"Via, aku mau meminta bantuanmu," ucap Alice sambil meraih tangan Via.
"Apa?" tanya Via.
"Di sini penuh dengan kamera CCTV. Tapi pintunya menggunakan kata sandi, rekan satu tim saya dan saya tidak mengerti teknologi jadi saya terjebak di sini selama beberapa jam," jelas Alice. Via tersenyum, ia memahami arti maksud temannya.
"Saya paham, tapi ada orang yang ahli komputer di sini," ucap Via.
"Ahli komputer? Ada orang yang lebih mengerti teknologi daripada kamu?" tanya Alice bingung. Via mengangkat alisnya menatap pada Alex.
"Ayo masuk, mari yang lain tunggu di dalam. Alex! Ini tugas khusus untuk ahli komputer seperti dirimu," ucap Via. Dion dan anak buahnya terus masuk ke dalam. Alex melotot pada Via, gadis itu menyeringai.
"s**l! Mengapa harus aku. Kali ini aku benar-benar kehilangan muka," batin Alex kesal.
Via dan Alex mengikuti Alice dari belakang, di mana banyak orang muncul dengan memegang s*****a ke arah mereka.
"Ini adalah orang-orang kita, mereka kenalan saya," ucap Alice. Mereka mendengar Alice mengatakan itu, mereka segera meletakkan pistol kembali.
Alice memandang Alex, Alex mengerti apa yang mereka maksud, ia mengeluarkan laptop untuk meretas kata sandi pada sebuah pintu untuk memasuki ruangan rahasia milik Pauls Steven. Mereka mencoba menghindari bidikan dari banyak kamera CCTV di sana. Ia masih saja mencoba memasukkan kata sandi untuk membuka pintu itu.
Setengah jam berlalu dan Alex masih tidak bisa berbuat apa-apa, Via tersenyum mengejek. Alice tahu Via bisa melakukannya.
"Hei …. Bisakah kamu melakukannya? Ini sudah setengah jam, jika kamu tidak bisa, kamu pergi saja dan biarkan Sister Via yang melakukannya," ucap Alice, lantas Alex berdiri.
“Oke. Dia saja yang melakukannya,” jawab Alex.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya," ucap Via. Tampak jari Via menari di atas keyboard itu, dalam waktu kurang dari empat menit, pintu sudah tidak terkunci—membuat Alex dan Andreas serta bawahannya terkejut, takjub, tak menyangka.
Semua orang mulai menarik s*****a mereka, dan dengan hati-hati mereka memasuki ruang rahasia. Pauls Steven dan bawahannya terkejut melihat Via dan semua orang masuk.
"Ba-bagaimana kalian bisa masuk ke sini?" tanya Pauls Steven terbata-bata dengan gemetar.
"Bagaimana mungkin teknologi jagung milik Anda bisa menghentikan kami," ejek Via sambil melirik Alex. Alex merasa marah, ia tahu bahwa jelas-jelas Via ingin mempermalukannya, menyebabkan ia kehilangan muka.
"Pauls Steven! Anda bangga, dari dulu dan sekarang juga masih berani mencuri barang-barangku?" ucap Dion dengan sorot mata tajam.
Pauls Steven tersipu, tetapi masih mencoba untuk tertawa dan menyembunyikan ketakutannya yang ekstrem.
"s****n!" batin Pauls Steven.
Pauls Steven melambaikan tangannya, bawahannya segera mengerti bahwa mereka bergegas untuk menyuntikkan obat ke tubuh orang mati yang terbaring di ranjang-ranjang itu dan segera saja mayat-mayat itu membuka mata lebar-lebar, kemudian turun dari tempat tidur. Melihat itu Alice terkejut dan sedikit takut.
"Mereka jelas sudah mati? Mengapa mereka tiba-tiba hidup kembali?" ucap Alice.
Mayat-mayat itu bergegas mendekat ke semua orang di sana. Dion dan bawahannya serta semua polisi melepaskan tembakan dan menembak berkali-kali tetapi tetap tidak berhasil membidik mereka. Pauls Steven tersenyum kecut dan menjijikkan.
Dion melemparkan satu pistol ke arah Via, Via dengan cepat mendekat ke arah pistol, Via terkejut ketika Pauls Steven terburu-buru mengambil pistol itu dan menembak Dion dengan cepat. Dion tampak menunjukkan raut muka yang mengkhawatirkan. Gadis itu segera mengerti. Dion menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja," ucap Dion.
Andreas dan polisi melawan dengan berkelahi terhadap mayat-mayat itu. Mayat itu terlalu kuat untuk menahan pukulan dan tendangan dari mereka. Via melihat mayat mendekat untuk menyerangnya, Via dengan cepat menggapai tangan mayat itu, ia menggunakan seluruh kekuatannya untuk melemparkannya ke samping. Tubuh mayat itu terpental menempel ke dinding seperti boneka dan tidak bisa bergerak lagi.
"Barang palsu mana ada yang lebih hebat dibandingkan dengan yang asli, coba kita lihat seberapa kuat energi mereka," ucap Via menatap jijik ke arah mayat-mayat hidup itu.
Via benar-benar marah, ia dengan agresifnya menyerang mayat lainnya, dengan satu tangan ia mengangkat satu mayat kemudian ia lempar dengan keras, ia tumpuk di atas mayat yang lain, hingga lima mayat saling bertumpuk di lantai.
"Biar saya tunjukkan apa itu kekuatan!" teriak Via dengan keras.
Via melempar dua mayat sekaligus ke jendela, karena kekuatannya jendela kaca yang kuat itu pecah, dua mayat berjalan tadi jatuh ke bawah. Dengan sangat cepat Via selesai membuang mayat itu. Melihat itu Pauls Steven menjadi pucat, ia berlutut dan menggenggam tangannya.
"Maafkan aku, jangan bunuh aku, aku mohon," ucap Pauls Steven memohon. Via duduk di kursi sambil menyeringai.
“Saya pasti tidak akan membunuhmu, polisi telah datang ke sini, saya harus menyerahkan kalian ke polisi untuk menanganinya. Anda tidak bisa lari begitu saja."
Via mengeluarkan pisau yang berukuran sangat kecil, kemudian melepaskan mantelnya, ia secara tidak sengaja menggores betis Pauls Steven, bahkan tidak berdarah sedikit pun. Kemudian Via berdiri dan mendekat ke arah Dion dan Andreas.
"Kamu dengan yang lain tinggal di sini untuk mencari barang yang ia curi. Aku, Alex, dan Harry pergi ke rumah sakit sekarang juga, Dion terkena peluru, darahnya tidak bisa berhenti," perintah Via. Andreas mengangguk. Sedangkan polisi membawa Pauls Steven pergi.
Dion dibawa pergi dengan cepat ke rumah sakit terdekat, wajah Dion memucat dan kondisinya mengkhawatirkan. Di rumah sakit, Alex yang melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru dari tubuh Dion.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, Evans dan Andreas segera pergi ke rumah sakit. Setelah menjalani operasi, Dion dipindahkan ke kamar VIP rumah sakit. Alex menatap Via dengan mata penuh amarah, suaranya tidak keras tapi penuh dengan kemarahan.
"Saya bertanya padamu, kenapa Anda mempermalukan saya saat di mansion Pauls Steven?” bisik Alex. Via menyeringai tanpa menatap ke arah Alex.
"Ya, bagaimana dengan Anda yang membentakku di depan semua orang. Selain itu, siapa yang tak mengenal seseorang yang dikenal oleh semua orang? Dan tidak semua orang terkenal mengerti tentang teknologi informasi seperti saya," ucap Via dengan jelas. Mulut Alex menegang dan tidak bisa mengatakan apa-apa, ia hanya melotot menatap Via.
Dion membuka matanya, ia siuman, Andreas yang melihat bahwa Dion sudah bangun, ia mengerutkan kening senang.
"Tuan sudah terbangun?" ucap Andreas. Dion tidak menanggapinya, ia malah bertanya tentang hal lain.
"Apakah kiriman sudah diproses dan sudah dikirim?" tanya Dion. Andreas mengangguk.
"Iya. Itu kulit," jawab Andreas.
Keesokan paginya.
TOK … TOK … TOK ….
Semua orang melihat ke arah pintu secara bersamaan, karena di luar penuh dengan penjagaan ketat sehingga orang lain tidak bisa masuk sembarangan. Harry membuka pintu dan ia melihat Alice yang datang dengan membawa sekeranjang buah, kemudian Harry masuk kembali, Harry mendekat ke arah Dion. Dion memperhatikannya dan sedikit mengangguk. Harry kembali membuka pintu untuk mengundangnya masuk. Alice dengan wajah yang berseri-seri, menyapanya lalu dengan lembut melambai ke arah Via. Kemudian Alice berdiri dengan tegap, ia tersenyum ke arah Dion.
"Hari ini, saya mewakili semua orang dari kantor polisi datang di sini untuk mengucapkan terima kasih, Anda sudah membantu kami menangkap Pauls Steven," ucap Alice dengan hormat.
"Itu hanya kebetulan," jawab Dion dengan dingin. Alice mengeluarkan botol kaca kecil dari tasnya dan memberikannya kepada Via.
"Ini adalah botol percobaan di tempat Pauls Steven. Karena saya tahu Anda sangat tertarik dengan eksperimen seperti ini pada saat itu," ucap Alice. Via tersenyum penuh kasih pada temannya ini.
"Kamu memang sangat mengerti aku, teman terbaikku," puji Via sambil mencubit pipi saudarinya itu. Alice menatap temannya lalu menjelaskannya kepada semua orang di sana.
"Racikan ini memiliki sesuatu yang dapat merangsang otak untuk meningkatkan kekuatan seseorang, terutama yang sudah mati, dan hanya bekerja selama satu jam, setelah satu jam tubuh mereka akan menjadi lebih kuat lagi," jelas Alice.