SUASANA resto yang ramai akibat jam makan siang, tetapi tidak dengan dua orang yang duduk di samping jendela.
Keheningan tercipta cukup lama karena tak ada dari mereka yang mau memulai pembicaraan, sedangkan Indra sudah pulang terlebih dahulu ke kantor dengan menggunakan taksi. Bukan tanpa alasan Indra harus pergi selain karena ia memang sedang banyak pekerjaan, Indra juga memberikan waktu untuk Jerry berbicara berdua bersama Kinan.
Selang beberapa menit dalam keheningan akhirnya Jerry membuka suara. “Apa kabar, Kin?” tanyanya walau dalam hati ia mengutuk dirinya yang sedang gugup di depan Kinan.
“Baik, kalau kamu?” jawab Kinan dengan canggung tanpa berani menatap kearah Jerry secara langsung.
“Sangat baik setelah bertemu kembali dengan lo.” Kinan yang kaget dengan jawaban Jerry pun mengangkat kepalanya.
“Hah?”
“Hahahaha.”
Jerry tak bisa menahan tawanya akhirnya pun meledak akibat melihat tampang konyol Kinan yang menurutnya sangat lucu karena kaget. “Ternyata lo nggak berubah ya, Kin,” ujar Jerry di sela tawanya.
“Ih! Ngapain kamu ketawa sih, emang ada yang lucu, ya?” Kinan tanpa sadar mengerucutkan bibirnya tanda ia lagi cemberut.
Sontak hal itu membuat Jerry kembali menggoda Kinan. “Iya, muka lo itu lucu banget. Coba tadi gue rekam ya, hahaha.” Jerry kembali tertawa bahkan kali ini makin keras, hal itu sontak membuat seluruh pengunjung cafe melihat kearah mereka. Namun yang jadi pusat perhatian malah cuek saja.
“Jerry!!” teriak Kinan dengan wajah yang memerah malu akibat di tatap oleh semua pengunjung cafe.
Akhrinya suasana yang tadinya tegang di antara keduanya sekarang malah mencair kembali seperti tujuh tahun yang lalu, Jerry berdehem untuk menghentikan tawanya. Kembali memasang mimik wajah yang serius kemudian bertanya pada Kinan.
“Kemana saja lo selama 7 tahun ini? Menghilang tanpa kabar, tahu-tahu sekarang muncul jadi klien kantor dan disegn interior kantor cabang yang gue mau buka?” tanya Jerry beruntun.
“Sabar, Pak boss. Nanyanya satu-satu dong.”
“Jangan ngalihin pembicaraan, Kinan. Jawab saja susah banget sih.” Jerry menatap Kinan dengan serius.
Kinan menghela napas kemudian berkata. “Aku dapat beasiswa ke Paris untuk mengejar cita-cita aku, kamu tahu kan kalau aku suka gambar. Aku nggak mau sia-siakan itu jadi aku ambil beasiswa itu,” Kinan berhenti sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya. “Sebenarnya aku mau kasih tahu kamu waktu itu, kamu ingat waktu aku ajakin kamu ketemuan di cafe Pelangi?” tanya Kinan pada Jerry.
Tentu saja Jerry mengingat hari itu sebab tak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya.
“Ya, hari itu aku mau ngasih tahu semuanya tapi kamu nggak datang.” Kinan berusaha untuk tidak mengingat masa lalunya yang membuatnya kembali sakit.
Jerry dengan cepat mengelak. “Tapi kan gue udah jelasin juga waktu itu.”
“Iya, aku tahu kok. Seminggu yang lalu kita janjian kembali, kamu ingat?” tanya Kinan lagi.
“Iya, emangnya kenapa?”
“Waktu itu aku berniat pamit sama kamu, sekalian mau ngasih tahu kamu soal beasiswa yang aku terima tapi kamu langsung cerita tentang Sandra dan setelah itu kamu dapat telepon darinya kemudian kamu langsung pamit pergi begitu saja.” Dan menjelaskan tentang kehamilanku, lanjut Kinan dalam hati. Jerry langsung ingat waktu itu. Ya, ia ingat. Andai ia tahu kalau hari itu adalah hari terakhir bertemu dengan Kinan, Jerry tak akan meninggalkan Kinan.
“Maaf, Kin, seandainya gue tahu. Gue nggak bakal...” Sebelum sempat Jerry menjelaskan.
Kinan sudah memotongnya. “Iya, nggak papa, Jerr. Aku maafin kok, lagian itu juga udah lama banget.”
“Tapi...” Jerry masih belum puas dan ketika ia kembali protes.
Kinan kembali memotongnya. “Udahlah, Jerr. Yang pentingkan kita sudah bertemu lagi. Lupakan saja masa lalu, yang lalu biarlah berlalu.”
“Jadi lo nggak ada rencana untuk menetap di Indonesia kembali?” tanya Jerry yang akhirnya memilih mengalah.
Tubuh Kinan sempat menegang namun ia kembali merilekskan tubuhnya kemudian menjawab. “Nggak, aku akan kembali lagi ke Paris setelah kerjaan aku selesai di sini. Sebab ada seseorang yang menunggu aku di sana,” jawab Kinan sambil tersenyum namun baru kali Jerry tak menyukai senyuman itu, entah mengapa tiba-tiba dadanya sesak saat mendengarkan jawaban dari Kinan. Seseorang yang menunggunya? Siapa? tanyanya dalam hati.
Namun Jerry segera menetralkan perasaannya dan bertanya cepat yang ada di kepalanya. “Seseorang? Pacar atau suami?”
Anak kita, batin Kinan, hanya dalam hati saja Kinan bersuara.
Kinan hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan Jerry yang terakhir, tentu saja Jerry merasa kecewa dengan diamnya Kinan.
“Oh iya, kalau kamu pasti udah nikah, kan? Sandra di mana, Jerr?” tanya Kinan mengalihkan pembicaraan namun kayaknya Kinan tahu dia sudah salah bicara karena raut wajah Jerry yang tadinya kecewa berubah sendu.
“Dia udah meninggal dunia 7 tahun yang lalu, dia kecelakaan mobil bersama selingkuhannya.”
Kinan sangat kaget mendengar berita ini dengan kabar yang ia dengar kalau Sandra mengalami kecelakaan tragis. “Bukannya dia udah meninggalkan cowok itu, ya?”
“Iya, tapi ternyata itu cuma alasan Sandra saja. Buktinya dia kembali jalan bersama cowok itu di belakang gue.”
“Maaf Jerr, aku nggak...”
“Iya nggak papa, kok. Lagian itu kan udah jadi masa lalu.” Jerry mengulang kata yang di ucapkan Kinan tadi sambil tersenyum menggoda, lihat sekarang wajah Jerry kembali ceria dari sebelumnya. Seperti mang benar yang di katakan oleh Jerry, itu semua hanya masa lalu yang perlu mereka lupakan. Namun bagaimana dengan Aaron? Apakah anaknya juga akan di lupakan? Sebab Aaron bagian dari masa lalu mereka. Masa lalu yang indah, tentu saja.
Tak ingin larut dengan kesedihannya yang akan tampak terlihat jelas oleh Jerry, Kinan mencoba untuk tetap merasa senang sebab mereka kembali bertemu setelah sekian lama.
Mereka juga mulai kembali bernostalgia dan bercerita masa-masa mereka terpisah selama tujuh tahun lamanya.
Walau dalam hatinya terus mengucapkan kata maaf pada Aaron, karena akan sulit mempertemukan dengan ayahnya.