Via melihat botol di tangannya, matanya sangat bersemangat.
"Setelah mendengar penjelasan Anda membuat saya semakin bersemangat, saya harus meneliti obat apa ini?" ucap Via. Tiba-tiba telepon milik Via berdering, suara maskulin yang terdengar dari ujung sana membuatnya terkejut.
"Via, kamu ada di rumah sakit, bukan?” tanya Vincent.
"Keluar dulu, aku ada di halaman rumah sakit," ucap Vincent lagi. Via belum menjawab, pria itu terus berbicara.
"Kamu keluarlah, sekarang," ucap Vincent lagi. Via menutup teleponnya.
"Aku keluar sebentar," ucap Via kepada semua orang yang berada dalam ruangan itu. Kemudian Via berjalan cepat keluar ruangan, ia mengikuti instruksi Vincent.
***
"Kamu adalah orang yang paling tahu tentang dia?" tanya Dion kepada Alice. Polisi itu mengangguk pelan.
"Bisa dibilang begitu karena selain aku, ada Manda dan Angel yang paham tentang dia," jawab Alice.
"Oke. Lalu aku bertanya padamu. Apa yang paling Anda sukai dari dia?" tanya Dion dengan dingin.
Andreas yang mendengar Dion bertanya seperti itu terkejut karena sekarang mereka belum pernah mendengar ia menanyakan hal seperti itu. Alice tiba-tiba tertawa.
"Aku menyukai dia karena dia pelit," jawab Alice. Evans terkejut karena saat melihat ia berkencan dengan Dion, gadis itu juga menggunakan banyak barang-barang mewah.
"Pelit?" tanya Evans bingung.
"Apakah ia menumpuk uang?" tanya Harry kepada Alice.
"Kenapa tidak? Dia terlihat seperti itu di luar, tapi sebenarnya orang yang sangat pelit dan sangat hemat," jelas Alice. Tanda tanya di benak semua orang bahkan lebih besar, tidak percaya bahwa Via adalah orang yang pelit. Harry mengerutkan kening, dengan tidak percaya ia masih bertanya-tanya.
"Tidak mungkin! Dia tidak bisa dikatakan orang pelit yang super hemat. Pakaian, tas, sepatunya semuanya bermerek, juga memiliki sederet mobil super model terbatas," ucap Harry. Alice tertawa keras, karena tertawa sampai sakit di perutnya. Dion mengerutkan kening, sehingga Alice coba untuk menahan tawanya.
"Ada baju, sepatu dan tas, tapi sangat sedikit, itu Manda dan Angel yang membelikannya dan mobil super itu karena dia memenangkan perlombaan, tidak ada yang dia beli. Hobinya mencuri baju Manda," ucap Alice sambil tertawa.
Andreas, Evans, Alex, dan Harry masih bingung dan tidak percaya, Dion menertawakan itu, Alice pun tertawa.
"Tanpa diduga dia seperti itu," ucap Dion sambil tersenyum kembali pada Alice.
"Jadi untuk apa kekayaannya digunakan?" tanya Dion penasaran. Harry juga mempertanyakan itu, ia mengalihkan pandangannya lagi ke arah Alice. Alice berhenti tertawa dan mengatakan kepada mereka agar semua orang tahu.
"Dia gunakan untuk makan dan minum," ucap Alice. Dion dan lainnya mengakui sepenuhnya dan percaya akan hal ini yang mengatakan siapa pun menggunakan semua kekayaan mereka untuk makan dan minum.
Di luar, Via memberikan kepada Vincent botol percobaan.
"Aku memintamu memberikan ini pada Manda dan memintanya untuk membawanya ke lab untukku, tapi jangan sampai itu tumpah, kalau tidak, kamu harus bertanggung jawab," ucap Via. Vincent mengangguk, ia menggenggamnya dengan hati-hati.
"Saya tahu apa yang saya lakukan. Saya akan hati-hati, tidak ada yang tahu apakah eksperimen kamu nanti adalah hal-hal yang memanjakan orang lain dengan percobaan mengerikan," ucap Vincent.
"Pertama, ingat, perhatikan, hati-hati," ucap Via.
"Aku juga akan berhati-hati," ucap Vincent. Via mengangguk dan melangkah masuk, Vincent pergi tak lama setelah itu.
Via berjalan kembali ke kamar rumah sakit, ia melangkah ke arah Alice.
"Siapa yang mencarimu?" ucap Alice.
"Entahlah, dia ingin hidup atau mati? Haiss … aku pikir dia datang ke sini mengunjungiku karena takut terjadi apa-apa denganku. Ternyata datang ke sini untuk pamit dan bersiap untuk terbang ke Kota Z untuk mengunjungi Angel," ucap Via kesal.
Alice terkekeh, tatapannya berubah menjadi licik dan kemudian mengeluarkan ular-ularan dan melemparkannya ke depan Harry. Via melihat itu langsung berteriak.
"AH …. ALICE! Apa itu?" teriak Via. Kemudian berlari ke belakang Harry tetapi kemudian Harry pergi.
Setelah itu Via berlari ke belakang Andreas dan bersembunyi di belakang pria itu, tetapi Andreas juga pergi. Bahkan orang yang tidak disukainya adalah Alex—Via juga berlari bersembunyi di belakang pria itu, ia juga kabur meninggalkannya. Sekarang tidak ada yang tersisa lagi, mereka pergi, Via berlari untuk meminta bantuan kepada Dion dan menyeretnya untuk berdiri sampai Via mengangkat kaki Dion, lantas Dion berdiri dari tempat tidur. Dion tertawa, ia menoleh ke belakang.
"Hei, aku masih jadi pasien tahu, lukaku belum sembuh," ucapnya kepada Via. Via tetap bersembunyi di belakang tempat tidur kekasihnya, ia panik melihat ular palsu.
"Apakah kamu seorang dokter? Apa pun yang kamu perlakukan terhadapku, aku tidak akan mati. Sekarang aku hanya perlu membantumu dengan memberitahu Alice untuk membawa ular palsu itu pergi," suara itu yang keluar dari ular-ularan itu. Dion tertawa, melihat wajah imut Via saat ketakutan.
"Itu hanya ular palsu, ternyata ada orang yang takut pada ular palsu," ledek Dion. Via jongkok mendekat ke ular palsu itu untuk memperhatikannya.
"Oh my Lord, ini benar-benar ular palsu," ucap Via. Tampak raut wajah Andreas tidak bisa menahan tawa, ia tertawa sampai mengeluarkan air mata. Alice terus menggodanya seperti itu, ia tertawa.
"Aku berhenti, aku akan memasukkannya," ucap Alice. Via mengintip dari belakang Dion untuk memastikan bahwa Alice telah mengambil ular itu, sekarang Via terlihat seperti anak kecil. Dion kembali ke tempat tidur, pacarnya itu juga buru-buru mengikutinya dan tidur di samping Dion, tangannya masih memegang lengan baju Dion.
"Aku harus pergi. Bye bye my sister," ucap Alice sambil tersenyum. Via melambaikan tangannya untuk mengusir temannya.
"Pergilah," ucap Via. Dion tertawa sambil menggerakkan bahunya. Ketika Via menyadari bahu Dion yang sedikit bergerak, lantas Via segera berdiri dan merasa sedikit kehilangan muka, ia merasa malu akan tingkahnya.
***
Pada malam hari, Kota Z, dalam sebuah bar. Angel pergi minum sendirian, ia bersenang-senang minum sampai ia sangat mabuk. Ia merasa mual dan ingin muntah. Angel dengan cepat berlari ke toilet tapi ia menabrak Deddy. Pria itu mengerutkan kening kesal saat melihat ke depannya.
UWEK ….
Angel muntah terkena tepat di tubuh Deddy, membuatnya diam mematung, ia marah dan berteriak.
"Kenapa kamu memuntahkannya kepadaku!" Begitu pria itu selesai berbicara, Deddy berjalan dengan cepat ke toilet, ia melepas dan membuang mantel dan kemejanya ke tempat sampah. Marcel—asisten pribadinya, dengan cepat membawa kemeja baru untuknya.
Di luar, keempat penjaga melihat Angel ditangkap dan dengan cepat mereka muncul dan memukuli orang-orang yang menangkap Angel tadi, kemudian mereka membawa Angel kembali ke mansion.
Setelah berganti pakaian, Deddy melangkah keluar dan menemukan bahwa pengawalnya sedang kesakitan dan terbaring di tanah, dan gadis pemberani itu melarikan diri. Kemarahannya semakin meningkat, ia berteriak.
"Kalian tidak berguna! Seorang gadis bahkan tidak bisa kalian kalahkan seperti ini. Cepat bangun, saya akan kembali!" teriaknya, kemudian berpaling untuk menatap Marcel.
"Selidiki gadis itu untukku!" perintahnya. Marcel tampak panik, ia belum pernah melihatnya begitu marah, Marcel dengan cepat membungkuk hormat kemudian pergi.
Manda baru saja menyelesaikan pekerjaannya, ia merasa lelah setelah pulang bekerja dan kemudian duduk di kursi, ia menutup mata untuk beristirahat sebentar. Pengawal membawa Angel kembali ke Gedung Merpati Putih, empat pengawal itu membawa temannya yang sedang mabuk, setelah melihatnya dengan cepat ia berjalan untuk membantunya.
"Ya Tuhan," ucap Manda ketika melihat gadis itu mabuk berat. Manda membawanya naik ke tempat tidur, kemudian ia melepaskan sepatu temannya.