Diamond

3325 Kata
"Apakau kau sibuk hari ini?" Aku memperhatikan Jake sedari tadi, Jake terlihat begitu rapi dan sangat tampan buatku dirinya begitu sempurna. "Sedikit, ada apa sayang?" "Aku hanya ingin keluar rumah hari ini, mungkin Gail akan pergi bersamaku jika kau sibuk" "Kau ingin aku menemanimu?" Jake tetap duduk di depan meja kerja miliknya,  aku berada dikantornya, seperti anak kecil yang sedang ikut bekerja dengan ayahnya. "Tidak, kau terlihat sibuk, aku akan pergi bersama Gail" "Baiklah, kalau begitu hati-hati jika berada diluar"  "Okay babe, kalau begitu aku pergi sekarang, aku mencintaimu" Aku mengecup kening dan bibirnya, Jake masih terlihat sibuk, entah pekerjaan apa yang dirinya sibukkan.  Aku pergi meninggalkannya, lalu memencet tombol diponselku untuk memanggil Gail agar bersiap-siap. "Hallo Gail, bersiaplah aku akan menjemputmu dan tiba dalam waktu lima belas menit lagi" "Baik nyonya" Aku menutup telponnya, memperhatikan jalan dan fokus menyetir, kota Seattle memang begitu indah saat dipagi menjelang siang hari, sebenarnya hari ini ulang tahun Jake, aku ingin memberikannya sesuatu. ___ "Bagaimana beri tuan ini" Gail memperlihatkanku sebuah dasi abu-abu, terlihat bagus tapi aku tidak begitu yakin, Jake mempunyainya banyak.  Aku menggelengkan kepalaku, Gail mencoba mencari sesuatu yang lain. Aku keluar dari toko sebelumnya, mataku tak sengaja melihat sebuah toko perlengkapan bayi, aku tersenyum menatapnya, diam-diam aku memikirkan kapan aku memiliki bayi dari Jake.  "Anda ingin kesana nyonya?" Gail mengejutkanku, aku tersenyum tapi aku penasaran ingin berada disana walaupun aku belum hamil tapi aku menginginkannya. Aku masuk kedalam toko perlengkapan bayi itu, melihat-lihat beberapa macam koleksi sepatu bayi mungil, jumper baby, dan lainnya. "Aku ingin memiliki bayi Gail" "Anda akan mendapatkannya nyonya, lucu ya" Aku memegang sebuah sepatu kecil berwarna merah muda, aku membelinya satu untukku, entah buat apa tapi aku menyukainya.  Selesai membayarnya kami berjalan kembali mencari sesuatu untuk Jake. Aku masuk kedalam toko perhiasan, aku melihat sebuah cincin berlian bermata hijau sedang, aku menyukainya, cincin emas putih di buat khusus untuk pria, aku memilihnya dan kutuliskan namaku dibalik cincin itu. Aku memberikannya sebuah emerald dimond ring, beberapa macam dasi pilihan Gail akhirnya aku beli juga untuknya, aku menyelipkan sepatu mungil berwarna merah muda itu didalam kotak kado miliknya. Aku memesan sebuah mug berukuran sedang dan aku memesan tulisan  "you're incredible husband to me, i surrender with you,your wife Mrs. William" aku membuat satu mug untukku, "i'm the lucky wife to have husband you Mr. William". Mug putih itu terlihat bagus, aku menyukainya dan membungkusnya indah dengan kotak berwarna cokelat tua bernuansa kayu. Aku tidak sabar untuk memberikannya, aku berniat untuk mendatanginya kekantor. ___ Aku telah tiba dikantor Jake, Gail membantuku membawakan beberapa kotak kado untuk Jake.  "Apakah Jake didalam?" Aku bertanya pada Magy sekertaris Jake yang duduk diluar ruangan Jake. "Tuan sedang keluar beberapa jam yang lalu nyonya" "Baiklah kalau begitu biar aku masuk saja" Aku dan Gail masuk kedalam ruang kerja Jake, aku terkejut melihat meja Jake yang begitu berantakan. "Gail bantu aku membereskan meja Jake" "Baik nyonya" Gail meletakkan kotak-kotak itu diatas meja tamu, aku merapikannya, tak sengaja aku melihat ada sebuah foto Jake kecil dan satu anak laki-laki bersamanya sudah jelas itu Luke, aku memandang foto itu terdiam, sepertinya saat usia tujuh tahun. Tak terasa aku meneteskan air mataku, aku merindukan Luke, sangat merindukannya, air mataku mengalir, foto itu ada di sela-sela kertas yang berhambur.  Aku menutup mataku, menghela nafas panjang. "Kau memikirkanku?" Aku membuka mataku pelan. "Luke" "Jangan menangis sayang, aku selalu bersamamu dimanapun dirimu, kau memberi kejutan untuk Jake?" Aku menatapnya, Luke bersamaku. "Iya, semua untuknya, Luke, aku sudah bisa mencintai Jake, kuharap kau tak keberatan" "Sama sekali tidak, aku bahagia mendengarnya, kau bersama orang yang tepat sayang"  Aku ingin mendekatinya tapi tiba-tiba Luke menghilang. "Nyonya" Aku membuka mataku, pipiku basah karena air mata.  "Anda menangis?" "Aku hanya sedang mengingat sesuatu" Tiba-tiba pintu terbuka, Jake masuk dengan wajah muram lalu terkejut melihatku. Meja sudah rapi dan Gail sudah menyiapkan kue tart cantik disana, kotak-kotak kado tersusun rapi. Jake mendekatiku, memandangku dalam. "Sayang" "Surprise" Aku tersenyum lebar padanya, Jake berkaca-kaca melihat semua yang ada didalam ruangan itu. "Kau membuat semuanya?" Aku mengangguk. "Terima kasih sayang" "Sudah kewajibanku" "Bukalah" Jake membuka kado yang berisi dasi-dasi itu, lalu membuka kado yang berisi cincin emas putih, lalu mencium lembut keningku. "Ini begitu indah, tapi tentu saja tak seindah dirimu"  Dirinya melihat ada satu lagi kotak yang belum terbuka, Jake membukanya, melihatnya lalu tersenyum kearahku, matanya bersinar. "Kau membelikannya untukku?" "Aku menginginkannya" Aku berbisik kearahnya, Jake menatapku dalam, lalu menarikku kedalam pelukannya dan berbisik. "Kita akan mendapatkannya segera" "Benarkah?" "Tentu saja" "Kapan" "Sekarang" "Gail bersama kita" Aku melepaskan pelukannya, Gail seolah-plah mengerti lalu tersenyum dan pergi meninggalkan kami berdua didalam ruang kerja Jake. Jake menciumku dengan lembut, membuka seluruh pakaianku, lalu kami melakukannya diatas sofa milik Jake.  "I love you" "I love you more to" "I will give you so many baby" "I can't wait" Jake memelukku kami selesai lalu bersiap-siap pulang bersama-sama.  ___ Satu bulan kemudian "Jake, perutku sakit" Aku memegang bagian bawah perutku, terasa keram begitu menyakitkan, tangan dan kakiku terasa dingin, keringat dingin mengucur diseluruh tubuhku, Jake masih berada diluar kamar.  "Jake, aku kesakitan"  Aku berdiri dari ranjang bibirku mengering dan pucat, aku mulai berdiri pelan, aku terkejut melihat darah mengalir dipahaku.  Jake muncul dari luar, tampak tenang tapi langsung berubah ketika melihat aku terjatuh kebawah lantai. "Emma, ada apa denganmu" Jake berlari kearahku, aku tenggelam didalam pelukannya, Jake melihat darahku mengalir. "Kau berdarah sayang, ada apa ini" Emma mengangkatku, membawaku segera kemobil lalu pergi menuju rumah sakit. Aku tidak sadar waktu itu, aku pingsan sepertinya tetapi aku juga seperti mendengar suara ribut-ribut dari rumah sakit itu.  "Istri anda mengalami pendarahan tuan" "Bagaimana bisa?" "Sepertinya istri anda kelelahan, saya akan melakukan cek darah istri anda, mohon tunggu sebentar"  Aku masih terpejam mendengar suara pelan dari Jake dan dokter, aku mencoba membuka mataku pelan. "Jake ada apa?" Jake membalikkan badannya dengan cepat menatapku. "Sayang, kau mengalami pendarahan" Aku gemetar, para perawat sudah memberiku infus untuk memberiku cairan. "Kita tunggu doker kembali, dokter sedang menunggu hasil tes darah darimu sayang" Jake duduk dikursi sebelah ranjangku, memegang tanganku dan mengelus lembut kepalaku.  "Tuan William dan Nyonya William, ada beberapa hasil tes yang bisa saya sampaikan" "Apa itu dokter" "Selamat istri anda sedang hamil dua minggu" Aku terkejut mendengarnya, seperti ada yang jatuh dijantungku ketika mendengarnya aku sungguh tak percaya, Jake menguatkan genggaman tangannya padaku. Wajahnya begitu bersinar mata gelapnya terpancar cahaya. "Benarkah?" Dokter mengangguk. "Hanya saja istri anda mengalami sedikit kelemahan dibagian kandungannya, jika lelah sedikit itu akan mengalami infeksi dibagian rahimya"  "Apakah itu bebahaya untuknya?" "Sedikit berbahaya, mungkin ada baiknya jika melakukan hubungan badan dengan pelan-pelan" Aku menatap Jake, bagaimana bisa, sedangkan Jake jika bersamaku tidak bisa mengontrol dirinya. "Akan aku lakukan, aku ingin istri dan calon anakku sehat" Jake memegang lembut perutku, aku memegang tangannya yang berada diatas perutku. "Terima kasih Tuhan, Emma kau mengandung anakku, anak kita, aku mencintaimu" "Aku juga mencintaimu sayang" Dokter meninggalkan kami berdua. "Kau dengar kata dokter tadi, kau harus berhati-hati sekarang" "Aku tidak bisa mengontrol diriku jika bersamamu tapi ini semua demi kebaikanmu dan anak kita"  Jake mencium lembut perutku dan keningku. "My little Jake here"  Aku bergumam lembut, memandang perutku. "No, my little Emma there, i hope she born soon"  "I wanna have little baby boy from you" Aku tetap berkeras ingin anak lelaki tapi kami akhirnya tertawa karena kekonyolan kami berdua. "Ini masih sangat kecil untuk memperdebatkannya sayang" "Yeah i know" Aku tertawa Jake mencium lembut bibirku. "Aku akan terus menjagamu" "Terima kasih sayang" ___ "Jake, aku mau kau membuatkanku nachos dengan saus matcha" Jake memandangku aneh, wajahku terlihat memelas, mataku bulat memohon seperti anak kucing yang meminta s**u pada majikannya. "Kau bisa kan membuatnya?" "Apakah aku harus membuatkannya tengah malam begini, ini jam dua malam" "Tapi aku menginginkannya dan kau yang membuatnya" Jake menatapku lagi, menyipitkan matanya menggaruk-garuk kepalanya walaupun kutau dia tidak merasakan gatal sedikitpun. "Baiklah untuk tuan putri tersayang dan calon bayiku tercinta aku akan siap melakukan apa saja untuk kalian" Aku tertawa sumringah, kandunganku sudah masuk usia tiga bulan, aku memang sering meminta hal-hal aneh pada Jake, kata orang bawaan calon bayi, dan aku menikmatinya walaupun terkadang menyusahkan Jake.  "Babe" Aku menatapnya heran, wajah Jake terlihat bingung, takut memandangku. "Ada apa?" "Kita kehabisan stok matcha bubuk" "Ayo kita keluar" "Ini tengah malam, udara malam tidak akan baik untuk kalian" "Tapi aku menginginkannya" Aku kembali merengek, Jake terlihat kebingungan. "Haruskah aku membangunkan Gail?" "Aku tidak menginginkan Gail yang membeli aku mau kau yang beli" "Ini sudah larut sayang" Suaranya lembut, ah aku menyukainya. "Aku akan memakai coat berlapis-lapis bagaimana?" Jake tersenyum, Jake kearahku lalu menarikku kedalam pelukannya lalu menatapku. "Baiklah untuk kali ini ayo kita keluar tengah malam" Aku tertawa kesenangan, Jake begitu baik memperlakukanku. ___ Kami sampai ke toko yang menjual beberapa jumlah bahan makanan dua puluh empat jam di bagian tengah kota Seattle, kami tidak mendapatkannya, aku cemberut mukaku terlihat masam. "Sabar sayang kita akan mendapatkannya" Akhirnya Jake menghentikan mobilnya ditoko khusus menjual bahan makanan dari Korea, kami mendapatkannya.  "Tapi apakah tidak aneh nachos dengan saus matcha?" Jake mengerutkan dahinya, aku memperlihatkan wajah datarku. "Itu bisa menjadi rasa yang begitu nyaman, bagaimana kita bisa tau enak atau tidaknya kalau kita belum merasakannya lebih dulu?" "Baiklah ayo kita pulang, kita sudah mendapatkannya kan?" Aku menarik lengan Jake lagi, terdiam seperti anak kecil, toko itu tampak sepi karena sudah larut malam, aku melihat ada boneka panda yang kecil begitu lucu, aku memberi kode pada Jake dengan kedua mataku. "What?" Jake terlihat bingung dan mengerutkan dahinya, saat matanya tau maksud dariku Jake tersenyum. "Kau menginginkan boneka itu?" Aku terlihat benar-benar seperti anak kecil. "Ini untukmu tuan putriku tersayang"  Jake mengambilkannya untukku lalu membayar semuanya.  ___ Kami sampai dirumah, Jake mulai membuatkan permintaanku, setelah semua selesai aku hanya mencicipnya dan hanya menjilat saus matchanya saja, setelah itu aku tidak menginginkannya lagi.  "Aku sudah kenyang" "Bagaimana kau bisa kenyang kau bahkan belum memakannya?" Jake terlihat sangat kebingungan. "Tapi aku kenyang, Jake aku mau..." Aku menumpahkan muntahanku dibajunya, Jake terkejut lalu mengelus-elus tengkuk kepalaku dengan lembut. "Sayang, kau tak apa?" "Aku begitu mual mencium bau matcha itu"  "Apa yang harus aku lakukan dengan ini?" "Bawa saja jauh-jauh dariku, aku tidak ingin mencium baunya"  Jake membuka bajunya, lantai dapur dipenuhi dengan muntahanku, Jake dengan telaten membersihkan lantai dapur, ya ampun Jake begitu seksi mengepel lantai dengan telanjang d**a. Jake membawa jauh-jauh saus matcha itu, tapi baunya masih terasa menyengat dihidungku. "Baunya masih tercium sayang, aku masih mau muntah" "Tunggu sayang jangan muntah dulu, aku akan keluar" Jake berlari keluar membawa saus matcha itu semua jauh-jauh dariku, perutku benar-benar mual. "Bagaimana sekarang?" "Sedikit lebih baik, tapi kau terlihat kotor dengan bekas muntahanku, maafkan aku" Mataku membulat, aku memelas memandangnya.  "It's okay babe" "Kau harus mandi sayang" "Ayo mandi bersamaku"  Jake menggendongku keatas, aku berendam didalam air hangat, Jake terlihat selesai dengan mandinya dan menungguku dengan santai.               "Kau lelaki yang luar biasa buatku sayang" "Sudah kewajibanku untukmu" Aku memegang lengannya, Jake mencium bibirku lalu menyentuh lembut perutku.  ___ "Emma" "Hii Kate, aku lama tak melihatmu darimana saja kau?" "Aku baru pulang berlibur dengan Tyler, ini untukmu"  "Kau dari Bali, Indonesia?" Kate mengangguk girang, memberikanku banyak hadiah darinya, baju khas dari Bali,aksesoris lengkap, makanan begitu banyak. "Terima kasih Kate, kau mau tau kabar gembira?" "Apa itu?" Kate penasaran. "Aku hamil" "Hah, benarkah??? Kau membuatku terkejut, aku senang mendengarnya" Aku mengangguk girang, Kate memelukku. "Ini sudah berjalan tiga bulan, dan aku mempunyai tingkah aneh selama masa kehamilanku" "Itu hal biasa bagi perempuan setauku, ah aku menginginkannya juga" "Akh harap kau segera hamil juga" "Aku harap juga begitu"  Tyler datang mendatangi Kate dan aku, mencium lembut pipi Kate dari belakang. "Ah kalian mesra sekali" "Tidak semesra dirimu dengan Jake, dimana Jake, aku tidak melihatnya" "Dia sepertinya di halaman belakang, aku tidak tau apa yang dikerjakannya disana" "Aku akan kesana menemuinya" Tyler pergi menemui Jake, aku melihat dari jauh Jake sedang mengerjakan sesuatu entah apa itu, aku dan Kate mendekati mereka. "Sedang apa dia?" Tanya Kate, aku mengangkat kedua bahuku. "Ayo kita dekati" "Apa yang kau lakukan Jake" Tanya Kate. "Membuat sesuatu, untuk anakku nanti" "Bahkan masih lama sayang" "Aku ingin membuat ayunan ini untuknya" Kami tersenyum melihat aksi Jake.  "Ayo istirahatlah dulu, Gail membuat sesuatu didalam" "Baiklah sayang aku akan segera datang" ____ Kami menyantap pasta yang dibuat Gail, rasanya sangat enak, aku tambah dua piring, aku jadi banyak makan selama kehamilanku, dan Jake menyukainya.  "Makanmu banyak Emma" "Aku sering kelaparan sekarang" "Aku menyukai Emma sipemakan ini" Jake menyeletuk kami semua tertawa. "Bukankah Emma memang suka makan banyak" Tyler menyeletuk juga, aku malu tapi ikut tertawa tak peduli. "Yang penting perutku kenyang itu tidak ada masalah buatku, selagi aku mempunyai suami yang begitu menyayangiku" Aku menatap Jake. "Aku tak peduli kau akan menjadi gendut, aku mencintaimu  natural" "Kalian kenapa manis sekali" Kate memandang kami dengan sumringah. "Kalian membuatku ingin segera pulang saja" "Ahh jangan begitu Kate sayang, tetaplah disini" Kami tertawa semua, tiba-tiba suara bel pintu berbunyi, Gail segera keluar membukakan pintu. "Belle" "Ohh Emma, aku merindukanmu" Aku berdiri dan mendatangi Belle dan Lucas. "Bagaimana kabarmu sayang" "Aku sangat baik" "Kau terlihat berbeda, hmmm terlihat sedikit berisi" "Bagaimana tidak, ada makhluk hidup yang berada didalam perutnya sekarang"  Kate mengumpat, Belle dan Lucas terkejut. "Kau sedang hamil sayang?kenapa kau tidak memberitahuku?" Aku mengangguk senang. "Aku tau kah sedang sibuk Belle" "Kami tidak sibuk jika kau menghubungiku, bukankah aku sudah bilang anggap aku orang tuamu" "Terima kasih Belle" "Ahhh aku senang mendengar berita bahagia ini, aku akan segera mendapatkan cucu yang lucu" "Mari makan bersama kami"  Jake mengajak Belle dan Lucas makan bersama. "Baiklah, aku merasa lapar" Lucas berbisik keBelle kami tertawa melihatnya. ____ Four month later .... "Aku membuatkanmu cheese cake" Aku menyodorkan satu piring berisikan tiga potong cheese cake , aku suka membuatnya. "Sini biar aku coba" Aku tersenyum lalu menyuapkan pada Jake, Jake membuka mulutnya dan dilahapnya . "Bagaimana?" Aku melihat wajah Jake mengerut, aku mencoba mencicipinya rasanya aneh, wajahku mengerut juga tapi Jake malah menghabiskannya. "Ini sangat enak sayang, kau pandai membuatnya" Aku bingung melihatnya rasanya asin sekali, aku menatapnya tertawa lalu kutarik piring dari tangannya. "Tak usah berbohong ini rasanya tidak enak" "Ini sangat enak menurutku, sini aku habiskan kau dulu" Jake menghabiskannya walaupun wajahnya terlihat menahan rasa yang aneh, ah aku mencintai lelaki yang tidak pernah membuatku kecewa. "Sayang" Jake melihatku matanya membulat, aku menarik piring yang ada ditangannya. "Sudah cukup, terima kasih sayang, jangan memaksanya" "Aku tidak pernah terpaksa, sayang kau sudah membuatnya, kau membawa calon bayi kita untuk membuatnya, jadi aku harus memakannya dengan bahagia" Aku menyentuh pipinya,lalu menyentuh sela bibirnya yang terkena bekas cheese cake. Aku tiba-tiba merasakan kesakitan dibagian perutku, rasanya begitu nyeri, aku memegang erat lengan keras Jake. "Sayang ada apa denganmu?" Jake terlihat panik melihatku, memegang perutku, tanganku dingin. "Sakit,ahhh rasanya mengeras" Jake mengangkatku, membawaku kekamar dan meletakkanku diatas ranjang. "Rasanya nyeri sekali, ada apa ini?" "Kau harus kedokter" Aku menggelengkan kepalaku, aku menatapnya. "Kau tidak boleh menolak, aku takut ada apa-apa denganmu" Aku merasakan  cairan panas keluar dari bagian kedua pangkal pahaku, aku menyentuhnya pelan. "Cairan keluar dari vaginamu sayang" Jake keluar memanggil Gail, Gail dengan cepat menuju kamarku lalu terkejut melihatku yang sudah lemah.  "Nyonya sepertinya mengalami kontraksi tuan" "Apa yang harus aku lalukan Gail, Emma tidak mau kubawa kerumah sakit" "Tenangkan nyonya dulu, saya akan menyiapkan air hangat untuk nyonya, bagaimana kalau panggil dokter" Itu terdengar seperti ide bagus menurutku, aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, nafasku menyesak, setiap kali cairan panas itu keluar rasanya begitu nyeri dibagian rahimku, aku menangis, saat Jake mendekatiku, aku mengeluarkan muntahan kearahnya. "Maafkan aku" Aku bernafas sambil menangis, Jake memberiku air, aku meminumnya, Jake mengelus kepalaku, tangannya memegangku.  Aku memeluk Jake, dokter datang kekamarku dan mendekatiku. "Biar saya periksa dulu" Dokter itu memeriksaku, jarinya masuk kedalam vaginaku untuk memeriksa bagian dalam. "Istri anda sudah mengalami pembukaan lima, ini begitu mengejutkan" "Benarkah, apakah hari ini bayi kami akan lahir?" "Sepertinya begitu, ini akan menjadi cepat beberapa bulan dari perkiraan waktu sebelumnya, bisa dibilang mengalami prematur" "Aku harap semua akan baik-baik saja"  "Aku harap juga begitu, sementara kit menunggu pembukaan berikutnya"  Aku tidak bisa menahan, perasaanku begitu gelisah, aku berdiri ketika cairan itu tidak keluar lagi, Jake dengan sabar menuntunku, Jake mengelus-elus punggungku, Jake tidak memakai pakaian apapun, Jake terlihat seksi tapi aku tidak memperdulikannya. Sesekali aku mencium kening Jake tapi sambul menahan rasa sakit diperutku, aku masuk kedalam bak mandi, berendam sambil menahan rasa sakit, Jake setia menungguku duduk dibelakangku sambil memijat punggungku dengan lembut. "Jake sakit sekali"  "Sabar ya sayang, kau harus kuat, kau istri terhebat untukku dan anak kita" Aku mengangguk kesakitan, aku menangis, aku keluar dari bak mandi, tubuhku basah, Jake membungkusku dengan handuk, lalu memelukku lagi. Aku kembali keranjang yang sudah dilengkapi dengan peralatan melahirkan yang lengkap, aku berbaring kembali. Rasanya tiba-tiba menjadi sakit tak tertahankan seperti pinggulku mau lepas dari tubuhku.  Aku berteriak, berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam perutku rasanya benar-benar luar biasa, aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Tidak lama sesuatu keluar begitu saja, aku merasa sedikit lega, tapi tiba-tiba perutku masib terasa mulas, aku tetap berteriak pelan, aku tidak percaya aku mengeluarkan dua bayi, aku mendapatkan bayi kembar.  Aku lega, tubuhku melemah begitu saja tergeletak tak berdaya, mendengar suara tangisan sang bayi, aku meneteskan airmataku. "Sayang, bayi kita kembar"  Aku tersenyum ketika Jake menggendong salah satu bayi kami, dan satu lagi digendong oleh dokter. "Mereka sepasang" "Maksdumu?" "Laki-laki dan perempuan sayang, lihatlah mereka begitu lucu dan sempurna, ini benar-benar luar biasa" "Mereka anugerahku" Jake meletakkan satu padaku, lalu terlungkup diatas dadaku yang terbuka, sang bayi perempuan itu mencari sumber s**u dari payudaraku, tak lama disusul oleh bayi laki-lakiku.  "Kau terlihat sempurna sayang, terimakasih kau telah melahirkan bayi-bayi lucu ini" "Ini semua karenamu, jika tak ada dirimu aku tak bisa mendapatkan dan melahirkan bayi yang lucu-lucu ini" Mereka tertidur pulas setelah aku memberikan s**u, begitu lucu, sangat sempurna terlihat seperti malaikat yang menerangi rumah kami. **** "Sayang" Jake meneyentuh punggungku dengan lembut lalu mengecupnya, aku membalikkan kepalaku menatap mata gelapnya yang bersinar. "Ya sayang" "Aku mencintaimu" "Kau sudah mengucapkannya hampir seribu kali hari ini" "Aku suka mengeluarkan kata-kata itu, terima kasih kau menjadi ibu yang luar biasa untuk anak-anakku" "Mereka anakku juga kan?" Aku berbalik, berada didalam pelukan Jake, tangannya berada dipinggulku lalu menatapku lembut.  "Mommy, daddy, aku ingin dipeluk juga"  Meghan William anak perempuanku datang berlari mendekati kami, usianya sudah dua tahun, begitu lucu dan lancar berbicara dengan kami, aku mendatanginya. "Sini, darimana kau, sayang?" "Aku bermain dihalaman belakang bersama Dante,lihatlah tanganku"  Aku dan Jake terkejut melihatnya penuh dengan cat kapur berwarna warni memenuhi tangan dan kakinya. "Apa yang kalian lakukan disana?" Tanya Jake menyelidiki, lalu Dante putra kami datang membawa sebuah pot bunga berwarna putih, aku membulatkan mataku.  "Bagaimana bisa?" Dante dan Meghan mengukirnya, tergambar seperti bunga mawar dan aliran air walaupun tidak begitu rapi tapi itu sangat indah. Jake menggendong Dante, Dante tertawa memberikan pot bunga itu, Jake memegangnya. "Aku mencintai kalian anak-anakku" Jake mendekatiku dan Meghan, mencium kening kami berdua, tangan Meghan menyentuh pipi Jake. "I love you dad" Wajahnya terlihat begitu polos ketika menyentuh lembut pipi Jake, pipi Jake terlihat kotor karena cat itu aku tertawa melihatnya, Jake kebingungan. "Ada apa? Mengapa ibumu tertawa seperti itu?" Aku tidak menjawabnya, tapi tetap tertawa bersama Dante.  "You look silly daddy"  Aku terkejut mendengar Dante berkata seperti itu, Jake kebingungan lalu menggendong Dante menatap wajahnya dicermin. "Ooohh ini rupanya, baiklah tapi ini tetap terlihat seksi kan Dante?" Dante kebingungan ingin menjawab apa, tapi sepertinya ada yang dibisikan oleh Jake pada Dante, Dante tertawa. "Apa yang mereka bicarakan" Aku bertanya pada Meghan, Meghan menggeleng.  "Ibu, aku mau ice cream" "Aku juga menginginkannya, ayo kita dapatkan mereka" Aku pergi meninggalkan kamar, Jake dan Dante mengejar kami. "Tunggu kalian" Kami sadar Jake mengejar, aku melihat Dante memajukan tangannya, sepertinya Dante mau memberikan catnya kepadaku.  "Ayo kita berlari Meghan, mereka ingin menyerbu kita" Meghan tertawa terbahak-bahak digendonganku, aku melihat wajah seperti malaikat dari anak-anakku. Jake dan Dante menangkapku dan Meghan, lalu mengoleskan cat diwajahku, mata gelap Jake bercahaya tawanya memperlihatkan giginya yang begitu sempurna, Dante memiliki bola mata berwarna biru, persis seperti Luke, Meghan memiliki bola mata persis seperti Jake, gelap bercahaya.  Keduanya begitu sempurna untukku, mereka melengkapi hidupku yang penuh dengan kebahagiaan.  "Ayo anak-anak, aku membawakan es krim, ada yang mau?" Gail datang membawa beberapa gelas es krim, aku melihat Meghan lalu memberinya kode biar lebih dulu mendapatkan es krim dari Gail, aku dan Meghan berlari kecil dan meraih dua gelas es krim dari Gail, Jake dan Dante tidak kebagian. "Kalian begitu cepat berlari" Jake menggerutu. "Ini enak sekali" Godaku, aku memandang wajah Dante yang memelas, matanya berkaca-kaca, aku tidak tega dengannya. "Dante, sayangku, kemari nak" "Aku mau ibu, berikan padaku" "Tentu saja, ini untukmu sayang" "Ohhh mommy i wanna too" Jake memelas dihadapanku, wajahnya terlihat seperti orang bodoh tapi begitu manja, ah aku mencintainya.  "Kamu mau ini?" Aku mengaut satu sendok es krim lalu kuberikan padanya. "Cukup satu sendok saja untukmu" Jake membulatkan matanya.  "Ahh aku masih mau" "Sssshhhtt kau tidak perlu itu" Aku menyendokkan satu sendok es krim lalu kumasukkan kedalam mulutku, lalu aku mencium Jake dengan cepat, Jake terkejut. Jake merasakan manisnya es krim dari mulutku, lalu melahapnya dengan lembut. "Kau begitu manis" "Kau juga" Kami melanjutkan ciuman kami, tidak sadar kalau Meghan dan Dante melihat kami berdua, Gail dengan cepat membawa mereka pergi dari kami.  "Anak-anak melihat kita" "Mereka sudah pergi" Aku mengintip dan ruang dapur sudah kosong tak ada siapa-siapa lagi, Jake meneruskan pekerjaannya pada diriku, kami melakukannya di dapur, Jake begitu nikmat.  ___ "Babe, i will go for two days" Aku mengerutkan dahiku, menatap Jake. "Kemana?" "Ada sesuatu urusan, kau jaga anak-anak" Pikiranku sudah kemana-mana, urusan apa lagi yang ada pada Jake, dulu dirinya bilang padaku seperti itu dan akhirnya dia pergi bersama Irina, aku takut itu terulang lagi. "Kau mau menemui seseorang?" "Tidak" "Jadi apa urusan pentingmu itu?" "Aku tidak bisa memberitahukannya padamu, hanya saja ini terlalu sulit untuk dikatakan padamu" "Kau mempunyai rahasia denganku?" Aku menyelidiki, aku mencoba menatap matanya tapi mata Jake tidak mau menatapku. "Sudah kukatakan ini sesuatu yang penting dan aku tidak bisa mengatakannya padamu" "Bukankah aku istrimu, mengapa kau tidak bisa katakan saja padaku, apa susahnya?" Wajah Jake menegang, acuh, Jake terlihat seperti Jake yang dulu. "Kau aneh sekali, ada apa denganmu" "Tidak ada apa-apa, aku tidak merasa aneh, aku pergi kekantor sekarang, aku akan menyiapkan kepergianku sendiri" Aku gemetar mendengarnya, Jake meninggalkan kamar dan pergi meninggalkanku tanpa menciumku seperti biasanya. Aku ingin berteriak tapi aku tidak bisa, anak-anakku masih tertidur pulas, bahkan Jake tidak mencium Meghan dan Dante. Detak jantungku berdebar kencang, aku melihat mobilnya melaju dari jendela kamarku.  Apa yang sedang dikerjakan oleh Jake sampai dirinya pergi dengan tergesa-gesa seperti itu. ____
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN