CHAPTER 16

1361 Kata
Melihat itu Via mengerutkan kening, amarahnya semakin memuncak meskipun Dion mengatakan tak perlu mengejar penjahat itu. Bagaimana mungkin, mereka berani menembak Harry sampai terluka sehingga pelayan jahat itu tidak bisa diabaikan begitu saja, dalam benak Via. Sehingga Via bersama Andreas mengejar mereka, Dion juga menyusul untuk mengejar. Dengan secepat kilat Via muncul di depan dua pelayan tadi, Via dengan masing-masing tangannya memukul dengan keras kedua tangan dua orang itu, sehingga menyebabkan mereka menjatuhkan s*****a mereka karena kesakitan. Via meninju mereka berdua hanya dengan satu pukulan yang membuat mereka berdua terhuyung jatuh. Setelah bertahun-tahun bekerja dengan Dion dan boss-nya itu sudah berkali-kali ganti wanita, tetapi Andreas baru pertama kali melihat wanita kuat dengan pemandangan seperti ini. Ia membelalakkan matanya, tidak menyangka Via memiliki kekuatan sebesar itu. Tangan Via mencengkeram leher kedua pria besar itu dengan kuat dan mengangkat tubuh mereka seperti boneka. "Katakan! Siapa yang mengirim kalian ke sini untuk membunuh kami, jika kalian berdua tidak mengatakannya, jangan salahkan saya membunuh kalian," ancam Via. Di dalam restoran, dua anak buah Dion lainnya masih terdiam dan meringis kesakitan, karena ruangan yang kedap suara sehingga mereka masih tidak tahu apa yang terjadi di dalam, sampai Andreas menelepon Dion. Mereka berlari ke dalam, membawa pergi Evans dan Harry ke rumah sakit. Baru saja masuk ke dalam mobil, di belakang ada dua mobil asing yang menembaki mobil yang dikendarai oleh Andreas. Via memandang Evans dan Harry yang semakin meringis, ia tidak bisa menahan mereka lebih lama untuk tiba di rumah sakit. Tak lama, Via langsung pindah ke kursi pengemudi mengambil alih setir, dan Andreas pindah duduk ke samping. Kedua mobil di belakangnya juga mengejar di sepanjang jalan, di sisi kiri dan kanan mereka mencoba menyalip mobil yang dikendarai oleh Via. Via melihat melalui kaca spion, mobil mereka semakin dekat dengan mobil Via. "Apakah kalian ingin berlomba dengan saya? Sayangnya kalian belum beruntung, kalian harus tahu bagaimana menghadapi saya," ucap Via tertawa sambil mengejek mereka. Via menginjak pedal gas dan melaju lebih cepat, mobilnya mendekati tikungan, Via masih tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. "Nona, di depan ada tikungan, bagaimana jika pelan sedikit?" ucap Andreas khawatir. Via masih diam seolah-olah tidak mendengar apa pun, ia mengemudi dengan santai, ia mengemudi dengan terampil di tikungan, menyeret setir dan memperlambatnya—Via melakukan drifting dengan sempurna dan tiba-tiba berbalik sehingga menghadang dua mobil lainnya. Dua mobil lainnya jatuh karena mereka tidak bisa mengimbangi setir sehingga mengakibatkan kendaraan mereka terguling, mobil itu ringsek seketika. Via tampak mengejek mereka lagi, ia menjulurkan kepalanya keluar kaca mobil dan melambaikan tangan. "Bye. Itu masih belum seberapa," ejek Via. Via memutar kembali mobilnya, menekan pedal gas kemudian melaju ke rumah sakit terdekat. Perawat dan dokter sudah menunggu di depan rumah sakit. Via membantu Harry dan Evans untuk dipindahkan ke brankar rumah sakit, kemudian dibawa dengan cepat memasuki ruang operasi. Dion, Via, dan Andreas menunggu di luar, Andreas tampak khawatir dengan kondisi dua orang itu. Via melihat ekspresi Andreas yang begitu mengkhawatirkan saudaranya itu. "Tidak perlu khawatir, mereka berdua tidak akan mati, mereka berdua akan baik-baik saja. Saya melihat mereka berdua tidak kehilangan terlalu banyak darah, peluru itu tidak mengenai daerah berbahaya, jadi tidak apa-apa," ucap Via menenangkan. Kemudian, Via sekarang menemui seorang ahli bedah. Pria itu adalah seorang dokter yang sangat ahli, Via tahu bahwa dokter itu adalah sahabat Dion, jadi ia tenang sekarang. Tak lama, ia bangun untuk membeli beberapa minuman dan makanan ringan, sebelum ia pergi ia juga berkata kepada Dion. "Aku pergi beli air minum dulu, jika ada hal lain, telepon aku," ucap Via. Setelah mengatakan itu, ia pergi, mereka tidak mengerti apa yang ia lakukan sekarang, mereka heran dengan kepribadiannya, ketika ia makan dan minum dengan santai saat Evans dan Harry tengah berbaring di meja operasi. Dalam hati mereka merasa kesal, sangat marah, dan tidak menyukai tingkah Via saat ini. Waktu pun berlalu, pintu ruang operasi terbuka, Andreas dengan cepat bertanya. "Dokter Alex, bagaimana keadaan Evans dan Harry?" tanya Andreas. "Peluru tidak mengenai daerah berbahaya, mereka juga tidak kehilangan terlalu banyak darah, jadi mereka berdua baik-baik saja," jawab Alex sambil tersenyum. Semua orang menghela napas lega, anak buah Dion terkejut mengingat kata-katanya Dokter Alex barusan. "Super sekali, seperti kata-kata Nona tadi," batin Andreas. Andreas mengetahui bahwa Via adalah seorang dokter yang hebat. Karena mengetahui situasi Evans dan Harry akan baik-baik saja, Via tadi pergi membeli makanan sebentar, lalu kembali dan segera masuk ke ruang rawat inap rumah sakit tersebut, ia meletakkan kantong buah di atas meja dan berpesan kepada Andreas. "Sekitar dua jam lagi mereka akan sadar. Ketika mereka bangun dan jangan lupa memotong buah untuk dimakan oleh mereka, aku harus tidur sebentar." Begitu Via selesai berbicara, ia berbaring di sofa dengan mata tertutup untuk tidur. Alex memperhatikan wanita itu sambil mengerutkan alisnya, Via benar-benar menganggapnya santai, dan ketika ia berbicara tidak dapat disanggah sama sekali. Alex menyipitkan matanya menatap ke arah Via, ia berbalik badan dan bertanya pada Andreas. "Siapa perempuan ini?" Andreas menjawab dengan suara cukup rendah agar Via tidak mendengar. "Dia adalah pacar dari Tuan Dion, namanya Vialetta." "Vialetta? Dia Dokter Vialetta?" Alex mengerutkan kening, ia mengulangi namanya untuk memastikan. Andreas mengangguk. “Apakah kamu juga tahu itu?” tanya Andreas. Alex dengan ringan mengangguk. “Tentu saja! Dia dikenal sebagai dokter yang aneh tapi sangat berbakat, di dunia kedokteran tidak ada yang tidak mengenal namanya," jawab Alex. Andreas tertawa pelan, ia berbisik pada Alex. "Satu hal lagi, dia juga ratu dunia balap," bisik Andreas. Alex menatapnya bingung. Saat Dion memasuki ruangan itu mereka berbalik badan, mereka menyapa dengan senyum lembut saat melihat Dion datang. Alex melihat Via dengan sebelah mata, kemudian ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Di hati Alex, ia sangat tidak menyukainya sama sekali. Ia hanya sedikit bersimpati agar tidak terlalu tegang, padahal sebenar ia menganggap Via bukan siapa-siapa. Alex sangat berharap Grace segera kembali ke sisi Dion agar menuju sebuah pernikahan. Dua jam berlalu, memang saat itu Via berkata bahwa mereka berdua akan sadar kembali, Andreas memandang Evans dan Harry yang sudah siuman. "Saya kira kalian akan mati," ucapnya terlalu senang. Evans dan Harry tertawa mendengarnya. Evans memandang ke arah Alex dan tersenyum ringan. "Lama tidak bertemu," ucap Evans. "Iya, sudah lama kita tidak bertemu, tetapi saya tidak akan pergi lagi kali ini," jawab Alex sambil tersenyum tipis. Harry menyunggingkan sedikit senyuman di bibirnya kemudian mengangguk pada Alex. Di ruangan lain, tiba-tiba telepon milik Via berdering, ia membuka matanya kaget, ia melihat nama di layar. Dengan cepat ia melompat dan berjalan keluar dengan cepat. Di luar, ia menjawab panggilan video dari seorang pria tampan bermata biru, dan dengan ketampanannya pria itu muncul dalam layar ponselnya. Via tertawa melihatnya. "Hai, Vincent!" Via melambaikan tangan. "Via, Angel bersamamu, kan?" tanya Vincent dengan wajah serius. Melihat wajah merahnya yang serius, Via agak takut, dari kecil hingga saat ini pria itu jarang menunjukkan wajah serius sehingga membuatnya takut, apa yang terjadi dengan orang bermata biru itu. "Saat ini dia bersama Manda, saya punya sedikit pekerjaan jadi saya saat ini di Selandia Baru," jawab Via juga dengan serius. "Tolong telepon Angel, beritahu dia bahwa Lianna akan datang ke Kota Z dan katakan padanya untuk berhati-hati, aku meneleponnya sepanjang hari, bahkan Manda juga, mereka tidak mengangkat teleponku, jadi aku memanggilmu," ucap Vincent. Via tersenyum dan mengangguk, diam-diam di dalam hatinya menyalahkan Angel dan Manda, mengapa mereka tidak mengangkat teleponnya, dan membuat kesal Vincent karena panggilan yang juga tak terjawab. "Apakah kamu sering mengobrol dengan mereka?" tanya Via. "Hanya ada beberapa kali, tapi tidak terlalu sering dengan Angel. Oh ya, kudengar kamu punya pacar yang begitu bermasalah, tunjukkan saja padanya ekspresi wajahmu ketika makan, aku tidak tahu bagaimana ekspresi pria itu melihatmu," ucap Vincent. Mengacu pada Dion membuat Via tersenyum kemudian mengangguk. "Oke," ucap Via. Begitu Via selesai berbicara dengan Vincent, Via terus menelepon Angel, ia ingin berbicara dulu padanya. "Apa yang kalian berdua lakukan di sana? Vincent menelepon tidak ada yang menjawab? Dia baru saja meneleponku di sini," ucap Via. Angel memeriksa ponselnya, ia terkekeh. "Aku barusan mengisi baterai dan harus di-charge di kamar jadi aku tidak mendengarnya, ada apa dengan saudaraku itu?" Angel menanyakan tentang Vincent. "Katanya Lianna akan pergi ke Kota Z," jawab Via.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN