Rencana Mila

1041 Kata
Untuk pertama kali. Sejak berumah tangga dengan Samsul, ia merasakan hangatnya belaian suaminya. Bahkan Mila tersenyum sendiri di depan cermin. Masih tak percaya, dan untuk kedua kalinya, ia jatuh cinta kembali pada suaminya. Sambil menguyur seluruh tubuhnya. Mila masih terbayang saat- saat suaminya memberi banyak kelembutan nan mesra. "Krettt!! Pintu kamar mandi terbuka di dorong Samsul, setelah itu Samsul mendorong Mila yang masih polos tanpa busana menuju ke kamar. Sebuah tangan putih nan halus menepuk lembut wajah Samsul, kemudian Mila berkata dengan nada menggoda. "Pah ... ah ... lepasih Mama ... " Desahan dari mulut istrinya yang manja, membuat Samsul tak bisa lagi mengendalikan hasratnya yang terus memburu sejak ia mengkonsumsi obat dari dokter. Samsul menyipitkan matanya, kemudian membalikkan tubuhnya, hingga posisi keduanya bertukar. Samsul di atas, menindih tubuh istrinya yang ada dibawahnya. "Ma. Ayo ngaku, apa Papa ini sudah perkasa!" Mila yang terlanjur sudah terangsang, tidak bisa mendengar jelas perkataan suaminya, hanya saja, tiba- tiba dari bagian bawah tubuhnya ada benda keras yang menusuk tepat di organ intimnya. "Aduh ...Pa ... " Samsul tak memedulikan erangan istrinya, dia justru semakin mengangkat tinggi kaki istrinya. "Ayo Ma. Papa akan puaskan Mama seharian ... " Mila meremas seprai di bawah tubuhnya dengan kencang, ia tak kuasa menahan nikmat yang begitu dalam dari suaminya. Samsul mendengus dingin, dia kemudian menarik kembali kaki istrinya, memposisikannya lagi di bawah tubuhnya. Kemudian Samsul menyerang tubuh yang berada dibawahnya dengan beberapa hentakan. Karena tempo gerakannya yang begitu cepat dan tanpa jeda, ranjang yang mereka tempati sampai timbul suara berdecit. *** Keesokan paginya ... Cahaya matahari menyapu hingga ke dalam kamar, memercik hingga ke atas ranjang yang besar dan empuk. Mila mengerjapkan matanya, sebelum akhirnya membuka kedua matanya itu. Saat menyadari bahwa ia kini telah mengandung benih cinta dari Deni. Sedangkan di sampingnya terbaring wajah suaminya yang berbeda. Samsul memberi banyak kenikmatan tadi malam. Dan Mila puas. Tapi sayang, Mila harus segera memberi keputusan pada Deni. Dengan segera Mila beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju lemari besar untuk mengambil benda pipih yang ia sembunyikan disana. Kemudian Mila menyambar baju daster yang tergantung dan cepat memakainya. Sementara Samsul masih tertidur dengan lelap. Gegas Mila pergi menuju dapur untuk menghubungi Deni. "Den ... ini Ibu ... " bisik Dinda seraya mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. "Ya Bu. Bagaimana. Deni lagi di jalan Bu," jawab Deni di seberang sana. Mila mengernyit. "Ngapain kamu di jalan," balas Mila. "Deni mau nyari kerja Bu," jawabnya singkat. "Hah, apa? Nyari kerja dimana?" ujar Mila. Karena kaget, Mila tak sadar berbicara sedikit keras. "Udahlah Bu. Pokoknya kita harus segera menikah." Deni memutus sambungan telponnya. Mila menghela nafas panjang. Binggung harus bagaimana. Dengan segera Mila harus menikah siri dengan Deni tanpa sepengetahuan Samsul suaminya. "Ma! Sedang apa Mama di dapur? Mama telpon siapa pagi- pagi begini?" Samsul tiba- tiba ada di belakangnya, membuat Mila tersentak kaget. "Ya ampun Pa! Papa mendengar perkataan Mama, ya?" tanya Mila dengan wajah pucat. "Memang Mama bicara dengan siapa di telpon? Papa gak dengar," ucap Samsul sambil meraih satu gelas di rak. "Eh, itu Pa, itu, teman Mama di tempat senam," kelit Mila sambil bergerak cepat berjalan masuk ke kamarnya. Samsul menyipitkan matanya. Dari kemarin, sikap istrinya sangat aneh, seperti ketakutan dan gugup jika ia menanyakan sesuatu terhadap istrinya. Mila seperti menyembunyikan sesuatu dan entah apa itu. Samsul sungguh tak mengerti. Samsul kemudian berjalan menuju ruang tengah dan duduk bersandar di sofa. Setiap adegan panas yang terjadi tadi malam seketika melayang dalam pikirannya seperti sebuah adegan film. Ia tak menduga sama sekali reaksi obat kuat yang di berikan dokter itu. Baru pertama kali selama berumah tangga dengan Mila istrinya ia memuaskan dan mampu bersikap layaknya lelaki normal pada umumnya saat melakukan kontak fisik. Ada kebanggaan tersendiri perasaan Samsul pagi itu. Ia tak perlu mengkhawatirkan istrinya lagi. Tak mungkin istrinya akan pindah ke lain hati hanya karena nafkah batin yang tak ia berikan dulu. Sekarang Samsul merasa lega. Jiwa perkasa nya muncul kembali karena obat kuat itu dan beberapa pil vitamin yang di berikan dokter. "Pa. Hari ini Papa mau masak apa? Biar Mama masakin, ya?" bujuk Mila yang sudah berdiri di hadapannya dengan mengenakan pakaian rapih seperti hendak mau pergi. Di tangannya ada tas belanjaan besar yang dibawanya. Samsul mengangkat wajahnya menatap heran wajah istrinya yang sudah terlihat segar dan cantik. "Mama, pagi- pagi udah cantik. Memangnya Mama mau kemana?" tanya Samsul sambil berangsur bangkit dari duduknya dan berjalan pelan mendekati istrinya. "Mama mau ke pasar Pa," jawab Mila seraya menundukkan wajahnya karena malu. "Ke pasar? Ke pasar kok dandannya cantik amat!" tegur Samsul sambil melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang Mila membuat Mila terhenyak kaget karena tubuhnya kini menempel pada suaminya. "Ih Papa, lepas ah. Mama mau ke pasar dulu ah!" tekan Mila sambil berusaha melepaskan tangan suaminya yang kencang memegang pinggangnya. "Biar Papa antar ya Ma, Papa mandi dulu," tawar Samsul merayu. "Gak usah Pa. Mama sekalian mau ketemu teman Mama," tolak Mila kemudian. "Lho! Kenapa memangnya? Papa kan suami Mama, memangnya Mama keberatan kalau Papa ingin tahu teman Mama," protes Samsul. "Bukan begitu Pa. Malu kan, masa janjian pake bawa suami segala. Teman Mama juga ketemuan sama Mama, gak pernah tuh, bawa suaminya. Bikin malu saja," dalih Mila dengan wajah ketus. "Ya sudah jangan lama- lama ya Ma. Pagi ini biar Papa yang bereskan rumah, mumpung Papa lagi cuti. Jadi sekalian Papa mau bersihin halaman," ujar Samsul sambil berjalan menuju kamar mandi. "Ma! Kalau ada apa- apa hubungi Papa, ya!" teriak Samsul dari kamar mandi. "Iya Pa! Mama paling pulang agak siangan! Kalau Papa keburu lapar, beli nasi kuning aja dulu ya Pa!" pekik Mila sambil berjalan dengan tergesa menuju ke luar rumah dan langsung menutup pintunya. Hari itu sebenarnya ia akan pergi ke kontrakan Deni, guna membicarakan masalah perkawinan yang ia janjikan pada berondong muda itu. Keputusannya sudah bulat. Mila akan menikah siri dengan Deni. Tak peduli dengan nasib rumah tangganya nanti. Yang penting ia harus segera memutuskan masa depan bayinya kelak. Dan ia akan berusaha sebisa mungkin menutupi kehamilannya sementara waktu dari Samsul suaminya. Sampai saatnya tiba. Mila akan mencari cara agar Samsul mau menerima juga bayi yang ada di rahimnya sebagai anaknya. Dan meskipun nantinya terjadi hal yang tak diinginkan. Ia masih bisa berharap dari Deni. Untuk itu ia akan menjadikan Deni suami sirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN