CHAPTER 17

1185 Kata
Salah satu bawahannya Dion menemukannya sedang berbicara dengan Angel dan ia segera pergi ke kamar rumah sakit. Andreas masuk dan menemukan bosnya sedang berbaring di sofa, ia berjalan pelan mendekati Dion. "Tuan, Nona sedang berbicara dengan seseorang," lapor Andreas. "Apakah itu pria atau wanita?" tanya Dion. “Dia seorang gadis,” jawab Andreas. Dion tidak berkata lagi dan ia menutup matanya kembali. Di luar Via dan Clara masih bercerita dengan bahagia. "Via, aku merawat dan menjaga keluargaku berkali-kali dari saudara perempuanku Lianna, kamu tahu sekarang aku harus berpura-pura jadi saudara perempuannya Vincent," ucap Angel sambil tertawa. Via tertawa mendengarnya. "Ayolah, Nona Ketua Tim tidak ingin menjadi seorang putri, tidak apa-apa nanti kalian berteman hari pertama perburuan," canda Via. "Aku adalah bos, tidak ada yang berani mengikutiku, siapa yang berani mengejar aku?" ucap Angel. "Baiklah kalau begitu aku harus menutup telepon," ucap Via kemudian menutup teleponnya. Dion melihat kekasihnya masuk, dengan dingin ia bertanya. "Siapa yang meneleponmu barusan?" tanya Dion. Via berbalik ke kursinya, ia menyilangkan kaki dan memandang Dion. "Bukankah bawahan Anda sebelumnya datang untuk melapor kepada Anda? Mengapa Anda berpura-pura bertanya?" jawab Via. Harry menatapnya dengan mata lebar. "Apakah Nona bisa membedakan baunya?" tanya Harry. Via memandang semua orang di sana. "Termasuk saya, ada dua belas bau orang di ruangan ini yang bisa saya hirup. Tapi saya tidak tahu bau siapa saja, membuatku bingung," jawab Via. Via tiba-tiba tampak memikirkam sesuatu, ia menoleh ke arah Dion. "Dua, bau orang yang ingin membunuhmu. Ketika kamu pergi untuk menanyainya, ingatlah untuk mengajakku datang juga, aku ada cara untuk membuat mereka segera mengaku, kamu tidak boleh mengintimidasi mereka, mereka tidak takut untuk kehilangan nyawa mereka," ucap Via. Dion menyeringai kemudian mendekat ke lehernya Via. "Oke besok pagi. Aku akan membawamu ke sana," bisik Dion. Harry dan Evans tidak ingin tinggal lagi di rumah sakit, jadi keesokan paginya, dua orang itu dikeluarkan dari rumah sakit. Mereka berdua mengikuti Dion dan Via menangkap buruan mereka dan datang ke sebuah markas dengan memborgol dua pelayan palsu itu. Via berdiri di samping kedua orang itu. "Siapa orang di belakang kalian?" tanya Via. Dua orang itu tetap diam sambil memelototi diriya. Via menyeringai dengan tawa anehnya, ia mengangkat tangannya dan melambai, Harry dan Andreas dengan di tangan mereka sedang memegang spuit datang untuk menyuntikkan sesuatu ke tubuh dua orang itu. Via duduk di hadapan mereka. "Kenapa? Apakah kamu merasa ada sesuatu yang merangkak di jantungmu? Seluruh tubuhmu merasa tidak nyaman? Sakit?" tanya Via sambil menyeringai. Kedua pelayan itu merasa kesakitan, Via bertanya dengan dingin sekali lagi. "Jika kamu mau bicara, aku akan memberimu penawarnya," tawar Via. Keduanya mengangguk, salah satunya mencoba dengan paksa mengaku. "Orang yang ingin kami bunuh bukanlah Dion tapi kamu." Dion, Via dan orang-orang di sana sangat terkejut. Orang itu, mengatakan kata demi kata. "Cabrera … Wilson …." DOR! DOR! Dua peluru ditembakkan langsung ke kepala mereka berdua, sehingga menyebabkan mereka mati seketika—di mana mata mereka masih terbuka lebar. Andreas melihat seseorang melarikan diri, tadinya orang itu masih bersembunyi dalam markas tanpa sepengetahuan Dion dan yang lainnya. Andreas dan bawahannya mengejar orang itu. Setelah beberapa saat, mereka kembali, Andreas memasuki ruangan untuk menemui Dion. Dion sedang duduk di kursi, Andreas melapor kepada pria itu. "Tuan, dia melarikan diri, dia tidak bisa ditangkap oleh para bawahan." Dion tidak mengatakan apa pun kepada mereka dan ia malah pergi menghampiri Via. "Siapa Cabrera Wilson? Mengapa dia ingin membunuhmu?" tanya Dion. Via mengingat siapa orang itu, tetapi ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Via menggelengkan kepalanya dan berpura-pura tidak tahu. "Aku tidak tahu, aku tidak tahu mengapa mereka ingin membunuhku," ucap Via berbohong. Dion ragu dengan ucapan kekasihnya. Ia menyipitkan matanya lagi. "Benarkah?" tanya Dion. Via menganggukkan kepala. Sorot pandangan Via sangat dapat diandalkan, Via melihat bahwa Dion untuk sementara mempercayainya. Pada siang hari, Dion membawa pacarnya ke restoran untuk membiarkannya memesan makanan dengan nyaman. Kedua sejoli itu sedang makan, tiba-tiba Andreas masuk dan menatap mereka dengan tatapan sangat serius. "Tuan, tadi malam, semua anggota keluarga kekasihmu terbunuh semua. Ketiganya meninggal karena ditusuk," lapor Andreas. Dion mengerutkan kening, lalu menoleh ke arah Via yang sedang melahap makanan itu. Via juga mendengar Andreas mengatakan itu, lantas ia menghentikan gerakannya, dan tidak mengatakan apa-apa. Andreas, Evans, Harry, dan Alex juga melirik ekspresinya, Via menatap mereka dengan dingin, dan secara tidak sengaja mengatakannya dengan jujur. "Saya dan mereka sudah lama tidak ada hubungan sama sekali. Saya tidak pernah bilang mereka keluarga saya. Saya mendengar itu juga merasa mengerikan. Bagaimana mereka mati? Siapa yang membunuh mereka? Ini tidak ada hubungannya dengan saya, untung juga mereka mati di tangan orang lain, jika jatuh ke tangan saya, mereka tidak akan mati dengan begitu lembutnya." Via berdiri dengan meletakkan garpu dan sendoknya. "Aku tidak lagi tertarik makan karena itu membuatku kehilangan selera." Dion membawa Via bersamanya, Andreas yang mengemudikan mobil untuk pergi ke suatu tempat. Sedangkan Evans mengemudikan mobil yang di dalamnya ada Harry dan Alex. Via tidak tahu akan pergi ke mana, hanya saja mobil melaju semakin jauh. Mobil berhenti di sebuah vila yang dikelilingi oleh pepohonan, Harry dan Alex turun untuk membuka gerbang mansion, dan saat memasukinya hidung Via mencium bau begitu banyak orang. Via dengan wajah yang tidak sedap dipandang mengambil topeng hitam dari sakunya dan menutupi hidungnya, ia mengerutkan kening, ia meringis dan merasa kesal. "Tempat apa ini, banyak bau darah?" tanya Via kesal. Alex dengan wajah dingin, ia menoleh ke arah Via. "Diam, tidak usah banyak tanya," ucap Alex. Via marah dan memelototi Alex. "Beraninya kamu menyuruhku diam? Berani-beraninya kamu bilang aku banyak tanya? Sudah kubilang kalau di sini ada bau darah, amis, dan bau mayat yang sudah lama sekali. Saya hanya kesal karena baunya, saya juga tidak bertanya kepadamu," ucap Via. "Tuan, ini adalah rumah Pauls Steven. Sebelumnya, mereka membunuh orang dan mencuri barang. Tuan juga bahkan belum menggunakannya, tetapi sekarang mereka berani mencuri barang-barangmu. Apa Tuan mau mengambil barang curian itu?" ucap Harry. Dion tidak berkata apa-apa, dengan dingin ia melangkah ke dalam, semua orang juga mengikutinya. "Nona, topeng itu berasal dari mana?" tanya Harry penasaran saat melihat Via sudah mengenakan topeng. "Aku selalu membawa topeng bersamaku, kamu sendiri tahu kalau hidungku istimewa," bisik Via. Harry sedikit mengangguk mengerti. Mereka berhati-hati perlahan masuk jauh ke dalam. Tiba-tiba, sosok muncul yang dengan cepat menyerang Via, gadis itu dengan cepat menghindar dan melawan. Orang itu berjaket hitam, memakai topi dan ia tampak mengenali serangan gadis bertopeng itu lantas orang itu menggenggam tangan Via. "Via! Via! Ini Alice," ucap gadis itu. Via kaget dan menghentikan gerakannya, Alice melepas jaket dan topinya. Saat Via melihat bahwa ia benar Alice, ia memeluknya dengan gembira. "Ternyata kamu," ucap Via. Dion mengerutkan kening, matanya menatap tajam ke arah Alice dan Harry juga menatap Alice tanpa mengedipkan matanya. "Kamu kenal siapa dia?" tanya Dion dengan dingin. Via dengan senang hati memperkenalkan temannya. "Namanya Alice, seorang petugas kepolisian," ucap Via. "Alice, mengapa kamu di sini?" tanya Via kepada wanita itu. "Saya datang ke sini untuk menyelidiki kasus tuduhan Pauls Steven. Mereka telah membunuh banyak orang di sini. Mengimpor barang ilegal dan semua tindak kejahatan mereka," jawab Alice tanpa ragu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN