Kebohongan Lain

1216 Kata
Dengan langkah pelan penuh keraguan Dina menuju ruangan Andri. Dia berpikir keras kesalahan apa yang dilakukan, sehingga dia dipanggil bosnya. Karena yang Dina tahu, Andri hampir tidak pernah memanggil karyawannya jika tidak melakukan kesalahan. Sesampainya di depan ruangan Andri, Dina berhenti sejenak untuk menenangkan dirinya dengan mengambil nafas panjang. Baru kemudian, dengan penuh keberanian dia mengetuk pintu. “Masuk!” terdengar teriakan Andri yang menyuruhnya masuk. Dina melangkah masuk menghampiri bosnya yang sedang duduk di kursi kebesarannya. “Duduklah!” ujarnya ketika melihat Dina yang masih berdiri di hadapannya menunggu dipersilahkan. “Terima kasih, Pak,” sahut Dina seraya menarik kursi lalu menjatuhkan tubuhnya dan duduk berhadapan dengan Andri. “Boleh aku tanya sesuatu padamu?” tanyanya pelan. Dina memaksakan senyumannya dengan anggukan kepala. “Tentu, Pak. Mau bertanya soal apa?” Dina berusaha santai menghadapinya. “Soal pribadi,” sahutnya datar membuat mata Dina mendelik, jemarinya meremas ujung baju. Dina khawatir Andri akan menyatakan cinta padanya. “Ma-maksud, Bapak?” Dina sedikit tegang mendengar kata-kata Andri. "Aduh apa dia suka sama aku ya?" batin Dina. “Soal, Reva. Apa dia sudah mempunyai kekasih?” tanyanya malu. Dina terkekeh sendiri, karena kekhawatirannya tentang Andri yang suka padanya tidak terbukti dan ternyata dia memang suka pada Reva. Dina nyengir menatap Andri. "Bapak tertarik padanya?” tanya Dina, terlihat wajah Andri tersipu malu karena ketahuan maksudnya. “Iya, saya menyukainya dari saat pertama kali melihatnya. Terus terang saya merasakan sesuatu yang berbeda. Menatapnya membuat hati saya bergetar,” urainya tersipu malu. “Tapi sayangnya, Bapak terlambat. Reva sudah mempunyai tunangan dan dia sebentar lagi akan menikah. Makanya dia harus pulang ke Surabaya,” jelas Dina berbohong menatap manik mata Andri penuh sesal. “Jadi maksudmu tunangan Reva tidak terlalu memperhatikannya, sampai-sampai untuk ongkos pun dia harus bekerja dulu? laki-laki macam apa itu!” Mata Dina mendelik mendengar ucapan Andri, benar juga ucapannya karena dari awal Dina dan Reva mengatakan kalau dia mencari pekerjaan untuk ongkos pulang. “Eh, bukan begitu, Pak! itu sebenarnya hanya alasan Reva saja, karena awalnya dia sedikit ragu untuk menikah padahal sudah mengenal baik laki-laki itu. Hanya saja mungkin Reva ketakutan, jadi dia ke Jakarta dan sekarang dia sudah yakin untuk menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya itu,” Dina berusaha menjelaskan agar tidak ada celah harapan untuk Andri. “Sudah zaman seperti ini masih dijodohkan?” Matanya membola sempurna menajamkan tatapannya dia tak percaya ada anak yang masih mau dijodohkan oleh orangtuanya. “Ya begitulah, Pak. Namanya juga di kampung,” sahut Dina datar tanpa ekspresi, meski dia sedikit ragu dengan alasan yang diutarakannya. Dia sendiri berpikir mana ada di zaman seperti ini, anak mau dijodohkan. Tapi Dina tidak bisa menemukan alasan yang lain, hanya hal itu yang terlintas di pikirannya saat itu. “Apakah Reva benar-benar menyukai laki-laki itu?” tanya Andri, terlihat jelas raut wajahnya sangat kecewa, hembusan nafas keluar dari mulutnya berkali-kali. Dina sedikit merasa tidak enak melihatnya. “Sepertinya iya, Pak,” sahut Dina dengan senyuman dipaksakan. “Sayang sekali, padahal baru sekali ini saja saya merasakan sesuatu yang berbeda jika berdekatan dengan wanita,” lirihnya. Mata Dina membesar menatapnya iba. “Ma-maksudnya, Bapak tidak pernah menyukai wanita selain Reva?” tanya Dina penuh selidik sembari menajamkan tatapannya. “Iya, kamu benar,” sahutnya yakin. “Oh sayang sekali ya, Pak,” sesal Dina. Dalam hati Dina menyesal kenapa tidak sejak lama mengajak Reva ke restoran dan bertemu dengan Andri, daripada dengan Satya yang pada akhirnya mencampakkannya begitu saja. “Ya sudah kalau begitu pembicaraan kita selesai! Satu lagi, tolong jangan sampai Reva tahu kita membicarakan ini. Mengerti? Saya juga ingin cepat-cepat melewati satu bulan ini,” ucapnya memelas. “Maksudnya?” “Melewati satu bulan agar Reva cepat pergi dari sini. Terus terang saya tidak nyaman menyukai wanita, sedangkan wanita itu tidak menyukai saya,” lirihnya. “Hehehe, ya sudah, Pak saya kembali bekerja.” Dina membalikan tubuhnya melangkah keluar dari ruangan Pak Andri. “Huhh, dasar pak Andri orang yang aneh! pantas saja tidak ada wanita yang mau dekat dengannya, tapi kalau dipikir-pikir hatinya itu baik. Buktinya setelah aku bilang Reva menyukai laki-laki lain dia memasrahkannya dan tidak memaksakan perasaannya kepada Reva. Dia adalah wanita yang beruntung jika mendapatkan cintanya, dasar dia benar-benar bodoh!” gerutu Dina melangkah menuju pantry dan melanjutkan pekerjaannya. Hari demi hari dilalui, Andri mencoba untuk menjaga jarak dengan Reva dan karyawan lain seperti biasanya. Sikapnya kembali cuek dan dingin tanpa senyum. Reva malah merasa lebih nyaman jika seperti itu, karena dia tidak merasa terbebani lagi mendapat kebaikan Andri. Sebulan berlalu, hari itu adalah hari terakhir Reva bekerja di restoran. Reva berpamitan kepada teman-temannya karena selama satu bulan ini sudah sangat baik kepadanya dan banyak membantu. “Terima kasih banyak ya kalian sangat baik kepadaku dan selalu membantu. Aku tidak akan melupakan kebaikan kalian,” ucap Reva dengan mata berkaca-kaca. Mereka memeluk Reva satu persatu. “Aku pamitan dulu dengan pak Andri,” ujar Reva, yang lain mengangguk pelan. Reva melangkahkan kakinya menuju ruangan Andri untuk berpamitan. Di depan ruangannya, Reva mengetuk pintu. “Masuk!” terdengar suara Andri yang menyuruhnya masuk dari dalam. Reva memegang gagang pintu dan menekannya ke bawah hingga pintu terbuka. Reva melangkah masuk menghampiri Andri yang sedang duduk di kursi kebesarannya. “Ini hari terakhirmu ya, Reva.” Andri menatap Reva lekat-lekat seakan tak ingin Reva pergi. “Iya, Pak. Saya mau pamitan. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak karena sudah mau menerima saya dan memberi kesempatan saya di sini untuk mengenal orang-orang baik yang banyak membantu saya.” Andri menghela nafas menatapnya lekat. Dia sangat menyukainya tapi, dia tidak egois. Dia tidak memaksakan keinginannya karena tahu Reva sudah mempunyai kekasih. “Aku juga senang mendapatkan pegawai sepertimu, semoga di tempat yang baru kamu lebih sukses!” tukas Andri menatap tulus. “Terima kasih, Pak,” sahut Reva tersenyum penuh rasa terima kasih. “Satu lagi, semoga pernikahanmu lancar ya!” Senyumannya terbit di bibir sensual Andri, meski terlihat dipaksakan. Mata Reva mendelik mendengar ucapan Andri. "Pernikahan apa maksudnya? apa jangan-jangan Dina mengatakan kalau aku akan menikah?" batin Reva. “Eh iya, Pak. Terima kasih,” sahut Reva sedikit gugup. Andri tertawa kecil. "Kamu pasti kaget saya tahu dari mana soal pernikahanmu. Iya, kan? Tidak usah kaget, temanmu yang memberitahu saya. Saya turut bahagia dengan kebahagiaanmu. Semoga saja kamu bisa hidup bahagia bersama suamimu,” ucapnya tulus dengan senyuman tipis. “Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak. Kalau begitu saya pamit dulu, Pak,” Andri mengangguk. Reva berdiri dan membalikan tubuhnya untuk keluar ruangan. Baru saja beberapa langkah, terdengar suara Andri memanggilnya. “Reva!” panggilnya berteriak. Spontan Reva membalikkan tubuhnya. “Iya, Pak,” manik mata Reva bertemu dengan manik mata Andri. “Saya masih bisa menyimpan nomor ponselmu kan? suatu saat kalau saya main ke Surabaya saya bisa mampir ke tempatmu,” pintanya. Reva mengangguk melebarkan senyumannya. “Oh iya, Pak. Tentu saja saya tunggu, Pak. Terima kasih.” Reva keluar dari ruangan Andri, helaan nafas panjang keluar dari mulut Reva. Akhirnya dia akan meninggalkan Jakarta, di mana ada mimpi yang akan dia tinggalkan. Namun, Reva tak bisa berhenti untuk melangkah. Hidup terus berjalan dan dia harus terus maju meski dalam hidup apa yang kita rancang tidak sesuai harapan, tapi tetap saja kita tidak bisa berhenti. Kita harus mencari jalan lain untuk menggapai mimpi itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN