Harga Sebuah Reputasi

1013 Kata
“Tapi dengan satu syarat.” Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap perempuan di depannya seperti menimbang ranjau. Ia tahu, satu kata yang salah ucap akan membuat semua runtuh atau meledak. Karena sejak awal ia tahu, kehadiran Tika seperti bom. “Katakan.” “Aku tidak akan menjadi perempuan yang disembunyikan,” ucap Tika tegas. Nada suaranya tidak meninggi dan tidak gemetar sedikit pun. “Aku tidak mau hidup di balik pintu, di balik kebohongan, di balik istrimu yang lain. Pernikahan ini bersih seperti ketika kau menikah dengan istrimu, Tuan Arkadewa. Bagaimana?" Lantang sekali Tika mengatakan persyaratan itu seperti anak panah yang lepas tepat ke d**a korban. Arka menatap tajam. "Di depan hukum dan publik. Tidak ada selingkuh yang dipoles legalitas. Aku tidak mau menjadi bayangan dalam rumah tangga orang lain." “Kau tahu itu mustahil,” jawab Arka dingin. “Aku tahu itu berbahaya dan kau juga tahu, aku tidak pernah hidup dengan kata mustahil.Aku tidak akan menjadi perempuan kedua." Tika menekan d**a Arka. Menegaskan supaya Arka tahu batas. “Kalau kau ingin menjadikanku tameng, maka aku harus berdiri di depan. Kita sejajar bukan di belakang seperti pecundang." Tatapan mereka saling mengunci. Tidak ada yang berkedip. “Kau memerasku?" tanya Arka kemudian. “Tidak. Aku hanya menyeimbangkan permainan.” Detik itu juga, Arka sadar sepenuhnya bahwa ia sedang mengikat perjanjian dengan seseorang yang bisa menjatuhkannya kapan saja saat ia salah langkah. “Baik,” ucap Arka akhirnya. “Pernikahan sah di depan hukum. Kau akan berdiri di sisiku.” Tika menatapnya lama, lebih ke arah curiga. “Jadi solusimu adalah mengurungku dengan cara yang lebih halus?” “Bukan mengurung, tapi mengikat." “Iya, sebagai perisai sosial atau topeng kehormatan?" “Dan kau akan aman,” Arka menimpali. “Tidak!" Tika menggeleng perlahan. “Aku hanya akan pindah dari satu bahaya ke bahaya lain.” “Mungkin. Tapi aku yang akan berdiri di depanmu." "Kita tidak saling mencintai, Arka!" Arka mengangguk. Lalu, menambahkan dengan suara rendah dan pasti. “Kau benar karena kita terlalu berbahaya jika berdiri saling berhadapan. Jadi, berhentilah bersandiwara!" Tika menatapnya lama lalu tersenyum kecil. “Kau sadar tidak,” katanya pelan, nyaris berbisik di telinga Arka yang seketika membuat lelaki itu tersentak, sebab darah kelelakiannya begitu cepat mengalir lewat suara bisikan tadi. “Kau ingin mengikatku dengan pernikahan sementara kau sendiri sudah menikah. Rania, istri yang kau kenal sejak SMA dan kalian sudah menikah selama tujuh tahun, semua terlihat sempurna di mata orang luar tapi nyatanya kau gagal. Kau gagal menjadi seorang laki-laki karena rumah itu terlalu sepi tanpa kehadiran seorang anak." "Hentikan!" “Seorang pria yang takut pada kebenaran, tapi mandul terhadap kejujuran.” Itu pukulan telak yang seketika membuat Arka mengepalkan tangannya. “Pernikahan tanpa masa depan. Seperti hidupmu. Mandul!!" Arka tidak bergerak untuk langsung membalas juga tidak membantah, tapi ia tahu inilah titik rahasia yang akan ia ungkapkan untuk menutup mulut Tika. Sebentar lagi. “Dan satu lagi,” tambahnya. Arka menahan diri agar tidak terlihat emosi, menunggu saat yang tepat. “Kau belum selesai?" tanyanya seperti memancing. “Aku tidak akan berhenti menulis. Tidak tentangmu atau keluargamu. Tapi aku juga tidak akan menjadi alat siapa pun.” “Selama kau hidup, aku akan menjagamu." “Bukan berarti aku akan tunduk patuh padamu. Ini kesepakatan kita. Ingat itu!" Setelah mengatakan itu, Tika berjalan menjauh seperti tidak ingin berhadapan lagi dengannya. Arka menatap nyalang, tapi tetap tenang. Perlahan mulai mendekat di saat Tika sibuk memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tas. Lelaki ini tahu apa yang akan ia perbuat, tapi kata mandul yang sudah diucapkan Tika telah membuatnya gelap mata. Dengan cepat, Arka melingkarkan kedua tangannya ke bagian perut Tika yang seketika membuat perempuan itu tersentak, tapi tidak bisa berbuat banyak karena Arka langsung membopongnya ke dalam kamar. Lalu, ia bergerak cepat dengan mengikat kedua tangan dengan dasinya lalu menekan kuat tangan yang berusaha memberontak. "Apa yang ingin kau lakukan! Jangan macam-macam, Arka!" Arka hanya memperlihatkan senyuman miring yang mengancam. Ada kilatan nafsu, emosi juga harga diri yang direndahkan. "Bukankah kau yang mengatakan aku mandul? Apakah kau ingin bukti?" "Bukti apa?" Arka tidak banyak bicara, ia membuka kancing kemejanya satu per satu sampai bertelanjang d**a. Menindih perempuan yang seketika dibuatnya diam tak berdaya. "Aku tidak akan memberikan ruang aman untukmu karena kau telah menghina harga diriku!" "Tidak! Jangan! Jangan kau lakukan itu padaku." Tika mulai memohon karena ia tahu, saat ini tidak akan ada lagi yang dapat menolongnya kecuali dirinya sendiri. Akan tetapi, Arka sudah tidak peduli. Satu hentakan tangan saja, pakaiannya robek dan terlempar asal ke lantai, sampai akhirnya ia benar-benar hanya mengenakan pakaian dalam saja. Kondisi yang sangat memalukan karena selama ini ia tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk menyentuhnya dan malam ini, Arkadewa Atmadjaya sudah merenggutnya. "k*****t!" Kata makian itu tidak mempan sama sekali, Arka tetap mencoba untuk menyetubuhinya sampai dia benar-benar yakin, miliknya bisa masuk sempurna dengan semburan benih yang ia tanam dalam rahim seorang jurnalis berbahaya bernama Tika Damayanti. "Aaaaa ...." Jeritan Tika justru membuat napas Arka semakin memburu, ia tahu itu salah dan tidak seharusnya ia lakukan, tapi hanya cara ini yang paling aman. "Aaggghhh .... " Pelepasan yang sangat luar biasa ia rasakan. Semenjak beberapa bulan tidak berhubungan dengan istrinya karena kondisi medis. Denyutan panas dengan napas turun naik disertai degupan jantungnya yang memburu. Klimaks itu sudah ia dapatkan. Tanpa peduli bagaimana tangisan tragis perempuan yang berada di bawahnya. Beberapa menit kemudian. "Ba-jingan!" Suara itu seperti rintihan. "Aku akan menikahimu, kau tidak perlu khawatir. Pagi ini kau tinggal dulu di sini. Akan ada orang yang datang menjemputmu." Tika tidak menjawab, ia meringis merasakan perihnya di area bawah sana yang berhasil dibobol oleh lelaki gila ini. Arka sudah memakai pakaiannya, rapi lalu duduk lagi di sisi ranjang. Tangannya mengusap lembut bibir yang tadi dilumatnya penuh nafsu. "Kau masih perawan. Aku pikir orang sepertimu sudah terbiasa tidur dengan orang-orang penting hanya untuk mendapatkan informasi." Lalu, Arka mendekat dan melumat lagi bibirnya, tapi Tika tidak diam saja ia langsung menggigitnya sampai berdarah. Tiba-tiba ponsel dalam saku jasnya bergetar. Ada telepon dari nomor tidak dikenal sebanyak enam kali. Nomor siapa ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN