CHAPTER 1

1251 Kata
Kota Z adalah kota paling makmur terbesar di negara ini, pada malam hari gedung-gedung tinggi, seluruh kota dibanjiri dengan lampu-lampu terang, orang-orang yang lewat berkerumun. Tampak seorang gadis mengenakan kemeja putih sederhana dalam kombinasi dengan celana panjang hitam dengan sepatu hitam yang haknya tinggi dengan rambut diikat tinggi, memperlihatkan wajah putihnya—penampilannya menonjol membuatnya tampak seperti lukisan salju yang halus. Ia melewati g**g gelap, saat ia lewat, ia mencium bau darah yang keluar dari gudang penyimpanan bir, hidungnya sangat sensitif bahkan ia bisa menciumnya dari jauh. Ia melangkah ke dalam gudang yang suram itu, bau darah semakin menyengat, dan sekilas sosok manusia tergeletak di atas tanah. Gadis itu datang menghampiri dan melihat bahwa ada orang yang tergeletak di tanah. Seorang pria berlumuran darah, pria itu bisa melihat sayup-sayup seseorang di depannya—berwajah oval, kulitnya putih, alisnya tebal, bulu matanya panjang dan sangat lentik. Berbicara tentang kecantikannya adalah gambaran yang indah dari Tuhan. Ia duduk dan mengguncang tubuh pria itu dengan lembut, pria itu sedikit bereaksi, matanya sedikit terbuka, pandangannya yang mulai kabur, ia menatap seorang gadis yang sangat cantik di hadapannya. Ia tampak menggerakkan bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu, dan kemudian ia tak sadarkan diri. "Hei! Apa Anda baik-baik saja, Hei, bangunlah!" ucap gadis itu sambil mengguncang tubuhnya pelan. Ia memperhatikan dengan seksama—ia melihat bahwa pria itu memiliki banyak luka tembakan di tubuhnya. Ia mencoba membangunkannya tetapi hasilnya nihil, karena rumah sakit itu sangat dekat sehingga ia segera pergi membawa pria itu ke rumah sakit. Gadis itu juga memiliki nilai yang sangat berbeda dari wanita normal lainnya—bahwa ia sangat kuat, ia bisa makan sangat banyak. Hidangan penuh untuk tiga meja makan dan ia bisa memakan semuanya adalah pengalaman yang sangat biasa baginya. Di Rumah Sakit Health Central, seorang perawat bertanya kepada gadis itu mengenai apa yang bisa ia bantu, mendengar ucapan perawat itu, ia mengerutkan kening dan mengatakan kepada perawat. "Cepat, dia terluka karena tembakan!" ucap gadis itu. Perawat bergegas untuk menurunkannya. "Cepat bawa dia ke IGD, dia terkena peluru,” ucap gadis itu yang merupakan salah seorang dokter yang juga bekerja di rumah sakit tersebut. Para perawat dengan cepat mendorongnya ke ruang IGD, setelah itu langsung dibawa ke ruang operasi untuk menjalani operasi. "Persiapkan ruang operasi sekarang, saya harus mengoperasinya segara." Selama beberapa jam terakhir, ia dengan hati-hati dan dengan cermat mengambil setiap peluru yang ada dalam tubuh pria itu, ia terkena total empat peluru. Setelah operasi berakhir, pria itu dirawat di ruang ICU. Gadis itu kembali ke ruangannya dan menjatuhkan dirinya ke sofa. Telepon berdering dalam sakunya, ia mengeluarkan telepon yang berdering itu. Telepon itu milik pria tadi. "Andreas?" ia membaca nama yang tertera pada layar telepon itu. Ia menjawab dan mendengarkannya, sebelum ia bisa mengatakan apa-apa, suara seorang pria yang terdengar khawatir dan cemas terus bertanya dalam telepon. "Tuan, apakah Anda baik-baik saja? Di mana Anda sekarang Tuan?" ucap orang yang menelepon. "Tuan? Apakah dia setua itu sampai dipanggil Tuan?" ia berkata dalam hati. "Ayahmu ada di rumah sakit, dia terkena tembakan," jawab gadis itu. Mendengar ucapan itu, Andreas mengerutkan dahinya, "suara wanita?" batinnya. Namun, ia tidak peduli sekarang, karena yang paling penting adalah Tuan-nya. "Rumah sakit mana?" tanyanya dengan ketus. "Rumah Sakit Health Central," Via juga menjawab dengan singkat dan ketus kemudian menutup teleponnya. Ia menyerahkan telepon milik pasien itu kepada perawat jaga. Andreas dengan cepat pergi ke rumah sakit bersama yang lain, sementara Via pulang karena rasa lelah yang dirasakannya, ia membutuhkan istirahat di rumah sederhananya dalam kota itu. Cukup nyaman, dalam rumah yang sangat bersih, ia masuk ke kamar untuk beristirahat alih-alih berbaring di tempat tidur. Di rumah sakit, semua dokter dan perawat yang berada di rumah sakit terkejut dan berbisik-bisik dengan munculnya banyak orang berkacamata hitam dan berwajah sangar. Namun, di tengah-tengah mereka, ada seorang pemuda berwajah masih seperti seorang pelajar, tampan tetapi dari tatapan matanya benar-benar dingin. Ia adalah Andreas, ia memelototi perawat di sana. "Orang yang baru saja tertembak, saat ini dirawat di mana?" tanyanya dengan tegas dan dingin. Perawat yang di sana ketakutan. "A-ada di ruang ICU di lantai tiga," jawab seorang perawat terbata. Mereka semua dengan cepat berjalan, setelah membuka pintu, mereka melihat pria itu dengan wajah pucat, berbaring di ranjang rumah sakit. Perawat melihat mereka sedikit ketakutan, kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya. “Apakah Anda anggota keluarga pasien ini?" tanya perawat, Andreas mengangguk. "Ini teleponnya." Kepala perawat menyerahkan telepon milik pasien itu kepada Andreas, ia tersenyum untuk menutupi ketakutannya. Andreas meraih telepon itu, perawat terburu-buru keluar dari ruangan, ia tidak bisa tinggal di dalamnya lebih lama lagi, itu sungguh menakutkan. *** Keesokan paginya, Dion Christ merasa seluruh tubuhnya sakit dan kaku. Ia mengangkat alisnya, melebarkan pandangan melihat sekelilingnya, ia teringat akan gadis tadi malam, Andreas melihat pria itu terbangun. "Tuan, Anda sudah bangun?" Andreas segera pergi memanggil dokter, dokter dengan cepat datang untuk memeriksanya—sudah lebih baik dan tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan. "Tidak ada yang terlalu membahayakan, Anda akan segera pulih," ucap dokter. Dokter itu memandangnya seolah-olah sedang mengamatinya. "Anak muda, Anda sangat beruntung," puji dokter itu. "Apa maksud Anda?" tanya Dion dengan dingin sambil mengerutkan dahinya. Dokter yang lain dengan jujur mengatakan kepadanya. "Anda terkena empat peluru. Ini langka, jujur ​​saja, bahkan saya dan dokter lain, meskipun saya berusaha sebaik mungkin, akan sulit menyelamatkan hidup Anda, tetapi Anda sangat beruntung bertemu dengan dr. Via," ucap dokter itu. Dion mendengarkan dengan seksama. "Anda mungkin tidak tahu bahwa dia adalah seorang gadis yang sangat muda dan sangat berbakat. Kami masih jauh di belakangnya, meskipun dia lebih muda dari kami. Dr. Via adalah dokter yang sangat aneh, dia tidak seperti dokter lain. Dia suka menyembuhkan, tetapi dia tidak mengharap imbalannya," lanjut dokter menceritakan sosok dr. Via. "Dr. Gilang yang juga tidak berani menangani orang dengan penyakit serius dan berbahaya, lantas dia mendatangi dr. Via dan meminta bantuan serta memberikan uang yang banyak. Dia tidak berkeberatan membantu tetapi dia menolak, kecuali jika dia tertarik dan bahkan jika dia tidak memilik uang sepeser pun, dia tidak akan menerimanya, itulah mengapa Anda sangat beruntung, sekarang seluruh orang di rumah sakit ini mengenal Anda." "Jadi di mana dia sekarang?" Dion menjadi lebih penasaran dan tertarik pada dokter Via ini. "Apakah Anda mencari saya?" Via masuk ke ruangan tempat Dion dirawat dan bersandar di dinding sambil menyilangkan tangan, ia menatap ke arah pasien itu. Dokter tadi tersenyum dan memandang Via, "Dokter Via telah datang dan saya akan undur diri." Setelah mengatakan itu, dokter itu pergi keluar ruangan. Via menatap Dion, ia mengamatinya dengan sorot mata yang tajam. Dengan penuh semangat pula muncul di matanya Dion. "Saya mendengar bahwa Anda adalah orang yang sangat ingin menyembuhkan seseorang, jadi mengapa Anda menyembuhkan saya?" tanya Dion kepada gadis itu. Via mengeluarkan benda dari sakunya, ia sedikit memutar masing-masing benda itu di tangannya. "Karena saya tertarik dengan peluru yang masuk ke tubuh Anda, sekilas peluru ini memiliki tekstur yang sangat aneh, menurut saya, orang yang terkena peluru ini akan menderita lebih banyak rasa sakit daripada saat terkena peluru biasa," ucapnya sambil memperlihatkan peluru itu kepada Dion. Mendengar itu Dion menyipitkan matanya dan menatap heran ke arahnya. "Dia sangat defensif sehingga dia ingin mengambil peluru itu, jadi dia menyelamatkan saya," batin Dion. "Saya akan dipindahkan dari sini setelah tujuh jam lagi?" tanya Dion kepada dokter itu. Via dengan tenang menjawab, punggungnya masih bersandar di dinding. "Ya, Anda baik-baik saja, pada tujuh jam berikutnya Anda akan dipindahkan dari ruang ICU, saya sudah menjawab pertanyaan Anda, tugas saya selesai dan saya pergi dulu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN