Kembali ke Kota Asal

1220 Kata
“Assalamualaikum,” Reva mengetuk pintu sambil mengucap salam. Terdengar suara langkah kaki dari dalam yang semakin lama semakin mendekat. Pintu terbuka, seseorang wanita setengah baya berdiri dengan mulut menganga dan mata membesar di hadapan Reva. Dia menangis dan langsung memeluk Reva. “Kenapa, Ibu menangis? Apakah Ibu tidak senang bertemu aku?” sindir Reva mengeratkan pelukannya. Reva sangat merindukan ibunya. “Tentu, Ibu senang, saking senang makanya sampai menangis,” ucapnya melepaskan pelukan dan menatap Reva tajam, dia masih memandangi wajah putrinya seakan mimpi, Reva ada di hadapannya. “Kenapa memandangiku seperti melihat hantu, Bu? Apa ada yang aneh di wajahku?” ledek Reva mengembangkan senyumannya. Ibu mencubit pipi Reva gemas. “Aduh sakit, Bu!” pekik Reva tertawa kecil, diiringi tawa Ibu. “Ayo masuklah! Ibu buatkan teh manis hangat dulu untukmu. Kamu pasti capek, nanti baru cerita!” ujar Ibu seraya melangkah masuk ke dalam. “Terima kasih, Bu.” Reva duduk di kursi tamu. Inilah yang dirindukannya, kehangatan sikap ibunya yang menenangkan hati. “Ayo minumlah dulu!” Ibu membawa cangkir berisi teh yang diletakkan di atas meja. Reva langsung mengambil dan meminumnya. “Wah teh buatan Ibu memang nikmat,” puji Reva dengan mata menyipit dan senyuman tipis yang terukir di bibirnya. “Halah, kamu berlebihan! semua teh pasti sama,” sanggah Ibu mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Tentu tidak, karena Ibu membuatnya dengan penuh cinta!” balas Reva mengembangkan senyumnya. “Bisa saja kamu, Reva!” Ibu melirik tas yang dibawa Reva dan mengernyitkan keningnya. “Kamu akan kembali ke Jakarta?” tanya Ibu, Reva menelan salivanya sendiri. “Kenapa pertanyaan Ibu seperti itu? Aku baru saja datang, sepertinya Ibu mengusirku!” Reva mengerucutkan bibirnya, menarik salah satu alisnya ke atas. “Bukan begitu Reva, Ibu tidak melihat kopermu. Jadi Ibu berpikir kamu akan sebentar disini,” Ibu menajamkan tatapannya ke wajah Reva yang hanya terdiam, bibir Reva terkunci. Dia harus mencari alasan yang tepat agar ibu percaya kepadanya. “Begini, Bu. Saat aku datang ke Jakarta semua pakaianku hilang. Koperku hilang!” sahut Reva berbohong. “Kenapa kamu tidak mengatakannya pada Ibu? berbulan-bulan kamu disana bagaimana nasibmu nak?” wajah ibu seketika berubah khawatir, menggeenggam jemari Reva. “Tidak apa-apa, Bu. Lihatlah, aku baik-baik saja. Hanya saja di sana aku meminjam baju teman dan kontrak kerjaku sudah selesai. Aku rasa tinggal di Jakarta tidak menyenangkan seperti bayanganku. Aku akan kembali tinggal disini dan mencoba mencari pekerjaan di sini, Bu,” ujar Reva menerawang menatap ke segala arah, hatinya terasa pedih saat mengatakan kebohongan pada ibunya. Ibu mengembangkan senyum. “Akhirnya kamu mengerti kenapa dulu Ibu melarangmu untuk pergi ke Jakarta, tapi berkat kamu dan gajimu, rumah ini bisa terselamatkan. Ibu heran gaji yang segitu besar, tapi hanya dikontrak empat bulan?” “Iya Bu, lalu aku pindah kerja dan kembali ke sini.” Reva mencoba berbohong menutupi kebohongannya. “Apa kamu benar-benar tidak kerasan di sana, padahal gajimu besar?” tanya Ibu mengernyitkan keningnya. “Iya Bu, gajinya memang besar … tapi orang-orangnya dan persaingannya ketat. Sepertinya aku lelah, aku ingin hidup santai di sini!” sahut Reva menatap ibu penuh keyakinan. Reva harus menguasai diri untuk tidak terlihat sedih di depan ibunya. “Dasar kamu! tapi, Ibu senang kamu kembali jadi setiap hari. Ibu tidak selalu mengkhawatirkanmu. Apalagi saat ponselmu itu tidak aktif, Ibu benar-benar sangat khawatir!” Ibu mencubit pipi Reva kesal. “Iya, Bu, aku minta maaf. Ponselku hilang, baru setelah dua minggu aku bisa membelinya lagi dari gajiku di tempat kerja yang baru,” sahut Reva beralasan. “Kamu keterlaluan! dua minggu baru bisa beli ponsel, padahal gajimu besar itu membuat ibu dan adikmu khawatir!” Ibu menajamkan mata ke wajah Reva. “Maafkan aku Bu,” ucap Reva lirih. Ibu yakin ada sesuatu yang terjadi dengan putri kesayangannya, tapi dia tidak mau membahasnya. “Ya sudah sekarang istirahat saja dulu di kamarmu, ibu akan memasakkan masakan yang enak untuk kita makan nanti!” perintah Ibu seraya berdiri hendak melangkah menuju dapur. “Raya pulang jam berapa, Bu?” tanya Reva yang berjalan di belakang Ibu menuju kamarnya. “Dia pulang sore, kantornya tidak terlalu jauh dari sini, gajinya lumayan bisa untuk ditabung untuk modal menikah, hahahaha….” Ibu tertawa sembari melangkah ke dapur meninggalkan Reva. Reva melangkah masuk ke dalam kamarnya. kamar berukuran tiga kali tiga meter, dengan cat berwarna hijau kesukaannya. Reva mengedarkan pandangan ke ruang kamar. semua masih sama, tempat tidur dan lemari miliknya, juga foto-foto yang terpasang di tembok kamarnya. Reva menatap foto di meja belajar dan meraihnya. Foto dirinya bersama Leo sahabat dekatnya. Sahabat yang diam-diam disukainya lalu menikah. Karena pernikahan Leo dia bertekad ke Jakarta, senyuman tipis terukir di bibirnya. “Akhirnya aku kembali lagi kesini, kembali ke titik ini. Aku masih ingat, enam bulan yang lalu aku meninggalkan kamar ini dengan harapan yang besar. Saat itu aku berjanji akan kembali lagi kesini setelah aku mencapai kesuksesan, tapi ternyata itu hanya mimpi!” hembusan nafas keluar dari mulut Reva, dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur seraya menatap langit-langit kamarnya. “Semua masih sama, … masih seperti dulu, hanya perasaanku saja yang telah berubah,” Reva memejamkan mata hingga karena lelah diapun terlelap. Ibu membuka kamar Reva, melihat Reva tertidur dia mengurungkan niat untuk melanjutkan obrolannya. Ibu tersenyum tipis menatap putrinya yang tampak kelelahan lalu melangkah keluar kamar dengan perlahan dan menutup pintu dengan hati-hati. Sore itu Raya pulang dari tempat kerja. Setelah diberitahu kakaknya datang, dia langsung melesat ke kamar Reva. Raya membuka pintu kamar Reva, namun dia melihat kakaknya tampak pucat. “Kakak kenapa sakit?” tanya Raya khawatir. Tiba-tiba Reva merasa mual ingin muntah, dia berlari keluar kamar menuju ke kamar mandi. Raya yang melihat hal itu terkejut, matanya membola sempurna. Terdengar suara Reva yang sedang muntah di kamar mandi. Ibu dan Raya yang mendengar suara orang yang sedang muntah di kamar mandi langsung mendekat dan saling berpandangan. Reva keluar dari kamar mandi, tatapan Ibu dan Raya tertuju padanya. “Reva, kamu sakit?” tanya Ibu curiga melihat Reva muntah-muntah, terlihat wajahnya yang pucat menahan mual. “A-aku agak mual, Bu, mungkin kebanyakan makan. Atau asam lambungku mungkin naik,” sahutnya menduga-duga. “Kepalaku juga agak pusing, mungkin masuk angin,” tutur Reva memegang kepalanya, ibu mengernyitkan keningnya khawatir. “Kita ke dokter saja!” ujar Ibu tiba-tiba. “Tidak usah Bu, mungkin kecapean saja. Aku istirahat dulu, nanti juga sembuh,” tolak Reva merasa hanya sakit ringan, dia tidak enak merepotkan orang di rumah. Kedatangannya saja sudah membuat Ibu dan adiknya repot. “Reva, dengarkan Ibu. Kita harus ke dokter!” Suara Ibu meninggi, Reva dan Raya saling pandang. Tidak biasanya Ibu panik mendengar anaknya sakit. “Ta-tapi Bu…” bantah Reva. “Sudah, ayo ke Dokter dulu!” ujar Ibu tidak mau di bantah seraya melangkah ke kamarnya. “Raya, kamu pesankan taksi dulu!”teriak Ibu dari dalam kamar. Ibu tidak memperdulikan Reva dan Raya yang kebingungan. “Ibu kenapa ya dek, padahal aku tidak apa-apa,” ujar Reva. “Sudahlah kak, turuti saja. Mungkin Ibu hanya khawatir akan kondisi kakak. Kalaupun asam lambung kakak naik, memang tidak boleh diremehkan. Banyak juga yang tidak tertolong gara-gara sakit asam lambung,” balas Raya menjelaskan. “Iya juga sih, ya sudah kamu pesan taksi ya. Kakak juga mau siap-siap dulu.” Reva melangkah menuju kamarnya. Raya mengangguk pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN