Pembelaan Satya

1116 Kata
“Reva terpaksa melakukannya, Pap.” Satya berusaha membela Reva dengan segenap hatinya. “Terpaksa? Dia menikah hanya ingin mendapat imbalan uang. Apa kamu pikir Papa bisa percaya itu?” nada suara Chandra meninggi, tampak marah. Satya sedikit menurunkan suaranya karena khawatir tekanan darah papanya naik. Satya juga tidak mau terjadi hal yang buruk pada orangtua satu-satunya yang dia miliki. “Pap, aku yang salah karena telah memaksa Reva. Memposisikan Reva terpojok sehingga tidak punya pilihan. Ditambah lagi, saat itu Reva sedang membutuhkan uang karena ingin melunasi hutang-hutang almarhum ayahnya.” Dia mencoba menjelaskan pelan-pelan, berharap papanya mengerti kenapa Reva melakukan kesalahan bersamanya. Tapi sepertinya usaha Satya gagal, Chandra tidak memperdulikan apa yang dijelaskannya. Chandra malah asyik menikmati sarapan tanpa mengatakan apapun kepadanya, dia terlanjur kecewa karena merasa di bohongi. Hembusan nafas keluar dari mulut Satya.“Papa, aku dan Reva sekarang saling mencintai walaupun awalnya kami hanya pura-pura. Kami berdua memutuskan untuk melanjutkan pernikahan ini secara serius,” beber Satya pelan. Chandra bereaksi mendengar kata-kata cinta dari Satya, terlihat matanya mendelik setelah mendengar kata-kata anaknya. “Kamu harus melupakan, Reva! Papa yakin dengan berjalannya waktu kalian bisa saling melupakan semuanya!” teriak Chandra tegas. “Kenapa kami harus saling melupakan Pap? Kami saling mencintai,” Satya merasa tak terima dengan keputusan yang dibuat Chandra terhadap hubungannya dengan wanita yang telah mengambil hatinya itu. “Dengar, ini semua untuk kebaikan kalian. Jika semua terbongkar Reva dan keluarganya pun akan kesulitan menghadapi khalayak. Imbasnya untuk kita, para pemegang saham akan menarik sahamnya karena tidak mempercayai kita lagi, ceraikan Reva! Menikahlah dengan Sandra seperti rencana awal!” Suara Chandra meninggi menggema di ruang makan. Tatapannya pun tajam mengintimidasi. “Tapi ... aku tidak bisa hidup tanpa Reva. Aku terlanjur mencintainya,” bantah Satya memohon pengertian papanya. “Cukup! Papa ingin kamu menikah dengan Sandra!” bentak Chandra, Satya diam. Dia mengepalkan tangan, dadanya bergemuruh menahan amarah. Entah siapa yang sudah membongkar semua dan mengancam keluarganya. Setelah menghabiskan sarapan, Satya bergegas pergi ke kantor. Hal pertama yang ingin dia temui adalah, Raihan, asisten kepercayaannya di kantor yang tahu soal pernikahan kontraknya dengan Reva. Raihanlah orang yang disuruhnya membuat surat kontrak tersebut. Dia merasa harus menemuinya karena banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan padanya. Dia bergegas keluar rumah dan masuk ke dalam mobil menuju ke kantor. Perjalanan dari rumah ke kantor memakan waktu cukup lama karena kepadatan jalanan dengan kendaraan bermotor. Satya bermaksud membereskan urusan tentang siapa yang mengirimkan kontrak pernikahannya kepada papanya, barulah mencari Reva lagi. Saat ini dia sudah menyuruh orang-orang suruhannya untuk mencari keberadaan Reva, sementara dia menyelesaikan urusan di kantor. Sesampainya di kantor, dia tidak langsung ke ruang kerjanya melainkan menuju ruangan Raihan. Pintu ruangan Raihan dibuka, tentu saja Raihan terkejut karena bosnya datang ke ruangannya. “Raihan!” Raihan terkejut melihat bosnya datang dan memanggil namanya dengan wajah penuh amarah. “Surat perjanjian pernikahan aku dan Reva dimana?” tanyanya dengan nada tinggi dan tatapan mata tajam. “Lho bukannya, Bapak yang memerintahkan saya untuk memusnahkannya? Soft copy dan hard copy sudah saya musnahkan,” jawab Raihan meyakinkan. Satya ingin mempercayai kata-kata Raihan, tapi di sisi lain ada keraguan yang besar pada Raihan. Pasalnya hanya Raihan yang tahu tentang surat perjanjian tersebut. “Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” Satya geram mengernyitkan keningnya. “Ma-maksud, Bapak apa?” Raihan memasang wajah polosnya tak mengerti maksud arah pembicaraan Satya. “Papa mendapat surat ancaman, tentang surat perjanjian yang aku buat dengan Reva. Orang ini ingin agar aku menceraikan Reva. Jika tidak dia akan menyebarluaskan tentang surat perjanjian pernikahan ini. Apa kamu benar-benar tidak tahu soal ini?” tanya Satya mendekatkan wajahnya pada wajah Raihan dengan kepalan tangannya yang siap memukul, terlihat jelas bahwa saat itu Satya mencurigai Raihan. “Ti-tidak, Pak, untuk apa saya melakukan itu?” sahut Raihan terbata. Satya menurunkan kepalan tangannya. “Lalu, bagaimana orang ini tahu tentang surat perjanjian dan bisa memilikinya? Pasti ada yang memberitahunya!” bentak Satya. Raihan diam ikut berpikir keras. “Pak, Bagaimana kalau kita cek CCTV? karena datanya ada di komputer saya. Siapa tahu ada yang menyusup ke ruangan saya,” saran Raihan. “Bukankah filenya sudah dihapus?” Satya menajamkan tatapannya. “Saya memang sudah menghapusnya saat Bapak menyuruh menghapus. Namun, siapa tahu data itu diambil sebelum saya menghapusnya!” ujar Raihan dengan mata menyipit curiga. “Oke, kalau begitu minta rekaman CCTV di ruangan kamu selama beberapa hari terakhir ini!”perintah Satya dengan tegas, suaranya meninggi memenuhi ruangan. “Iya, Pak.” Raihan melangkah keluar dari ruangan menuju ruang operator untuk meminta rekaman CCTV. Setelah mendapatkannya Raihan bergegas kembali lagi ke ruangannya karena Satya menunggunya. “Ini, Pak, silakan di cek!” Raihan memberikan rekaman CCTV tersebut. Satya bergegas menyambungkan flashdisk ke komputer. Mereka berdua mengamati ruangan Raihan lima hari ke belakang. Hingga terlihat ada seorang wanita masuk ke ruangan Raihan dengan mengendap-endap. Satya dan Raihan saling bertukar pandang dan memperhatikan apa yang dilakukannya. Mata Satya membesar dengan tangan mengepal, terlihat jelas dari wajahnya tampak menahan amarah yang berapi-api. “Panggil, Misye!” bentak Satya. Tanpa bicara, Raihan keluar untuk memanggil Misye. Misye datang dengan wajah pucat karena melihat Raihan menatapnya sinis. “Kamu pasti tahu kenapa saya memanggilmu?” gertak Satya geram. “Ma-maaf, Pak. Saya tidak mengerti,” sahutnya pura-pura. “Bohong!! Jangan buat saya tambah marah!” bentak Satya dengan mata melotot dan suara yang menggema di seluruh ruangan. “Ampun, Pak, jangan pecat saya. Ampun, Pak. Saya salah saya….” tiba-tiba Misye berlutut di depan Satya. “Kenapa kamu melakukan hal bodoh itu? Kamu tidak menyukai Reva, apa yang telah dia lakukan padamu?” Satya penasaran, bagaimana mungkin ada yang membenci gadis sebaik Reva. Gadis yang selalu memperhatikan oranglain dan selalu rela berkorban demi kepentingan orang-orang terdekatnya. “Saya kesal, Pak. Bagaimana mungkin gadis seperti Reva bisa menikah dengan, Bapak. Sedangkan saya, yang sudah bekerja selama hampir lima tahun saja tidak pernah dilirik,” sahut Misye sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mata Satya membola sempurna, sorot matanya tajam seperti hendak menerkam mangsa mendengar pengakuan Misye yang mengejutkan. Sekretaris yang selama ini membantunya, mengharapkan lebih dari sekedar sebagai sekretaris. “Kamu benar-benar tidak punya malu!” bentak Satya dengan suara bariton menggema memenuhi ruangan. Raihan ikut geram mendengarnya. “Kamu akan saya pecat, aku tidak bisa memaafkan kelancangan tindakanmu!” bentak Satya dengan berapi-api. “Pak, saya mohon maaf. Saya, tidak akan mengulanginya, tolong jangan memecat saya, Pak,” Misye memohon, tapi Satya bukanlah pria yang mudah terpengaruh oleh airmata. Satya terkenal tegas dalam mengambil keputusan. “Sekarang keluarlah!” Satya meninggikan suaranya, dengan tatapan ke segala arah. “Ba-baik, Pak.” Misye keluar dari ruangan dengan langkah gontai. Tampak di wajahnya gurat penyesalan karena telah melakukan tindakan bodoh yang menyebabkan dia kehilangan pekerjaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN