”Rania!" Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat ruangan terasa menyempit. Arka berdiri di ambang pintu kamar rawat VVIP nomor 1. Tatapannya langsung tertancap pada Rania yang berdiri berhadapan dengan Bu Mega. Bukan pemandangan yang ia harapkan karena ia sudah malas berdebat dengan ibunya. “Apa yang terjadi?” tanyanya singkat. Bu Mega berbalik cepat. Wajahnya seketika berubah. Senyum lembut, nada keibuan dengan topeng yang sama. “Kamu tidak seharusnya berdiri lama, Rania,” katanya seolah baru sadar. “Dokter bilang ka ....” “Apa yang terjadi, Ma?” ulang Arka penuh selidik. Rania tidak menoleh padanya. Tatapannya tetap pada wajah perempuan yang sejak awal menyebut dirinya Ibu. “Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Mama sedang menjelaskan kenapa aku hampir mati.” Ar

