Mobil van tadi melintas di depannya, Arka langsung menyalakan mesin dan mengikuti dari jarak jauh.
Sebenarnya, ia tidak berniat ikut campur, tapi hatinya terus mengatakan bahwa ia harus tahu siapa yang dibawa di dalam van tadi.
Ia tetap menjaga jarak, ada dua mobil di belakang, cukup aman untuk tidak terlihat mencolok. Dari balik kaca depan, ia melihat van itu masuk ke jalur servis, jalur gelap yang jarang dilewati kecuali kendaraan pengangkut malam. Jantung Arka mulai berdetak lebih cepat dengan satu instingnya yang mengatakan bahwa ada yang tidak beres di sana.
Van itu berhenti di bawah jembatan layang dengan kondisi mesin masih menyala.
Arka mematikan lampunya sebelum ikut berhenti, beberapa puluh meter di belakang.
Dua pria mengenakan jaket hitam, topi serta masker, turun dari van. Salah satunya menyalakan rokok. Yang lain membuka pintu belakang sebentar seperti mengintip, lalu menutupnya kembali dengan kasar.
“Benar, ia ada di sana," gumam Arka tegang karena sadar tidak membawa senjata.
Hanya ponsel, dompet, dan kunci mobil. Dan otaknya mulai bekerja cepat untuk bisa menyelamatkan.
Arka menunggu sampai salah satu pria menjauh untuk buang air kecil ke balik pilar jembatan. Yang tersisa hanya satu orang, berdiri membelakangi pintu belakang van.
Kesempatan tidak datang dua kali.
Arka keluar dengan langkah ringan, ia berjalan santai seperti seseorang yang hanya ingin bertanya arah. Ketika jarak tinggal dua langkah, ia bergerak dengan satu hantaman.
Siku ke tengkuk, tepat dan cepat.
Tubuh pria itu ambruk sebelum sempat bersuara.
Arka menyeret tubuh itu ke kolong bayangan, membuka pintu belakang van dengan napas tertahan.
Sosok perempuan tadi tergeletak miring dengan mulut tertutup lakban hitam serta tangan dan kaki terikat.
Ia mengangkat tubuh itu dengan susah payah. Berat dan tergesa. Namun, saat langkahnya hampir sampai ke mobilnya sendiri, terdengar suara langkah kaki dari belakang.
Arka tidak menoleh. Dengan cepat tangannya memasukkan tubuh perempuan itu ke jok belakang, menutup pintu, dan masuk kembali ke kemudi dan langsung menyalakan mesin dan pergi.
Ketika van itu mengejar, Arka sudah masuk ke jalur sempit, berbelok tajam, lalu menyelinap ke jalanan kecil yang hanya ia tahu karena sering ia gunakan saat macet.
Butuh lima belas menit sampai. Ia yakin tidak ada yang mengikuti. Barulah ia berhenti di suatu tempat.
Perempuan itu masih tidak sadar. Arka menoleh, membuka tas yang jatuh dari van tadi. Ia berniat mencari identitas, hanya untuk memastikan ia akan menyerahkan perempuan ini ke tempat aman, lalu menghilang.
Namun, yang ia temukan membuat jari-jarinya diam. Matanya nyalang menatap kartu pers. Di sana tertulis dengan jelas.
Nama: Tika Damayanti
Media: Nadi Publik
Arka menghela napas panjang. Nama itu tidak asing karena dia seorang jurnalis investigasi dari Nadi Publik dan nahasnya ia ingat satu hal yaitu berita buruk di beberapa tahun yang lalu.
Jika ia menyerahkan perempuan ini ke rumah sakit atau polisi, namanya bisa muncul dan masalah tidak akan berhenti. Dan orang-orang di balik van tadi tidak terlihat seperti preman jalanan biasa. Mereka sangat terorganisir yang sudah terbiasa bekerja dalam diam.
Iya, Arka yakin hal itu. Pasti ada orang yang bergerak di belakang mereka. Mungkin juga bahwa penculikan ini sudah direncanakan.
Arka menatap wajah Tika yang masih pucat.
Sebenarnya ia tidak ingin terlibat. Niatnya hanya ingin meminta maaf karena tanpa sadar hampir menabraknya tadi. Namun, kenyataan berkata lain.
Ia curiga bahwa perempuan ini terlibat masalah dengan orang besar.
Arka menyalakan mobil lagi, tapi tidak menuju ke rumah sakit.
Ia memilih jalan ke arah yang lebih sepi, menuju sebuah tempat singgah lama yaitu rumah berupa vila miliknya yang ia datangi sebulan sekali. Bahkan, Rania istrinya pun tidak tahu tempatnya hanya Marco seorang.
Ia yakin ini adalah satu-satunya tempat aman untuk sementara.
Tika mengerang pelan saat mobil melewati polisi tidur.
“Tenang, jangan takut. Kau akan baik-baik saja," katanya lirih, meski tahu perempuan itu tak mendengar.
“Aku tidak akan mencampuri urusanmu. Setelah ini kita selesai.”
Namun, ia juga sadar itu tidak mungkin karena jurnalis selalu berada di tempat sesuai jadwal dan informasi. Bahkan, kalau kabar ini terlihat oleh media, berbahaya.
Ia membuka ponsel, tidak ada panggilan atau balas pesan dari Rania dan hal itu membuatnya cukup tenang untuk memikirkan masalah lain dulu.
Agh!
Arka Atmadjaya, ia tidak terbiasa dengan kekacauan. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam disiplin keluarga yang mengajarkan satu hal yaitu tentang nama besar hanya bertahan jika tangan tetap bersih. Perusahaannya berdiri di banyak kota, wajahnya kerap muncul di forum bisnis, tapi kerja kotor selalu berhenti sebelum menyentuh dirinya. Ia selalu dalam posisi aman terkendali. Sama seperti mendiang ayahnya dulu.
Ia cepat menekan satu nomor penting.
"Tolong datang ke villa sekarang juga," katanya singkat saat panggilan tersambung.
“Siap, Tuan."
“Ada satu lagi, mobil van hitam dengan orang di dalamnya, tolong cari tanpa suara. Foto sudah aku kirimkan kepadamu."
“Baiklah."
“Hmmm."
Panggilan terputus bersamaan dengan satu foto yang ia kirimkan, berhasil terkirim.
Arka lalu mematikan ponsel dan mengeluarkan kartu pers dari tas Tika. Ia membaca ulang nama media itu, alisnya sedikit berkerut. Seperti mengingat sesuatu yang tidak asing. Nadi Publik.
Media yang kerap membuat pejabat kehilangan jabatan. Ia menimbang kemungkinan, jika perempuan ini dibiarkan muncul ke publik, ada dua risiko yang akan menyerangnya dan ia tidak ingin menambah pikiran dengan masalah konyol lainnya.
Arka berdiri, menarik tirai sedikit untuk melihat kondisi luar yang tetap gelap dan pintu gerbang otomatis pun sudah terkunci sempurna. Aman, pikirnya.
Ia menyiapkan segelas air, obat pereda nyeri ringan tanpa label dan meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur.
Perempuan di sofa itu bergerak. Pelan dan seperti bingung. Matanya menatap ke langit-langit, napasnya berubah-ubah, antara bingung, gugup dan takut.
Jari-jarinya mencengkeram kain dengan kuat, bahunya menegang seolah hendak bangkit dari mimpi buruk yang sekarang ia alami.
Arka menoleh.
"Kau, baik-baik saja?" tanyanya ingin mendekat, tapi mata perempuan itu tiba-tiba terbuka dan melotot ke arahnya, pandangannya liar dan penuh ketakutan. Tubuhnya tersentak, dadanya naik turun tak terkendali.
"Kau sii--siapa? Aku ada di ma-na ini."
"Kau aman, sekarang berada di villaku."
"Villa?"
Arka mengangguk, tapi perempuan ini langsung berdiri.
"Kenapa kau membawaku ke sini?"
"Aku ingin kau aman karena kulihat tadi dua orang berusaha untuk menculikmu."
Tika diam, lama lalu mendongak. Lelaki, wajahnya seperti bukan orang asing.
"Kau siapa?"