Aku terkejut melihat Jake terjatuh dari kursi rodanya , aku cepat-cepat menghampirinya dan berusaha sekuat tenaga mengankatnya lalu membuatnya duduk diranjang.
"Apa yang terjadi Jake?"
"Aku hanya ingin mengambil air minum, tapi kepalaku sedikit pusing lalu terjatuh, maafkan aku sudah menyusahkanmu"
Aku melihat raut kesedihan dari wajahnya, Jake terlihat begitu bersalah padaku, aku benar-benar harus meyakinkan dirinya bahwa tidak boleh ada perasaan bersalah dirinya terhadapku.
"Sayang, kau adalah suamiku kau cintaku , tidak ada alasan sekecil apapun untukku yang harus membuatku tidak memperdulikanmu, aku tidak pernah merasa kau menyusahkanku"
Jake menatapku matanya memerah, aku memeluknya, memberikannya minum dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Terima kasih sayang"
"Aku akan membawamu berjalan-jalan hari ini, sebentar aku akan menyiapkanmu"
Aku pergi menyiapkan beberapa barang untuk membawa Jake berjalan-jalan.
___
"Already to goooo?!"
Aku mengajak Kate dan juga Tyler pergi bersama kami, tidak lupa Gail .
"Kau mengajak Kate dan Tyler juga?"
Aku mengangkat bahuku, lalu mendorong kursi rodanya menuju halaman parkir mobil.
"Kita akan bersenang-senang jadi diamlah dan jangan menyangkal"
Kata-kata itu dulu sering diucapkan oleh Luke, Jake tersenyum tipis , semenjak Jake lumpuh dirinya mempunyai rasa sedikit tidak percaya diri, aku bisa merasakannya.
"Aku tidak suka keramaian"
"Tenang saja, aku tidak akan membawamu ke Club malam"
Aku terkekeh, Jake menolehkan kepalanya pelan.
"Kau mengolokku"
"Tidak sayang, jangan marah aku mencintaimu"
"Aku tidak bisa marah padamu"
Jake menggelengkan kepalanya lalu tersenyum, Kate dan Tyler sudah menunggu kami dimobil, Tyler membantuku untuk menaikkan Jake kedalam mobil.
"Hi Jake, how are you?"
Jake menganggukkan kepalanya tersenyum tipis tidak menjawab pertanyaan Tyler.
"Jake terlihat sangat baik hari ini, ayo mari pergi bersenang-senang"
Aku yang menjawab pertanyaan Tyler mencairkan suasana, Tyler mengendarai mobil.
___
Kami telah sampai di rumah tua bernuansa gaya eropa, batu bata yang dibiarkan begitu saja, rumah itu milik Jake , sengaja aku membawanya kesana .
"Kenapa kemari?"
"Karena aku menginginkannya"
Jake terdiam menatap rumah itu.
"Kenapa diam saja ayo masuk, aku sudah tidak sabar masuk kedalam"
Aku mendorong Jake, rumah begitu luas didalamnya begitu banyak pilar dan ditengah rumah itu kosong terlihat halaman yang begitu luas seperti lapangan tepatnya.
Aku dan Kate sebenarnya sudah menyiapkan beberapa peralatan untuk membuat barbeque party dirumah itu.
Kate dan Tyler terlihat sangat sibuk dan juga Gail, aku bersama Jake .
"Rumah ini sangat bagus, mengapa kau tidak membawaku kesini sebelumnya"
"Terlalu banyak kenangan dirumah ini"
"Kau tidak mau menceritakannya padaku?"
"Sebaiknya kau tidak perlu mengetahuinya"
Aku menghela nafas , aku tidak akan memaksanya , aku tersenyum memandangnya lalu memcium keningnya.
"Aku ingin bermain bola, ayo kita bermain"
Aku berteriak kepada semua orang yang ada dirumah itu, Jake menatapku bingung .
"Jake , kau bisa mengejar dengan kursi rodamu , lihat saja kau pasti bisa"
"Ah ayo kita mulai"
Tyler meletakkan beberapa alat dapur yang dipegangnya , Kate menyusul.
Kami memulai permainan bola kami aku sengaja berlari menjauh dari Jake, melempar bola kearah Jake , Jake terlihat tidak bisa berbuat apa-apa.
Kate menendang bolanya kearahku, aku terjatuh saat ingin mendekati bola itu kakiku terkilir aku kesakitan, mata Jake terbelalak , Jake menatapku frsutasi.
Jake menggerak-gerakkan tubunya terlihat ingin turun dari kursi rodanya, aku tidak bisa menggerakkan kakiku, kaki kananku terasa sakit, keram, aku meringis, Kate membantuku meluruskan kakiku, aku terus menatap Jake yang sedang menggerakkan badannya, Tyler mendekati Jake.
Jake pergi kearahku menatapku frustasi karena dirinya tidak bisa menolongku.
"Sayang kau tidak apa-apa?"
"I will be fine baby, don't worry"
Aku tersenyum padanya walaupun sedikit meringis menahan rasa sakitku, aku melihat pergelangan kakiku di pijat lembut oleh Kate.
"Kate itu sangat sakit, pelan-pelan"
"Ini hanya sementara Emma, tahanlah"
"Aaaarrrghh, Kate apa yang kau lakukan? Sakit"
Aku benar-benar meringis kesakitan, mataku tertutup dan saat kubuka kedua mataku pelan aku melihat kaki Jake menyentuh tanah, aku terkejut, Kate melepaskan sentuhannya dari kakiku, kami semua terkejut.
"Ja...ja..ke"
Aku mengeluarkan suaraku bergetar, sengatan listrik seraya ikut serta mengalir dialiran darahku, aku meneteskan air mata bukan karena kesakitan tapi reflek begitu saja melihat Jake bisa menyentuhkan kedua kakiknya ditanah.
Aku berdiri dengan cepat dan dibantu oleh Kate yang mengangkatku.
"Jake, kau .... ba..bagaiamana ini terjadi?"
Aku menyentuh pipinya, aku memandang kakinya itu begitu sempurna , dirinya berdiri sempurna walaupun masih terlihat sedikit lemah,m.
"Jake jangan memaksakannya duduklah kembali"
Aku membantunya duduk , tapi Jake menolaknya, Jake mengangkat satu tangannya, mengentuh pipiku, aku merasakannya .
"Emma, kau adalah kekuatanku, aku tidak tahan melihatmu sakit"
Aku menangis, aku sudah sering menangis, aku lelah tapi aku benar-bernar sedih, sedih bahagia.
"Jake , aku akan selalu baik-baik saja, lihatlah dirimu, kau terlihat sempurna menginjakkan kakimu ditanah, kau akan segera pulih sayang"
Jake duduk, dirinya tidak bisa berdiri terlalu lama.
___
"Emma, aku berjanji aku akan menjadi suami yang sesungguhnya, tolong maafkan aku"
"Untuk apa aku memaafkanmu?"
"Karena selama ini tidak bisa membahagiakanmu"
"Kau selalu saja berbicara seperti itu, diamlah, kau dirumah selama ini bersamaku, dan aku menyukainya jika aku suka itu artinya aku bahagia, kaulah kebahagiaanku yang sesungguhnya, aku tidak perduli dengan apa yang terlihat tapi aku perduli dengan apa yang aku rasakan yaitu cinta dan kasihmu"
Aku menatap mata gelapnya begitu dalam, Jake menangis kami berciuman lembut diatas ranjang.
___
Aku membantunya berdiri, mengajaknya berjalan-jalan disekitar Royal Park dan memegang lembut tangannya.
"Emma"
"Iya sayang"
Aku menoleh menatapnya, Jake terlihat begitu kuat.
"Aku tidak menyangka bisa berjalan lagi"
"Karena kau mempunyai keyakinan yang begitu kuat dari hatimu, aku yakin kau mempunyai kekuatan untuk hidup lebih lama denganku kan?"
Jake mengangguk , aku berhenti didepannya.
"Kekuatan dari hatimu yang membuat semua baik-baik saja, dan hatimu lah yang memulihkan segala kesakitan yang ada, Jake hatiku selalu berharap kau akan baik-baik saja mereka bersatu dan tentu saja mereka saling berusaha agar bisa selalu bersatu itulah mengapa kau memiliki kekuatan dan bisa berdiri lagi seperti ini"
"Kau terlihat begitu sempurna sayang, kau akan baik-baik saja"
Jake menatapku, tapi tidak lama kemudian wajah Jake menegang, matanya melihat sesuatu, aku membalikkan badanku dan terkejut, Jake membalikkan badanku dengan cepat, Irina berdiri dengan tegap dan memegang sebuah pistol ditangannya.
"Kau seharusnya mati Jake"
Aku terkejut mendengar ucapan Irina, aku merasakan detak jantung Jake dan getaran nafasnya aku tenggelam didalam pelukan Jake, aku khawatir pada Jake yang baru saja sembuh.
"Jake kau belum terlalu pulih"
"Tenanglah aku selalu kuat bersamamu, tenang ada aku"
"Kau w************n, kau masih saja tidak menyerah"
"Aku tidak akan menyerah sebelum aku mendapatkan apa yang kumau"
"Jangan terlalu percaya diri, kau pikir selama kau berbuat hal-hal bodoh ini kau bisa mendapatkan apa yang kau mau?"
"Aku bisa, dan jika kau tidak mati, dia yang akan mati"
Irina mengarahkan pistolnya kearah belakangku, Jake dan aku terbaring tiba-tiba ditanah, suara tembakan yang ditembak Irina meleset dari tubuhku, aku gugup, aku gemetaran.
Tidak lama aku mendengar suara tembakan susulan, aku mengintip dari sela-sela tumbuhan yang bisa melindungiku.
Jake berdiri tegap melihatnya, kebingungan, ada Tyler disana dirinya mengarahkan pistol aku melihat Irina sudah terbaring telungkup, aku berdiri, Tyler menembaknya.
"Sarah"
____
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, gemetaran berjalan mendatangi tubuh yang tergeletak tak berdaya itu.
"Sial Irina"
Aku seperti terkena sengatan listrik saat Jake memeluk tubuh wanita itu, Jake menatapku tapi dirinya lebih memilih untuk mengangkat wanita itu.
"Tyler tolong aku"
Aku terkejut melihat Jake yang sudah terlihat begitu kuat menggendong tubuh wanita itu.
"Jaga dia dan bawa dia kerumah sakit, aku akan segera menyusul bersama Emma"
Tyler mengangguk dengan cepat membawa tubuh wanita itu.
"Siapa wanita itu? Kau terlihat begitu panik"
Aku menatap Jake, Jake terlihat sedikit santai ketika tubuh wanita itu sudah dibawa oleh Tyler.
"Sarah"
Jake menoleh menatapku, mata gelapnya seperti membakar tubuhku, hatiku gemetar mendengar namanya dan melihat aksi Jake sebelumnya.
"Kau terlihat begitu khawatir dengannya"
"Sayang, aku tidak begitu khawatir dengannya, Irina sepertinya menembak kearah Sarah saat Tyler menembaknya , untunglah kau selamat"
Aku masih merasakan kecemburuan dengan sikap Jake kepada Sarah.
"Sayang, kumohon maafkan aku, jangan marah padaku"
"Kau terlihat sangat kuat tadi"
"Itu terjadi begitu saja"
"Kau mempunyai perasaan terhadap Sarah?"
"Kau cemburu?"
Aku menggelengkan kepalaku pelan dan tersenyum masam lalu menghela nafas panjang.
"Tak perlu cemburu, aku benar-benar tidak menyangka bagaimana bisa Sarah ada disana tadi"
Aku mengendarai mobil pelan lalu tiba-tiba aku menghentikan mobil yang kukendarai.
"Ada apa?"
"Kau ingin menemuinya?"
"Jika kau mengizinkanku dan ikut denganku aku akan pergi hanya untuk memastikan dirinya akan baik-baik saja"
Aku mengangkat bahuku, masih bingung mau menjawab apa aku ragu tapi aku penasaran dengan wanita bernama Sarah itu.
"Baiklah, kau yang bawa mobilnya, lagipula kau sudah terlihat sangat kuat menggendong tubuh wanita tadi"
Jake berseringai lalu menyipitkan matanya, giginya terlihat begitu rapi, aku keluar dari mobil lalu pindah tempat.
"Kau sangat manis ketika sedang cemburu seperti ini"
"Aku tidak cemburu, kau saja yang terlalu percaya diri, lagi pula dia kan teman 'tidurmu' wajar saja kalau kau masih perhatian dengannya"
Wajah Jake berubah menjadi tegang, diam tak bisa menjawabku, kupikir dirinya marah denganku, dirinya menjalankan mobil dengan cepat.
Tiba-tiba berhenti disalah satu store , aku tidak begitu yakin tempt apa yang disinggahi Jake.
"Tunggu sebentar"
Nada Jake begitu datar, sepertinya Jake tersinggung dengan perkataanku sebelumnya.
Aku menutup kedua mataku dengan tanganku.
"Aku ini kenapa sih? Harusnya aku tidak boleh terlihat begitu cemburu, dasar Emma bodoh"
Aku menggerutu sendirian dimobil, suara ketukan kaca disebelahku mengejutkanku yang sedang menggerutu.
"Maafkan aku, aku mencintaimu Mrs. William"
Suara itu terdengar lucu , sebuah boneka panda besar sepertinya diprogram khusus agar bisa berbicara,aku terkejut melihatnya, aku membuka kaca mobilku.
Jake menutupi wajahnya dari belakang boneka itu.
"Jake?"
"Untukmu, jangang marah sayang, kau persis seperti panda ini jika sedang marah matamu menghitam coba kau lihat"
Aku berkaca , aku tidak terlihat seperti itu aku tertawa lalu membuka pintu mobil dan keluar mendatangi Jake.
"Mataku tidak hitam, awas kau"
Jake memberiku boneka panda itu lalu memberikanku sebuah kotak kecil dan setangkai bunga mawar merah padaku.
"Kenapa banyak sekali"
"Karena sudah lama aku tidak memberikanmu hadiah"
"Kau hadiah terbesarku"
"Bukalah"
Aku membulatkan mataku, sebuah jam tangan mewah, satu untukku dan satu lagi untuk Jake.
"Ini begitu cantik"
"Tentu saja tidak secantik dirimu"
"Dan juga tidak seluar biasa dirimu"
Aku menjawabnya.
"Jake terima kasih"
"Jangan kau pikir aku akan memikirkan wanita lain, dihati dan pikiranku hanya ada kau, kau, kau, dan selalu kau, jadi tidak ada tempat lagi bagi yang lainnya selain dirimu"
Aku berseringai kepada diriku sendiri.
"Kau begitu indah sayang"
Jake menarik tubuhku lalu mencium keningku.
"Lihat jam ini, pada jamku ada inisial huruf namamu, begitu juga dijam tanganmu"
"Dengan begitu selain aku tidak bisa melupakan waktu didunia aku juga tidak akan bisa melupakan namamu dari waktu-waktuku"
"Kau benar, aku mencintaimu, jangan berpikir begitu keras"
"Aku hanya takut"
"Jangan takut aku akan selalu bersamamu, lihat saja aku sekarang berdiri dihadapanmu kan?"
"Kau benar-benar suami terhebat untukku sayang"
"Aku lelakimu"
"Aku wanitamu"
Kami berpelukan dipinggir jalan dan didepan store itu, aku merasakan dunia hanya milik kita berdua saat itu.
____
Aku berjalan dibelakang Jake, aku memperhatikan langkah Jake, gerak gerik tubuh Jake, tidak ada yang aneh memang semua terlihat normal dan biasa saja, tidak ada kekhawatiran yang berlebihan lagi.
"Mengapa kau seperti menguntitku?"
Jake menghentikan langkahnya membalikkan badannya lalu menatapku konyol, aku menggeleng terlihat bodoh aku ketahuan mengumpat dibelakangnya.
Jake menarik tanganku.
"Kau lebih cocok jalan disebelahku, tidak perlu menjagaku seperti itu, hati dan pikiranku selalu untukmu sayang"
Aku bergetar malu, pipiku memerah aku ketahuan lagi, Jake selalu hapal denganku.
"Ya baiklah, tapi aku tidak menguntitmu, aku hanya berjalan dibelakangmu saja"
Aku berbicara cuek lalu memajukan langkahku sekarang aku tepat berdiri disampingnya, Jake menyeringai kearahku lalu menggenggam tanganku mencari ruang perawatan Sarah, aku menggenggam tangannya begitu erat.
"Tanganmu dingin sekali"
"Mungkin karena aku trauma berada dirumah sakit terlalu lama sebelumnya"
Aku menatap Jake, aku gemetar lututku melemah mendengar Jake .
"Kau sembuh sekarang, sebenarnya aku mempunyai perasaan yang sama"
"Abaikan semuanya, aku tidak akan takut lagi kau sumber keberanianku dan kekuatanku Emmaku"
Kami terus berjalan dan berpegangan tangan erat, lalu sampai didepan ruang perawatan Sarah, sebelumnya Tyler memberikan pesan singkat dimana ruangan Sarah.
Aku mengintip dari balik pintu, aku melihat Kate dan Tyler menunggu didalam, aku dan Jake segera masuk.
"Emma"
Kate memelukku lalu memeluk Jake.
"Kau benar-benar terlihat sudah sehat, bahkan kau tidak terlihat pernah sakit sebelumnya Jake"
Kate memeluk Jake lalu mengacak sebelah pinggangnya menatap Jake heran itu lebih terlihat seperti orang mengejek.
Tyler mendekati kami.
"Thank you Tyler"
Ucap Jake pada Tyler, aku senang mereka berteman sekarang.
"Welcome Jake, sudah seharusnya aku membantumu"
"Bagaimana keadaannya?"
"Masih belum sadar, dirinya mengalami tekanan terlalu parah, tembakan mengenai jantungnya, tapi itu sudah aman, peluru sudah dikeluarkan darinya"
Aku ingat pada bekas tembakan dilenganku tapi aku segera mengabaikannya.
"Dirinya juga mengalami shock yang begitu parah, tapi kita lihat saja nanti bagaimana ketika dirinya bangun"
Aku terdiam memandang wajah Sarah yang tenang sedang terbaring lemah, aku mendekatinya, aku melihat ruas jarinya bergerak, aku memanggil Jake cepat.
"Jake jarinya bergerak"
Semua orang yang diruangan melihatnya, Tyler keluar memanggil dokter atau perawat.
"Iya sayang, kita lihat dokter akan segera datang"
Dokter masuk dan memeriksanya , dokter menyenteri mata Sarah, wajahnya cantik, rambutnya pirang, Jake menyukai wanita pirang sebelumnya, pikirku.
Aku melihat mata Sarah terbuka pelan, aku mendekatinya, Sarah menyipitkan matanya terlihat meringis menahan rasa sakit di bagian dadanya yang penuh dengan perban.
Aku dengan reflek menyentuh lengannya, Sara bingung melihatku.
"Kau sudah sadar"
"Si....siapa kau"
Suaranya terdengar serak terbata-bata dan sangat pelan.
"Emma, istriku"
Jake menjawab, Jake berdiri disebelahku sekarang lalu merangkul pundakku.
Sarah tersenyum lembut, seperti mengingat sesuatu.
"Maafkan aku membuatmu susah seperti ini"
"No it's okay Sarah, bagaimana perasaanmu?"
Tanya Jake aku menatap Sarah kasihan.
"Sedikit lebih baik, tapi dadaku sangat sakit"
"Kau akan segera sembuh, tadi kau tiba-tiba berada ditaman juga"
"Aku sudah berada disana lama"
Aku terkejut mendengarnya, memkirkan sesuatu bukankah Sarah sudah lama pergi tapi kenapa bisa dirinya berada disana.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Tanya Kate mengumpat.
"Irina yang menjemputku, lalu membawaku Irina bilang Jake ingin menemuiku, tapi ternyata aku tau kalau Jake sudah menikah"
Aku bergetar mendengar nama Irina lagi, sepertinya wanita itu tidak pernah menyerah menghancurkan hubunganku dengan Jake.
"Apakah kau masih menginginkan Jake?"
Aku bertanya dengan cueknya, menatap Jake, Jake terlihat menyeringai manis membiarkanku melontarkan pertanyaan serius tapi terlihat bodoh bagiku.
Sarah tersenyum lembut, lalu sebentar memejamkan matanya.
"Tentu saja tidak"
Aku menatapnya dengan serius, Sarah menarik tanganku lalu memegangnya.
"Emma walaupun aku dan Jake dulu sering bersama tapi aku hanyalah sebatas teman tidur untuknya, aku memang menginginkannya, tapi itu begitu susah Jake tidak pernah ingin memakai perasaannya untuk wanita manapun"
Aku mendengarkan dengan serius, sesekali menatap Jake, Jake terlihat begitu menggoda.
"Dengar Emma, aku datang bersama Irina bukan karena aku mau merebut Jake, tapi karena aku ingin berterima kasih pada Jake"
Aku menatap Jake.
"Berterima kasih Untuk apa?"
"Selama aku sakit, Jake sudah berbaik hati membiayai pengobatanku, Jake, aku sudah lama pergi dari lelaki tua itu"
Sarah menyampaikan sesuatu pada Jake, Jake tersenyum lembut padanya.
"Syukurlah, kau aman sekarang?"
"Sedikit lebih aman, apakah aku harus mengembalikan utang-utangku padamu?"
"Tidak perlu, aku sudah menaruh sejumlah uang diakun bank-mu pakailah itu untukmu"
Aku terkejut mendengarnya, tapi aku tidak berhak marah, Sarah salah satu masa lalu Jake, Jake terlihat begitu mulia dengan apa yang dilakukannya.
"Aku harap kau bisa segera pulih"
"Terima kasih Jake, Emma, Jake begitu mencintaimu, aku pernah mendengar Jake memanggil namamu saat dulu Jake mabuk dan ketika Jake sedang bermimpi, dan akhirnya aku bertemu denganmu nama yang sering dirinya panggil"
Aku bergetar lagi mendengarnya, menatap Jake.
"Benarkah?"
Aku terlihat seperti anak-anak yang seperti akan diajak berlibur ke Disneyland terlihat begitu senang, konyol.
Sarah mengangguk dan tersenyum pelan.
"Aku akan segera pergi Sarah, kau baik-baiklah"
"Cepat sembuh Sarah"
Aku memeluk Sarah cepat, tidak ada kebencian dari Sarah, aku tenang telah mendengar semuanya.
"Apakah kau akan tetap disini?"
Tanyaku pada Kate dan Tyler, Kate terlihat mengangguk.
"Aku akan menunggunya sampai bisa kembali pulang, aku akan memulangkannya lebih dulu"
"Terima kasih Kate"
Aku memeluk Kate.
"Pulanglah, jangan lupa kau harus bersenang-senang berdua"
"Aku bahkan selalu melakukannya"
"Kalian membuatku iri"
Kate berbisik kearahku.
"Baiklah ayo kita pulang sayang"
Jake merangkul pundakku, kami berpamitan, lalu pergi meninggalkan ruangan Sarah.
___
Aku menatap Jake.
"Mengapa menatapku begitu?"
"Kau begitu baik padanya, aku mencintaimu"
"Kau saja yang selalu menganggaku Mr. Rude kan?"
"Tapi kau memang begitu bagiku"
"Aku akan berubah dari kasar menjadi sangat lembut untukmu"
"Kau sudah berhasil melakukannya sayang"
Jake menggendongku tiba-tiba ala bridal style sampai kemobil miliknya, Jake benar-benar tidak terlihat seperti sakit sebelumnya, itu luar biasa benar-benar keajaiban yang luar biasa.
Aku tersenyum kearahnya, Jake membuatku terduduk disamping kursi kemudi sebelum dirinya menutup pintu mobilnya Jake mendaratkan ciumannya pada bibirku melumat bibirku,bibirnya terasa begitu manis, Tak lama kemudian aku meraskan tubuh Jake naik keatasku, Jake masuk kedalam mobil menurunkan kursiku, aku berbaring sekarang.
Jake menciumku begitu panas, aku mendesah, aku sudah lama menginginkannya, Jake memainkan putingku, Aku merasakan Jake sudah sangat keras.
"Tidak sekarang"
Aku menatap mata gelapnya yang sedang terbakar.
"Aku menantinya"
Jake melepaskan ciumannya lalu keluar dan pindah kekursi kemudi lalu mengemudikan mobilnya.
----
Jake menghentikan mobilnya, kami tidak sampai dirumah, mobil berhenti didepan hotel mewah seluruh berwarna emas, kami memasuki hotel mewah itu lantai marmer berwarna cokelat memancarkan kemewahan, tiang-tiang menjulang tinggi,pintu bertiang interior emas dan cokelat, doorman membukakan pintu untuk kami.
"Selamat malam tuan William"
"Selamat malam"
Sepertinya Jake sering datang kehotel itu, tampak seluruh karyawan hotel itu tersenyum pada Jake.
Jake menggendongku dengan tiba-tiba saat kami baru memasuki hotel itu dan ketika melewati doorman tadi.
Aku terkejut dan sekarang aku berada dipundaknya yang besar itu, aku merasakan pundaknya yang luar biasa, aku berseringai pada diriku sendiri.
"Jake apa yang kau lakukan"
"Menggendongmu"
Aku memutar dua bola mataku.
"Aku tau kau menggendongku, tapi kau pasti akan lelah menggendongku"
Suara lift terbuka, kami berdua masuk kedalam Lift, Jake menurunkanku memencet lantai 48 .
Jake mengangkatku kembali, aku berhadapan dengannya sekarang lalu Jake mencium bibirku dengan kuat, begitu b*******h, Jake tidak memberiku ampun, aku lama menantikannya, aku merindukan rasa itu.
"Aku merindukanmu"
Jake bernafas lembut, aku merasakan suara seraknya dan bergetar.
"Aku juga"
Kami melanjutkan ciuman kami, jake dengan kuatnya mengangkat tubuhku lalu di tempelkan tubuhku disisi lift.
"Jake liftnya berhenti"
Aku melihat masih dilantai 30, masih ada 18 lantai lagi pikirku, Jake menurunkanku, segerombolan lelaki tua dan beberapa ibu tua masuk menatap kearah kami lalu tersenyum.
Jake memegang tanganku, menatapku lalu berseringai seksi padaku, ahhh aku menginginkannya.
Kami sampai dilantai 48, Jake menggendongku kembali, laku membuka pintu kamar kami.
Jake langsung menempelkan diriku didinding kamar yang terlihat sangat mewah, nuansa emas dan cokelat tua, begitu sempurna, Jake mencium lembut dari bibirku lalu turun kebagian leher dan dadaku sampai ke bagian perutku tangannya tetap menyentuh dua buah dadaku, aku mengerang.
Jake sampai dibagian bawah tubuhku.
"Sial, kau begitu siap untukku sayang"
Aku menatapnya ketika Jake mendongakkan kepalanya melihatku.
"Aku sudah menginginkanmu sejak tadi"
"Aku akan melakukannya untukmu tuan putriku"
Jake menyentuh bagian bawah tubuhku dengan jarinya, aku terkesiap merasakan jarinya yang hangat, aku mendesah merasakan kenikmatan yang diberikannya.
"Jake"
Aku frustasi merasakan kenikmatan yang diberikan Jake.
"Kau begitu nikmat"
Jake menjilat jarinya, lalu menjilat bagian bawah tubuhku, aku menggelinjang saat Jake membuatku datang.
"Babe i wanna come"
"Come to me babe"
Aku menegang, aku keluar karena ulah lidah Jake yang begitu lihai membuatku datang, rasanya begitu nikmat.
"Ouh babe you very sweet"
Jake berdiri berada dihadapanku, aku menatapnya, Jake membawaku kesofa, Jake memasukkan dirinya kebagian dalam diriku, kami melakukan hubungan seksual disofa yang berwarna cokelat tua lembut itu.
Jake begitu lembut melakukannya, aku begitu merasakan kenikmatan darinya.
"Bagaimana perasaanmu"
"Luar biasa"
"Hanya itu?"
"Kau begitu sempurna, kau begitu nikmat, kau membuatku aah"
Aku menggelinjang dengan kuat, aku gemetar aku berteriak nikmat, aku keluar lagi untuk kedua kalinya.
Jake menatapku dengan mata gelapnya yang membakar seluruh tubuhku.
Aku mengambil posisi sekarang, Jake membawaku kedalam kamar dan berbaring diatas ranjang, aku terkejut menatap pemandangan dari kamarku.
Laut yang begitu seksi membuatku semakin b*******h, ruangan penuh kaca itu begitu sempurna, jika saja ada orang yang lewat mungkin bisa menonton aku dan Jake melakukan s*x hebat ini.
Jake berbaring dan aku berada diatas tubuhnya yang indah, aku memasukkan dirinya kedalam diriku, begitu sempit.
"Ahh babe you very tight for me"
"You like?"
"I'm always like you do it like this, don't ever let go from me, i like all of you, ahh"
Jake mengerang, giginya terlihat rapi ketika mengerang menahan goyanganku, aku meraskan sesuatu lagi, aku rasa aku akan datang.
"Babe, i will come again"
"Do it, i will come to, let we be together"
Aku meneruskan gerakan goyangan tubuhku, memaju mundurkan goyangan pinggulku, tidak sabar aku menguatkan goyanganku, akhirnya aku dan Jake datang bersama-sama.
Aku terjatuh didadanya, Jake memelukku lembut lalu mencium kepalaku, mengelus lembut bagian punggungku.
"Thank you babe, i love you"
"Don't say , love you too"
Aku memandang pemandangan luar dari ketinggian kamar kami.
"Pemandangan yang luar biasa Jake"
"Kau suka?"
Aku menganggukkan kepalaku, aku mengambil tempat kesebelah tubuhnya lalu berbaring didalam pelukannya.
"Kita akan sering kesini jika kau menyukainya"
"Kupikir hotel ini sangat mahal"
"Aku mempunyai banyak uang, jangan khawatir, lagipula hotel ini milikku"
Aku terkejut mendengarnya, matanya menyipit.
"Jangan terkejut seperti itu, kau harus mengetahui siapa suamimu ini sayang"
Aku tau siapa Jake tapi aku tidak pernah tau seberapa banyak harta yang dimiliki Jake, luar biasa.
"Aku menyayangimu, kau benar-benar istri yang luar biasa buatku, kau membuatku menjadi lelaki beruntung memilikimu"
"Jangan memujiku"
"Kau pantas mendapatkan pujian sayang"
"Well thank you Mr. Rude"
Jake memeluk erat tubuhku dan tak lama kemudian kami tertidur bersama.
___
"Bagaimana kabarmu sayang?"
"Begitu luar biasa"
"Kau pantas mendapatkannya, kau sempurna"
"Aku merindukanmu"
Aku meneteskan air mataku.
"Jangan menangis sayang, aku tidak tahan melihat wajahmu basah karena air mata itu"
"Aku merindukanmu, apakah kau bahagia?"
Aku sangat bahagia, kau membuatku selalu bahagia bahkan saat kita tak bersama.
"Luke"
Aku memanggil namanya, aku membuka mataku, Jake terbangun karenaku.
"Kau bermimpi?"
Aku menatap mata Jake.
"Maafkan aku sayang, aku memimpikan Luke"
"Sini"
Jake memelukku, aku tenggelam pada pelukannya, detak jantungnya begitu sempurna.
"Tenanglah, aku selalu berada disampingmu, your Luke be here with you and hug you tight"
Aku menatap matanya, begitu sempurnanya Jake yang tak ingin membuatku sedih, menganggap dirinya menjadi Jake hanya untuk membuatku tenang.
"Jake tetap Jake buatku, Luke adalah masa laluku yang indah, kaulah sekarang dan masa depanku yang begitu indah"
Jake mengecup keningku lembut.
***