One Year

3379 Kata
One year laters! "Kau begitu sempurna bagiku" Aku tersipu malu berdiri dihadapan Jake , rambut cokelatku kubuat menjadi ikal, aku berdandan sekedarnya didepan meja rias. "Jika aku bisa menjadi sempurna seperti ini itu semua karena kau yang telah membuatku selalu merasa sempurna sayang"  Aku berdiri meninggalkan meja rias lalu menghampiri Jake yang sedang berdiri diambang pintu yang sedari tadi memperhatikanku.  "Ini bukan hanya perasaan ini nyata buatku" Mata gelapnya menyala memberiku cahaya terang, rahangnya sempurna bagiku, aku menyentuhnya, Jake memejamkan matanya, tapi aku meninggalkannya.  "Don't feel babe, let's go now" Aku berlari terkekeh , Jake berjalan cepat mengejarku aku tetap saja berlari . "Ouhh babe i will get you" Jake begitu cool untukku, masa lalu yang membuatku membencinya tapi masa sekarang membuatku mencintainya. "Ayo pergi kalau tidak kita akan terlambat" Aku berteriak karena aku sudah berada dibawah tapi Jake masih diatas karena tidak bisa mengejarku.  ___ Aku dan Jake sudah sampai di sebuah acara pernikahan Kate dan Tyler, yaaa Kate dan Tyler menikah.  Aku dan Jake tidak menyangka tentang semuanya tapi itulah yang terjadi diantara keduanya. "Aku tidak sangka mereka akan menikah, padahal"  "Tidak ada hal yang perlu disangka-sangka, semua akan berjalan begitu saja"  "Kau benar Jake, seperti aku denganmu semua tak pernah disangka-sangka , kan?" Aku menyipitkan mataku lalu mengedipkan mataku kearahnya, Jake mendekatkan bibirnya kewajahku dan aku merasakan nafasnya aku gemetar ditengah keramaian Jake ingin menciumku. "Don't tease and Don't feel, i can't kiss you here!" Aku terkejut rasa gemetarku hilang begitu saja, Jake menyunggingkan bibirnya dan tersenyum tipis, dirinya membalasku. Jake pergi meninggalkanku berdiri ditengah keramaian terlihat seperti orang linglung lalu aku tertawa kecil sendiri pada diriku.  Aku berniat ingin menghampiri Kate dan Tyler dan akan mengucapkan selamat pada keduanya, aku tidak akan dendam pada Tyler walaupun dirinya sudah pernah berniat jahat padaku karena Tyler adalah sahabatku sejak kecil.  "Congratulation"  Aku memeluk Kate dan memandang wajah Tyler , sebelum aku menghampirinya aku memperhatikan Tyler yang sedang tertawa renyah pada Kate, hal yang sangat jarang dilakukan dengannya.  Kate tersenyum malu begitu juga Tyler.  "Thank you baby, where's Jake?" Aku mencari-cari dimana Jake, tapi tidak terlihat dari pandanganku, tapi tiba-tiba Jake datang dari arah belakangku dan mencium pipiku. "Aku disini, tak perlu mencariku, aku tidak akan pergi"  Aku terkejut tapi senang. "Maafkan semua kesalahanku Emma" Tyler meminta maaf padaku, aku tersenyum kepadanya, Jake memegang pinggulku aku menganggukkan kepalaku. "Lupakan saja, kau sahabatku Tyle"  "Terima kasih Emma" "Ingatlah jika kau macam-macam dengan Kate dan Emma aku tidak akan segan-segan menyakitimu" Jake bersuara, Kate memandangnya kaget dan tertawa kecil kami semua tertawa.  "Jika kau ingin melakukannya aku yang lebih dulu berhak melakukannya Jake" Kate menjawabnha kami semua tertawa menganggap semua tidak pernah terjadi apa-apa.  Tak lama Jake mengajakku berdansa dilantai dansa, aku meraih tangannya , kami berdua berdansa ditengah-tengah lantai dansa, lagu yang dilantunkan Ed Sheeran - perfect menjadi pengiring lagu dansa kita.  Tak lama Kate dan Tyler juga bergabung dilantai dansa. ___ Aku dan Jake kembali dari pesta Kate dan Tyler, Jake membawaku kedanau suasanya gelap tapi aku melihat ada beberapa cahaya dari kejauhan.  "Ayo pegang tanganku"  Aku meraih tangannya ,Jake selalu membuatku gemetar .  "Ini gelap Jake, kenapa malam-malam kemari" "Karena aku tidak mau menghabiskan malamku denganmu dengan sia-sia" Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, Jake selalu saja berbuat manis kepadaku, kami mendekati cahay itu aku takjub melihat kapal terlihat dinner table begitu cantik dihiasi taplak meja berwarna hitam dan merah lilin-lilin yang menyinari kapal tidak terlihat gelap sama sekali di sana, Jake membawaku menuju kedalam kapal memegang tanganku dengan lembut aku menyusulnya.  "Kau membuatnya lagi?" "Kau suka?" "Aku sangat suka, terima kasih Jake" Jake mengajakku ketepi kapal, memandang air yang tenang didanau, kapal itu tidak berjalan, aku menatap Jake.  "Mengapa kau menatapku seperti itu?" "Aku suka melakukannya" Jake tertawa kecil lalu menarikku masuk kedalam pelukannya tenggelam didalam dadanya yang besar, aku menikmatinya.  Jake menatap mataku menciumku lembut. "Jake terima kasih kau selalu membuatku seperti ini" Jake menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya. "Sshhtt , don't say anything" Jake menarikkan kursi yang lengkap dihiasi dengan taburan mawar putih, aku duduk dihadapannya, pelayan datang mendatangi kita berdua, menuangkan anggur merah.  Kami menikmati suasana danau dan angin yang sejuk dimalam hari.  Kami selesai dimeja makan, Jake menarikku dan mencium lembut bibirku lagi , seperti dirinya tidak pernah puas untuk melahapku. "Teruslah seperti ini bersamaku" Pintanya. "Aku akan selalu bersamamu seperti ini" "Jangan pernah berubah walaupun suatu saat nanti aku menua dan tidak bisa berjalan tegap lagi" "Aku tidak akan merubah semua perasaanku terhadapmu, walaupun kau tidak bisa apa-apa lagi nantinya"  Jake menciumku lagi lembut, lalu memelukku.  ___ "Mau kemana pagi-pagi begini?" Aku membuka mataku, Jake terlihat sangat rapi. "Aku harus pergi kekantor , maaf tidak membangunkanmu" Jake mencium keningku lembut , aku melihat diluar sedang mendung. Aku duduk diranjang dan menatapnya , Jake terlihat sangat buru-buru.  "Kenapa kau menggunakan jaket?" "Aku menggunakan motor" Aku menghela nafas panjang lalu membuangnya. "Sepertinya mau hujan mengapa tidak pakai mobil saja" "Ini sudah tidak sempat lagi" "Baiklah, berhati-hatilah sayang" Jake mencium keningku lalu pergi meninggalkanku, aku menghela nafas.  Beberapa menit Jake pergi hujan pun turun mengguyur kota Seattle, aku cemas memikirkan Jake pasti kehujanan. ___ "Selamat pagi apa benar saya berbicara dengan Mrs. William?" Aku mengangkat panggilan masuk dari ponsel milikku, nomor tidak dikenal suara perempuan dari seberang sana. "Iya benar , dengan siapa saya berbicara?" "Maafkan saya nyonya , saya menemukan kartu identisan milik tuan William, sekarang sedang berada dirumah sakit"  Tubuhku terasa seperti terkena sengatan listrik ketika mendengar William berada dirumah sakit, mataku membulat, wajahku terasa panas. "Tuan William mengalami kecelakaan dengan motor yang dia kendarai"  "Dimana?" "Grace Mercy Hospital nyonya, saat ini tuan William berada diruang ICU" Aku mematikan telponnya, mengambil kunci mobil yang ada diatas meja , Gail melihatku yang sedang bergegas. "Ada apa nyonya"  Aku frustasi. "Jake mengalami kecelakaan Gail" Aku menumpahkan air mataku diwajahku, aku menangis sejadi-jadinya. "Aku ikut nyonya" Aku berlari menuju keluar dan masuk kedalam mobil, Gail mengikutiku. ___ Aku berlari masuk kedalam rumah sakit dan menuju ruang ICU dengan frustasi air mataku tak berhenti mengalir . Aku bertemu seorang lelaki yang sedang duduk didepan ruang ICU aku menghampirinya , lelaki itu melihatku.  "Apakah anda" "Iya aku istri Jake William"  "Dokter sedang memeriksanya , ini semua barang dan kartu identitas milik tuan William"  Aku meraih semua barang milik Jake, aku mengingatnya saat dirinya pergi meninggalkanku dengan terburu-buru.  Dokter keluar, aku melihat dokter dengan tatapan sendu kearahku, tak b*******h, aku menghampirinya. "Apakah anda istri tuan William?" Tanyanya, mata hijaunya memancarkan kelelahan. "Aku akan melakukan beberapa operasi dibagian tulang belakang tubuhnya , ada benturan yang sangat kuat, dan untuk sekarang tuan William akan mengalami kelumpuhan"  Gail merangkulku dan menahanku seketika tubuhku melemah , rasa sengatan listrik ditubuhku begitu kuat. "Lakukan apa yang harus kalian lakukan dokter kumohon sembuhkan suamiku"  Aku menangis sejadi-jadinya.  Kate datang berlari , aku bingung mengapa Kate bisa datang.  "Saya yang menguhungi nyonya Kate"  Aku beruntung mengenal Gail yang mengerti denganku, Kate memelukku aku melihat Tyler berdiri disebelah Kate. "Bagaimana? Tenanglah Emma, Jake akan sembuh"  "Dokter bilang dirinya mengalami kelumpuhan" Kate terkejut tetapi tetap memelukku, kepalaku berada dipundaknya dan aku menangis sejadi-jadinya.  ____ "Bagaimana semua bisa terjadi?" Belle datang bersama Lucas, aku menghubunginya dimalam sebelum Jake akan dioperasi.  "Aku tidak begitu yakin, tapi ketika Jake akan pergi dirinya terburu-buru dan pergi dengan menggunakan motor disaat hujan turun begitu deras"  Aku menangis lagi, tubuhku dipeluk oleh Belle. "Ohh honey please don't be sad, i'm here , we here to be with you" Aku hanya menangis, memandang Jake yang sedang berbaring lemah, semua sama , Jake seperti Luke yang sedang terbaring lemah saat dirinya sakit.  Aku tidak mau kehilangan Jake, aku mendekatkan tubuhku padanya, aku memegang tangannya dan mencium ruas-ruas jarinya. "Kumohon bangunlah, jangan tidur terlalu lama Jake, kumohon jangan bercanda seperti ini"  Aku terus saja menciumi tangannya, Jake tidak memberikan respon apa-apa. "Jake, jangan lakukan ini padaku, jangan menyakitiku lagi dengan caramu seperti ini, Jake aku masih membutuhkan dirimu" Lucas menyentuh bahuku, aku menatapnya dan memegang tangannya .  "Tenanglah nak, Jake akan baik-baik saja"  Aku mengangguk pelan kembali menatap wajah tenang Jake yang sedang tertidur dalam keadaan koma.  "Selamat malam, maafkan kami tapi tuan Jake akan segera melakukan operasi"  Aku berdiri dari sisi ranjangnya , para perawat menarik ranjang dorong itu lalu pergi membawa Jake menuju ruang operasi.  Kami semua menunggu operasi yang sedang berjalan.  ___ Dokter keluar dari kamar operasi, aku langsung mendatanginya. "Bagaimana suami saya dokter?" "Operasinya berjalan lancar, tapi seperti yang saya katakan, tuan Jake akan mengalami kelumpuhan total"  "Untuk berapa lama?" Lucas bertanya, dokter hanya menggelengkan kepalanya , aku terdiam . "Jika tuan Willam bisa sembuh mungkin hanya ada satu harapan yaitu keajaiban" Aku menangis, bagaimana bisa suamiku lumpuh, aku yakin Jake akan sembuh.  "Satu atau dua jam lagi tuan William akan kembali keruangan"  Dokter pergi meninggalkan kami dan berlalu bergitu cepat. --- 6 weeks later "Jake, bangunlah aku rindu memandang cahaya matamu, aku disini aku merindukanmu" Aku memegang tangan Jake, menaruhnya dipipiku yang basah karena dibanjiri air mataku, aku benar-benar merindukannya. Suara ruangan yang dipenuhi dengan suara monitor ECG persisi yang terjadi pada Luke dulu.  Jake sudah kembali kerumah beberapa minggu lalu, semua peralatan lengkap di alihkan kekamar khusus untuknya tapi aku selalh tidur bersamanya.  Tak lama aku merasakan gerakan jari lembut, aku menggenggamnya dan menaruhnya diranjang, jemarinya benar-benar bergerak , aku segera memanggil dokter jaga yang ada dirumah kami.  "Dokter!!!" Dokter Nail datang dan segera memeriksa Jake , menyenter kedua mata Jake , tak lama kemudian mata Jake terbuka pelan , aku menangis saat melihatnya membuka kedua matanya.  "Jake" Panggilku pelan, Jake menitihkan air matanya dari sela matanya, seluruh tubuhnya tak bisa bergerak tangannya kaku hanya jari-jarinya saja yang bisa dirinya gerakkan itupun sangat lambat, aku membantunya mengangkat tangannya pelan lalu menyentuh pipiku.  Air matanya terus mengalir, begitu pula denganku , aku menangis melihat dirinya yang terbaring lemah , tapi aku bahagia dirinya sudah kembali sadar, aku merindukannya.  Tak peduli buatku bagaimana kondisinya sekarang, tak peduli buatku bagaimana keadaannya mendatang, aku yakin aku akan membuatnya kembali seperti semula dengan kekuatan cinta yang kumiliki untuknya sama halnya seperti dirinya menyembuhkanku, aku mencintainya.  "Babe, i was missing you"  "Me....too" Suaranya terdengar begitu pelan, tapi dirinya bisa berbicara walaupun awalnya agak sulit.  "Listen, i'm always with you , don't thinking so much, i'm always with you"  Mata gelap Jake menatapku lemah , cahaya yang biasa dirinya pancarkan untukku itu seakan meredup tapi aku tetap menyukainya, bola mata gelapnya terlihat sendu.  Aku mencium keningnya lembut, mencium matanya, mengecup lembut bibirnya, bulu-bulu yang tumbuh di wajahnya leluasa memenuhi wajahnya.  Aku membenamkan kepalaku didadanya.  ____ 2 months later Jake sedang duduk diatas kursi roda otomatis miliknya, aku melihatnya sedang menatap keramaian kota Seattle, aku menghampirinya. "Apa yang kau rasakan sayang?" Jake ingin mendongakkan kepalanya tetapi susah, aku segera berada disampingnya, aku ingin menangis melihat kondisinya tapi aku tidak boleh melakukannya, aku harus terlihat kuat dihadapannya karena itu semua akan membantunya cepat pulih.  "Tidak ada"  Tatapannya kosong, aku melihat ada kesedihan diwajahnya, aku duduk disofa sebelah kursi rodanya.  "Aku membuatkanmu cheese cake, kau harus mencobanya, lihatlah ini begitu lembut"  Aku menyuapkan satu potong cheese cake yang ada ditanganku, Jake masih terdiam tidak membuka mulutnya.  "Ayolah sayang, makanlah kau tidak mungkin mengecewakan istrimu ini kan yang sudah lelah membuatkan khusus untuk sang suami tercinta?" Aku membujuknya. "Dengar jika kau makan satu sendok ini, aku yakin kau akan merasa bahagia percayalah padaku sekarang cobalah kau pasti tidak akan pernah lupa dengan rasanya" Jake mengangkat bibirnya dan menyunggingkan senyuman tipisnya lalu membuka mulutnya, dan merasakan cheese cake buatanku. "Bagaimana?" Jake tersenyum lembut menanti jawaban darinya, takut kalau-kalau dirinya tidak menyukainya. "Ini begitu lembut tapi tak selembut dirimu" Jake masih saja bisa memujiku walaupun dalam kondisinya seperti itu. "Karena tidak ada yang bisa menyamaiku sayang"  "Karena itulah aku mencintaimu"  "Aku juga mencintaimu" "Apakah kau akan tetap mencintai lelaki cacat sepertiku?aku tidak akan mampu memberi kebahagiaan padamu lagi"  Mataku berkaca-kaca tapi kutahan terasa sangat perih , aku hanya memeluknya. "Bagiku kau tidak pernah cacat sedikitpun, kau masih saja terlihat sempurna buatku, jadi jangan berkata apa-apa lagi"  Aku memeluknya , wajahku memerah aku menyembunyikan kesedihanku dari belakang lehernya.  "Jangan bersembunyi dibelakangku, aku tau kau sedang menangis"  Hatiku bergetar , aku ketahuan , Jake menggerakkan kepalanya pelan, aku menarik pelukanku lalu menatapnya. "Dari mana kau tau aku menangis, liat tidak ada air mata kan?" Jake menyunggingkan bibirnya, kembali menatap keramaian kota dari kaca jendela rumah miliknya.  "Terima kasih" Katanya. "Untuk apa? Jika kau menyukai cheese cake buatanku aku akan terus membuatkannya" Jake tertawa kecil. "Karena kau selalu setia merawatku bahkan saat aku cacat seperti ini"  "Aku suka melakukannya , jadi diamlah" "Kau mengikuti kata-kataku?" Kami tertawa bersama.  "Tidak, kau adalah suamiku, kau cintaku, aku istrimu , tidak ada seorang istri yang rela membiarkan suaminya terbaring lemah begitu saja" "Aku mencintaimu" "Aku tidak akan pernah bosan dengan ucapanmu itu, aku juga mencintaimu" Kami berciuman lembut, aku duduk diatas pangkuannya pelan-pelan .  ____ "Dokter akan menerapimu hari ini?" Aku berbicara padanya sambil membersihkan wajahnya yang sudah ditumbuhi janggut , pelan-pelan wajahnya terlihat bersih matanya tetap bersinar menatapku.  "Aku akan melakukannya" Terpancar raut kesedihan dari wajahnya semenjak dirinya mengalami kelumpuhan. "Babe, what you feel?" Aku merasa cemas dengannya, walaupun terlalu terpancar cahaya dari matanya tapi kutau hatinya begitu gelisah. "Bagaimana jika aku tidak akan bisa kembali normal lagi?" Aku menghela nafas panjang, menatapnya dalam . "Aku tak punya waktu untuk memperdulikan itu, karena waktuku hanya akan kuhabiskan untukmu dan selalu merawatmu, jadi tidak ada masalah denganku jika kau tidak akan bisa kembali normal lagi, sudah tentu aku akan terus bersamamu"  Jake tersenyum kecut, aku memegang tangannya. "Sayang, jangan berfikir keras, i'm with you"  Tatapan Jake kosong. "Jika aku terus seperti ini, kau tidak akan bahagia bersamaku"  Aku menggelengkan kepalaku, meyakinkan dirinya. "Tidak jangan berpikir seperti itu, aku akan terus bahagia bersamamu, dalam kondisi apapun"  "Kau tidak bisa merasakan apa-apa lagi denganku, aku cacat"  Mata Jake memerah, suaranya serak dan bergetar Jake memencet tombol kursi roda otomatisnya lalu pergi meninggalkanku, aku membiarkannya pergi lalu menangis merasakan apa yang dirinya rasakan. Aku merasakan ada perubahan pada diri Jake akhir-akhir ini, Jake terlalu sering terlihat murung, dan jarang berbicara padaku. ___ Aku masuk kedalam mobil Mercedes Viano hitam Jake yang sudah di modifikasi agar mudah memasukkan kursi roda milik Jake . "Sayang"  Jake melirik kearahku, wajahnya menegang, aku memegang tangannya, supir pribadi Jake yang mengendarai mobil.  "Apakah kau yakin akan terus bersamaku dalam kondisiku seperti ini?" Jake selalu bertanya padaku , aku menatapnya lembut dan menarik tangannya kearahku.  "Aku yakin sangat yakin"  Aku menahan rasa sedihku, Jake tidak menoleh kearahku. ___ Aku menunggu Jake yang sedang terapi bersama dokter dirumah sakit selama satu jam Jake berada didalam ruang terapi.  Jake keluar wajahnya terlihat murung, aku meraih kursi rodanya.  "Bagaimana terapinya dokter?"  "Semua berjalan lancar, kuharap anda bisa merawatnya dengan baik" "Aku akan melakukannya, terima kasih"  Dokter pergi meninggalkanku dan Jake, aku menarik kursi roda Jake lalu kembali menuju mobil.  ___ Aku meminta supir pribadi Jake menghentikan mobil ditrotoar pantai Alki.  "Mengapa kesini?" "Hanya ingin mendapatkan udara segar"  "Kau yakin membawaku ketempat umum dalam kondisiku seperti ini?" "Mengapa tidak?aku senang bersamamu dan kau suamiku, bagaimanapun kondisimu aku akan terus bangga padamu, ayo turun"  Supir itu membantuku untuk menurunkan Jake , aku mengambil alih dan mendorong kursi roda milik Jake. "Bagaimana perasaanmu, sore ini begitu ramai" Jake tidak menjawabku, aku menghentikan kursi rodanya dan duduk bersimpuh dibawahny. "Kau terlihat tidak bahagia bersamaku?" Aku memperlihatkan mataku yang manja, berusaha dirinya akan luluh menatapku.  "Mengapa kau duduk disitu?" "Aku ingin memandangmu, karena kalau aku berada dibelakang aku tidak bisa menatapmu" "Berdirilah sayang" Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak mau kalau aku tidak melihat senyummu dulu"  Jake menatapku iba , aku memohon padanya lalu Jake menyunggingkan bibirnya tersenyum walaupun aku melihat dirinya sedikit terpaksa melakukannya .  "Aku suka melihat senyummu setiap saat , jadi kau harus tidak boleh bosan melakukannya untukku"  Aku berdiri dan mendorongnya santai sambil melihat-lihat keramaian penduduk kota Seattle yang datang mengunjungi pantai Alki.  "Aku yakin kau akan sembuh"  Aku berbisik ditelinganya.  "Bagaimana kau bisa seyakin itu?" Tanyanya. "Karena aku tau kau sangat kuat" Jake tersenyum sedikit aku bisa mengintip senyumannya kali ini aku berjalan disebelahnya Jake yang menjalankan kursi rodanya dengan otomatis. "Kau mencintaiku kan?" Jake menatapku, menoleh pelan kearahku, Jake sering melakukan terapi jadi sedikit demi sedikit kepalanya sudah mulai bisa digerakkan.  "Tentu saja"  Jawabnya singkat. Aku mengeluarkan ponselku dan membuka kamera lalu mengambil gambarku bersama Jake, Jake terlihat tersenyum tapi kaku.  ___ Dari sisi lain Jake William  "Apakah aku bisa sembuh dari kelumpuhan ini?" Tanya William pada dokter yang melakukan terapi padanya .  "Ini sangat sulit terjadi , kelumpuhan pada tulang belakang sangat sulit untuk disembuhkan" "Jadi apa gunanya aku seperti ini?aku tidak tahan melihat istriku selalu merawatku" "Tenanglah tuan William , istri anda begitu sabar bersamamu" "Lakukan proses suntik mati untukku" Dokter membelalakkan matanya pada Jake. ___ Jake manatapku dalam, matanya memerah . "Tidurlah, aku akan berada disampingmu" Aku bergabung dengannya dan tidur disampingnya , memeluk dadanya aku merasakan detak jantungnya dan merasakan nafasnya .  "Have a nice dream" Aku jatuh tertidur disampingnya. ---- Aku terbangun ditengah malam, aku terkejut melihat Jake yang masih terjaga, matanya melirik kearahku.  "Sayang, kau tidak tidur?" Aku menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya, Jake hanya menggeleng pelan.  "Ada apa denganmu? Kau terbangun atau kau sedang bermimpi buruk?" Aku bangun dari tidurku dan duduk disampingnya lalu mengelus kening Jake, Jake meneteskan air matanya, mengalir dari sela matanya. "Hey,,, why you crying babe?" Aku cemas dengannya, detak jantungnya berdetak cepat, aku menatapnya dalam-dalam Jake memutar bola matanya, tidak mau menatapku. "Bagaimana jika aku tidak lagi hidup bersamamu?" "Mengapa kau bicara seperti itu?" "Aku hanya bertanya"  "Kumohon jangan bicara seperti itu, buang semua pikiranmu tentang itu, aku tidak akan pernah siap kehilanganmu, setelah Luke meninggalkanku apakah kau juga mau pergi meninggalkanku, lihatlah bahkan kau sehat sekarang" Aku menangis aku menumpahkan air mataku, aku benar-benar tidak tau apa yang akan terjadi jika Jake meninggalkanku.  Hanya Jake yang berharga untukku didunia ini, bahkan ketika dia cacat sekalipun aku tidak pernah memikirkan semua kejelekan darinya.  Aku memeluknya, Jake mengangkat tangannya lalu menyentuh punggungku, aku terkejut merasakan tangannya menyentuhku. "Jake" Aku bangun melihatnya, aku membulatkan bola mataku.  "Lihatlah Jake , kau bisa menggerakkan tanganmu, kau bisa mengangkatnya, bagaimana bisa?" Jake hanya menatpku bingung , itu semua kejutan buatku, itu benar-benar kemajuan yang sangat luar biasa.  "Aku tidak tau, aku bisa melakukannya"  Aku memeluknya, walaupun itu hanya tangan yang bisa bekerja tapi aku bersyukur .  Tidak lama dari itu aku dan Jake jatuh tertidur. ___ "Nyonya, ada surat untuk tuan Jake"  Aku baru selesai dengan mandiku, memakai dress abu-abu pendek tak berlengan.  "Taruh saja dimeja nanti aku berikan padanya" "Baiklah, apakah anda membutuhkan sesuatu untuk tuan?" "Mungkin kau bisa siapkan sarapan dan obat untuknya" "Baiklah saya akan segera kembali"  Aku meraih surat yang ada diatas meja , awalnya aku ingin memberikan Jake lebih dulu tapi aku melihat surat itu dari rumah sakit, aku penasaran untuk membacanya. Aku membuka pelan surat itu. 'Approval letter Injection Euthanasia'  Aku membelalakkan mataku, aku tidak percaya saat membaca isi surat itu, surat yang sudah disetujui oleh Jake dan akan dilakukan proses suntik mati untuknya di enam bulan kedepan. Aku menyembunyikan surat itu, aku tidak berusaha tenang , Gail datang membawakan sarapan untuk Jake , aku harus segera memberikannya.  "Thank you Gail"  Aku pergi menemui Jake , Jake sudah duduk diatas kursi roda miliknya, aku mendekatinya.  "Sayang, aku membawakanmu sarapan , ayo makan dulu setelah ini minum obatmu" Aku duduk disebelahnya , mengambil satu sendok cream soup yang dibuatkan Gail baunya sangat lezat. Jake membuka mulutnya, menatapku dalam sangat dalam, raut wajahnya begitu tegang. "Mengapa kau menatapku seperti itu, jangan membuatku takut Jake"  Jake tetap tidak bersuara , aku tau yang ada dipikiran Jake pasti tentang proses dirinya untuk melakukan suntik mati itu, aku ingin menangis tapi aku tidak boleh melakukannya. "Mengapa kau masih saja merawatku dengan penuh kesabaran?" "Karena aku suka melakukannya" "Kau terlihat begitu lelah, aku benci melihatmu sibuk" "Aku tidak merasa lelah, aku senang merawatmu karena kau bisa bersamaku setiap hari kan?" Jake mengangkat tangannya lagi menyentuh pipikiu, aku harus terlihat kuat didepannya , aku harus buat dirinya membatalkan dengan proses rencana bunuh diri itu.  "Jake , kau tau aku mencintaimu kan?" Mataku menatapnya, memelas , aku harap dirinya merasakan apa yang kurasakan , aku ingin membuatnya terus-terus luluh denganku.  "Aku tau"  "Kalau begitulah semangatlah untuk sembuh, buat diriku bahagia lagi, kau tau aku merindukan kejutan-kejutan darimu"  Mata Jake bersinar memandangku, aku merindukannya , aku mencium lembut bibirnya Jake melumat bibirku lembut. "Kau harus bisa hidup tanpaku, pergilah keluar, pergilah berbelanja kemana saja kau inginkan" "Aku tidak akan pernah mau pergi tanpa dirimu disampingku" "Aku cacat aku tidak bisa apa-apa kau akan malu membawaku" "Aku akan lebih malu jika berjalan sendirian, kau harus cepat-cepat sembuh untukku"  "Kau tau dokter bilang kelumpuhanku ini sulit untuk sembuh" "Aku tidak percaya padanya"  "Kau harus percaya" "Aku tidak akan pernah percaya , kau bisa sembuh Jake percayalah padaku"  Aku sangat yakin, Jake mencintaiku , biarpun dirinya berniat untuk melakukan suntik mati , aku tidak akan membiarkannya. ___ Aku berada dikamar, mencari surat yang tadi aku sembunyikan tapi aku tidak menemukannya .  "Kau mencari ini?" Aku terkejut mendengar suara Jake , aku melihat Jake memegang sebuah surat yang kucari.  "Kau sudah membacanya?" Aku mendekatinya, mataku berkaca-kaca tak bisa menahan rasa sedihku saat menatap raut wajahnya yang begitu frustasi. "Aku menerimanya tadi pagi, mengapa kau mau melakukannya?" Jake terdiam, surat itu berada dipangkuannya. "Karena aku ingin melakukannya" "Apakah rasa cintamu hanya sedikit saja untukku sehingga kau ingin pergi meninggalkanku selamanya?" Aku menumpahkan air mataku, aku melihatnya mengeluarkan air mata diwajahnya. "Apa hanya segini saja perlakuanmu untuk hidupku, kau bilang kau selalu mau memberikanku kejutan, tapi kenapa kau ingin pergi?"  "Jake  kita memang sedang menghadapi masalah sehingga hati kita selalu dihantui dengan rasa takut, dan dari situ kita bisa membohongi hati kita , Jake letakkan tanganmu dihati, dan katakan semua pasti akan baik-baik saja, aku bersamamu , jangan pernah berpikir bahwa aku akan bosan bersamamu , kumohon hilangkan niat burukmu itu"  Aku mendekatinya mata Jake memerah , aku meraih surat itu lalu merobeknya dihadapan Jake.  "Katakan kalau kau mencintaiku, sehingga dengan rasa cintamu itu bisa menghilangkan niat burukmu untuk melakukan rencanamu itu"  "Aku tidak" "Katakan kalau kau tidak mencintaiku, aku ingin mendengarnya" "Emma, maafkan aku" Aku mendekati tubuh Jake lalu memeluknya , aku mencintainya benar-benar mencintainya. "Jake lihat aku, mau bagaimanapun kondisimu, aku akan terus bersamamu, aku selalu siap berdampingan denganmu, itu semua sudah janjiku"  "Emma maafkan aku, maafkan aku" Aku menangkupkan kedua tanganku diwajahnya, menangis bersama, aku rindu dengannya.  "Batalkan rencanamu itu Jake" Jake mengangguk kecil. "Kau adalah malaikat tak bersayapku, maafkan aku Emma , aku sudah jahat terhadapmu" "Kau memang my Mr. Rude" "Aku mencintaimu"  "Aku lebih mencintaimu" Aku menjawabnya lalu mencium lembut bibirnya .  ____
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN