Pintu ruang kerja itu terbuka meski tanpa ketukan. Arka tidak menoleh saat langkah sepatu berhak rendah terdengar mendekat. Ia tahu siapa yang masuk bahkan sebelum suara itu berhenti tepat di belakangnya. “Ada apa kau kemari, anakku? Apa kau sudah menemukan yang kau cari?” tanya ibunya tenang, seolah Arka hanya anak kecil yang sedang mencari mainannya. “Siapa perempuan itu?” Arka langsung bertanya, tanpa basa-basi. Hari ini, ia mau segalanya terselesaikan dengan baik. Karena titik akhir dari tujuan adalah nyawa Rania. Ibunya mendekat satu langkah. Tidak ada keterkejutan ataupun kegugupan. Semuanya sangat normal. Namun, siapa tidak tahu istilah peribahasa bahwa Air yang tenang itu menghanyutkan? “Itu foto lama. Aku menyimpannya karena bagian dari masa lalu. Hanya untuk mengenang s

