Bekerja di Restoran

1108 Kata
“Maaf, Pak Andri. Apa Bapak mendengar saya? Ini teman saya namanya, Reva. Dia sedang butuh pekerjaan,” ujar Dina memperkenalkan Reva. Reva menganggukan kepala dan tersenyum tipis. Namun, Andri masih menatap Reva hanya bergeming. Mata bulat dengan bulu mata yang begitu lentik, dengan tatapan mata yang teduh bagai senja membuat Andri terpesona. “Begini, Pak. Kata Reva, dia tidak apa-apa kalau harus bekerja hanya satu bulan. Bagaimana, Pak?” tanya Dina membuyarkan lamunan Andri. “Oh iya, langsung saja,” sentak Andri salah tingkah seraya membetulkan posisi duduknya. “Maksudnya langsung gimana ya, Pak?” tanya Dina mengernyitkan keningnya. “Maksud saya, ini kan rekomendasi dari kamu yang sudah bekerja lama di restoran saya. Berarti pasti teman kamu ini rajin seperti kamu. Jadi saya terima dia.” Andri menjawab dengan dingin. “Terima kasih, Pak. Apa saya perlu membuat lamaran dulu?” tanya Reva menyela pembicaraan Dina. “Tidak perlu! ini hanya restoran dan bukan perusahaan besar, jadi tidak perlu membuat lamaran. Saya hanya perlu nomor rekening kamu untuk mentransfer gaji kamu nantinya.” “Maaf, Pak. Saya kecopetan, ATM dan semuanya hilang. Jadi saya belum mengurusnya, nanti bisa pakai rekening Dina saja, Pak. Karena saya juga setelah bekerja disini akan pulang ke Surabaya dan membuka rekening di cabang daerah tempat tinggal saya saja,” ujar Reva mengerlingkan matanya pada Dina. “Iya, Pak, bisa pakai punya saya saja. Bukankah hanya untu satu bulan saja?” imbuh Dina. “Waduh itu harus cepat-cepat diurus, kalau sampai dikuras habis oleh pencopet bagaimana?” “Sepertinya tidak, Pak. Karena memang tidak ada saldonya. Hahaha…,” Reva tertawa kecil. Andri menggeleng-gelengkan kepala, merasa terhibur dengan kehadiran Reva. Dina mencubit lengan Reva dan mengerlingkan matanya. “Maafkan teman saya, Pak. Dia memang cepat akrab dengan siapa saja,” pungkas Dina memaksakan senyumannya. “Tidak apa-apa, saya suka. Apalagi kita memang memerlukan daya tarik itu untuk menyenangkan hati pelanggan di restoran ini. Besok, kamu boleh mulai bekerja!” ujar Andri memandang Reva dengan senyuman di bibirnya. “Kalau sekarang saya mau langsung belajar boleh tidak, Pak? Kebetulan saya tinggal di rumah Dina, jadi nanti pulangnya bisa bersama Dina,” pinta Reva dengan tatapan memohon. “Oh begitu. Begini saja, Dina kamu silakan lanjutkan pekerjaanmu. Saya akan memberikan pengarahan kepada temanmu ini.” Mata Dina melotot mendengar ucapan Andri, tidak biasanya Andri tidak ingin akrab dengan pegawainya. Karena yang dia tahu, bosnya itu sangat dingin dan cuek tanpa mau menyapa pegawainya. Namun, dia bukannya bos yang jahat, dia selalu memperhatikan karyawan soal gaji dan bonus. Hanya saja sikapnya memang sangat cuek. “Ma-mau diberi pengarahan bagaimana maksudnya, Pak?” akhirnya rasa penasarannya membuat pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. “Karena temanmu sangat ramah jadi saya ingin menempatkan dia untuk menerima tamu yang akan mengadakan event mulai besok.” “Oh begitu, Pak.” “Nanti kalau saya sudah selesai, saya akan menyuruhnya menemuimu dan langsung mempraktekkannya di lapangan.” “Oke, Pak. Terima kasih ya. Saya permisi dulu ya,” Reva mengangguk seraya melemparkan senyumannya. “Silakan duduk,” ujar Andri ramah. Reva menarik kursi dan duduk di atasnya. “Terima kasih, Pak.” Mata Andri berbinar menatap Reva. Dia menjelaskan apa yang harus dilakukan Reva, semua detail pekerjaan dijelaskannya. Reva manggut-manggut tanda mengerti. “Bagaimana, sudah mengerti?” tanya Andri tersenyum tipis. “Sudah, Pak. Saya mengerti!” “Bagus, ternyata kamu cepat mengerti. Oh iya, sebelumnya kamu bekerja dimana?” tanya Andri menyelidik. Reva terdiam, dia tidak mungkin mengakui kalau dia pernah bekerja di perusahaan Satya karena dia khawatir ada berita tentang kehilangannya. “Dulu saya bekerja di Surabaya, Pak, tapi saya ingin mencoba ke Jakarta, hanya saja ... ada suatu kendala yang mengharuskan saya kembali lagi ke Surabaya,” sahut Reva sendu. “Jadi kamu akan kembali ke Surabaya?” “Iya, Pak.” Seketika wajah Andri berubah kecewa dengan jawaban Reva. “Kalau kamu saya terima kerja disini seperti Dina, apa kamu akan tetap kembali ke Surabaya?” tanyanya penuh harap. “Iya, Pak. Saya mengumpulkan uang dulu untuk ongkos pulang ke Surabaya. Ibu saya sudah tua, Pak. Saya rasa saya ingin menemaninya.” “Jadi ibu dan ayahmu tinggal di Surabaya?” “Bapak saya sudah meninggal, Pak,” sahutnya lirih. “Maafkan saya, saya tidak tidak bermaksud mengingatkanmu pada kenangan yang membuatmu sedih,” sesal Andri, dia merasa tidak enak menanyakan hal yang seharusnya tak ditanyakannya. “Tidak apa-apa, Pak. Saya tidak pernah sedih. Karena hanya raga bapak yang pergi, tapi jiwanya tetap di hati saya. Dia adalah cinta pertama saya dan saya bangga menjadi anaknya!” Mata Reva berbinar menerawang mengingat mendiang bapaknya. “Saya senang mendengar ucapanmu, sekarang saya boleh kembali ke tempatnya Dina, Pak? Saya akan belajar membantu kawan-kawan di luar restoran agar besok saya sudah tidak merepotkan mereka lagi,” tatapan mata Reva penuh harap. “Tentu saja, silakan!” “Terima kasih, Pak.” Reva berdiri lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan Andri. Dia menatapnya seraya mengulum senyuman, tampak jelas wajah Andri bersinar sangat bahagia. "Sepertinya aku menyukainya, aku tidak pernah merasa sesenang ini bertemu dengan wanita,’" batin Andri tersenyum tipis. Reva mengedarkan pandangan mencari keberadaan Dina, hingga dia menangkap sosok Dina yang dicarinya lalu melangkah menghampiri. “Dina, ajarkan aku bagaimana cara menjadi pelayan disini!” pinta Reva merajuk. “Oke, kamu boleh mengikuti aku sambil belajar ya. Karena sudah mulai banyak pelanggan yang datang!” “Oke, beres.” Reva melihat apa yang dilakukan Dina untuk menyambut para tamunya, lalu melayaninya dengan senyuman yang tak lepas di bibirnya. “Ingat ya, yang terpenting adalah tersenyum kepada semua pelanggan meskipun hatimu sedang sedih atau sedang marah. Jangan menampakan kesedihan ataupun kemarahan itu di depan pelanggan, kamu harus tetap tersenyum dengan wajah yang terlihat bahagia. Mengerti?” “Oke, aku mengerti!” Reva mengikuti perintah Dina sekaligus membantu pekerjaannya. Dina puas melihat Reva cepat belajar. “Bagus sekali, kamu bisa menguasainya dengan cepat. Aku senang melihatnya,” ujar Dina dengan senyuman di bibirnya. “Ini karena kamu guru yang hebat!” Puji Reva dengan tulus. Andri terlihat keluar dari ruangan sambil membawa tas kerjanya. “Sepertinya bos kita mau pulang!” ucap teman kerja Dina bernama Lala. “Emangnya dia biasa pulang sore?” tanya Reva pelan. “Tentu saja dia tidak dikenai aturan!” bisik Dina. “Saya pulang duluan ya!” pamitnya seraya mencuri pandang menatap Reva. “Iya, Pak. Silahkan,” akhirnya dia pulang juga, bisik Dina pelan. “Tunggu! kenapa dia menatapmu seperti itu, Reva?” tanya salah satu teman Dina. Dina hanya diam tak menjawab. “Jangan-jangan dia jatuh hati padamu!” duga beberapa teman Dina, dengan mata membola sempurna. Semua tatapan tertuju pada Reva.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN