Intana

1026 Kata
Tiba di kontrakan Deni. Suasana rumah masih tampak sepi. Lekas Mila membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang diberikan Deni. Sambil menunggu Deni pulang dari mencari pekerjaan. Mila merapihkan satu persatu pakaian Deni yang masih ada di dalam koper. Setelah itu ia membereskan kamar yang hanya di alasi sehelai karpet. Setelah rapih semua yang pekerjaan rumah. Mila bergegas keluar dari kontrakan untuk membeli kasur dan perkakas rumah tangga. Hari itu Mila menghabiskan sebagian uangnya untuk membeli kebutuhan rumah tangga beserta perabotan guna melengkapi kebutuhan nya kelak jika sudah menjadi istri Deni. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang. Deni tampak sudah datang bersama motor maticnya. Wajahnya terlihat lusuh dan lelah. Mila langsung menyambutnya dengan ciuman hangat. "Gimana Den? Kamu sudah dapat pekerjaan?" tanya Mila tak sabar mendengar jawaban Deni. "Belum Bu. Susah sekali cari pekerjaan di kota. Mereka membutuhkan ijasah, sedang saya tak punya ijasah sama sekali," keluh Deni sambil menyeka keringat yang menitik di dahinya. Lalu merebahkan tubuhnya di atas karpet. Mila dengan wajah manis mendekatinya dan ikut rebahan di samping Deni. "Sudahlah Den. Ibu kan pernah bilang. Cari kerja itu susah, tapi kamu jangan khawatir. Suamiku banyak duit. Aku bisa minta apa saja sama dia," jelas Mila menyemangatinya. Deni membisu. Dipandanginya wajah Mila dengan mata yang sudah berkaca. Meski usia Deni masih sangat muda, tapi ia tak mau tergantung dengan Mila yang selalu memberinya materi yang ia inginkan. Sebagai seorang lelaki ia masih punya harga diri. Tak mau ia terus menerus mengandalkan pemberian dari Mila. Apalagi wanita yang tengah mengandung anaknya itu. Sebentar lagi akan menjadi istrinya. Ia tak mau kelak hidupnya tergantung dari suami Mila. "Tidak Bu. Deni tak mau menyusahkan Ibu terus, Deni akan terus berusaha mencari pekerjaan apapun yang terjadi," ucap Deni dengan wajah memelas. "Hmm ... Deni ... Deni ... kamu itu keras kepala, ngomong- ngomong sampai kapan kamu akan panggil saya Ibu," ucap Mila seraya menoleh perlahan pada Deni. Mata Deni mendelik mendengar ucapan Mila. Tak lama kemudian lelaki muda itu tersenyum sambil berkata. "Deni harus manggil apa sama Ibu, ya?" "Panggil saja sayang kek. Atau apa saja, asal jangan panggil Ibu. Memang aku ini ibumu apa, hahaha ... " kata Mila sambil tertawa lepas. "Baiklah, mulai sekarang Deni akan panggil Sayang saja," ucap Deni dengan senyum mengembang di bibirnya. "Nah begitu kan enak didengarnya," balas Mila sambil membenamkan wajahnya di d**a Deni. *** Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Mila belum juga tiba dari pasar. Sambil menunggu Mila. Samsul akan membereskan semua pekerjaan istrinya, agar jika istrinya pulang nanti. Rumah sudah bersih dan rapih. Pertama Samsul akan merapihkan tempat tidur tempat peraduannya. Satu persatu ia melipat selimut lalu merapihkan seprei dan juga bantal. Selesai membereskan tempat tidur. Mata Samsul langsung menukik pada tas senam milik istrinya yang tergeletak begitu saja di lantai. Saat Samsul hendak menyimpannya. Dari dalam tas, jatuh benda pipih kecil dari dalam tas. Segera Samsul mengambilnya. Dan alangkah terkejutnya Samsul pagi itu. Jantungnya mendadak terguncang dengan mata membelalak. Ternyata benda pipih itu adalah tespek alat untuk mengetahui kehamilan. Ada dua garis tanda merah di benda yang tengah ia pegang itu. Mulut Samsul seketika menganga lebar. Ternyata Mila tengah berbadan dua. Tapi mengapa istrinya tak memberitahukan tentang kehamilannya? Tapi apakah tespek ini milik Mila? Hari itu pikiran Samsul kalut dan kacau. Sungguh tak bisa ia bayangkan, alangkah bahagianya ia jika benar Mila tengah hamil. Tapi! Bukankah dokter pernah menjelaskan. Bahwa ia tak bisa membuahi rahim istrinya karena kondisi nya. Tapi bisa juga tuhan memberinya keajaiban. Mila bisa hamil karena Tuhan yang telah memberinya anugrah. Mata Samsul terpejam sambil mendekap benda pipih itu di dadanya. "Ya Alloh terima kasih, akhirnya engkau mengabulkan permintaan ku ... " ucap Samsul diiringi linangan air mata yang deras membasahi pipinya. Lalu Samsul bergerak menuju tempat tidur dan duduk di tepi ranjang sambil terus berdoa pada yang kuasa karena telah memberinya kesempatan menjadi seorang ayah. Cukup lama Samsul terdiam duduk di tepi ranjang. Sambil memikirkan Mila istrinya yang sangat ia sayangi. "Mama. Kenapa Mama rahasiakan ini dari Papa ... apa Mama mau memberi kejutan sama Papa ... " ucap Samsul penuh haru. Samsul berpikir. Mungkin Mila ingin memberi kejutan yang sangat indah untuk dirinya. Diam- diam Mila menyembunyikan kehamilannya. Tapi tak masalah. Samsul mengerti dengan perasaan istrinya. Mungkin karena ini kehamilannya yang pertama. Mila kaget dan syok dengan kenyataan yang telah menimpa dirinya. Samsul pun berencana dengan cara berpura pura tidak mengetahui tentang kehamilan istrinya. Ia akan menunggu sampai Mila berterus terang tentang kehamilannya. Dan dengan sabar ia akan tunggu sampai Mila sendiri yang mengatakannya. Sungguh pagi itu pagi yang amat indah baginya. Sebentar lagi ada bayi mungil yang akan memanggilnya Papah. Samsul pun beranjak dan berdiri lalu menyimpan benda pipih itu di tempat semula. Ia akan tunggu istrinya dengan penuh suka cita. Penuh semangat. Samsul memulai pekerjaan rumahnya sambil bersiul kecil. Wajah tampannya pagi itu sangat bersinar. Ia masih tak percaya dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Seorang bayi akan hadir dalam kehidupannya. Sekian lama berumah tangga dengan Mila. Baru hari itu ia mendapat kejutan yang sangat indah dari istri tercinta. Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul dua belas siang. Tapi yang ditunggu belum juga terlihat batang hidungnya. Perutnya sudah keroncongan. Sebisa mungkin ia tak akan menghubungi istrinya. Takut istrinya terganggu dan itu akan mempengaruhi kehamilannya. Untuk menghilangkan rasa laparnya. Akhirnya Samsul pergi ke depan dengan berjalan kaki untuk membeli sesuatu buat mengisi perutnya. Sampai di depan gapura. Tepat di sisi jalan. Seseorang memanggilnya. "Samsul!" Samsul terkejut lalu membalikkan badannya untuk mengetahui siapa yang memanggilnya. Mata Samsul melotot saat seorang wanita cantik berhijab hijau tengah berdiri sedikit jauh dari tempatnya berdiri. "Intana ... " kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Wanita itu lantas berjalan perlahan mendekatinya. "Kamu masih ingat saya!" tegurnya sambil tersenyum manis pada Samsul memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapih. "In, Intana?" Wanita itu mengangguk samar. "Iya aku Intana ... " ucapnya dengan wajah tampak memerah. Samsul dibuat kaget dengan kehadiran seorang wanita cantik yang pernah singgah di masa lalunya. Intana adalah wanita pertama yang telah membuatnya jatuh cinta setengah mati. Tapi karena keadaan. Mereka akhirnya terpisah jauh. Dan masa lalu itu tiba- tiba muncul. Membuat hati Samsul seakan tertusuk duri jika mengingat semua kenangan pahitnya bersama Intana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN