Mencari Pekerjaan

1215 Kata
Sementara itu, Reva yang sudah selamat berada di rumah sahabatnya. Dia membersihkan diri dan berganti pakaian yang dipinjamkan Dina, dia memasak makanan dengan bahan yang ada di lemari es di rumah Dina. “Lagi ngapain kamu?” tanya Dina menghampiri Reva. Bola mata Reva memutar menatap Dina. “Lagi masak buat makan siang kita,” sahut Reva datar. “Ya ampun rajin banget, biasanya aku males makan siang. Ada manfaatnya juga kamu ya,” Dina mengulum senyum. “Jangan begitu kamu kan mau kerja, kalau tidak makan dan sakit malah repot nanti. Maaf ya aku lancang, tadi aku lihat kamu sedang tidur jadi aku ngga ijin dulu,” ujar Reva seraya memotong-motong sayuran. “Eh, aneh pakeminta maaf segala lagi. Emang biasanya kamu kan gitu, masak-masak aja,” sahut Dina mengerucutkan bibirnya. “Hahaha, kamu teman terbaikku, Din,” imbuh Reva tertawa kecil. “Aku nggak tahu mau bilang apa, kalau aku bilang kamu juga teman terbaikku, ... itu bohong! Aku suka kesel sama kamu, tingkahmu itu suka macam-macam dan buat repot. Waktu kamu memutuskan untuk menikah kontrak, aku sudah melarangmu tapi kamu tetap ngeyel. Begini kan jadinya,” tukas Dina dengan senyuman miring. “Aku terpaksa, Din. Memang hanya jalan itu untuk bisa mendapatkan uang dalam waktu kilat. Kebetulan sekali saat itu, Satya menawarkan kerjasama dengan imbalan jumlah uang banyak. Saat itu juga aku tidak mungkin membiarkan keluargaku kehilangan rumah, setelah ayahku meninggal. Untuk bertahan hidup saja repot, apalagi kalau untuk membayar hutang dengan jumlah ratusan juta. Dari mana uangnya? Aku saja bekerja untuk membantu Raya kuliah,” Reva berkata lirih, tatapannya menerawang mengingat saat pertama kali Satya menawarkannya perjanjian kontrak itu. “Iya juga sih, saat itu pas banget saat kamu butuh uang, ada tawaran seperti itu. Mungkin kalau aku jadi kamu, aku pun akan menyetujuinya,” ujar Dina pelan. “Nah iya, kan? Aku rasa kalau orang lain di posisiku juga akan melakukan hal yang sama. Apalagi disitu Satya menjelaskan kalau hubungan pernikahan itu tanpa adanya hubungan suami-istri. Jadi aman menurutku saat itu tapi masalahnya…,” Reva menghentikan ucapannya seraya menatap Dina penuh keraguan. “Masalahnya apa?” tanya Dina mengernyitkan keningnya. “Aku dan Satya sudah melakukannya,” desis Reva tertunduk lesu. “A-apa? Jadi kalian ...?” Dina menajamkan matanya ke wajah Reva. “Iya, dugaanmu benar. Itu salahku! Kenapa aku tidak bisa menjaga diriku, akibatnya jadi seperti ini. Aku merasa seperti menyerahkan diriku dengan bayaran 500 juta itu.” Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Reva, terlihat gurat penyesalan di wajahnya. “Ya ampun,Reva. Kamu berarti tidak perawan lagi?” Dina menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Reva mengangguk pelan dengan tatapan mata sendu. “Sekarang, aku harus mencari suami yang bisa menerimaku apa adanya. Entah ada yang bisa menerima kondisiku atau tidak,” ucap Reva lirih. “Ah, sekarang gampang kok. Coba lihat saja artis-artis itu, ada yang janda punya anak lalu bersuamikan laki-laki yang belum menikah. Jadi kalau memang sudah jodoh pasti laki-laki itu bisa menerimamu apa adanya!” pungkas Dina memberi semangat memegang bahu Reva dengan senyuman tipis. “Mudah-mudahan seperti itu, aku juga tidak mau berbohong dengan calon suamiku nantinya. Aku akan jujur mengatakan yang sebenarnya tentang kesalahanku ini,” Reva menunduk sedih. “Tapi aku heran, kenapa kamu sampai bisa melakukannya?” Dina menatap Reva curiga. Karena yang Dina tahu Reva itu galak terhadap lelaki. “Entahlah, aku rasa aku menyukainya dan aku mulai mencintainya sehingga dengan mudah menyerahkannya,” sahut Reva menatap sendu. “Astaga, Reva. Kalau sudah main hati itu bahaya. Kamu tahu sendiri status sosial kita sangat berbeda mungkin untuk Satya, kamu hanyalah selingan hidupnya dan setelah kamu pergi dari rumahnya, mungkin saja dia sudah melupakanmu!” tukas Dina tegas. “Iya, kamu benar. Dia memang mengatakan dia mencintaiku. Tapi mungkin hanya untuk merayuku saja, sebagai laki-laki yang saat itu sedang berhasrat pastilah akan melakukan apa saja untuk melampiaskannya. Meski aku merasa dari tatapan mata dan perhatiannya dia benar-benar mencintaiku.” Reva menghela nafas panjang. “Jangan bodoh, Reva. Lupakan dia! Jangan mencarinya karena kamu akan tersakiti. Apalagi papanya sudah mengusirmu!” pekik Dina memberi saran sembari membantu Reva memasak. “Iya, aku tahu itu. Masalahnya barang-barangku masih disana … bagaimana cara aku mengambilnya?" “Sudah! ikhlaskan saja. Pakai saja pakaianku dulu, nanti setelah kamu mempunyai uang, kamu bisa membeli pakaian sedikit demi sedikit.” “Terima kasih, Din. Aku tidak akan merepotkan kamu lama kok. Aku hanya ingin bekerja mengumpulkan uang untuk pulang ke Surabaya. Mungkin aku akan memulai usaha disana. Uang yang aku kirimkan pada ibu setiap bulan disimpannya baik-baik, aku rasa inilah saatnya aku menggunakan untuk memulai usahaku.” Reva sudah menyelesaikan masakannya dan menaruhnya di atas meja makan. “Ayo, makan dulu!” ajak Reva. “Kamu jadi mau bekerja di restoran tempatku bekerja?” tanya Dina. “Tentu saja.” “Kalau begitu kamu juga harus bersiap-siap. Karena aku akan memperkenalkanmu dengan manajerku. Siapa tahu bisa langsung diterima,” Dina melemparkan senyumannya. Mata Reva berbinar penuh semangat. “Terima kasih, Din. Ayo makan dulu, setelah itu kita siap-siap. Aku pinjam bajumu ya,” pinta Reva, Dina mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Dasar, kamu selalu merepotkanku!” Reva mengembangkan senyum menatap sahabatnya penuh rasa terima kasih. Setelah mereka menyelesaikan makan siang, Dina dan Reva siap-siap untuk berangkat ke restoran. Mereka berencana melamar kerjaan di tempat kerja Dina. “Wah, kamu cantik sekali … kamu selalu cantik memakai apapun. Lihat pakaianku, jadi tampak terlihat berkelas dipakai olehmu.” Dina memuji menatap sahabatnya penuh kekaguman. “Hehehe, bisa saja kamu, Din.” Reva tersipu mendapat pujian. Mereka berdua berangkat menuju tempat kerja. Perjalanan dari rumah Dina ke tempat kerja tidak terlalu jauh, tetapi mereka harus menaiki dua kali angkutan umum untuk sampai disana. “Ayo, aku kenalkan dengan manajerku!” ajak Dina setelah mereka memasuki sebuah restoran yang cukup besar di pinggir jalan utama. Dina memperkenalkan Reva kepada kedua temannya. “Siapa ini Din?” tanya salah seorang teman kerja shift sore hari itu. “Ini temanku, Reva namanya.” Dina memperkenalkan Reva pada temannya. Reva mengulurkan tangannnya yang disambut hangat oleh Rita teman kerja Dina. “Dia sedang mencari pekerjaan, kebetulan Pak Andri bilang kita membutuhkan pelayan. Siapa tahu pak Andri mau menerimanya!” Dina tersenyum ke arah Reva. “Tapi kita membutuhkannya hanya untuk satu bulan Din. Karena ada acara yang terkontrak di restoran kita selama sebulan!” tukas temannya mengingatkan. “Nah, kebetulan sekali temanku ini memang hanya ingin bekerja selama satu bulan. Karena dia harus pulang kampung.” “Oh begitu, ya sudah coba sana ke ruangannya Pak Andri. Dia belum pulang kok!” “Oke. Ayo, Reva!” ajak Dina melangkah menuju ruangan Pak Andri diikuti Reva. Sesampainya di sebuah ruangan Dina menghentikan langkah dan mengetuk pintunya. “Masuk!” terdengar teriakan dari dalam ruangan menyuruh mereka masuk. Tanpa ragu Dina memegang handle pintu dan menekannya ke bawah hingga pintu terbuka. “Ada apa, Dina?” tanya lelaki yang bernama Andri. Reva mengekor langkah Dina. “Ini, Pak ada teman saya yang ingin melamar pekerjaan selama satu bulan sebagai pelayan. Bukankah Bapak bilang kemarin membutuhkannya karena di restoran kita akan diadakan beberapa kegiatan yang tamunya akan full selama satu bulan?” tanya Dina dengan senyuman di bibirnya. Pak Andri yang duduk di kursi kebesarannya tak menjawab, dia menatap Reva dengan tatapan penuh kekaguman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN