Jebakan Halus

1017 Kata
"Jangan sentuh aku." Suaranya parau, tapi tetap terkesan tegas. Dia tidak merengek atau merintih walaupun yang ia rasakan tubuhnya seperti remuk. Arka mengangkat kedua tangannya sedikit, sebagai isyarat menenangkan. “Kau aman. Tidak ada siapa pun di sini selain kita.” Spontan Tika mengerutkan dahinya. Kita? Bukankah itu artinya hanya berdua saja? "Ki--kita?" tanyanya pelan, matanya menyipit, menatap penuh selidik. “Siapa kau?” Arka tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah ke meja kecil, mengambil kartu pers yang tadi ia letakkan terbuka. “Tika Damayanti,” ucapnya pelan sambil mengeja nama yang tertera di sana. “Jurnalis investigasi dari Nadi Publik.” Tatapan Tika mengeras, ia mengatupkan rahangnya. “Kembalikan.” “Kau pingsan di dalam van dengan kondisi kedua tangan dan kaki terikat. Mulut dilakban. Apa kau tidak ingat?" Arka berbalik, suaranya tetap santai, mengalir tenang. “Aku menarikmu keluar sebelum mereka sempat memindahkanmu." "Apakah itu artinya kau sedang meminta imbalan?" Sudut bibir Arka terangkat tipis. Bukan senyum, itu lebih seperti pengakuan tanpa emosi. “Tidak,” katanya. Tika memperbaiki duduknya, bahunya masih tegang, tapi kepalanya terangkat. Ia bukan tipe yang meringkuk ketakutan, hal seperti ini sudah sering ia alami dan tidak pernah membuatnya bingung. Hanya saja, bedanya lelaki ini seperti tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. “Siapa mereka?” tanyanya pura-pura tidak tahu padahal ia sangat paham, kalau mereka adalah orang-orang suruhan dari Bu Mega yang tidak lain ibu kandung Arka. “Bukan preman jalanan. Mereka terorganisir, pastinya dibayar. Dan tidak akan berhenti hanya karena gagal sekali.” Arka melanjutkan dan Tika menatapnya tajam. Jebakan sudah mulai dekat. “Kau tahu itu?" “Karena aku hidup di dunia yang sama,” potong Arka jelas. Jawaban itu membuat jantung Tika berdetak lebih keras, tapi ekspresinya tetap terkendali. Ia punya rencana yang sudah disusun rapi untuk menjebak keluarga Atmadjaya. Target utamanya adalah Rania, tapi Arka yang menjadi jembatan untuk melaksanakan dendam itu. “Kalau begitu, lepaskan aku sekarang. Aku akan mengurus sisanya sendiri. Kau tidak perlu repot-repot menahanku." “Tidak,” jawab Arka. “Aku tidak butuh penjagaanmu, Tuan." “Aku juga tidak menawarkan perlindungan." Arka melangkah mendekat satu langkah. “Aku menawarkan kendali.” “Atas hidupku?” tanyanya diiringi tawa meledek. “Atas kerusakan yang bisa kau sebabkan, lebih tepatnya seperti itu, Nona," balasnya tanpa ragu. Ruangan kembali hening. "Aku rasa ada yang harus kau jelaskan di sini." "Soal apa?" "Penculik itu tahu betul bagaimana bahayanya dirimu. Aku jadi penasaran, apa yang membuat mereka mencarimu." Tika menelan ludah, tapi tidak mundur. Sebisa mungkin, ia berusaha untuk bersikap normal. Jangan sampai rencana busuknya tercium oleh lawannya sebelum masuk dalam perangkap. "Kau kenal ayahku bukan?" Nama itu tidak diucapkan, tapi Arka merasakannya seperti pisau lama yang kembali digerakkan. Arka mendekat dan tepat berada di depan wajahnya. “Sebab itu kenapa sejak tadi aku merasakan familiar dengan wajahmu. Kau pemilik artikel yang telah membunuhnya." Arka melanjutkan, suaranya tetap tenang tapi rahangnya mengeras, ada dendam tersulut di sana. “Seorang jurnalis yang berani mengungkap perselingkuhan seorang tokoh pebisnis keluarga terpandang dengan bukti keuangan, rekaman dan dokumen rumah sakit. Itu benar dirimu, Tika Damayanti." “Aku hanya menulis fakta. Kalau itu menghancurkan reputasi, itu bukan tugasku untuk menutupinya." “Kau benar dan sekarang aku yakin sekali, ada yang kau curi atau ingin kau amankan dari mereka tadi. Apa itu?" Tika terdiam sepersekian detik. Hanya sepersekian. Lalu, ia menarik napas berat. Tidak mungkin ia akan jujur pada Arka. “Kau jangan asal menuduh. Aku tidak kenal siapa mereka dan mau apa. Mereka tiba-tiba datang menghadangku." “Itu artinya ada hubungan sebab-akibat. Kenapa dan ada apa?" “Itu bukan tanggung jawab jurnalis, kau salah sasaran, Tuan Arka." Suara Tika bergetar tipis. "Aku beritahu kau satu hal. Jujur akan lebih baik karena kau tidak akan pernah bisa pergi dari tempat ini. Kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas berkeliaran di luar sana." “Sudah aku katakan tadi. Aku tidak tahu siapa mereka dan ada punya tujuan apa. Jadi, kau jangan terus menuduhku," sahut Tika sambil matanya terus menatap ke arah tas yang berada di atas meja. Rekaman yang ia dapat, masih di dalam sana walaupun salinannya sudah terkirim. Arka paham reaksi sebab akibat dan itu jelas terlihat di matanya. Tika seperti tahu segalanya, bukan sebuah rekayasa melainkan jejak yang tertinggal dan sedang direka ulang. "Biarkan aku pergi." Tika menegakkan dagu. "Tidak akan semudah itu." Arka mendekati meja dan meraih tas, spontan Tika maju dan berusaha merebutnya, tapi tangan Arka lebih dulu menekan lehernya. “Le-paskan .... " "Tidak, sebelum aku tahu apa isi tasmu ini. Aku yakin pasti ada hal penting yang akan kau gunakan untuk mengancam seseorang." "Itu privasiku." Arka menggeleng pelan. Tangannya kuat menekan leher Tika sampai wajahnya terlihat kemerahan. Dan, berhasil. Arka menemukan satu rekaman video yang mana di sana jelas terlihat siapa yang sedang berbicara. "Mama," katanya pelan, seperti berbisik pada diri sendiri. Tika menyipit kedua matanya dan terbatuk-batuk saat tangan Arka terlepas. Arka melangkah ke meja, mengambil segelas air, mendorongnya ke arah Tika. Ia tidak menyentuhnya. “Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau muncul besok di kantor polisi?” tanya Arka. “Kau mengancamku?" Tika menyimpulkan. “Aku memperingatkanmu.” “Apa bedanya?” “Perbedaannya aku satu-satunya orang yang bisa menghentikan mereka.” Tika tertawa pendek, getir. “Dengan cara apa? Mengubur ceritaku?” “Dengan mengikat hidupmu ke dalam hidupku,” jawab Arka yakin. Kalimat itu membuat udara di ruangan terasa berubah. Sesak dan sempit. “Apa maksudmu?” Arka menarik napas panjang. Inilah bagian yang tidak bisa ditarik kembali. Mungkin keputusannya terkesan terburu, tapi hanya jalan itu yang bisa ia tempuh untuk menyelamatkan ibunya. “Kau tidak bisa dibiarkan bebas,” katanya jujur. “Bukan karena kau salah, tapi karena kau tahu terlalu banyak tentang keluargaku, tentang jaringan di belakang van itu. Aku jadi ingat saat menabrakmu tadi, aku seperti tahu dirimu dalam kondisi tidak aman. Benar begitu, Nona?" Tika menahan napas, ia tahu kali ini dia salah memilih lawan, tapi mengalah bukan pilihan. “Dan solusimu?” Suara Tika menantang. Arka menatapnya lama, seolah memastikan satu hal terakhir. Satu-satunya alasan agar ia bisa mendapatkan keturunan dari perempuan lain. “Kita menikah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN