Satya Pulang

1090 Kata
Mobil yang dikendarai Satya memasuki halaman rumah, lalu langsung menuju ke kamarnya untuk menemui Reva, karena dia baru kembali dari luar kota. Dia memasuki kamar dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar. Namun, dia tak mendapati sosok Reva, dia melangkah menuju kamar mandi tapi Reva juga tidak ada. Dia berlari keluar kamar bermaksud ke dapur, karena Reva terkadang membantu memasak di dapur. Bi Lastri yang melihat Satya hanya bisa diam sampai majikannya itu mengajukan pertanyaan. “Bi, Reva di mana?” Matanya mengedar ke seluruh ruang dapur lalu melihat ke jendela ke arah taman belakang rumah. “Eh, itu Tuan … sa-saya tidak tahu,” sahut bi Lastri gugup. Satya mengernyitkan keningnya merasa aneh dengan sikap bibi. Tapi dia tidak mau mempermasalahkannya, dia berlalu pergi menuju ruang keluarga untuk mencari Reva seraya menempelkan benda pipih di telinganya. “Kamu baru pulang?” Satya menoleh mencari suara papanya. “Oh iya, Pap,” sahutnya memegang ponsel dengan mata menatap ke ponselnya. “Mau telpon siapa?” tanyanya lagi, melihat Satya menempelkan ponsel di telinganya. “Telpon Reva Pap, kok dia tidak ada di rumah?” sahut Satya seraya mencoba menelpon lagi. “Tidak perlu ditelpon, Reva sudah pergi!” ucap Papa ketus. Satya memutar bola matanya menatap tajam papanya. “Ma-maksud, Papa apa?” tanyanya. “Papa memintanya pergi dari rumah!” ujar Chandra datar tanpa rasa bersalah. Sepertinya itu bukan masalah besar yang harus diributkan. “Hahh, a-apa yang Reva lakukan hingga, Papa menyuruhnya pergi?” “Ini!!” Chandra memberikan amplop berwarna putih. Perlahan Satya mengeluarkan isinya, matanya terbelalak karena surat itu adalah perjanjian pernikahannya dengan Reva. ‘Kenapa ini bisa ada di tangan papa?’ batinnya. “Papa, ini bukan kesalahan Reva. Ini salahku!” sanggahnya dengan tatapan sendu mencoba menjelaskan. “Papa tahu kamu juga salah, tapi dengan menerima uang demi pernikahan pura-pura menunjukkan bahwa Reva hanya tertarik pada uangmu!” bentak Chandra lantang dengan tatapan penuh kebencian. “Bukan begitu, Pap. Reva bukan wanita seperti itu,” bela Satya berusaha menjelaskan. “Sudah! Papa tidak mau mendengar apa-apa lagi tentang Reva. Kamu harus menceraikannya!” bentak Chandra dengan nada tinggi, suaranya menggema memenuhi ruangan keluarga, hingga siapa pun yang berada di sana pasti mendengarnya. “Tapi Reva memang tidak salah, Pap dan aku mencintainya,” Satya terus berusaha membela Reva dengan tatapan memohon. “Cukup! kalau sampai para pemegang saham tau apa yang kamu lakukan, mereka tidak akan mempercayai kita lagi. Atau kamu ingin Papa mengatakan bahwa Reva menipumu? Bukankah itu akan lebih membuat Reva menderita? Satu-satunya cara adalah kamu harus menceraikan Reva!”teriak Chandra geram. “Aku mencintainya, aku tidak akan menceraikannya, Pap!” bantah Satya seraya melangkahkan kakinya pergi keluar rumah meninggalkan papanya yang masih berdiri terpaku menatap putranya dipenuhi amarah. Dia melangkah menuju mobil yang terparkir di garasi lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dari biasanya, jalanan Jakarta malam itu tidak macet sehingga mobil yang dikendarai Satya melesat tanpa hambatan. “Ya ampun, Reva di mana kamu berada? aku tidak tahu siapa teman-temanmu. Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah mencari tahu tentangmu. Aku benar-benar bodoh!” Satya mengutuk dirinya sendiri karena tidak pernah peduli pada Reva. Satya kembali coba menghubungi ponsel Reva, berkali-kali di hubungi nomor ponsel Reva tidak aktif. “Aku tidak bisa melapor ke polisi karena belum 24 jam, aku tidak tahu kemana lagi harus mencarinya!” Satya mengacak-acak rambutnya. Pikirannya kacau, hatinya tidak tenang memikirkan keberadaan Reva. “Sial! Siapa yang berani-berani mengirimkan surat kontrak perjanjian ke rumahku? Aku harus mencari tahu siapa orangnya dan tidak akan kumaafkan perbuatannya!” Satya kesana kemari mengendarai mobilnya di jalanan, tak tentu arah mencari Reva. Namun, tak menemukannya. Dia juga sudah meminta bantuan Raihan untuk menghubungi beberapa teman seruangan kerjanya Reva, tapi nihil. Semua menjawab tidak tahu di mana Reva berada. Satya melihat arloji yang melingkar di tangannya, Pukul 01.00 pagi WIB. Wajahnya terlihat lelah, dengan penampilan yang biasanya rapi, tapi saat itu terlihat kacau. Dia merasa dunianya runtuh, ternyata kehilangan Reva sangat membuat hidupnya berantakan. Mungkin karena Satya sudah mulai mencintainya sehingga hatinya terasa sakit, separuh jiwanya terasa hilang. Ingin rasanya kembali di saat-saat bersama meneguk kebahagiaan bersama Reva dan menghentikan waktu di saat itu juga agar bisa lebih lama menikmati waktu berdua. Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya entah sudah yang ke berapa kali. “Aku lanjutkan besok saja mencari Reva, semoga saja kondisinya baik-baik saja,” pikir Satya dengan wajah lusuh tak bersemangat dia mengendarai mobil menuju ke rumahnya untuk istirahat karena tubuhnya pun sudah sangat lelah dengan pikiran yang kacau balau. Sesampainya di rumah, Satya langsung masuk ke kamar. Dia merasakan sepi karena tidak ada kehadiran Reva. Dia sudah terbiasa bersama istrinya. Satya membaringkan tubuh di atas tempat tidur mencoba memejamkan mata, agar besok bisa menghadap papanya lagi dengan pikiran yang lebih tenang. Namun, hatinya tetap tidak tenang. Pikirannya melayang membayangkan Reva. Dia sangat khawatir akan kondisi istrinya. Satya membalikkan tubuh ke kiri dan ke kanan, gelisah tak menentu. Hingga akhirnya karena sudah lelah dia pun tertidur. *** Matahari bersinar cerah, sinarnya masuk ke sela-sela jendela kamar. Kelopak matanya membuka perlahan, melihat sinar matahari yang memasuki kamar. Satya bangun dari tidurnya, melihat sisi tempat tidur yang biasa ditempati Reva. Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya. "Baru semalam tidak bersama dan aku sangat merindukannya". Pikiran untuk bisa bersama Reva memberi kekuatan untuk menghadapi papanya. Selama ini dia tidak pernah membantah kemauan papanya. Semenjak kejadian kecelakaan yang merenggut mama dan adiknya, Dia sangat merasa bersalah pada diri sendiri terutama papa. Sehingga dia tidak pernah tega menolak keinginan papa. Tapi cintanya pada Reva memberi kekuatan untuk bisa mempertahankannya. Setelah membersihkan diri, Satya langsung turun untuk menemui papanya. “Pagi, Pap. Aku mau bicara,” ujarnya lantang dengan tatapan tajam. “Kalo mau bicara soal Reva, Papa tidak mau dengar!” tolak Chandra dengan nada tinggi. “Papa, please … tolong dengar dulu penjelasanku. Baru, Papa putuskan!” Satya memohon dengan tatapan sendu. “Dengar, kamu tahu pernikahan adalah acara sakral dan bukan untuk main-main. Tapi Reva mempermainkan semua. Papa merasa seperti orang bodoh!” bentaknya keras dengan tatapan mata tajam. “Jangan-jangan dia juga berbohong soal keluarganya, apa kamu yakin dia tidak punya keluarga?” Mata Chandra menatap tajam. Satya tampak terlihat panik. “Begini, keluarganya pun tidak tahu soal pernikahan ini dan ini bukan salah Reva sepenuhnya. Aku yang menyuruhnya tidak melibatkan keluarga untuk pernikahan kontrak kami,” jelas Satya menatap manik mata Chandra, seakan meminta untuk percaya. “Jadi maksudmu … Reva juga membohongi ibu yang melahirkannya?” keningnya berkerut hingga kedua alisnya menyatu dengan mata membesar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN