Dina dan Reva keluar dari restoran. Reva berpamitan dengan teman-teman kerja dan pak Andri. Selama perjalanan pulang ke rumah, Reva banyak diam dan Dina tidak mengganggunya. Dina tahu kalau Reva sedang berusaha menata hatinya . Hingga akhirnya mereka sampai di rumah, Reva masuk ke kamarnya untuk mandi dan istirahat karena esok dia akan pulang ke Surabaya. Terdengar suara pintu diketuk, Reva menyuruh Dina masuk.
“Aku lihat wajahmu terlihat sedih, kenapa harus ngotot kembali ke Surabaya? Kalau kamu kerasan di sini aku rasa tidak ada bedanya ke Surabaya dan di Jakarta, jika hatimu masih teringat Satya,” tukas Dina menajamkan matanya seraya duduk di tepi tempat tidur. Hembusan nafas keluar dari mulut Reva, tatapan matanya menerawang.
“Setidaknya aku jauh dari rumah, Satya. Aku khawatir kakiku tidak bisa menahan diri untuk melangkah menemuinya!” Mata Reva berkaca-kaca hingga cairan bening yang ada di sudut matanya menetes, Reva menyapu air mata yang jatuh. Terlihat senyuman tipis terukir di bibir yang dipaksakan.
“Aku mengerti maksudmu. Tapi kamu tahu, aku benar-benar merasa kehilanganmu Reva, aku terbiasa bersamamu di rumah ini. Kini aku sendiri,” ucap Dina lirih menunduk dalam-dalam.
“Oh iya, kenapa kamu tidak membuka kostan? Bukankah ada dua kamar yang kosong, setidaknya kamu ada pemasukan dan tidak terlalu kesepian!” saran Reva dengan mata berbinar, kesedihannya hilang tatkala memikirkan nasib sahabatnya. Dina mengulum senyum menatap manik mata sahabatnya.
“Aku akan mengontrakkan rumah ini, kalau aku buka kostan aku harus bertanggung jawab. Aku khawatir menerima orang yang salah,” pungkas Dina menjelaskan dengan senyum di bibirnya.
“Lalu, kamu akan tinggal di mana?” Reva mengernyitkan keningnya.
“Aku akan mencari kost, dari pada aku buka kostan lebih baik aku kontrakan rumah ini, aku sudah memikirkannya saat kamu memutuskan untuk ke Surabaya!” urai Dina dengan tatapan ke segala arah. Dina sengaja menghindari beradu tatap dengan Reva, dia tidak mau menjadi beban Reva untuk melangkah melanjutkan hidupnya.
“Terima kasih atas bantuanmu Dina. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas budi kepadamu,” Reva memeluk Dina dengan perasaan haru. Reva tahu Dina pun berat untuk berpisah dengannya.
“Besok, kamu berangkat pagi?” tanya Dina. Reva mengangguk pelan.
“Besok aku libur, jadi aku akan mengantarmu ke bandara,” tukas Dina lantang, dia tidak mau memperlihatkan kesedihannya. Sebagai sahabat yang baik, Dina ingin mendukung keputusan sahabatnya. Dia berdoa semoga Reva bisa melupakan kenangan tentang Satya.
“Terima kasih ya,” Mata Reva berkaca-kaca menatap sahabatnya, dia tidak menyangka dipertemukan dengan orang sebaik Dina.
“Sekarang istirahatlah!” Dina berdiri dan melangkah keluar dari kamar Reva. Reva menatapnya sendu. Dia sangat sedih harus berpisah sahabat baiknya. Setelah orang tuanya meninggal, Dina sebatang kara. Nenek kakeknya pun sudah tidak ada, beberapa saudaranya memilih menjauh karena takut dimintai pertolongan.
Begitulah manusia, terkadang saat sedang sukses banyak sekali yang mendekat tetapi saat sedang terpuruk semuanya menjauh. Reva membaringkan tubuh di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya.
“Satya, apa kamu benar-benar melupakanku? kamu sama sekali tidak ada kabar dan tidak mencariku, mungkin untukmu kejadian malam itu dan hubungan di antara kita adalah angin lalu. Namun, bagiku itu sangat berharga dan aku akan menyimpannya jauh di dalam lubuk hatiku sebagai kenangan yang takkan pernah kulupakan,” air mata Reva jatuh di pipi hingga akhirnya Reva berusaha untuk memejamkan mata karena besok dia harus berangkat pagi mengejar pesawat yang akan mengantarnya ke Surabaya, ke tempat di mana dia tinggal dulu.
Sebelum waktu subuh, Reva sudah bangun dari tidurnya, dia bergegas mandi lalu berganti pakaian bersiap untuk berangkat. Saat terdengar adzan subuh, Reva cepat-cepat melaksanakan shalat. Dina juga sudah bangun dan bersiap mengantarkan Reva. Karena pesawat yang akan ditumpangi Reva adalah pesawat yang pertama yaitu penerbangan pukul 08.00 pagi sehingga dia harus berangkat kurang lebih pukul 05.00 pagi setelah salat subuh.
Reva dan Dina hanya memakan roti untuk mengganjal perut mereka karena tidak sempat membuat sarapan. Mereka berencana sarapan di bandara sambil menunggu.
“Terima kasih ya, Din karena sudah mengantarku,” ucap Reva menatap sahabatnya ketika mereka sudah berada di dalam taksi menuju bandara.
“Apanya yang terima kasih. Dengarkan aku Reva, kalau kamu benar-benar tidak bisa melupakan Satya cobalah hubungi dia! siapa tahu dia juga tidak bisa melupakanmu,” pesan Dina. Reva melengos menatap jalanan dengan tatapan menerawang.
“Aku rasa tidak seperti itu, dia itu seorang pengusaha kaya. Dia punya kuasa, dia pasti bisa mencariku kalau memang dia menginginkannya. Namun, itu tidak dilakukannya. Dia tidak mencariku, kamu pun tidak dihubunginya kan? padahal ponselku tertinggal di kamar. Tentu sangat mudah untuknya mencariku lewat nomor-nomor yang ada di ponselku, disana ada nomor Ibu, adikku, juga beberapa temanku!” Reva meneteskan air mata. Dina memeluknya dengan penuh haru.
“Percayalah, kamu pasti akan menemukan pengganti dan dia akan mencintaimu dengan tulus.” Reva mengangguk pelan, hembusan nafas keluar dari mulutnya. Meski berat tetap harus dijalani.
Perjalanan dari kostan ke bandara cukup jauh, tapi jalanan yang lengang dan masih sepi dengan kendaraan membuat mobil yang ditumpangi melesat tanpa hambatan hingga sampai di bandara. Reva dan Dina turun dari taksi dan melakukan Check in. Setelah check in, Reva dan Dina sempat membeli sarapan dan makan bersama. Mereka tertawa dan mengobrol, mengenang segala kenangan yang sudah dirajut.
“Sudah sana naik, nanti kamu ketinggalan pesawat!” ujar Dina mengingatkan. Reva memeluk Dina sekali lagi.
“Aku akan mengunjungimu lagi Din, aku akan merepotkanmu.” Kelakar Reva sebelum meninggalkan sahabatnya.
“Aku senang direpotkan olehmu, datanglah kapan saja!” balas Dina dengan senyuman tipis terukir di bibirnya. Reva mengangguk pelan menahan air mata lalu melangkah pergi seraya melambaikan tangannya. Dina menatap Reva hingga hilang dari pandangannya.
“Semoga kamu bahagia Reva dan menemukan cintamu yang baru,” gumam Dina seraya melangkah keluar dari bandara. Reva melangkahkan kakinya menatap hampa seluruh ruang bandara yang sebenarnya ramai, entah kenapa hatinya terasa sepi. Di detik-detik terakhir pun dia masih berharap Satya mencarinya.
Akhirnya Reva harus kembali ke Surabaya, dia ingin menata hatinya yang telah hancur. Kehilangan Satya membuat dunianya runtuh. Harapan untuk membina rumah tangga bahagia dengan Satya seperti yang mereka bicarakan sirna. Reva berusaha menerima takdir yang harus dijalaninya saat ini. Berat memang, tapi semua harus dilalui.
Tidak mudah untuk mengikhlaskan orang yang kita cintai, dilupakan oleh orang yang dicintai pun sangatlah menyakitkan. Namun, hidup tidak bisa berhenti hanya karena kehilangan satu orang yang berarti dalam hidup kita, dan Reva menyadari akan hal itu.
Panggilan pesawat ke Surabaya terdengar membuyarkan lamunan, Reva langsung berdiri dan menaiki pesawat yang akan membawanya bertemu dengan Ibu dan adiknya. Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya memerlukan waktu kurang lebih satu jam.
Reva menatap jendela terlihat awan-awan cerah sepanjang mata memandang, tapi tidak untuk Reva. baginya semuanya terlihat mendung segelap hatinya. ‘Akhirnya aku menyerah, aku akan mencoba melepasmu Satya … aku menyerah bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi aku belajar bahwa tidak semua layak diperjuangkan,’ batin Reva menatap hampa ke luar jendela.
Tak terasa pesawat pun landing di Bandara Juanda. Reva melangkahkan kakinya dengan penuh tekad untuk memulai hidup baru bersama ibu dan adiknya. Senyuman tipis terukir di bibirnya saat menunggu taksi. Reva memang sengaja tidak memberitahu Ibu dan adiknya soal kedatangannya.
Dia ingin memberi kejutan kepada keduanya. Hingga taksi yang dipesannya datang, Reva langsung naik. Perjalanan dari bandara ke rumahnya memakan waktu cukup lama, karena jarak yang cukup jauh. Reva menikmati pemandangan kota asalnya, dia tersenyum bahagia karena bisa sampai di rumahnya kembali dengan selamat. Taksi berhenti di depan sebuah rumah berwarna hijau.
“Sudah sampai, Bu.”
“Terima kasih, Pak,” Reva turun dari taksi, Dia berdiri menatap rumah di depannya. Rumah yang berusaha diselamatkannya sehingga dia menikah kontrak dengan Satya. Hembusan nafas lega keluar dari mulutnya. ‘Setidaknya, meskipun hatiku sakit akan kehilangan Satya … tapi aku tidak kehilangan rumah ini, rumah tempatku tinggal dengan banyak kenangan bersama Ayah,’ batin Reva dengan senyuman terukir di bibirnya. Reva melangkah memasuki halaman rumah dengan semangat baru dihatinya.