Migran?

1052 Kata
Jantung Deni berdebar- debar karena sebentar lagi ia akan segera menjadi seorang ayah. Tapi bagaimana dengan Mila. Wanita itu belum juga mengabulkan keinginannya. Agar sesegera mungkin meminta cerai terhadap suaminya. "Bu, apa Suami Ibu mengetahui bahwa Ibu sedang hamil?" Mila menggeleng. "Belum Den. Ibu takut," ucap Mila sambil terduduk, pandangannya mulai berputar dan semakin buram, detik berikutnya Mila merasakan pandanganya menjadi gelap hanya samar terdengar suara Deni yang berulang kali memanggil namanya. *** Perlahan Mila melebarkan kedua matanya, sejenak pandangannya masih buram, sebelum akhirnya benar- benar menjadi jelas, Mila memandangi langit- langit ruangan yang berwarna putih. Indra penciumannya bau obat- obatan yang menyengat, langsung bisa di simpulkan bahwa ia tengah berada di rumah sakit saat ini. "Bu," tanya Deni yang berdiri di sisi ranjang. Terlihat senyum lega mengembang di bibirnya. "Kenapa aku ada disini?" ucap Mila sambil memijit pelan pelipisnya yang masih terasa pusing. "Ibu pingsan tadi." "Pingsan?" Perlahan Mila mengingat jika sebelumnya ia tengah bersama Deni di kontrakan. "Ya, Ibu pingsan, jadi saya membawa Ibu ke rumah sakit," jelas Deni. "Maaf, Ibu sudah sadar?" Terlihat wanita berjas putih menghampiri mereka. "I ... iya," jawab Mila masih dengan wajah yang tampak linglung. "Tidak usah khawatir, ini memang biasa terjadi di awal kehamilan," ujar dokter tersebut yang sontak saja membuat Deni yakin. Mila memang benar tengah hamil. "Di jaga baik- baik ya kandungan Ibumu," ujar dokter tersebut, mengira Deni adalah anak dari wanita itu. Tampak wajah Deni mematung tak percaya lalu sekilas melirik ke arah Mila. Yang hanya tertunduk malu. Karena perkataan dokter itu. Setelah dokter memberikan obat penambah darah dan beberapa vitamin, mereka berdua keluar dari rumah sakit itu. Tak ada satu kalimat pun yang terucap dari bibir Mila dan Deni. "Den. Terima kasih ya sudah menolongku. Ibu pulang sekarang saja. Suami Ibu pasti menuggu di rumah," ucap Mila saat keluar dari rumah sakit. "Deni antar pulang Ibu," Deni mencekal tangan Mila yang hendak pergi. "Tidak, Ibu mau pesan Gojek saja." "Bu, sekali ini saja! Ibu patuhi perkataan Deni" pinta Deni dengan tatapan memaksa. "Baiklah Den. Tapi hanya sampai depan gapura saja, ya?" Mila akhirnya menuruti permintaan Deni. Keduanya naik mobil taksi yang di pesan Deni. Seperti saat ia membawa Mila ke rumah sakit saat pingsan. "Bu," suara serak Deni membuat Mila terhenyak." "Ibu harus segera mengambil keputusan," Deni menatap wajah Mila penuh pengharapan. "Bagaimana Den. Bukannya Ibu tak mau. Tapi kamu belum punya pekerjaan tetap. Bagaimana kita merawat anak kita kelak, kalau kamu tak punya penghasilan," ucap Mila melirih. "Bu, Deni tak percaya, bagaimana bisa Ibu berkata seperti itu, apa Ibu tidak percaya dengan Deni?" Deni terlihat mulai kesal. "Sudahlah Den. Ibu tak mau membahasnya, nanti saja kita bicarakan, kepala Ibu masih pusing," kelit Mila sambil meraba-raba pelipisnya. "Tidak Bu! Ini bukan hal sederhana, ini menyangkut masa depan anak kita. Ibu harus membuat keputusan segera. Tinggalkan suami Ibu dan menikahlah dengan Deni," tekan Deni kemudian. Mila terdiam sejenak mendengar peryataan Deni. Bagaimana mungkin ia hidup dengan lelaki pengangguran seperti Deni. Sedang Mila terbiasa hidup berkecukupan dengan materi yang di berikan Samsul. "Bagaimana Bu, Ibu harus tegas. Pilih Deni atau suami Ibu!" Deni semakin memojokkannya. "Baiklah Den. Kita nikah siri saja, sebelum kamu mendapat pekerjaan tetap. Ibu akan tetap dengan suami Ibu," balas Mila. "Maksud Ibu? Ibu ingin memiliki dua suami, begitu?" Mila mengganguk samar. "Ibu sudah gila, ya?" "Tenang Den. Ibu akan mengatur waktu agar kita bisa bersama. Lagipula suami Ibu lebih sering berada di kantor," bujuk Mila sambil menyandarkan wajahnya di d**a Deni. Deni bergerak menjauh. "Tidak! Deni tak mau melakukan itu!" sentak Deni dengan wajah memerah. Sopir taksi yang sedari tadi mendengar percakapan mereka berdua, hanya fokus ke jajanan. Berpura- pura tak terganggu dengan perkataan penumpang yang duduk di belakangnya. "Dengar Ibu Den. Kalau anak kita lahir kelak, kita butuh biaya besar untuk menghidupinya." "Tapi. Suami Ibu lambat laun akan mengetahui kehamilan Ibu." "Tenang Den. Itu urusan Ibu." Deni menghela nafas panjang. Tak mengerti dengan pikiran wanita yang tengah menyandar di bahunya. Bagaimana ia bisa berpikiran sepicik itu. Ingin memiliki dua suami sekaligus. Sungguh Deni tak percaya dengan sikapnya. "Den, Ibu butuh waktu. Tak mungkin Ibu meminta cerai begitu saja, tanpa ada alasan yang jelas," bujuk Mila. "Terserah Ibu saja. Percuma Deni ngomong juga. Ibu tak pernah mau mendengarkan perkataan Deni." Untuk sesaat Deni terdiam. Dengan raut wajah kesal. Tak berapa lama. Sampailah mereka berdua di depan Gapura. Mila segera turun dari taksi "Bu. Hati- hati ya? Kalau ada apa- apa hubungi Deni," sahut Deni sambil menutup pintu mobil dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke kontrakan. Mila berjalan perlahan, meski kepalanya masih pusing. Tapi ia berusaha kuat agar segera sampai ke rumah. Sambil berjalan. Mila memperhatikan ponsel yang baru saja di ambilnya dari tas. Lalu Mila mengaktifkan kembali ponselnya yang sejak pergi menemui Deni. Ia matikan. Sepuluh panggilan tak terjawab dari Samsul di ponselnya. Cepat Mila bergegas melanjutkan kembali perjalanannya yang hanya berjarak seratus meter untuk sampai ke rumahnya. Akhirnya ia tiba juga di tempat tujuan. Tampak Samsul tengah duduk menunggunya dengan wajah memerah. "Ma!" bentak Samsul. Mila yang masih berdiri di depan pintu, langsung masuk ke dalam kamar tak menjawab pertanyaan suaminya. Sontak saja Samsul kesal. Lalu ia mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar. Mila terbaring dengan wajah pucat. "Ma, Mama kenapa? Dari tadi ponsel Mama gak aktif. Papa jadi khawatir," ucap Samsul sambil mendekati istrinya. "Mama sakit Pa. Tadi Mama pingsan di tempat senam. Untung teman Mama langsung membawa Mama ke rumah sakit," dalih Mila seraya memalingkan wajahnya dari tatapan suaminya. "Lagian. Kenapa pake ada acara senam segala. Mama kan lagi sakit! Dan kenapa Mama tidak hubungi Papa!" ujar Samsul sedikit kesal. "Mama gak enak Pa. Sama teman Mama, kan Mama ikut arisan, siapa tahu kocokan pertama Mama menang," balas Mila. Samsul menggeleng lalu duduk di tepi ranjang. "Ma. Mama mau uang berapa? Sampai berharap dapat arisan. Papa bisa beri Mama uang berapa saja. Bagi Papa, yang penting Mama sehat dan bahagia," ucap Samsul sambil mengelus-elus pipi istrinya. "Iya Pa. Maafin Mama. Lain kali Mama akan turuti perkataan Papa." "Ohiya. Sakit apa Mama kata dokter di rumah sakit?" "I .. itu Pa, Ma .. Ma ...Mama migran!" kata Mila gelagapan. "Migran?" "Iya Pa. Kata dokter. Mama migran," jelas Mila dengan wajah menunduk karena tegang. Terpaksa ia membohongi suaminya tentang kehamilannya. Mila tak mau gegabah dalam bertindak. Bila saatnya nanti, ia akan berterus terang mengenai kehamilannya terhadap Samsul.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN