Perlahan-lahan keadaan Adrian mulai menunjukkan ke arah yang baik. Tak pernah menyangka, Tuhan bersedia memberikan anugerah, Adrian benar-benar bersyukur bahwa dia masih diberi kesempatan untuk menghirup napas kehidupan. Meski kepalanya masih terasa berat dan dia hanya bisa terbaring di atas ranjang, Adrian bisa melihat Risma yang duduk di samping ranjangnya. Wanita itu mengenakan pakaian berwarna cokelat tua, wajahnya tanpa riasan, meski begitu, dia masih terlihat cantik. ″Bagaimana keadaanmu?″ tanyanya. Suaranya terdengar serak, dan Adrian bisa menangkap nada lelah. Adrian tersenyum. ″Tak pernah sebaik ini.″ ″Mama kira ... kamu akan meninggalkan—″ ″Mom, I’ll never leave you. I promise. Aku tidak akan membiarkan Mama sendirian. Tidak akan.″ Risma meraih jemari Adrian, menggengam era

