bc

Terjebak Pernikahan

book_age18+
196
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
family
heir/heiress
bxg
like
intro-logo
Uraian

Arkadewa dan Rania. Pernikahan itu dibangun dari cinta yang tumbuh sejak remaja. Tujuh tahun berlalu tanpa kehadiran anak, meski secara medis semuanya dinyatakan normal. Mereka hanya diberi satu jawaban yaitu unexplained infertility, diagnosis yang tak menjelaskan apa pun, kecuali sunyi.Retakannya bukan datang dari rahim, melainkan dari satu pertemuan yang seharusnya tak pernah terjadi.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pertemuan
Rumah Sakit Bunda Sejahtera dr. Akbar Rahmawan SP. OG (Spesialis Obstetri dan Ginekologi atau dokter kandungan) adalah dokter spesialis yang sudah beberapa kali dikunjungi pasangan suami istri, Arka Atmadjaya dan Rania. Kali ini, Dokter Akbar menjelaskan dengan sabar mengenai proses inseminasi intrauterin (IUI). Prosedur medis yang dilakukan dengan cara memasukkan s****a suami yang sudah diseleksi ke dalam rahim istri menggunakan kateter halus saat masa subur. Kenapa harus di masa subur? Karena tujuannya adalah agar s****a lebih mudah mencapai sel telur dan terjadi pembuahan alami di dalam tubuh calon Ibu. "Kira-kira berapa lama prosesnya, Dokter?" tanya Arka pelan sambil tangannya menggengam erat tangan istrinya yang mulai terasa dingin. “Prosesnya cepat. Tidak sampai dua puluh menit." Arka menoleh ke arah Rania yang dari tadi menunduk. “Hasilnya pun bergantung banyak faktor di antaranya adalah kualitas s****a, kondisi rahim, hormon, dan tentu saja, kesiapan psikis ibu. Ini yang paling penting." “Kalau gagal kali ini, apakah masih bisa diulang, Dokter?” tanya Arka lirih, seperti takut akan menyinggung perasaan Rania. “Bisa, tapi tidak boleh dipaksakan terus-menerus. Kita perlu melihat respons tubuh dan kondisi istri Anda terlebih dulu," jelas dokter Akbar sebelum mereka keluar dari ruangan. Satu bulan kemudian .... Lampu ruang praktik itu sudah mati dan lorong-lorong rumah sakit mulai sepi, tapi Rania enggan beranjak. Ia masih duduk di depan ruang praktik dokter Akbar. Pandangan lurus ke depan, tapi kosong. Hasilnya gagal. Kata itu terdengar menyakitkan. Proses inseminasi yang mereka jalani dengan penuh harapan serta do'a yang panjang, berakhir tanpa hasil. Gagal lagi. Begitu keluar dari gedung rumah sakit. Mereka langsung pulang ke rumah dan seperti biasanya, Bu Mega akan mencecar menantunya dengan banyak pertanyaan konyol yang akhirnya mereka bertiga terlibat pertengkaran hebat. "Aku mau pergi dari sini, Mas." "Tidak, Rania. Kau tidak boleh pergi dalam keadaan seperti ini. Aku tidak apa-apa, kita bisa mencobanya lagi, Sayang." Rania tidak peduli, ia mengemas barang-barang ke dalam koper dan menyeretnya cepat. "Baguslah kalau kau tahu diri, Rania. Lagipula untuk apa menyimpan perempuan mandul sepertimu! Tidak berguna!" Rania berhenti di depan mertuanya, tertawa sinis. "Ibu juga seorang perempuan, bagaimana bisa kalimat jahat itu keluar dari mulutmu, Bu." "Kau!" Rania menahan tangan yang sudah melayang ke udara. "Aku juga sudah muak hidup dalam kepura-puraan setiap harinya, Bu. Permisi." "Sayang ... Rania!" Arka mencoba mengejar, tapi lupa tidak membawa kunci mobil. Ia pun kembali ke kamar, tapi Rania sudah menghilang entah ke mana. "Arka mau ke mana kau?" "Ma, tolong jangan campuri urusan rumah tanggaku. Mengerti?" Arka memperingatkan Bu Mega dan melepas kasar tangannya. Ia melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan pasti, ia tidak tahu harus ke mana mencari Rania. Berulang kali menelepon Rania, tapi tidak diangkat. Pesan pun tidak berbalas. Selama ini Arka tahu, istrinya adalah sosok yang penurut, tapi ucapannya tadi benar-benar menandakan bahwa Rania sudah tidak bisa menahan semuanya. Bukan hanya sikap kasar ibunya, tapi juga usaha yang mereka lakukan selalu gagal. Iya, gagal! Kalimat itu memang tidak terdengar seperti tuduhan, tapi justru lebih menyakitkan. Beberapa menit kemudian Arka menyalakan mesin. Tangannya menggenggam setir terlalu erat. Berkali-kali ia mencoba menelepon Rania, tapi panggilan itu hanya berakhir dengan suara operator. Hujan turun tipis. Lampu jalan memantul di aspal basah, membuat pandangan sedikit buram. Arka memperlambat laju mobil, mencoba lebih fokus, meski pikirannya berantakan. Sesekali matanya melirik ke arah ponsel yang ada di pangkuan. Berharap Rania akan membalasnya. Dan, di perempatan yang seharusnya sudah sepi, tiba-tiba bayangan seseorang berlari ke bahu jalan. Arka mendadak menginjak rem membuat bunyi decit ban memecah malam. Perempuan itu terkejut, refleks mundur, lalu kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh ke aspal dan ia segera turun dari mobil. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Arka panik dan ingin memastikan kalau perempuan tadi tidak kenapa-napa. Perempuan itu tidak menjawab, masih duduk di jalan, menahan telapak tangannya yang perih. Lutut celananya lecet. Ia menoleh sebentar memastikan tidak ada kendaraan lain yang mendekat, lalu berusaha berdiri sendiri. “Apa kau baik-baik saja, Nona?” Arka mengulang pertanyaannya tadi. Lalu, refleks mengulurkan tangan, tapi perempuan itu menghindar halus. “Aku hampir menabrakmu. Kita ke rumah sakit saja,” ucap Arka. “Tidak perlu,” jawabnya cepat dengan mengangkat telapak tangannya. “Aku harus pergi.” Nada suaranya tenang, tapi tatapan matanya waspada. Ia memungut ponsel yang sempat terjatuh, memeriksanya sekilas, lalu menghela napas kecil seolah memastikan sesuatu masih utuh. “Tapi ... kakimu berdarah," tutur Arka menunjuk lututnya. “Hanya lecet biasa." Perempuan itu menggelrng dan melangkah ke pinggir jalan, seolah kejadian barusan tidak lebih dari gangguan kecil. Ia meraih tas selempangnya dan merapikan rambut yang sedikit berantakan sambil memaki pelan. Arka tertegun, tidak menyangka ada orang yang menolak bantuannya. “Setidaknya izinkan aku mengantarmu,” katanya sedikit berteriak. Perempuan itu menatapnya sebentar, lalu menggeleng cepat. “Tidak usah. Tolong lebih hati-hati saja.” Ia berjalan pergi, meninggalkan Arka yang berdiri dengan rasa bersalah. Nama di kartu pers yang terjatuh tadi sempat tertangkap matanya sebelum perempuan itu mengambilnya kembali. Tika Damayanti. Nama itu seperti tidak asing di kepalanya. Ia seperti pernah bertemu, tapi di mana? Kapan? Tika berjalan menjauh dengan langkah cepat, meski perih di lutut mulai terasa. Ia baru saja menyelesaikan liputan penting. Wawancara yang susah payah didapat juga beberapa rekaman yang harus segera diamankan. Siang tadi, saat ia berada di rumah sakit jiwa untuk investigasi, tanpa sengaja ia bertemu Bu Mega yang dalam rekamannya ada beberapa hal penting dan itu berbahaya. Tangannya terlihat gemetar saat membuka pesan di ponselnya, ia memastikan file yang dikirim tadi, sudah terkirim sempurna. Setelah itu, barulah ia berhenti sebentar di bawah lampu jalan, menarik napas panjang. Namun, tiba-tiba saja satu mobil van warna hitam dengan kaca gelap berhenti mendadak di depannya. Tika spontan mundur seperti berjaga-jaga karena ia tahu bahaya itu sudah dekat. "Kalian siapa?" katanya berusaha untuk berdiri tegak meski lututnya perih dan kaku. "Masuk." "Tidak mau!" Tika mengambil langkah perlindungan, tapi sialnya malam ini tidak ada siapa pun yang lewat kecuali mobil yang hampir menabraknya tadi. "Tolong .... " Dari kejauhan, Arka yang sudah berada di dalam mobil seperti mendengar suara orang meminta tolong dan dari balik kaca spion, ia jelas melihat bahwa perempuan tadi diseret masuk ke dalam van dan pergi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook