danter sedang asyik bermain dengan mainannya, Meghan masuk kedalam pelukanku, membenamkan wajahnya didepan dadaku.
"Kau lapar?"
Meghan menggelengkan kepalanya, menaruh kepalanya diatas dadaku dengan manja, aku memeluk tubuh kecilnya.
"Nyonya, ada telpon dari kantor tuan William"
"Terima kasih Gail"
"Hallo"
"Nyonya, bisakah anda segera kekantor? Ada sesuatu yang terjadi pada tuan William, dan sepertinya kau harus berada disini"
Aku terkejut mendengar suara dari sebrang sana, aku meletakkan Meghan pelan-pelan diatas shofa, berdiri.
"Ada apa?"
Suaraku bergeter, Meghan menatapku bingung, mataku berkaca-kaca dengan cepat aku berjalan mengambil tas dan kunci mobil, lalu mematikan telponnya.
"Gail, aku tinggal Meghan dan Dante, aku harus segera pergi"
"Baik nyonya, tapi ada apa?"
"Aku juga tidak tau, salah satu karyawan Jake menelponku, aku harus segera datang kekantor"
"Akan aku urus anak-anak, berhati-hatilah nyonya"
"Terima kasih Gail, aku pergi sekarang"
Aku mencium kening anak-anakku, mereka sedang asyik bermain, aku tidak akan memberitahu mereka dulu.
___
Aku masuk keruang kerja Jake, ruang kerjanya kosong tidak terlihat apa-apa disana, bahkan mejanya begitu rapi, tas kerja milik Jake juga tidak ada, ada apa semuanya, aku tidak bisa berpikir jernih.
"Dimana Mr. William?"
Aku keluar menemui sekertaris pribadi Jake, wanita itu menatapku bingung.
"Bukankah dari pagi Mr. William tidak datang"
Aku seperti terkena sengatan listrik menjalar kesekujur tubuhku, aku mencoba menelpon Jake.
"Bisakah kau menghubungi ponsel William? Aku tidak bisa menghubunginya"
Wanita itu mengangguk, lalu mengambil telpon yang ada dimejanya dan memencet tombol telpon.
"Tidak aktif nyonya"
Aku cemas sekarang perasaanku kacau.
"Sebelum aku kesini, ada seorang pria menelponku, dia bilang padaku ada sesuatu yang terjadi disini"
"Disini tidak terjadi apa-apa nyonya, lihatlah kantor ini begitu rapi, kuharap semua akan baik-baik saja, aku takut seseorang ingin berniat jahat padamu"
Aku menggelengkan kepalaku, aku cemas benar-benar cemas.
"Bisakah saya pergi ketoilet?"
"Yaa ok, biar aku masuk kedalam"
Aku masuk kedalam ruang kerja Jake, melihat-lihat disekitar ruangan, mencoba mencari petunjuk apa yang sebenarnya terjadi, ruangannya begitu rapi, Jake sepertinya tidak datang kekantor hari ini.
Mataku tertuju pada meja tamu, ada sebuah plastik kecil dan aku mendekati plastik itu, isinya sebuah beberapa perlengkapan mandi wanita.
"Apa-apaan ini, punya siapa semua ini, sejak kapan Jake mempunyai perlengkapan mandi wanita?"
Tanyaku sendiri, dan tiba-tiba pintu ruangan terbuka, aku menatap wanita yang masuk kedalam ruang kerja.
"Sarah"
"Emma, hey"
Emma terlihat terkejut, apakah Jake bertemu Sarah, jantungku berdebar, tangan dan kakiku dingin.
"Sedang apa kau disini?"
Tanya Emma dengan wajah polosnya, seharusnya aku yang bertanya itu tapi kenapa dirinya yang mengeluarkan kata-kata itu, sial.
"Kenapa kau tiba-tiba langsung masuk keruang kerja suamiku?"
"Aku hanya ingin mengambil beberapa belanjaanku saja, tertinggal sebelumnya"
"Sejak kapan ada disini?"
"Sejak kemarin, aku lupa membawanya dan baru hari ini aku sempat datang lagi"
"Kau bertemu Jake lagi?"
"Aku hanya singgah kemari, dan itu tidak lama, aku perlu bertemu dengannya tapi percayalah aku tidak melakukan apa-apa Emma"
"Bagaimana aku bisa percaya begitu saja"
"Kau terlihat sangat cemburu denganku, aku benar-benar hanya datang untuk singgah dan hanya sebentar"
"Tapi kenapa barang belanjaanmu tertinggal?seharusnya jika kau hanya sebentar kau akan ingat dengan barang bawaanmu"
"Ohhh come on Emma, percayalah"
Listrik tiba-tiba padam hanya kantor Jake yang padam, aku melihat cahaya dari keramaian kota Seattle.
"Emma, kau disana?"
"Tentu saja, ini sangat gelap"
"Aku takut"
"Aku juga takut, Sarah tetaplah disana"
Rasa cemburuku hilang tapi aku tetap merasa sedikit curiga dengannya, listrik begitu lama padam, aku mencoba mencari penerangan, aku menemukan sebuah lampu otomatis dan menyala, wajah Sarah terlihat ketakutan.
___
Aku menatap Sarah, wajahnya begitu sendu, seperti banyak beban dipikirannya.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak Emma"
"Kau terlihat begitu takut, mengapa?"
"Aku takut gelap"
Aku tau Sarah mempunyai pengalaman buruk juga, sama sepertiku tapi aku beruntung, pengalaman burukku ditelah di pulihkan dengan orang yang tepat dalam hidupku.
"Jangan takut, aku yakin kau bisa melupakan rasa takutmu"
Sarah menggelengkan kepalanya, matanya berkaca.
"Aku tidak yakin, aku sudah terapi berkali-kali tapi semua nihil tak berhasil"
"Kau sudah lama berada di Seattle, kapan mau datang?"
"Tiga hari yang lalu, aku bosan berada di Detroit, aku hanya ingin berada di Seattle"
Tidak ada terlihat kelicikan sedikitpun dari wajah Sarah, aku mencoba untuk mempercayainya.
"Dengar, aku sebenarnya sedang khawatir pada Jake, dirinya belum juga pulang, dia bilang akan pergi selama dua hari tapi aku tidak tau kemana dia pergi"
"Tapi kemarin kau bertemu dengannya kan?"
Aku tiba-tiba bertanya dan ingin mengetahui sesuatu, barang kali ada sebuah petunjuk dari Sarah sebelumnya.
"Apakah ada sesuatu yang dikatakan Jake padamu kemarin?"
Sarah memikirkan sesuatu, Sarah terlihat seperti orang kebingungan.
"Aku tidak mengingat apa-apa, kemarin aku hanya minum kopi bersama Jake, Jake hanya bertanya tentang keadaanku"
"Apakah hanya itu?"
"Sepertinya, Jake terlihat baik-baik saja"
"Ok, baiklah jangan berpikir jika kau tidak mengingatnya, aku hanya cemas dengannya dan aku harus tau siapa yang sebenarnya menelponku tadi"
Tiba-tiba listrik menyala, aku melihat jelas seluruh ruangan disinari oleh lampu, sudah pukul sembilan malam, aku mendengar suara ribut-ribut dari luar ruangan, aku menatap Sarah.
"Ada apa, sepertinya ada keributan diluar"
Aku merasakan ketakutan, sepertinya Sarah merasakan hal yang sama denganku dan inilah hal yang mengerikan menurutku, kami berdua mempunyai rasa trauma tapi paling tidak aku sudah bisa mengontrolnya.
"Nyonya"
Sekertaris pribadi Jake datang membuka pintu ruangan dengan nafas tersenggal-senggal, wajahnya terlihat pucat.
"Ada apa, kenapa kau terlihat sangat ketakutan?"
Aku berdiri mendekatinya, Sarah ikut berdiri disampingku lalu mengikuti langkahku.
"Apa yang terjadi?"
Aku melihat segerombolan orang asing diluar dengan pakaian rapi, Mario. Aku menatap Mario yang sedang berdiri tegap menatapku tajam.
"Mario"
Seruku, mataku membulat menatapnya, aku menatapnya dengan kemarahan, dia lelaki yang tega meninggalkan ibuku dalam keaadaan sakit tak berdaya.
"Kau telah menikah dengan putraku, itu sungguh kabar yang luar biasa mengejutkanku, Emma!"
Matanya menatapku begitu tajam, ada apa ini, perasaanku tidak enak, apakah Jake telah bertemu dengannya.
"Apa urusanmu tentang hubunganku dengan Jake?"
"Tentu saja, dia putraku, sialan!!!"
Mario ingin menamparku, aku menutup mataku, Sara membulatkan matanya, aku membuka mataku perlahan saat dirinya menarik tangannya. Aku tidak mengerti mengapa dirinya terlihat sangat marah padaku.
"Kau pergi lalu kau kembali dan mengambil anakku?"
"Aku tidak mengambilnya, takdir yang menyatukanku bersama Jake, kenapa kau marah, apakah kau bisa rasakan bagaimana perasaanku?"
"Aku tidak peduli"
"Kau meninggalkan ibuku dalam keadaan sekarat, kau sialan"
"Apa kau bilang? Kau memang tidak pernah diajarkan untuk berkata sopan, ooh aku lupa kau memang tidak pernah hidup dan diajarkan dengan keluarga yang harmonis, wajar saja kau terlihat begitu bodoh!"
"Kau yang merebut ibu dariku, kau yang mengambil seluruh kebahagiaanku bersama ibuku, aku tidak bisa merasakan kasih sayang dari ibuku hanya karena kau, kau suami yang tidak pernah menghargai wanita, ibuku salah memilihmu!"
"Ibumu telah menjadi wanita bodoh selama hidup bersamaku, jadi buat apa aku mempertahankan hubunganku dengan wanita bodoh dan sekarat"
"Dasar kau sialan, kau manusia tidak punya hati, akalmu sudah menghilang dari sisi manusiamu"
Salah satu lelaki bertubuh besar mengarahkan pistol kearahku, aku terkejut melihatnya, ada apa ini, kenapa Mario terlihat begitu marah padaku.
"Ohhh jangan biarkan aku membunuhmu, Emma manis"
Aku menatap Mario tajam, Sarah dan sekertaris itu ketakutan.
"Kenapa tidak kau saja yang mengarahkan pistolmu padaku, kalau begitu kau akan merasa puas"
"Aku tidak ingin kau mengambil Jake, dan aku tidak akan membuat Jake membenciku, dan kau harus mati"
Detak jantungku berdebar kencang, aliran darahku begitu deras mengalir didalam tubuhku serasa pecah pembuluh darahku, aku ketakutan tapi aku berusaha tetap tenang, aku tidak tau harus berbuat apa, dimana Jake.
'Jake dimana kau, aku butuh dirimu, mengapa kau menghilang disaat aku membutuhkanmu, kau bilang kau tak akan meninggalkanku' batinku berbicara.
Aku ingin menangis tapi aku tidak bisa, lelaki bertubuh besar itu siap untuk menembakku, aku ingin terjatuh, tubuhku goyang, tapi aku harus kuat, aku mempunyai Meghan dan Dante, aku harus berani menghadapi semuanya.
"Kau sudah merebut Jake dariku, karena dirimu aku kehilangan anakku tersayang"
"Kau ayah tak berguna, kau mencoba membunuh anakmu sendiri, dan kau membunuh istrimu"
Wajah Mario terlihat terkejut.
"Kau tidak tau apa-apa jangan asal bicara"
"Aku tau semuanya, kau sangat bodoh rupanya"
"Dasar kau anak sialan"
"Kau tidak pernah tau kalau Luke masih hidup kan?"
Matanya membulat terkejut, wajahnya mengerut.
"Kau begitu bodoh, Luke tumbuh dengan sempurna, Luke luar biasa menjadi lelaki yang sempurna, dan kau begitu bodoh ingin membunuhnya!!!"
"Omong kosong, aku tak percaya, tembak dia Black!!"
Suara tarikan peluru itu terdengar begitu jelas, aku menutup mataku.
"EMMA!!!"
Sarah berteriak, aku tetap menutup mataku, aku tidak bisa berpikir lagi.
"Kau akan aman sayang, tenang saja, aku bersamamu"
Luke tiba-tiba muncul didalam pikiranku, Luke begitu sempurna, aku ingin menyentuhnya tapi tak bisa, aku ingin ikut dengannya tapi dirinya menjauhiku.
"Tak perlu menyentuhku, kau akan hidup lebih lama bersama Jake, kau akan aman"
Aku mendengar suara tembakan, Seorang lelaki bertubuh besar itu terjatuh.
"Jake"
"Kau tidak apa-apa?"
Jake bertanya padaku tapi tak mendekatiku, Jake menghantam beberapa lelaki bodyguard Mario, Mario terlihat begitu terkejut menatap Jake.
"Tak perlu terkejut seperti itu, dad!!!"
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau menembaknya"
"Aku rasa, aku bukan anak kecilmu lagi, dan mulai sekarang, aku tidak akan menganggapmu seorang ayah untukku lagi, aku tidak akan mau meninggalkan wanita yang kucintai!"
Jake menatapku, lalu menatap kearah Sarah dan sekertaris itu.
"Bawa mereka berdua pergi dari sini"
Jake menyuruh bodyguard yang bersama dirinya membawa Sarah dan sekertaris itu pergi, dan mereka pergi dengan cepat.
Jake meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku akan terus bersamanya, aku sudah tidak peduli denganmu lagi"
Aku menatap Jake, Jake menarikku, aku melihat Mario menarik pistol miliknya.
"Pergilah"
Aku menggelengkan kepalaku, mataku penuh dengan kekhawatiran.
"Kay harus pergi,sayang. Aku akan baik-baik saja"
Aku menatap Mario, dirinya tetap memegang pistol itu, aku menatap Jake, mencium bibirnya dengan lembut dan cepat, lalu aku pergi berlari darinya. Mario menatap tajam kearah kami berdua, Jake tak memperdulikannya.
"Jaga anak-anak kita, sayang"
Aku meninggalkan mereka berdua, entah apa yang terjadi diantara mereka, supir mengantarku pulang, aku segera akan menemui Meghan dan Dante, mereka harus bersamaku.
Ternyata Jake ingin pergi dariku karena Mario kembali, ini benar-benar sesuatu masalah untukku lagi.
___
Aku mencium kening Meghan dan Dante yang sedang lelap tertidur, aku menatap wajah mereka yang begitu menenangkan. Tidak lama aku menatap keambang pintu kamar Meghan an Dante, Jake sudah berdiri disana.
"Kau sudah pulang, apa yang terjadi?"
Aku pergi mendekatinya, Jake hanya terdiam masih berdiri di ambang pintu menatapku.
"Apa yang terjadi?"
Aku menyentuh wajahnya, kemeja putihnya terlihat berantakan, rambutnya berantakan, mata gelapnya terlihat begitu gelap, tubuhnya menegang. Aku menatapnya cemas, Jake terlihat tegang dan begitu cemas juga, dirinya tidak menjawabku.
"Kalian harus bersembunyi, Mario tidak menyukai hubunganku denganmu, sayang. Jangan takut, aku akan selalu melindungimu walaupun Mario adalah ayahku sendiri"
"Kenapa dirinya tiba-tiba datang?"
"Mario berpisah dengan istri barunya itu, dan datang menemuiku di kantor, aku mengatakan padanya kalau aku menikahimu"
"Lalu?"
"Dirinya marah, dirinya berpikir kau penyebab aku menjauhinya, aku pergi darinya hanya karena ingin membawa Caroline menjauh darinya dan mati ditangannya"
"Kemana kau akan membawaku dan anak-anak?"
"Aku akan membawamu ke New York, Brooklyn"
"Apakah aman berada disana?"
"Aku akan memastikan semuanya akan aman, setidaknya Mario tidak tahu kalau aku mempunyai beberapa rumah disana"
"Kapan kau membawa kami?"
"Sekarang"
"Tapi anak-anak baru saja tertidur"
"Aku akan mengangkat mereka, bersiaplah sayang, kita akan segera naik menuju helipad, pilot Mr. Rodriguez sudah menunggu diatas"
Jake memilki halipad sendiri, jadi tentu saja ketika ada keperluan mendesak kita tidak perlu pergi jauh-jauh kelapangan terbang. Jake mengangkat kedua anakku, beberapa barang-barang dibawakan dengan Gail.
"Selamat malam Mr. William, Mrs. William"
Pilot tua itu menyapa kami, kami masuk kedalam jet pribadi Jake, membaringkan kedua anak kami didalam kamar mewah yang berada didalam jet itu, Gail menemani mereka yang sedang tertidur lelap, aku melihat ada kecemasan dimata Jake.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Jake menatap kearah jendela seperti sedikit menegang, aku memegang bahunya menatapnya cemas.
"Aku akan membereskan semuanya, aku benci untuk meninggalkanmu tapi aku harus mengatasi semuanya demi keluarga kita"
"Aku bisa mengertinya, Mario berusaha ingin membunuhku"
"Aku tidak pernah terpikirkan Mario akan tega berbuat seperti itu kepada wanita yang kucintai"
"Hal yang wajar jika dirinya marah terhadapku, kuyakin semua akan berjalan baik, sayang"
Aku menyentuh d**a Jake, Mario begitu menyayangi Jake, dirinya mungin tidak ingin Jake pergi begitu saja darinya dan pergi bersama wanita yang dirinya tidak sukai.
___
Kami sudah sampai di New York, anak-anak sudah selesai mandi dan berpakaian rapi.
"Kita berada dimana ayah?"
"New York, kau terlihat begitu tampan Dante"
Jake memeluk Dante dan menciumnya.
"Dante, kalian harus makan lebih dulu, Meghan sudah menunggumu dibawah"
Gail mengambil Dante dari pelukan Jake, aku mendekati Jake dan berdiri disampingnya, Jake berdiri mendekatiku.
"Bagaimana selanjutnya?"
Aku menyentuh bisep Jake yang seksi, Jake menggunakan T-shirt lengan panjang berwarna hitam, rambutnya berantakan.
"Aku akan segera menyelesaikannya, aku akan sekarang"
Jake menatapku, mendaratkan ciuman dibibirku, aku menyentuh rahangnya yang menegang, mata kami bertemu, matanya bersinar.
"Sayang, semua akan baik-baik saja, aku dan anak-anak menunggu kabar baik darimu"
"I will do my best, i love you"
"I love you more"
Aku melepaskan pelukan Jake, Jake menatapku, aku takut sebenarnya, Jake pergi meninggalkanku, Jake melangkah pergi, aku menatap punggungnya pergi menghilang dari tatapanku. Hatiku bergetar, Jake akan memperjuangkan semuanya demi keluarga kecil kami.
Aku pergi menemui Meghan dan Dante, mereka sedang asyik bermain setelah selesai dengan sarapan mereka.
"Apa yang sedang kalian mainkan anak-anak manis?"
Aku berlari kecil mendekati mereka, aku berpikir sesuatu, aku ingin mengajak mereka berjalan-jalan, mungkin ada baiknya membiarkan mereka menghirup udara segar dan menonton keramaian kota New York.
"Mendekat pada ibu sayang"
Meghan dan Danter berlari kearahku, aku memeluk keduanya dengan kedua tanganku, mereka sangat hangat.
"Apakah kalian ingin berjalan bersamaku?"
"I wanna mommy, i wanna"
Meghan berteriak ditelingaku, begitu bersemangat, aku tertawa melihat keceriaan mereka.
"Gail, siapkan semua yang dibutuhkan, aku ingin mengajak kalian ke Brooklyn"
Aku mengirim pesan singkat pada Jake.
-ingin pergi ke Brooklyn, membawa putra dan putrimu-
-baiklah, bersenang-senanglah sayang, jangan lupa pergi bersama supir-
-tentu saja, aku merindukanmu-
-aku lebih merindukanmu dan anak-anak, give me kiss and big love for them-
-you not want give me kiss too?-
-i love to do it, just wait me soon, love you-
-love you too, be carefull-
Aku menyudahi mengirimkan pesan pada Jake, dan segera bersiap-siap membawa anak-anak pergi.
___
"Ibu, aku mau kesana"
Meghan menunjuk sebuah toko kue, terlihat sangat menarik, aku mengabulkan permintaannya, kami pergi kesana.
Meghan dan Dante sibuk memilih beberapa cupcake, mereka terlihat berwarna-warni, aku senang membuat mereka bahagia.
"Kau suka?"
Meghan mengangguk, sedang sibuk memakan cupcake wajahnya penuh dengan mentega warna-warni begitu juga dengan Dante.
"Aku akan melihatkan pada kalian bagaimana melihat indahnya seluruh kota New York"
"Ahhh, sudah lama aku tidak pergi kemari, aku merindukannya"
Gail menyeru, sambil mendorong kereta Meghan dan Dante, sebenarnya tidak terlalu berat mendorong mereka, kereta jalan milik anak kembarku sudah dibuat otomatis jadi biarpun tidak didorong mereka akan bisa berjalan pelan mengikuti kami dengan bantuan remote control.
___
Aku meminta supir mengantarkan kami ke Brooklyn Bridge, sebenarnya sudah lama aku ingin pergi kesana bersama Jake, tapi bukan waktu yang tepat, aku akan berada disana bersama anak-anakku bagian dari diri Jake juga.
Aku merasa, berada di atas jembatan Brooklyn aku bisa merasakan luasnya dunia, aku bisa menatap bagaimana kecilnya dunia, terlihag begitu sempurna, Dante berseru kesenangan.
"Ibu, lihat ada balon disana"
"Kau mau?"
Dante mengangguk.
"Aku juga ibu, berikan padaku"
Aku pergi lalu mengambilkan dua buah balon yang dijual oleh pedagang yang berjalan.
"Ini untuk kalian, sayang"
"Kalian lihat kan, dunia ini sungguh besar, aku harap kalian akan bisa merasakan bagaiamana indahnya dan kebaikan dunia ketika kalian besar nanti"
Aku tau walaupun mereka belum tentu mengerti apa yang aku bicarakan, tapi aku suka melakukannya.
Aku memikirkan Jake, apa yang sedang dilakukannya, aku mengambil beberapa gambar lalu mengirimkannya pada Jake.
-picture send, i'n here without you, so sad ;(-
Jake tidak membalasku, mungkin masih diperjalanan.
Satu jam berada di Brooklyn Bridge, aku membawa anak-anak kembali kemobil, mengajak mereka makan disebuh restoran berada tepat diatas trotoar jalan di Brooklyn, semua bernuansa merah muda, begitu lucu dan sangat cocok membawa anak-anakku.
"Restoran ini begitu cantik nyonya"
"Iya Gail, pesanlah makanan yang ingin kau makan sesukamu"
"Terima kasih nyonya"
Gail sibuk memesan makanan, anak-anakku sedang duduk santai diatas kursi khusus untuk anak-anak yang sudah disiapkan didalam restoran itu.
"Ibu, aku mau es krim seperti itu"
Kedua anak-anakku menunjukkan beberapa gambar es krim, aku tersenyum kearah mereka, sambil mengangguk menandakan aku akan segera mengabulkan permintaan mereka.
-send picture, aku makan ditempat lucu ini, berharap kau berada disini-
Aku mengirimkan pesan lagi untuk Jake, Jake tetap tidak membalasnya.
Hatiku cemas menanti kabar dari Jake, tapi aku harus mengalihkannya, sambil memandang orang-orang tersayangku makan, aku tersenyum menatap mereka, aku berterima kasih pada Gail yang sudah begitu setia menjagaku juga keluarga kecilku bersama.
"Gail, terima kasih kau sudah sangat baik padaku"
"Sudah kewajibanku nyonya, jangan berterima kasih padaku, kau dan tuan begitu baik padaku"
Aku tersenyum, mata Gail berkaca-kaca, Luke yang membuatku mengenalnya.
"Aku merindukan Jake, aku cemas dengannya"
"Aku beharap semua akan baik-baik saja"
"I hope so"
Kami kembali kerumah, anak-anak terlelap dimobil. Saat sampai rumah mereka tetap tertidur sampai pagi.
___
-aku merindukanmu, mengapa tak memberiku kabar?-
Aku menunggu kabar dari Jake, tapi tetap tidak ada kabar, aku menelponnya tapi tak diangkatnya.
-jangan harap kau bisa bertemu putraku lagi-
Aku segera membuka pesan dari Jake, tapi aku terkejut menatap layar ponselku, aku membacanya, apakah Mario bersama Jake, tapi mengapa ponselnya bersama Mario.
____
Aku berdiri didepan kaca besar yang memantulkan seluruh tubuhku, memandang seluruh tubuhku yang hanya berpakaian T-shirt putih ketat dan celana pendek abu-abu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mengapa Mario sejahat itu padaku?"
Aku berbicara pada diriku sendiri, memegang ponsel milikku, ingin rasanya menelpon Jake, tapi sudah pasti ponsel miliknya berada ditangan Mario.
Aku pergi berada dibalkon teras rumah, memandang keramaian kota New York, aku merindukan Jake, apa yang terjadi sekarang dengannya, aku begitu khawatir, aku mengingat sesuatu, aku menekan tombol diponselku lalu menelpon Tyler.
"Hai, Ty"
"Emma, ada apa kau menelponku?"
"Dengar, apakah kau sedang bersama Kate?"
"Ya, Kate disampingku, ada apa kau menelponku?"
"Jake dan Mario sedang bersama, terakhir kali aku bertemu Mario, dirinya berusaha untuk membunuhku"
Suara dari sebrang terdengar hening, entah apa yang dipikirkan Tyler, tapi tiba-tiba suara Kate mengejutkan.
"Benarkah? Bagaimana bisa, mengapa kau tak katakan padaku, sekarang dimana kau?"
"Aku di New York, Jake membawaku kemari untuk mengamankanku dari Mario"
"Bagaimana Meghan dan Dante?"
"Kami semua sangat aman disini, tapi kumohon bantulah aku"
"Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian, katakan padaku"
"Jika kau tidak keberatan, cari tau dimana Jake dan Mario, aku mengirim pesan pada Jake, tapi sepertinya Mario yang membalas pesanku"
"Itu mengerikan, aku akan membantumu bersama Tyler"
"Thank you, my dear"
"Don't say, i will try my best for you all"
Aku mematikan telponnya, walaupun aku terus saja gugup memikirkan kabar tentang Jake. Dan yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menunggu dan terus menunggu.
___
Meghan bermain bersamaku hanya senyum dan tawa dari anak-anakku yang mampu menghilangkan rasa cemasku dengan sementara.
"Ibu, aku mau bermain bersama ayah"
Dante tiba-tiba datang dari belakangku, aku menoleh menatapnya dan memberinya senyuman tapi hatiku sedikit merasakan getaran.
"Ayah akan segera pulang, sayang. Dan kita akan menghabiskan waktu bersama"
"Kapan ibu? Aku sudah merindukannya"
Dante bertanya tapi sambil memainkan robot-robotan ditangannya.
"Sebentar lagi, kalian terlihat tampan dan cantik hari ini, aku mencintai kalian"
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak terlalu memikirkan Jake, sudah tiga hari Jake tidak memberiku kabar, aku hanya bisa menunggu kabar dari Kate dan Tyler sekarang.
Aku meraih ponselku, membukanya tapi tidak ada panggilan masuk atau pesan dari siapapun, aku menghela nafas panjang lalu meletakkan kembali ponselku.
Tidak lama kemudian ponselku berdering, sebuah nomor baru, aku segera mengangkatnya.
"Hallo"
"Babe, how are you?"
"Jake??? Hey, babe im okay, how are you there, everything's okay?"
"Baby, jangan pergi kemana-mana, Mario mengambil ponselku, kau harus membuang ponselmu, GPS dari ponselku pasti akan bisa membuat Mario menemukanmu, aku akan segera berada di New York dalam satu jam"
"Apakah Mario datang ke New York juga?"
"Sebagian anak buahnya sudah mulai mencarimu, Mario tetap di Seattle, tenanglah sayang, tetap dirumah"
"Aku menunggumu"
"Aku akan segera sampai"
Jake menutup telponnya, suara bel berbunyi, aku menuju pintu luar untuk membuka pintu, tapi tiba-tiba aku berhenti, bukankah tidak ada yang tau keberadaanku disini dan aku tidak meminta siapa-siapa untuk mendatangiku. Jantungku berdebar, aku mulai merasakan ketakutan, apakah anak buah Mario sudah menemukan rumah ini?.
Aku mencoba menemui Gail dan anak-anakku, berniat memberitahukan padanya agar bisa menjaga anak-anak.
Tapi tiba-tiba suara bel itu berubah menjadi gedoran pintu, aku mulai merasa ketakutan, aku harus cepat bertemu anak-anakku.
Aku tidak menemukan dimana mereka, aku demembuka semua pintu ruangan tapi tetap aku tidak menemukan mereka, mencoba menelpon ponsel Gail, tapi tidak aktif, ada apa ini, aku mulai merasakan getaran ditubuhku, kakiku melemah, keringatku mengucur dari tubuhku.
"Kau mencari anak-anakmu?"
Aku terkejut mendengar suara lelaki dibelakangku, aku membalikkan badanku, wajahku memucat, seorang lelaki memegang sebuah pistol ditangannya terlihat begitu siap menembakku.
"Siapa kau?"
Suaraku bergetar, kakiku benar-benar lemah, matanya menatapku ngeri, aku takut.
"Dimana anak-anakku"
"Sudah ditempat yang sangat aman, kau tak perlu takut untuk menyembunyikannya lagi"
"Apa maksudmu, kumohon jangan sakiti mereka"
"Kau tak perlu memohon, aku tak akan menyakitinya, aku hanya perlu menghabisimu"
"Siapa kau?"
Lelaki itu tidak menjawab, tapi terus melangkah maju kearahku, aku terus berjalan mundur, nafasku tersengal-sengal, aku ketakutan, ponselku tetap berada digenggamanku, aku mencoba menghubungi Jake, tapi aku tak bisa berbicara dengannya.
Lelaki itu menendang tanganku, ponsel digenggamanku terlempar jauh, aku tidak yakin apakah panggilanku masuk untuk Jake.
Aku terjatuh terbaring terlentang dilantai, lelaki itu berada diatasku berdiri menjulang tinggi dan memperlihatkan tubuhnya yang besar.
"Kumohon, jangan bunuh aku"
Aku mengeluarkan air mata dari sela mataku, lelaki itu menatapku tajam.
"Sayangnya kau berbicara pada orang yang sama sekali tidak memiliki hati"
"Kuyakin kau masih mempunyai otak untuk berpikir"
"Aku tidak pernah menggunakannya"
"Mengapa kau mau membunuhku?"
"Mario menginginkanmu mati"
"Aku tidak melakukan apa-apa padanya"
"Kau mengambil hidupnya"
"Apa maksudmu?"
"Kau begitu banyak pertanyaan, kau harus segera mati"
Pistol itu diarahkan kebagian kepalaku, aku menatapnya begitu ketakutan, aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Emma!!!"
Aku terkejut melihat Jake datang, lelaki itu membalikkan badannya, tapi dengan cepat juga dirinya menembakkan pistol kearahku, tembakan itu mengenai tanganku, aku kesakitan, persis ditempat yang sama, yang dulu ditembakkan oleh Tylor padaku, aku menutupi darah yang mengucur, menahan rasa sakit.
"Sialan kau!!!!"
Jake melompat, wajahnya menegang segera ingin menerjang lelaki itu, aku hanya bisa melihat mereka berkelahi, beberapa kali Jake mendaratkan pukulan pada lelaki itu.
Aku hanya bisa menangis, Jake berhasil mengambil pistol yang dipegang lelaki itu sebelumnya, lalu diarahkan kekepala lelaki itu.
"Kau yang seharusnya mati"
"Kumohon jangan bunuh aku"
"Kenapa kau? Kau takut mati? Tapi kau tak punya hati membunuh seorang wanita?"
Jake menempelkan pistol itu kebagian kepala lelaki itu, Jake berseringai licik padanya, dirinya terlihat sangat berantakan.
"Tenang saja, aku tak akan membiarkanmu merasakan sakit yang begitu lama"
Jake menembakkan pistol itu dengan cepat, seketika aku melihat lelaki itu tak berdaya lagi, tergeletak begitu saja, kepalanya mengeluarkan darah, aku mendekati Jake.
"Jake, apakah dia sudah...?"
Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, Jake berdiri lalu menatapku, aku lupa dengan rasa sakit ditanganku.
"Sayang, kau berdarah"
Aku menatap lenganku, aku menggeleng"
"Aku tak apa, Jake dimana anak-anak kita dan Gail, dirinya menyembunyikan mereka"
Jantungku berdebar mengingat dimana keberadaan mereka, Jake menatapku, lalu memegang tanganku, pergi mengambilkan sesuatu untukku.
"Kemarilah"
Jake mengambilkan perban beberapa kasa untukku lalu mengikatnya di lenganku, menarikku pergi.
"Aku tau dimana mereka, kita pergi dulu kerumah sakit"
____
Lenganku sudah rapi dengan balutan perban, dokter sudah mengeluarkan peluru dari lenganku.
"Jake kita harus mendatangi Meghan dan Dante"
Aku dan Jake pergi dari rumah sakit lalu segera pergi mendatangi mereka.
___