"Ya Allah ... Aku telah berbuat dosa. Kenapa suamiku terlalu baik, sedangkan aku! Aku begitu tega menyakitinya ... " tangis Mila membatin.
Mila tidur meringkuk di kamar. Sementara suaminya sibuk di dapur menyiapkan bubur untuk dirinya.
"Ma! Papa buatin buburnya sedikit saja, ya!" teriak Samsul dari arah dapur.
"Iya Pa! Terserah Papa saja!" balas Mila sambil berusaha bangun dari tempat tidur. Cepat Mila menyambar ponsel yang ia simpan di bawah bantalnya.
Dua pesan masuk dari Deni. Yang mengatakan tentang keadaannya dirinya setelah sampai di rumah. Dengan sigap Mila langsung membalasnya. Menjawab pesan Deni bahwa ia baik baik saja tak ada yang perlu di cemaskan. Setelah membalas pesan Deni, cepat Mila menghapusnya lalu meletakkan kembali ponselnya di bawah bantal. Dan ia kembali berbaring.
"Ma, ini buburnya sudah siap, ayo di makan Ma. Biar Mama lekas sembuh."
Samsul terlihat membawa satu mangkuk bubur di atas nampan. Dan dengan telaten ia menyuapi Mila.
"Sudah cukup Pa." Itu suapan kelima dari tangan Samsul. Mila mungkin merasa kenyang atau mungkin saja mulutnya belum enak makan.
"Tapi ini baru sedikit, Ma." Samsul memprotesnya.
"Mama sudah kenyang Pa."
"Ya sudah, sekarang Mama minum obat, ya? Dimana Ma obatnya Ma? Biar Papa ambil." Samsul langsung beranjak pergi menuju dapur untuk menyimpan mangkuk. Tak lama setelah itu Samsul kembali ke kamar sambil membawa segelas air putih, untuk memberi Mila obat.
"Dimana Ma obatnya?"
"Itu Pa. Di tas senam Mama."
Setelah meletakkan segelas air di atas nakas. Samsul kemudian mengambil tas senam milik istrinya untuk mengambil obat.
"Yang ini Ma!" kata Samsul sambil memperlihatkan plastik kecil warna biru pada istrinya.
"Iya Pa. "
Sekilas Samsul mengamati butiran pil kecil warna putih sebelum ia beri pada istrinya.
Dahinya mengernyit sambil mengamati pil kecil tersebut.
"Lho! Ini kan vitamin Ma!" ujar Samsul sambil menatap heran wajah istrinya.
"Iya cuma obat itu Pa. Yang dikasih dokter," balas Mila beralasan.
"Aneh, migran kok di kasih vitamin," ucap Samsul dengan dahi berkerut sembari memberikan obat tersebut pada istrinya.
"Nih Ma, minum." Dengan penuh kasih sayang, Samsul memasukan satu butir obat untuk istrinya. Setelah Mila meminumnya, Samsul kembali ke dapur untuk membersihkan semua perkakas bekas ia masak tadi.
Beres membersihkan itu semua. Samsul kembali ke kamar untuk menemani istrinya yang sudah tertidur setelah ia memberinya obat.
Merasa netra matanya sudah lelah. Akhirnya Samsul pun tidur di samping istrinya.
Tepat pukul lima sore, Mila bangun. Di sampingnya Samsul masih tertidur lelap. Mila kemudian menyelimuti suaminya tak lupa mencium kening suaminya. Pertama kali selama berumah tangga. Ia bisa tidur siang bareng suaminya. Sungguh Mila Sangat bahagia. Andai saja dulu suaminya sesering mungkin bersamanya. Tentu ia tak kan pernah mendekati Deni.
Tapi.
Semua telah terjadi. Benih cinta terlarang tengah bersemayam di dalam perutnya. Bagaimana Mila bisa sembunyikan itu dari Samsul dan sampai kapan?
Pikiran Mila makin tak tenang. Apa iya, dia bisa memiliki dua suami. Mila tak mau kedua lelaki itu hilang dari genggamannya.
Tak berapa lama Samsul menggeliat bangun. Matanya langsung menukik pada tubuh Mila yang saat itu memakai gaun malam yang cukup tipis. Membuat hasrat Samsul sedikit terangsang.
Samsul langsung menyambar tubuh Mila saat itu juga. Sontak Mila kaget.
"Papa! Apaan sih! Ini kan masih sore, lepas ah! Mama kan masih sakit," tolak Mila sambil menepis tangan Samsul yang memeluk pinggulnya.
"Sebentar saja Ma, Papa sudah tak tahan. Habis Mama pake baju tidurnya seksi banget," ucap Samsul tangnnya terus bergerilya menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya yang mulus.
"Mama kan lagi sakit Pa," rengek Mila berusaha melepaskan tangan suaminya yang tak henti menggerayangi tubuhnya.
Mila menyeringai melihat wajah suaminya. Tak b*******h rasanya jika Samsul mengajaknya berhubungan badan. Sudah pasti. Ia yang akan tersiksa nanti. Bukan sekali dua kali, Samsul bahkan sering meninggalkannya saat Mila harus menahan gairah yang tak sempat ia luapkan. Kadang Mila harus berjibaku sendiri melakukan pelepasan di kamar mandi. Karena lelaki yang ia panggil Papa itu. Terkulai lemas tak berdaya jika sudah melakukan pelepasannya.
Tak memperdulikan Mila yang harus menahan gairahnya untuk mencapai puncak kenikmatan itu.
"Ayo dong Ma. Papa sudah tak tahan nih!" ujar Samsul. Entah mengapa sore itu, hasratnya tiba- tiba b*******h.
"Aduh Papa ini!" Mila berusaha menghindar. Tapi tangannya terus ditarik Samsul. Dan Mila pun pasrah. Karena lelaki itu berhak menikmati tubuhnya kapan saja.
Samsul langsung melumat, mengulum, meremas bahkan memberi banyak tanda di gundukan dua kembar Mila. Sontak Mila tercengang. Tidak seperti biasanya suaminya melakukan itu jika sedang berhubungan. Sedikit Mila mulai merasakan hangatnya tubuh kekar suaminya. Bahkan Mila tak bisa menahan untuk tak mendesah.
"Papa ... " Mata Mila menatap lekat suaminya.
Samsul sudah tak tahan. Pria itu membuka celananya dan menurunkannya hingga paha. Memperlihatkan miliknya yang sudah menegang di hadapan istrinya.
Mila menggigit bibirnya sedikit melihat barang suaminya.
Seolah tak ada waktu untuk membuka gaun malamnya. Mila langsung merangkul suaminya dengan erat.
Keduanya bergumul di atas tempat tidur. Dan yang lebih membuat Mila terhenyak kaget. Samsul ternyata belum menyerah. Dan terus memberi Mila buaian lembut di setiap lekuk tubuhnya membuat Mila tak henti- henti mendesah nikmat.
Dan untuk pertama kalinya. Samsul berhasil membuat Mila menuju kenikmatan yang hakiki. Wanita yang berada di bawahnya menjerit histeris karena kenikmatan yang diberikan Samsul.
Samsul tak juga menyerah. Dia terus memberinya kenikmatan, sampai sampai Mila mengerang hebat.
Mila masih tak percaya dengan suaminya. Ternyata pria yang telah menemaninya selama tiga tahun. Hari itu. Mila melihat sisi lain dari suaminya. Samsul mendadak perkasa di atas ranjang. Dan Mila masih bingung dengan adegan ranjang suaminya yang begitu perkasa.
Setelah bertarung hebat di atas ranjang. Keduanya terkulai lemas. Samsul berpeluh keringat demi memuaskan istrinya.
Ya. Tanpa sepengetahuan Mila. Samsul diam diam pergi diantar Pak Dadang menemui dokter ahli. Sebelum ia meminta cuti pada. Pak Wisnu.
Pak Dadang merasa kasian terhadapnya, lalu mengajaknya menemui dokter ahli.
Disanalah Samsul diberi obat kuat yang berdosis rendah. Dokter juga menyarankan agar Samsul melupakan sejenak masalah duniawi. Samsul harus rileks dan santai, jangan terlalu stres dengan pekerjaan yang menumpuk. Dan Samsul menuruti semua anjuran dokter tersebut. Dan hasilnya sangat memuaskan. Ia bisa memberi nafkah batin yang selama ini Mila inginkan.
Dan Samsul tak menduga. Saat melihat reaksi istrinya. Wanita itu tenyata sangat b*******h dan penuh hasrat. Seperti singa lapar menunggu mangsanya.
"Bagaimana Ma, Mama puaskan?" ucap Samsul begitu percaya diri.
Mila langsung menoleh dan menatap heran wajah suaminya. Senyum mengembang ia perlihatkan pada suaminya.
"Pa, kok bisa? Pasti Papa minum obat kuat, ya?"
Samsul tersenyum tipis sambil mencium bahu istrinya.
"Jadi ini yang Mama inginkan dari Papa?" rayu Samsul tersenyum dengan wajah manisnya.
Wajah Mila merona. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur lalu berlari ke kamar mandi dengan tubuh yang masih polos.
Di kamar mandi ia mematut wajahnya di cermin. Ada rona kebahagian disana. Akhirnya suami nya bisa memuaskan dirinya. Dan yang lebih membuatnya bahagia. Suaminya terlihat tampan setelah mencukur rapih rambut dan jambangnya yang semula sedikit brewok.