Dibalik Satu Nama

1016 Kata
Pintu IGD tertutup. Di baliknya, Rania, istri kesayangannya terbaring lemah. Nama itu kini bukan sekadar identitas, melainkan simpul. Dan Arka tahu, simpul yang salah ditarik akan membuat segalanya mengencang. Ponsel di tangannya bergetar sekali. Ia tidak langsung melihat. Ia menunggu, kebiasaan lama yang membuat orang lain belajar bahwa ia tidak bereaksi, melainkan sedang memilih. Namun, kali ini jeda itu tidak memberinya keunggulan. Justru sebaliknya. Ketika ia membuka layar, satu nama muncul. Marco. Arka mengangkatnya, suara diturunkan setengah nada. “Lapor, Tuan." "Hmmm." “Van itu tidak berdiri sendiri, Tuan,” kata Marco. Datar, tapi ada riak yang bisa Arka rasakan karena terlalu biasa untuk sebuah kabar baik. “Siapa?” Arka bertanya, singkat. “Ada tiga jalur dana,” jawab Marco. “Kecil dan terpecah. Bukan lewat perusahaan. Bukan juga lewat rekening keluarga. Yang jelasnya bukan lewat Anda.” Arka tersenyum tipis, bukan lega. “Itu bukan jawaban. Kau tahu aku tidak suka berbelit. Sebutkan namanya saja." Marco menarik napas. Ada rasa berat yang sudah ia pikul dan timbang dari tadi. “Salah satu jalur terhubung ke yayasan sosial yang selama ini menjadi payung kegiatan filantropi Nyonya Rania.” “Apakah ada instruksi?” Arka bertanya. “Tidak ada perintah tertulis juga tidak ada rekaman. Apalagi saksi,” jawab Marco. “Hanya perubahan status risiko internal yang dinaikkan satu level, dua hari lalu. Tanpa tanda tangan.” Arka tertawa pelan, hampir tak terdengar. Bukan tawa geli. Itu tawa orang yang menyadari permainan telah melampaui satu tangan dan ia tidak pernah menduga bahwa itu adalah tangan halus milik istrinya. "Jadi seseorang membuat orang lain merasa perlu bertindak.” “Ya, Tuan.” “Dan orang itu?” Arka menekankan lagi. Marco diam sepersekian detik untuk jeda yang jarang ia berikan. *** Di villa, Tika duduk tegak di kursi, gaun putih gading menyatu dengan kulitnya seperti keputusan yang dipaksakan menjadi takdir. Wajahnya sudah dipoles, rambutnya disanggul rapi. Semua tepat dan patuh seperti tidak pernah terjadi malapetaka apapun. Dan justru itu yang membuatnya waspada. Dunia Arka selalu bekerja paling berbahaya ketika terlihat sempurna. Marco masuk tanpa suara. “Kita berangkat lima belas menit lagi, Nyonya.” “Arka?” Tika bertanya dengan nada datar bukan lagi mengharap. “Masih di rumah sakit,” jawab Marco. Tidak menambahkan apa pun. Tika mengangguk. Di dalam dirinya, satu kesimpulan muncul pelan-pelan seperti sebuah kunci yang dapat ia buka dengan instingnya. Ketidakhadiran Arka hari ini bukan kelalaian, tapi satu kendala entah dengan alasan apa. “Marco,” Tika memanggil. Sekali dan tegas. Marco menoleh. “Ya, Nyonya.” “Van hitam semalam,” kata Tika, seolah bertanya santai. Marco menatapnya untuk pertama kali ke arah Tika yang menatap lurus kepadanya. “Mereka bukan datang untuk membunuh," lanjut Tika. Marco tidak menyangkal. Hanya diam memerhati. “Berarti ini bukan tentang menghilangkan, tapi menghentikan.” Tika menyimpulkan. Lalu, berdiri. Gaun itu tidak membuatnya rapuh. Ia mengenakannya seperti zirah. “Aku tahu banyak musuh karena tulisanku, tapi aku tidak berniat mencelakai siapapun. Lalu, siapa yang menghentikanku?" Marco menghela napas, pelan. “Pertanyaan itu berbahaya, Nyonya.” Tika tersenyum kecil. “Pertanyaan selalu berbahaya. Jawabanlah yang mematikan.” *** Di rumah sakit, dokter keluar dari IGD. “Kondisinya stabil,” katanya singkat. “Tapi kami perlu observasi. Ada gegar ringan yang memerlukannya untuk istirahat.” Arka mengangguk. Lalu, mengucapkan terima kasih. Stabil. Kata itu seharusnya menenangkan. Tapi di kepalanya, stabil berarti status quo. Dan status quo adalah musuh perubahan. Ia masuk ke ruang rawat. Rania terbaring, pucat, dengan perban tipis di pelipis. Mata itu terbuka ketika ia mendekat. “Mas,” katanya lirih. Arka menggenggam tangannya, hangat dan ia sadar tidak bisa memisahkan Rania sebagai istri dari Rania sebagai simbol. Sebab, setiap perintah yang keluar darinya akan memantul kembali, mengenai ranjang ini. “Ada apa?” Rania bertanya karena tatapan Arka begitu tajam menukik. “Sayang ... kau terlihat jauh." “Aku lelah," jawab Rania lemah dan nyata. Tarikan napasnya seperti berat dan menyiksa. Arka tahu bagaimana kondisi dia tahun belakangan ini saat ibunya terus menyuruh Rania untuk cepat hamil dengan mengikuti berbagai progam kehamilan. "Maafkan aku, Sayang." Arka mencium lembut tangan rapuh itu. Sedangkan, Rania menatapnya lama, seolah ingin membaca sesuatu di balik rapi yang ia kenakan. "Beberapa hari ini aku sering bermimpi, Mas. Kau berlari menjauh dariku dan ada seorang perempuan di sisimu. Kalian diserang dan terus lari meninggalkanku." Arka menunduk, mencium punggung tangan Rania. Di dalam kepalanya, potongan-potongan itu kini tersambung. Tidak ada perintah ataupun instruksi. Hanya keluhan yang jatuh pada telinga yang salah. Dan telinga itu bergerak lebih cepat dari akal. Hanya melekat pada sebuah mimpi buruk yang mengarah pada insting seorang istri. “Beristirahatlah,” kata Arka. “Aku urus semuanya.” Rania tersenyum tipis. “Aku percaya padamu.” Kalimat itu baru kali ini terasa seperti magnit yang menarik belati. Kepercayaan yang selalu menjadi hadiah, sekarang mengikat seperti belenggu. Arka berjalan pelan meninggalkan istrinya saat mata itu sudah terpejam karena pengaruh obat. Marco berdiri di balkon villa, menatap halaman yang mulai ramai. Ia membaca laporan di tablet sekali lagi. Nama-nama tidak ditulis. Hanya pola. Dan pola itu mengarah ke satu kesimpulan yang tidak bisa ia kirimkan terang-terangan. Ia tidak paham dengan rencana tuannya kali ini dan tidak berani memberikan pendapat. Arka sampai di tempat, dia sudah mengganti pakaian pengantin warna senada. Gagah dan penuh wibawa dengan langkah yang tegak, dagu menantang dan tampan karismatik. Ia tahu, permainan ini belum selesai dan baru saja dimulai. Dan di papan catur yang baru, raja tidak selalu bergerak paling bebas. Kadang, raja justru paling terikat oleh nama yang ia lindungi dan ia paham semuanya. Juga tentang satu rencana yang ia ubah dalam lima menit tadi. "Bagaimana Tuan Arka, apakah bisa kita mulai sekarang?" tanya seorang lelaki yang berpakaian rapi, seperti menunggu perintah. Arka diam sesaat, menatap tajam ke arah Tika yang seolah memintanya untuk segera melangsungkan akad nikah. Meskipun ia sendiri merasa heran, kenapa tidak ada sesiapa yang datang kecuali Marco dan dua pengawal tadi? Juga lelaki yang memperkenalkan namanya sebagai Pak Rahman. Di mana petugas yang lain? Saat pikiran waras Tika menuntut jawaban. Arka membuka suara. "Aku akan menikahimu sebatas nikah siri saja." "Apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN