menu
"Kami polisi lalu lintas yang mengabarkan bahwa saudara Rania mengalami kecelakaan. Mohon Anda segera datang."
"Istri saya di mana sekarang?"
"Di rumah sakit Elizabeth."
"Baiklah, saya segera ke sana."
Jantung Arka berdegup kencang. Kejadian ini menyadarkan dirinya tentang seseorang yang ia lupakan. Rania kecelakaan.
Tika bangkit. Kakinya sedikit gemetar, tapi ia memaksa berdiri. Ia mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai, memungutnya satu per satu dengan gerakan kaku, lalu masuk lagi ke kamar mandi.
Cermin menyambutnya lebih dulu.
Wajah itu masih wajah Tika Damayanti. Tidak lebam atau memar. Rambutnya sedikit berantakan, bibirnya pucat, matanya merah tapi kering. Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih kejam.
Air mengalir. Ia membiarkannya jatuh lama, Bukan untuk membersihkan, tapi untuk menunda kenyataan bahwa setelah ini, ia harus berpikir. Ia coba membasuh wajah sebentar, lalu mulai mengguyur perlahan pada tubuh yang rapuh, beberapa kali ia meringis perih ke area bawah sana yang seperti ada lapisan kulit yang mengelupas.
Sungguh, bermimpi pun ia tidak berani bahwa suatu saat ia akan menjadi perempuan yang gagal dalam mempertahankan kesuciannya. Padahal selama dua puluh tujuh tahun ini, tidak ada siapa pun yang berani mendekat bahkan menyentuhnya. Dan, sekarang?
Ia terlalu percaya pada kata-kata.
Ia lupa bahwa bagi laki-laki seperti Arka, tubuh bisa dijadikan alat pembungkam dan di sanalah ia sudah kalah.
“Pernikahan sah di depan hukum.”
Kalimat itu terngiang. Tika tertawa kecil. Merasa bahwa semudah itu seorang Arka akan melakukannya? Benarkah?
Perisai sosial.
Topeng kehormatan.
Arka pikir dengan merenggut sesuatu yang dianggap suci, ia telah menutup mulutnya selamanya.
Tika berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, halaman villa gelap. Lampu taman menyala redup. Tidak ada penjaga yang terlihat, tapi ia yakin sekali ada mata yang mengawasi. Matanya menatap ke seluruh sudut kamar, ada beberapa titik yang aktif di sana. Ia paham di mana saja titik kordinat yang disimpan orang seperti Arka.
Melarikan diri sekarang hanya akan menguatkan posisi Arka. Membuatnya terlihat seperti perempuan yang menyesal, takut, dan tidak siap menanggung konsekuensi. Itu tidak akan ia lakukan.
Tidak!!!
Jika Arka ingin menjadikannya istri, tameng, atau alibi. Maka, ia akan masuk ke peran itu dengan sadar, bukan sebagai korban yang diseret. Masalah sudah sejauh ini, ia tidak akan diam saja.
Tika duduk di kursi dekat meja kecil. Ia membuka tasnya. Buku catatan masih ada. Pulpen masih di sana. Tidak dirampas, ini adalah kesalahan kecil Arka.
Ia tidak menulis malam itu. Tidak satu kata pun. Ia hanya menutup buku, lalu menyimpannya kembali.
Menulis terlalu cepat akan membuat emosinya bocor.
Ia akan menunggu saat yang tepat untuk menuliskan semuanya tanpa jeda dan tidak ada celah untuk lelaki itu ingkar.
Di suatu tempat di kota, Arka Atmadjaya sedang menuju rumah sakit, menuju peran suami yang akan kembali ia kenakan dengan wajah prihatin dan kata-kata yang tertata rapi.
Sampai di IGD, ia langsung menemui dokter yang menangani Rania, tidak ada luka berat di tubuh mungilnya, tapi justru itu yang berbahaya.
"Tolong ... lakukan yang terbaik untuknya, Dokter, " katanya pelan penuh harap.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Silakan tunggu di luar dulu."
"Iya."
Dan di villa sunyi itu, Tika Damayanti sedang menyusun rencana lagi.
Ia memang masuk ke perangkap, tapi baginya perangkap bukan selalu akhir.
Kadang, itu hanya posisi awal bagi seseorang yang akhirnya belajar bermain lebih kejam.
Ia bersandar, menatap langit-langit villa.
“Tenang,” bisiknya pada diri sendiri.
Permainan baru saja dimulai.
Pagi merambat masuk tanpa izin, menyingkap malam yang ditinggalkan terlalu rapi untuk disebut kebetulan yang direncanakan.
Ketukan itu datang satu kali. Membuat d**a Tika berdegup kencang lagi. Ia membuka tirai melihat ke luar, ada dua mobil mewah di sana.
Tok ... tok ... tok!!!
Tika mengamankan tasnya lebih dulu, lalu membuka pintu dengan wajah tegasnya.
"Iya. Anda siapa?"
"Selamat pagi, Nyonya. Saya, Marco."
Marco? Dia adalah tangan kanan Pak Munir Atmadjaya, mereka pernah bertemu dulu, tapi sepertinya entah lupa atau pura-pura lupa, Marco berlagak biasa saja. Tidak ada keterkejutan di riak wajahnya. Datar, tegas dan penuh rahasia.
Marco berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tidak membawa kabar, hanya perintah yang telah dijalankan. Di belakangnya, dua perempuan masuk tanpa memperkenalkan diri, menarik koper hitam besar yang rodanya nyaris tak bersuara.
Lalu, datang lagi seorang dokter yang masih memakai jas rapi warna putih bersih. Marco lebih dulu mempersilakan dokter itu untuk masuk ke kamar sementara yang lain menunggu di luar.
"Apakah ada sesuatu yang dirasa tidak nyaman Nyonya?"
"Hah? Ttt---tidak, tidak ada. Saya baik-baik saja."
Dokter itu menatapnya seperti agak bingung, tapi kemudian mengangguk.
"Baiklah, saya tinggalkan beberapa obat salep untuk luka di lutut."
"Ohhh, iya. Terima kasih."
"Sama-sama."
Setelah dokter pergi, Tika keluar. Kedua perempuan tadi sudah membuka sebuah koper. Terlihat gaun pengantin terlipat rapi, putih gading, anggun dan mewah sekali. Benar-benar menakjubkan. Tapi sekali lagi Tika sadar bahwa ini bukan gaun yang dipesan karena cinta. Ini gaun yang dikirim sebagai pernyataan bahwa hidupnya tidak lagi punya kuasa.
“Arka?” Tika bertanya, bukan karena berharap, tapi karena ingin memastikan satu hal.
“Tuan Arka tidak mengubah apa pun, semua berjalan sesuai rencana, Nyonya."
Marco menjawab tegas dan memerintahkan agar segera memoles wajahnya seperti pengantin pada umumnya.
Tidak mengubah apa pun? Bahkan ketidakhadirannya pun sudah diperhitungkan tanpa suara.
Tangan-tangan profesional mulai bekerja, menyentuh rambut dan wajah Tika seperti sedang menyiapkan alat yang akan digunakan bukan memanjakan, melainkan menempatkan. Setiap sentuhan mengajarkan satu kebenaran telak bahwa hari ini bukan tentang pilihan, melainkan tentang posisi yang harus ditempati.
Di cermin, Tika melihat dirinya sendiri mengeras pelan-pelan. Perempuan yang semalam masih menawar, kini berdiri sebagai titik akhir dari sebuah keputusan yang lebih besar dari tubuhnya sendiri.
Arka tidak ada di ruangan itu.
Namun, segala sesuatu bergerak karena perintahnya.
Sementara itu, di tempat lain, layar tablet menyala terang.
Rekaman jalan diputar ulang. Plat nomor diperbesar, memperlihatkan jalur komunikasi dipotong satu per satu, seperti mematahkan tulang tanpa membuat suara. Van hitam yang semalam terlalu dekat, terlalu cepat, terlalu yakin akhirnya kehilangan perlindungannya.
Sebuah nama muncul di sana.
Bukan sopirnya atau eksekutornya.
Melainkan orang yang memberi perintah.
Marco membaca laporan itu tanpa ekspresi, meskipun otaknya sempat menolak untuk percaya. Lalu, ia mengirim satu pesan singk pada tuannya.
"Sudah ketemu bukan pemain kecil. Dan dia tahu persis siapa Tika."
Pesan itu terkirim.