“Karena kita sudah tahu siapa pengirim surat kontrak itu ke rumahku jadi kita tidak perlu khawatir lagi, karena aku yakin Misye tidak akan berani untuk menyebarkannya keluar. Dia tahu siapa yang dilawannya,” desis Satya dengan tatapan sinis. Hembusan napas lega keluar dari mulutnya, setidaknya satu masalah sudah bisa diatasi.
“Iya, Pak. Saya juga yakin seperti itu. Maaf, Pak, ini data Reva.” Raihan memberikan data diri Reva yang diambil dari ruang HRD.
“Dia tinggal disini? Apakah KTP-nya beralamatkan di Jakarta?” tanya Satya, selama ini dia tidak pernah mau tahu apa pun tentang Reva. Tujuannya hanya satu menikah kontrak agar tidak dijodohkan.
“Begini, Pak. Saat pernikahan Bapak waktu itu Bapak menyuruhku untuk mengantarkan Reva fitting pakaian pengantin. Nah saat itu saya sempat mengobrol dengan Reva, katanya KTP yang dimiliki itu adalah beralamatkan numpang!” Raihan menjelaskan dengan ekspresi wajah ketakutan. Karena dulu dialah orang yang ditugaskan mencari tahu latar belakang Reva.
“Maksudmu?” Mata Satya membelalak mendengar penjelasan Raihan, karena yang dia tahu Raihan sangatlah teliti. Lalu kenapa kali ini dia seceroboh itu.
“Dia pernah bilang kalau keluarganya tinggal di Surabaya, jadi saat mencari pekerjaan dengan KTP luar Jakarta itu sangat sulit, makanya dia meminta tolong pada ibu kos untuk menumpang membuat KTP dan dijadikan keluarganya saat itu.” Raihan menjawab dengan menundukkan kepala dalam-dalam merasa bersalah, karena meski tahu Reva menggunakan KTP keluarga palsu dia mendiamkannya.
Raihan berpikir meski Reva memakai keluarga palsu untuk KTP, tetapi dia yakin Reva adalah gadis yang baik sehingga dia tidak mengungkapkannya pada Satya.
“Di mana alamat rumah kosnya? siapa tahu Reva kembali ke sana,” ujar Satya tanpa menyalahkan Raihan.
“Aku akan mencoba mencari dan menanyakannya langsung ke tempat kost yang dulu ditinggali Reva, bisa minta alamatnya?” tanya Satya.
“Iya, Pak. Saya akan kirimkan alamatnya kepada, Bapak.” Raihan langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan alamat lewat pesan.
“Terima Kasih Raihan, aku langsung berangkat. Tolong handle urusan kantor selama aku ngga ada ya!” Satya berdiri menajamkan tatapannya.
“Oke, Pak!” sahut Raihan. Satya langsung keluar dari ruangan Raihan. Hari itu dia memang tidak bermaksud untuk masuk ke kantor, dia hanya ingin mencari tahu siapa yang telah mengirimkan surat kontrak kepada papanya. Satya melangkahkan kaki menuju mobil yang terparkir di parkiran kantor, lalu melajukannya perlahan. Kepadatan kota Jakarta membuat jalanan sedikit macet. Matanya mengedar di jalan-jalan ke kiri dan ke kanan mencari-cari sosok Reva, dia berpikir siapa tahu Reva sedang berjalan diantara pejalan kaki lainnya. Namun, bagaimanapun dia berusaha tetap tidak ditemukannya.
“Kamu ada dimana Reva? semalam kamu tidur dimana. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu,”gumam Satya dengan tatapan sendu. Ketakutan akan kehilangan Reva semakin menjadi tatkala dia sadar kalau dirinya tidak punya informasi apapun tentang Reva. Bahkan keluarga Reva pun tidak dikenalnya.
“Maafkan aku Reva, aku tidak pernah menanyakan tentang keluargamu. Aku akan berubah, aku mencintaimu....” Satya berkata lirih seraya masih berusaha mencari-cari dengan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Akhirnya dia sampai pada alamat yang diberikan Raihan, karena harus masuk ke sebuah gang sempit dia memutuskan untuk memarkir mobilnya di pinggir jalan dekat gang masuk alamat yang akan didatanginya.
Dia melangkah memasuki gang, beberapa mata memandangnya takjub. Satya melewati rumah yang di terasnya berkumpul enam orang gadis, yang kemungkinan sedang belajar bersama karena banyak buku berserakan.
“Wah ada pangeran masuk kampung!” pekik salah seorang gadis, yang menurut perkiraan Satya sekitar berumur kurang lebih 16 tahunan. Satya fokus mencari alamat yang ada di ponselnya.
“Mau ke mana Kak?” tanya salah seorang gadis itu dengan gaya centil berusaha memikat.
“Kamu tahu dimana kost ‘Cinta Ibu’?” tanya Satya.
“Ayo saya antarkan, Kak,” tawar gadis itu semakin mendekatkan dirinya. Satya merasa tidak nyaman apalagi itu daerah kampung. Bisa gawat kalau warga berpikir macam-macam.
“Tidak perlu, tunjukkan saja!” tolak Satya.
“Hey, ini tugas masih banyak nggak usah gangguin cowok deh!” sentak salah satu temannya kesal. Gadis genit malah melengos kembali mengalihkan pandangan pada Satya.
“Kakak lurus aja, nanti saat ada pertigaan belok kanan tidak jauh dari situ ada rumah bertingkat dengan cat hijau, itu kost yang Kakak cari. Nanti aku akan main kesana mencari Kakak!” ucapnya dengan senyuman menggoda. Satya memaksakan senyumannya.
“Terima kasih,” Satya melangkah mengikuti petunjuk gadis itu.
‘Ah, anak jaman sekarang sangat berani-berani mengungkapkan hatinya!’ batin Satya.
Akhirnya dia sampai juga ke alamat yang dicarinya. Ternyata, disana adalah kos-kosan yang lumayan banyak kamarnya. Tandanya pasti banyak penghuninya, Satya masuk ke teras rumah melihat ke kiri dan ke kanan siapa tahu ada orang yang bisa disapa untuk bertanya.
“Maaf, mau cari siapa?” tanya salah seorang wanita penghuni kos yang baru keluar dari kamar. Wanita itu menatap Satya dengan tatapan menggodanya.
“Saya mau bertemu dengan ibu kos, ada dimana ya?” tanya Satya dingin seraya mengedarkan pandangan memperhatikan bangunan kos tersebut.
“Oh ibu kos, ayo aku antarkan!” ajaknya. Satya sempat terdiam sejenak tapi akhirnya melangkah mengikuti wanita tersebut. Dia terus melangkah melewati kurang lebih tiga rumah. Lalu langkahnya berhenti di rumah keempat.
“Ini rumah ibu kos, kalau disana itu hanya rumah untuk anak kostan,” tuturnya menjelaskan.
“Sebentar aku panggil dulu ya.”
“Bu! Permisi, Bu!” tidak menunggu lama seorang wanita separuh baya keluar dari dalam rumah.
“Kalau manggil yang sopan, jangan teriak-teriak!” gertak ibu kost dengan mulut mencabik seraya berjalan menghampiri.
“Iya-iya, Bu. Ini ada yang cari kost,” ujarnya menatap Satya penuh selidik.
“Oh mau cari kost ya,” Wanita yang dipanggil Ibu kost itu terus memperhatikan Satya.
“Aku balik ya, Bu. Jangan lupa baik-baik ya, Bu. Jarang-jarang di kostan ada yang ganteng, hehehe….” ucapnya seraya melangkah pergi meninggalkan Satya.
“Dasar kamu gadis genit!” gerutu ibu kost.
“Mau lihat-lihat kamar kost?” tanyanya mengembangkan senyuman menatap Satya.
“Bukan, Bu. Ada yang mau saya tanyakan,” sahut Satya datar. Terlihat kening wanita itu berkerut.
“Oh iya, mau bertanya soal apa?” tanyanya penasaran.
“Soal Reva,” sahut Satya.
“Hahh? waktu itu juga ada yang tanya soal Reva, apa Reva berbuat sesuatu tindakan kriminal? waduh gawat dia pakai kartu keluarga di rumah ini untuk membuat KTP!” pekiknya terlihat kesal.
“Oh nggak kok Bu, bukan begitu.”
“Lantas kenapa mencarinya? setahun yang lalu sudah Ibu hapus nama Reva di kartu keluarga karena Ibu khawatir dia bukan gadis yang baik, nanti Ibu bisa keseret seperti ini. Sudah banyak yang mencarinya, apa dia punya hutang?” tuduhnya menajamkan tatapan.
“Oh bukan, Bu, bukan begitu … aku atasannya di kantor, Reva bekerja di kantorku. Tapi sudah beberapa hari ini tidak bekerja, jadi aku mencarinya karena KTP-nya di alamat sini,” jelas Satya menenangkan.
“Apa dia buat masalah di kantor sampai bosnya mencari-cari?” Mata Satya terbelalak mendengarnya. "Oh iya, mana ada Bos yang mencari bawahannya," batin Satya.
“Ini karena pekerjaannya bagus dan sangat diperlukan, tapi dia menghilang!” sahut Satya beralasan.
“Reva yang Ibu kenal itu sangat baik, suka menolong teman-teman kostan di sini. Masa dia berubah tidak bertanggung jawab seperti itu, meninggalkan pekerjaan padahal sangat diperlukan.”
“Makanya itu, Bu. Saya juga heran, saya khawatir terjadi sesuatu padanya,” ujar Satya menambah keyakinan.
“Kamu pasti atasan yang baik, tapi sayang saya tidak tahu di mana Reva. Terakhir dia pindah bersama dengan temannya,” sahutnya datar.
“Dengan siapa ya, Bu? Namanya siapa? dan apa dia memberitahu Ibu dimana alamat rumah temannya itu?” cecar Satya menatap mata ibu kost penuh harap.
“Ibu lupa namanya, apalagi alamatnya. Kayaknya jalan melati apa ya?” Ibu kost tampak berpikir mengingat-ingat.
“Ah, nggak tahu Ibu lupa!” akhirnya dia menyerah.
“Kalau begitu saya pamit dulu, Bu. Terima kasih karena sudah menyediakan waktu,” ibu kost mengangguk pelan. Satya melangkah gontai meninggalkan rumah ibu kost karena tidak mendapatkan keterangan mengenai Reva.