"Apa?"
Suara Tika menggema di seluruh ruangan kosong ini. Ia tidak menyangka kedatangan Arka justru memberikan kejutan yang tidak pernah ia pikirkan. Lelaki itu memang datang untuk menikahinya, tapi kenapa harus seperti sekarang ini? Bagaimana bisa dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam lelaki ini sudah ingkar janji?
"Kau!"
Tika berdiri dan ingin melayangkan satu tamparan, tapi tangan Marco sigap menahannya.
"Kau tinggal pilih, mau atau tidak!"
"Kau ingkar janji."
"Mananya yang kau sebut ingkar janji, Nona?"
Pertanyaan Arka membuat napas Tika berat. Sumpah serapah dan makian hanya berhenti di tenggorokan saja.
"Bagaimana? Kalau kau tidak mau, aku akan pergi. Aku tidak ada waktu untuk menunggumu!"
Akhirnya, Tika kembali duduk. Rasanya percuma saja ia akan memberontak, ia tidak punya kekuatan apalagi kekuasaan. Saat ini yang ia pikirkan adalah ... tentang apa yang terjadi semalam. Bagaimana kalau ia hamil?
Ijab qobul pun dilaksanakan dengan penuh khidmat, ketegangan dan penuh ambisi.
Arka memakaikan cincin bertahta berlian sama seperti yang ia berikan untuk Rania sebagai cincin kawin mereka. Hanya berbeda motif saja. Harga pun sama persis.
Setelah beberapa orang keluar. Marco membuka tas dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. Tika hanya melirik, baginya sudah tidak ada lagi kekuatan untuk berdebat, selain menurut.
"Silakan dibaca, Nyonya."
"Tidak perlu, bukankah kau ingin aku menandatanganinya?"
"Betul, tapi alangkah baiknya Anda baca dan pahami dulu surat-surat ini."
Tika menatap tajam ke arah Marco, lalu ke arah Arka yang diam menatapnya tanpa ekspresi.
"Kau sudah menghancurkan segalanya. Dan aku tidak punya apa-apa lagi."
"Hmmm, sebaiknya baca dulu."
"Tidak mau!"
Arka tersenyum penuh muslihat lalu mendekati Tika dan memberi isyarat agar Marco keluar ruangan.
"Dari semalam aku berpikir, apakah kita ini memang berjodoh atau hanya kebetulan lewat saja, tapi ... beberapa menit tadi aku baru sadar, betapa kau sangat BODOH sekali!"
"Kau!"
Tika ingin menampar, tapi Arka menahan malah mendekat dan melumat kembali bibir merah tadi.
"Lembar ke-lima, di sana tertulis jika kau hamil anakku maka dia berhak atas separoh dari hartaku, tapi dengan syarat. Begitu lahir ia harus ikut denganku dengan nama orang tua Arka dan Rania bukan dirimu dan kau sudah menandatanganinya. Artinya kau sudah setuju!"
Tika terbelalak, napasnya seperti berhenti di kerongkongan mendengar penjelasan itu. Iya, dia bodoh! Kenapa tidak berpikir sejauh itu padahal ia tahu bagaimana liciknya seorang Arkadewa ini.
"Tapi di lembar terakhir aku juga menjelaskan bahwa kau akan aman selama tidak cerai dariku. Mulai hari ini kau sudah menjadi istriku dan kau harus patuh!"
"Patuh?"
"Yaaa, patuh pada perintah di bawah pengawasan dan kekuasaanku!"
"Maksudmu?"
"Berani menulis berita tentang keluargaku, maka kau akan aku singkirkan! Mengerti?"
Wajah mereka berdekatan, tapi ada batas ambisi dan dendam yang tumbuh juga kepalsuan.
"Rumah, mobil dan semua keperluanmu sudah aku sediakan. Jadi, tidak perlu menuntut banyak hal! Kau tidak ber-hak sama sekali."
Kemudian Marco datang dan sudah menyiapkan barang-barang yang diperlukan Tika di rumah barunya.
Seperti mimpi, dalam beberapa jam hidup Tika Damayanti berubah 360° hanya karena bertemu dengan Arkadewa Putra Atmadjaya.
RS. Elizabeth, Jakarta Pusat.
Rania terbangun sebelum perawat masuk.
Ia tidak pernah suka dibangunkan oleh orang lain, apalagi oleh suara langkah yang terlalu berhati-hati. Orang yang berjalan pelan biasanya sedang menyembunyikan sesuatu, entah kabar buruk, atau juga rasa bersalah. Pagi ini, ia membuka mata dengan kepala sedikit berat, pelipis berdenyut pelan, tapi pikirannya jernih.
Ia mengingat kejadian malam sebelumnya. Suara rem yang menjerit. Benturan yang tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat dunia berputar satu kali sebelum berhenti. Kecelakaan kecil, kata dokter. Namun, sepertinya tidak semudah itu.
Pintu terbuka. Seorang perawat masuk, tersenyum ramah.
“Selamat pagi, Bu Rania. Bagaimana kabar hari ini?"
“Sedikit pusing,” jawab Rania.
Perawat mencatat sesuatu. Bertanya hal-hal standar. Rania menjawab dengan pelan dan jujur.
Setelah perawat keluar, Rania menggerakkan jarinya perlahan. Tidak gemetar. Tubuhnya masih utuh, bisa digerakkan sesuai keinginan artinya memang ia baik-baik saja.
Ponselnya ada di meja samping ranjang. Rania tidak mengambilnya, ia tidak ingin tahu ada kabar lain. Kepalanya penuh oleh beberapa informasi yang ia simpan selama ini, sendirian.
Pintu kembali terbuka. Kali ini Arka yang datang.
Ia masuk tanpa suara berlebihan, tanpa wajah panik yang dipamerkan untuk orang lain. Jasnya rapi, rambutnya tersisir sempurna. Hanya matanya yang sedikit lebih gelap dari biasanya.
“Pagi, Sayang," kata Arka.
Rania tersenyum kecil.
“Kau tidak perlu datang sepagi ini, Mas."
"Tidak, Sayang. Aku merindukanmu. Kita pulang, ya?"
Suara Arka pelan, merayu.
Rania memperhatikan genggaman itu. Ia mengenal suaminya dengan baik. Setiap sentuhan punya maksud. Setiap jeda punya hitungan. Ia sudah hapal di luar kepala.
“Apa yang aku lewatkan?” tanya Rania pelan.
Arka menatapnya. Sejenak. Terlalu singkat untuk disebut ragu, terlalu lama untuk disebut biasa.
"Mama sudah berjanji tidak akan ikut campur urusan rumah tangga kita."
"Oh, ya?"
Rania menarik napas perlahan. Tidak terkejut. Ia sudah menduganya. Bukan karena firasat, tapi karena ia tahu jadwal, tekanan, basa-basi dan cara Arka bekerja ketika sesuatu harus diselesaikan cepat. Hanya untuk membujuknya kembali.
Rania memejamkan mata sejenak. Bukan karena lelah, tapi karena ia sedang menyusun sesuatu di kepalanya. Bukan ia tidak tahu kalau mertuanya sangat jahat dan licik juga bisa menghalalkan segala cara demi apapun.
“Ada van hitam,” katanya pelan.
Lalu, Arka berdiri. Mendekat ke jendela.
“Siapa yang bilang?”
Rania membuka mata.
“Jangan meremehkan orang-orang yang bekerja di sekitarmu. Mereka bicara lebih banyak ketika mereka pikir aku tidak mendengar.”
Arka tidak membantah. Ia hanya lupa kalau istrinya adalah sosok perempuan yang cerdas dan oleh sebab itu ia dulu sangat mencintainya.
“Aku tidak menyuruh siapa pun,” kata Rania.
"Jadi, kau jangan mencurigaiku, Mas."
Arka tersenyum manis dan duduk di sisi ranjang.
“Aku tahu,” jawab Arka cepat.
"Aku sangat mempercayaimu bahkan ketika dunia tidak berpihak padamu."
Rania menatap suaminya. Ia mencintai Arka dengan caranya sendiri. Bukan cinta yang membabi buta, tapi cinta yang tumbuh dari bertahun-tahun hidup di lingkungan yang sama, memahami risiko yang sama, dan memikul reputasi yang sama.
“Kadang,” kata Rania pelan.
“Orang-orang bergerak bukan karena perintah. Tapi karena mereka terlalu lama diajari untuk membaca kekhawatiran.”
Arka agak terkejut dengan ucapan itu, bagaimana bisa Rania mengucapkannya?