Pintu terbuka lebih lebar, tampak seorang perempuan berdiri tegak di sana. Ia tidak masuk tergesa. Pakaiannya rapi, mengenakan blazer abu gelap tanpa aksen mencolok. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Datar, tapi ada semburat kejam di sana.
Matanya menyapu ruangan seperti sedang menghitung kemungkinan, siapa yang berasa di dalam dan di luar, lalu siapa yang mendengar.
Rania langsung paham.
Bukan dari wajahnya melainkan dari cara perempuan itu menunggu di ambang pintu, bukan melangkah masuk tanpa izin.
“Masuk,” kata Rania pelan.
“Nyonya," sapa perempuan itu singkat.
Dia bernama Laras. Dia bukan sekretaris, asisten, teman dekat ataupun staf. Ia adalah tangan kanan yang tidak tercatat bahkan bayangannya tidak dapat ditangkap oleh orang-orangnya Arka. Ia bergerak ketika Rania memilih diam. Sebab itu, jejaknya seperti tulisan di atas pasir. Hilang.
“Bagaimana?" tanya Rania tanpa basa-basi.
Laras membuka map tipis berwarna hitam.
“Van hitam itu terdaftar atas nama perusahaan logistik fiktif,” kata Laras pelan, tapi tajam.
“Perusahaannya mati dua tahun lalu, tapi izinnya dihidupkan kembali minggu lalu.”
Rania menghela napas perlahan.
Ia tidak terkejut. Yang membuat dadanya sesak adalah kecepatan dari Marco yang tahu gerakannya dan ia juga yakin, kedatangan suaminya tadi sebenarnya ada maksud lain.
“Minggu lalu, berarti sebelum aku kecelakaan dan mereka memfitnah bahwa itu adalah kerjaanku. Begitu?"
"Betul sekali."
"Mereka seperti tahu bahwa aku dan Arka bermasalah, jadi semuanya berjalan seperti kebetulan saja. Padahal, siapa Tika Damayanti pun aku belum pernah tahu dan bertemu. Hanya pernah mendengar tentang tulisannya dulu yang ... merenggut nyawa ayah mertuaku."
“Dan orang yang mengaktifkannya kembali juga bukan orang sembarangan, Nyonya."
“Di rumah Admadjaya tidak ada yang sembarangan.”
Laras hendak melanjutkan, ketika ada suara ....
Tok.
Tok.
Dua ketukan yang Rania hapal betul nada tidak sopan itu milik siapa.
Ketukan yang tidak meminta izin dan selalu membuat darahnya mendidih.
"Diam."
Rania bahkan belum sempat menoleh ketika pintu sudah terbuka.
Bu Mega berdiri di sana.
Perempuan itu selalu datang dengan aura yang sama, menyebalkan dengan wangi mahal, senyum tipis, dan mata yang tidak pernah benar-benar tersenyum. Rambutnya disasak rapi, anting mutiara berkilau di telinga, seolah ia sedang menghadiri acara keluarga, bukan menjenguk menantu yang baru saja nyaris mati.
“Oh,” kata Bu Mega, nada suaranya ringan, tapi penuh selidik.
“Rupanya kamu sudah bangun, Rania."
“Selamat siang, Ma,” kata Rania tenang. Seperti tidak pernah terjadi pertengkaran di hari itu.
Bu Mega melirik Laras sekilas.
“Ini siapa?” tanyanya, meski nada suaranya sudah seperti tahu jawabannya.
“Orang yang bekerja untukku dan kebetulan, aku sedang tidak ingin diganggu.”
Bu Mega tersenyum. Senyum yang sama seperti bertahun-tahun lalu, saat ia mengajari Rania cara duduk, cara bicara, cara tersenyum di depan kamera hanya untuk menutupi jejak di balik layar. Ia paham betul. Sekarang, sudah lelah untuk berpura-pura.
“Mengganggu?” ulangnya.
“Rania, aku ini ibumu. Aku hanya khawatir.”
“Kekhawatiran Mama sering kali datang terlalu dekat dengan kendali,” jawab Rania tanpa ekspresi.
“Itu bukan kebetulan, Rania. Sudah ... kebiasaan.”
Suasana jadi tegang. Rania pun melengos, tidak menatap ke arah mertuanya.
Bu Mega mendekat ke sisi ranjang. Tangannya menyentuh ujung selimut, tapi tidak menyentuh Rania.
“Kau sudah pintar memilih kata sekarang,” katanya pelan.
Rania menatapnya lurus. Tidak peduli.
Laras melirik cepat ke arah Rania.
Satu kalimat itu bukan spontan, ia tahu itu pernyataan perang.
Bu Mega menarik napas berat.
“Arka bilang kamu kelelahan. Terlalu banyak berpikir.”
“Arka selalu bilang begitu ketika aku mulai berpikir sendiri,” sahut Rania lagi.
“Itu cara halusnya mengatakan kau mulai berbahaya, Rania."
Lengang beberapa detik.
Bu Mega akhirnya menoleh ke Laras.
“Keluar dulu,” perintahnya ringan, seolah Laras adalah perawat rumah sakit yang bisa ia perintah kapan saja.
Rania menggeleng.
“Tidak.”
Satu kata, tegas. Bu Mega kembali menatap menantunya.
“Kau melawan?”
“Tidak,” jawab Rania.
“Aku hanya berhenti untuk patuh. Bukan karena tidak hormat, tapi aku ingin menyampaikan agar Mama tahu batasan antara anak dan menantu."
Kalimat itu menghantam tepat sasaran. Bu Mega terkekeh kecil. Ia sama sekali tidak menyangka, hanya beberapa hari saja Rania tidak pulang, ia sudah berubah sedrastis ini.
“Rania, kau ini hidup karena nama keluarga kami. Jangan sok kuat.”
Rania tersenyum dengan satu tarikan napas.
“Nama keluarga itu juga yang hampir membunuhku.”
Bu Mega terdiam seperti kehilangan kata-kata untuk menyerang lagi dan kesempatan itu digunakan Laras untuk membuka map kembali.
“Nyonya,” katanya pelan, tapi cukup terdengar, tanpa rasa takut.
“Orang yang mengaktifkan perusahaan itu terhubung langsung dengan yayasan milik Nyonya besar yaitu ibu mertua Anda."
Bu Mega menoleh cepat.
“Apa maksudmu?” bentaknya.
Rania tidak terlihat kaget.
Ia hanya menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali. Ia paham, tahu bagaimana gerakan itu terjadi.
“Mama,” katanya pelan, setiap kata dipilih seperti silet yang siap menguliti.
“Dalam hidupku, ada dua jenis kebetulan. Yang pertama murni. Yang kedua … dibuat.”
Bu Mega menegakkan bahu.
“Jangan menuduh tanpa bukti, Rania."
“Justru karena ada bukti, aku tidak menuduh,” jawab Rania membalikkan kalimat itu dengan penuh percaya diri.
“Aku menyimpulkan.”
Laras menyelipkan satu foto ke atas meja samping ranjang. Foto buram, tapi cukup jelas menunjukkan van hitam dengan plat yang sudah dikenal. Plat palsu.
“Ini diambil dua jam sebelum kecelakaan,” kata Laras.
“Dan ini, satu foto lain, yang diambil pagi ini. Van yang sama terparkir tiga blok dari rumah sakit.”
Bu Mega diam, tapi tangannya erat mencengkram handbag mahalnya.
“Kau tahu apa yang kau lakukan?” Suaranya mulai naik empat oktaf.
“Kau membuka perang dalam keluarga sendiri!”
Rania menegakkan punggungnya. Tubuhnya masih lemah, tapi suaranya tidak.
“Lanjutkan.”
Laras mengangguk.
“Kami menemukan aliran dana ke satu akun lain, atas nama Tika Damayanti.”
Nama itu jatuh seperti pecahan kaca yang tidak akan bisa dirapikan kembali.
Bu Mega menoleh tajam.
“Siapa dia?” tanya Rania tepat ke arah mata bulat Bu Mega yang seperti mau keluar.
Rania menatap lurus ke depan.
Perlahan, tapi dalam. Ia sendiri tidak tahu bagaimana otaknya bisa bekerja sedemikian rupa. Tapi, titik terangnya sudah jelas.
“Perempuan yang dipakai untuk menutup lubang,” kata Laras yakin.
"Reputasi kau nomor satukan, Ma. Kau takut topengmu akan dibongkar oleh tulisan yang sama telah membunuh Papa dulu, jadi kau menfitnah semuanya seperti gerakanku yang terorganisir saat orang Arka bisa menyelidiki. Benar begitu?"
Rania mulai duduk dan Laras ingin membantu, tapi ia tolak.
Kini, ia berdiri tepat berhadapan dengan mertuanya.
"Se-b***t itu kamu, Ma. Tega memfitnah menantu sendiri agar namaku hancur dan Arka meninggalkanku? Heh, itu tidak akan pernah terjadi, Mama tahu bukan bagaimana gilanya anakmu padaku?"
Tidak ada jawaban.
"Apa maumu, Rania."
"Bersihkan namaku dan akui bahwa semua adalah rencana Mama dan untuk jurnalis itu, aku tidak mau bertanggung jawab karena aku tidak mengenalnya."
"Kau gila, kau tahu bagaimana Arka akan memperlakukanku kalau semua ini terbongkar? Hah?"
"Dan, Mama ingin melemparkan bom itu padaku supaya aku meledak sendiri? Begitu?"
Suara Rania lebih tinggi dan lantang, kali ini tidak ada kata maaf dan pemakluman. TIDAK!!!
"Mama .... "
Satu suara terdengar dan membungkam keduanya.