Tika terpaku, lalu tertawa keras. Lebih tepatnya menertawakan ucapan Arka tadi.
“Kau gila.”
“Pernikahan memberimu perlindungan penuh dengan Identitas baru, akses dan alasan kuat untuk tidak disentuh siapa pun."
“Dan memberiku satu hal kendali agar kau tidak menghancurkan segalanya.”
Tika berdiri tiba-tiba.
“Aku ingin memastikan kau hidup,” balas Arka cepat.
“Dengan harga kebebasanku?”
“Dengan harga perang terbuka,” jawabnya dingin.
“Pilihannya itu.”
“Kau meremehkanku,” kata Tika pelan, tapi tajam menukik.
“Aku tidak pernah takut ancaman."
“Aku tahu." Arka mengangguk.
“Itulah kenapa aku tidak mengancammu.”
Ia mendekat satu langkah lagi.
“Aku memintamu.”
Tika menatap wajahnya ada perpaduan dingin, terkontrol, penuh rahasia dan itu lebih menakutkan dibandingkan penculikan apapun.
Pria ini tidak memaksa. Ia begitu yakin bahwa dirinya tidak akan pernah ditolak.
Dan keyakinan itu jauh lebih berbahaya dari apapun. Sampai ia lupa, ada seorang istri yang malam ini keluar dari rumahnya.
Napas Tika tiba-tiba tersendat.
Bukan karena ketakutan yang datang perlahan, tapi seperti seseorang mematikan sakelar di dadanya. Udara terasa terlalu berat dalam ruangan besar ini. Pandangannya bergetar, lampu di langit-langit vila itu seperti berlipat ganda. Tika menggelengkan kepala cepat agar tubuhnya tidak tumbang karena ia tahu, perangkap ini nyata dan ia tidak punya pilihan lain.
“Jangan."
Tangannya mencengkeram d**a sendiri.
Tubuhnya mundur tanpa sadar hingga betisnya membentur sisi sofa. Jantungnya berdegup kencang, dengan bayangan sosok yang seperti jauh sekali.
“Tika,” panggil Arka cepat, nada suaranya berubah. Ia maju satu langkah untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja.
“Tarik napas. Lihat aku.”
“Jangan dekati aku!” Tika berteriak, kali ini penuh kepanikan. Tangannya menyapu meja kecil di samping sofa, gelas air jatuh dan pecah. Suara pecahan kaca membuatnya semakin kehilangan kendali.
Napasnya semakin pendek, memburu. Paru-parunya seperti terkunci.
“Aku tidak bisa ...." Ia terisak, tapi bukan tangis. Itu suara tubuh yang gagal berfungsi. Tika seperti mengalami sesak napas.
“Aku tidak bisa bernapas!”
Tika berbalik, hendak lari entah ke mana, tapi langkahnya limbung. Arka menangkap lengannya sebelum ia jatuh.
“Lepaskan!”
Tika meronta panik, reflek menendang, memukul tanpa arah.
“Jangan sentuh aku!”
“Tika, dengarkan aku!”
Suara Arka meninggi, bukan marah, tapi tegang. Ia berusaha menahannya agar tidak membentur dinding. Sama-sama panik karena Arka tidak tahu kalau Tika mempunyai penyakit asma kronis.
Namun, dalam kepanikan, Tika mendorong d**a Arka sekuat tenaga. Matanya liar penuh rasa terancam. Baginya, semua sentuhan adalah bahaya. Ia hanya butuh satu alat untuk mengembalikan napasnya dan di dalam tas tidak ada apa-apa. Kosong.
Satu detik berikutnya, semuanya berubah.
Arka kehilangan kesabaran.
Ia menekan tubuh Tika ke dinding, tangannya naik terlalu cepat, karena refleks hingga melingkar di leher perempuan itu. Tidak penuh, hanya sebentar, tapi cukup untuk menghentikan gerakannya.
“Diam!” desisnya keras, napasnya sendiri memburu.
“Tenang!”
Dunia Tika runtuh.
Tekanan di lehernya walau singkat telah memicu sesuatu yang jauh lebih gelap. Matanya membesar, tubuhnya gemetar hebat. Panik berubah menjadi teror murni.
“Le--pas ....”
Suaranya hampir tak keluar.
Begitu menyadari apa yang ia lakukan, Arka langsung melepaskan tangannya yang gemetar.
Tika melorot ke lantai, batuk berkali-kali, napasnya tersengal.
Tangannya mencengkeram leher sendiri, air mata akhirnya jatuh bukan karena lemah, tapi karena tubuhnya menyerah.
“Jangan sentuh aku!"
Arka berlutut beberapa langkah darinya, tidak menyentuh. Rahangnya mengeras, matanya gelap oleh sesuatu yang lebih dari sekadar amarah yaitu rasa bersalah bercampur ketakutan akan dirinya sendiri.
Tika tergeletak di lantai permadani dan Arka tidak menyentuhnya sama sekali.
“Aku tidak berniat."
Kalimatnya terputus.
Tika tertawa pendek di antara napas yang belum stabil. Tawanya kosong, mengejek.
“Lihat?” katanya lirih.
“Inilah dirimu. Kau bukan penyelamat atau pelindung, apa kau pikir aku akan tunduk setelah ini?”
Sunyi menyelimuti mereka berdua.
Arka berdiri perlahan. Suaranya rendah, berbahaya. Namun, terkontrol kembali.
“Justru sekarang kau tahu bahwa aku tidak sedang bermain.”
Tika mengusap lehernya, masih gemetar, tapi senyumnya tipis, menantang.
“Dan kau tahu satu hal,” balasnya lagi.
“Aku tidak akan pernah takut padamu.”
Tatapan mereka bertabrakan.
Arka mundur satu langkah. Seolah jarak itu bisa menghapus apa yang baru saja terjadi.
Tika masih terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding. Napasnya belum sepenuhnya kembali normal, tapi matanya sudah kembali fokus. Tajam dan hidup. Tidak runtuh seperti yang mungkin Arka harapkan dari seseorang yang barusan nyaris kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
Ia mengusap lehernya pelan. Ada bekas kemerahan samar. Arka menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.
“Aku minta maaf,” ucap Arka akhirnya.
Suaranya rendah, terkunci, tapi bukan permintaan ampun.
Tika tertawa pendek. Serak.
“Kalimat favorit laki-laki setelah mereka melukai.”
“Aku tidak membenarkan apa yang kulakukan dan aku tidak akan mengulanginya.”
“Kau tidak perlu janji,” balas Tika dingin.
“Karena aku tidak berniat mempercayaimu.”
Arka mengangguk pelan.
Ia berbalik, berjalan menjauh ke jendela besar. Tirai masih tertutup, malam tetap rapat seperti kuburan yang menjaga rahasianya sendiri. Ia berdiri dengan kedua tangan bertumpu di ambang jendela, kepala tertunduk.
“Kalau aku membiarkanmu pergi sekarang, dalam dua puluh empat jam, mereka akan menemukanmu lagi.”
“Biarkan, itu pilihanku." Tika menyahut cepat.
Arka menutup mata sejenak. Menarik napas panjang. Ia tahu batas kesabarannya sedang di uji.
"Aku akan membiarkanmu pergi kalau kau menyetujui permintaanku tadi."
Arka kembali pada perbincangan awal yang belum terjawab.
"Menikah denganmu?" Kali ini suara Tika lebih lantang dan berani. Seperti sudah menyiapkan sesuatu.
"Iya."
Tika bangkit perlahan. Wajahnya masih pucat, tapi sorot matanya kembali dingin dan menghitung. Malam ini semuanya harus selesai.
“Kalau aku menikah denganmu, apakah aku akan menjadi perempuan nomor satu atau hanya tameng sah yang kau pasang di depan istrimu?”
Arka terkejut mendengar ucapan itu, ia tidak menyangka Tika akan seberani itu mengatakan kalimat yang sangat menusuk.
"Kalau ini negosiasi, maka aku tidak datang sebagai korban. Aku datang sebagai pihak yang menuntut, dan kau ... akan mendengarkan.”
Arka menyunggingkan senyuman tipis, ia tahu sudah saatnya mengimbangi permainan licik ini.
"Semua akan aku penuhi," jawabnya tegas dan menarik Tika ke dalam dadanya.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat!"