“Iya benar sepertinya dia menyukaimu, Reva!” teriak Dina penuh keyakinan. Mata Reva melotot tak terima dibuatnya.
“Jangan ngaco!” bantah Reva kesal menatap Dina dan kedua temannya bergantian karena berkata yang tidak-tidak. Dia khawatir berita itu terdengar Andri dan dia akan marah lalu di pecat. Haduh harus kemana cari pekerjaan lagi, pikir Reva.
“Masalahnya dia tidak pernah seperti itu, dia nggak pernah ramah dengan karyawan lain, sikapnya juga selalu dingin, itu sangat berbeda dengan perlakuannya kepadamu. Lihatlah tadi, dia tersenyum kepadamu dan dia menahanmu di kantornya.
Biasanya dia paling tidak suka jika ada karyawan lama-lama di kantornya!” jelas Lisa salah satu teman Dina. Yang lain mengiyakan tanda sependapat. Mata Reva mendelik mendengar dugaan teman-temannya itu. Terlihat kedua teman Dina pun mengangguk-ngangguk setuju dengan ucapannya.
“Kalian, jangan membuatku takut. Yang aku butuhkan sekarang adalah uang. Aku tidak menginginkan hal lain,” lirihnya.
Semua tertawa. "Tapi, masa depanmu akan terjamin bila hidup dengannya, lihat restoran ini! Dia sudah lama mengelolanya restoran ini ada turun-temurun dari kedua orang tuanya. Namun, baru dengan pak Andri bisa maju!” Dina terus memanasi Reva.
“Sudah ah, cepat bantu aku. Ajarin bagaimana cara bekerja disini saja. Jangan berpikir yang aneh-aneh, disini aku hanya satu bulan dan aku akan pergi dari sini!” desis Reva menatap ketiga temannya bergantian.
“Bagaimana kalau dia menawarkanmu bekerja disini? apa kamu tidak akan menerimanya?” tanya Dina.
“Tidak! Aku ingin pulang ke Surabaya,” sahut Reva lantang, tidak ada keraguan di matanya. Dia ingin melepas kenangan masa lalu dan memulai kehidupannya lagi yang baru di Surabaya bersama keluarganya. "Mundur dari kehidupan Satya bukan berarti aku tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi kepadanya, tapi aku sadar diri dan berusaha membatasi diri," batin Reva menerawang. Dina menatap mata sahabatnya, dia tahu pastilah Reva sedang memikirkan Satya.
“Sudah, jangan melamun. Ayo kita kerja lagi, kita ini bukan tim pewaris tapi tim pekerja keras! Jadi kita tidak boleh bersantai-santai. Kita harus menggunakan waktu dengan baik jangan sampai terbuang sia-sia. Semua harus bisa kita manfaatkan, untuk kelangsungan hidup kita!” pekik Dina dengan penuh semangat.
“Tumben kamu pinter, Dina?” Reva menajamkan matanya ke wajah Dina seakan tak percaya, kalau barusan adalah kata-kata dari temannya.
“Eh, aku dari sananya pintar!” balasnya sombong. Reva mencibir mendengarnya. Dina mengajarkan apa yang harus dikerjakan Reva di restoran, karena besok sudah hari yang sibuk. Satu bulan ke depan restoran tempat bekerja Dina memang sudah di booking karena akan mengadakan salah satu acara disana dengan menu yang sudah disetujui oleh kedua belah pihak.
Reva cukup cepat belajar, sehingga Dina dan kedua temannya tidak terlalu kesulitan untuk mengajarinya. Hingga waktu bekerja mereka sudah habis, setelah membersihkan restoran mereka menutup restoran tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.
“Aku salut pada kalian … kalian bekerja dengan hati, dengan penuh rasa tanggung jawab. Ini sangat berbeda dengan tempat aku bekerja dulu. Di sana mereka akan bekerja dengan baik, jika ada bos!” ujar Reva menatap ketiganya.
“Ah, sebenarnya karyawan itu akan merasa memiliki jika perlakuan bosnya juga baik pada kita, seperti pak Andri. Dia selalu memperhatikan gaji, bonus dan kesulitan kita. Orangnya memang terlihat cuek dan dingin tapi dia begitu baik, sehingga kita merasa memiliki restoran ini dan menjaganya dengan penuh rasa tanggungjawab.” Dina berkata seraya menatap restaurant tempatnya bekerja.
“Iya, kamu benar juga,” sahut yang lainnya setuju. Karena yang mereka rasakan saat menjadi karyawan Andri adalah rasa penghormatan atas pekerjaan dari bosnya. Setelah mereka menutup restoran dengan penuh rasa tanggung jawab, mereka kembali ke rumah masing-masing.
“Kita pesan taksi saja, hitungannya juga sama dengan naik angkot!” ujar Dina seraya memesan taksi dari ponselnya.
“Huhh, dasar kamu benar-benar perhitungan!” sindir Reva mengerucutkan bibirnya.
“Hidup ini memang harus seperti itu, harus penuh perhitungan” balas Dina datar. Reva terdiam mendengar ucapan Dina, dia merasa tersindir karena dirinya memang sangat berbeda dengan Dina. Setiap melalukan sesuatu, Dina selalu penuh perhitungan.
Sedangkan Reva, terkadang tidak memikirkan hal kedepannya. Yang dipikirkan hanya saat itu, sehingga terjadilah kejadian yang dialaminya sekarang ini. Kalau dibilang menyesal, tentu dia menyesalinya. Namun, semua sudah terjadi. Saat ini yang terpenting adalah bisa menjalani hidupnya dengan baik.
Taksi berhenti di depan rumah, Reva dan Dina turun dan melangkah masuk ke dalam rumah. Karena merasa letih keduanya sama-sama masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Reva membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Matanya terpejam membayangkan apa yang dilakukan Satya saat ini, meski dia berusaha untuk menepis bayangan Satya tapi tetap saja di saat-saat sendiri bayangan wajah dan perhatiannya selalu terlintas di pikirannya. Rindu yang dirasakannya harus disimpan baik-baik, sedih itu pasti. Namun, Reva berusaha untuk tetap melangkah dan meninggalkan masa lalunya.
“Apa kamu masih mengingatku, Satya? Atau kamu sudah melupakanku, apa kamu tidak mengingat saat-saat kita bersama? Aku tidak pernah lupa dengan tatapan matamu, saat kita melakukannya … saat kamu menyentuhku dan aku tak pernah melupakan sentuhan saat mengingat malam itu, aku masih bisa merasakan sentuhan itu,” tak terasa air mata menetes di pipi Reva. Kemalangan demi kemalangan terjadi, dia mengingat malam itu! malam dimana dia diusir dari Rumah. Reva merasa bersyukur karena semua bisa dilalui dengan menjaga kehormatannya. Karena letih, dia akhirnya terlelap.
Keesokan harinya, Reva mulai bekerja bersama dengan Dina. Andri terlihat bersemangat, kehadiran Reva membuat warna baru di hatinya. Semua menyadari dan menduga kalau Andri memang menyukai Reva. Meski Reva juga merasakan hal yang sama, tapi dia berusaha untuk menjaga jarak dan tidak mau menunjukkan rasa senang karena perhatian Andri. Dia tahu kalau dirinya tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya.
“Din, tolongin, aku ya. Pokoknya kalau pak Andri tanya aku udah punya pacar atau belum, tolong katakan kalau aku udah punya pacar di Surabaya dan akan segera menikah. Aku nggak mau memberikan harapan sama dia dan membuatnya kecewa. Aku ingin hubungannya denganku hanya sebatas atasan dengan bawahan!” pinta Reva kepada Dina sahabatnya kala mereka sedang makan siang di jam istirahat.
“Iya-iya, aku mengerti! nggak sekalian aku bilang kamu sudah menikah?” ledek Dina. Reva mencubit pipi Dina kesal.
“Jangan nanti dia minta kenalan ma suamiku, bisa gawat!” sahut Reva menaikan salah satu alisnya.
“Hahaha, bener juga ya!” ujar Dina tertawa kecil.
“Dina, dipanggil ke ruangan pak Andri tuh!” tukas Lisa salah satu teman Dina memberitahukan. Dina dan Reva saling bertukar pandang dengan mata membesar.