Dion menoleh untuk melihat Andreas, pria itu segera memahaminya, dengan cepat Andreas menghentikan langkah wanita itu. Via mengerutkan kening dan berbalik.
"Ada apa?" tanya Via sambil melotot ke arah mereka.
Dion, Andreas, dan bawahannya yang lain kagum, pertama kali mereka melihat seseorang yang berani melotot, pertama tadi yaitu menutup telepon lebih dulu dengan ucapan yang ketus kepada Andreas membuat ia menjadi semakin tertarik kepada gadis itu. Via tiba-tiba menunjukkan ekspresi menang, ia mengangkat kedua alisnya.
"Dion Christ? Apakah Anda pemimpin Macan Hitam?" tanya Via memastikan. Dion dengan wajah cerah sambil tersenyum menyeringai menjawab pertanyaan gadis itu.
"Ya! Tolong beritahu saya apa yang Anda inginkan?" tanya Dion dengan bangga.
"Saya tidak menginginkan apa pun, meskipun saya tidak sekaya Anda, tetapi saya tidak kurang dalam kehidupan dan saya tidak ingin memiliki hubungan dengan kalian untuk menghindari bencana. Intinya, saya tidak ingin segera mati. Apakah Anda paham?" ucap Via dengan dingin kemudian meninggalkan ruangan.
"Selidiki gadis ini!" perintah Dion dengan dingin kepada asistennya—Andreas.
"Baik Tuan," jawab Andreas.
***
Via keluar dari Ferrari merah miliknya, ia memakai gaun berbahan sifon berwarna kuning pucat, rambutnya tergerai sampai ke punggung dan ia memakai sepatu hak tinggi berwarna putih ia tampak lembut dan anggun tetapi tidak kalah mewah. Pengawal yang berdiri di depan mansion melihatnya datang, dengan cepat ia pergi ke arah mansion.
Di dalam mansion, seorang gadis dengan wajah cantik, pipi tembem tetapi sosoknya menarik yang mematikan dan mengenakan setelan ketat hitam—sedang minum teh dengan sosok feminis-nya, pengawal itu mengatakan bahwa ada seseorang yang datang.
"Nona Via yang datang," ucap pengawal itu.
Ketika Manda mendengar ia datang, ia dengan senang hati bangkit dan berjalan keluar dengan cepat. Melihat Via, Manda langsung berlari untuk memeluk Via dengan gembira.
"Mengapa kamu baru datang hari ini? Aku bahkan tidak bisa menemuimu," ucap Manda kepada sahabatnya.
Keduanya dengan senang hati masuk ke mansion tempat Manda tinggal. Via duduk bersandar di sofa sambil menyilangkan kakinya, Manda duduk di sampingnya. Via memandang temannya dan mengeluarkan peluru dari tasnya.
"Aku ingin memberimu hadiah," ucapnya sambil memberikan peluru kepada temannya. Manda mengerutkan alisnya dan mengambil peluru itu dengan cepat, matanya berbinar-binar melihat benda itu.
"Ini peluru Willow? Kenapa kamu bisa memilikinya? Apa kamu mendapatkannya karena mereka menyentuhmu secara s*****l?" tanya Manda penasaran.
"Tadi malam, saya adalah tim yang menyelamatkan nyawa Dion Christ, dia ditembak hingga empat peluru, yang merupakan amunisi semacam ini," jelas Via. Mendengar itu Manda terkejut, ia mencoba mengingat siapakah nama itu.
"Dion Christ? Apakah dia pemimpin Macan Hitam?" tanya Manda sambil sedikit berteriak. Via berkedip dan mengangguk.
"Apakah Anda tidak begitu tertarik dengan jenis peluru ini? Apakah saya harus membawa Anda ke pusat s*****a, untuk membantu Anda meneliti peluru ini," sindir Via kepada temannya. Lantas Manda langsung memeluk Via dan memandang sahabatnya itu.
"Via-ku memang yang terbaik," ucap Manda.
***
Di ruang VIP rumah sakit, Andreas memasuki ruangan untuk menemui Dion dan memberikan semua informasi tentang Via kepada majikannya.
"Tuan, dr. Via berusia 23 tahun, ayahnya adalah seorang koki, ibunya adalah seorang perancang busana terkenal. Dia memiliki saudara perempuan yang merupakan seorang pianis. Menurut informasi yang saya dapatkan bahwa mereka semua tinggal di kota A. Dr. Via juga mempunyai teman dekat bernama Manda, pemimpin Merpati Putih."
Setelah mendengar penjelasan dari asistennya, Dion tampak menepiskan senyuman penuh kemenangan.
Via kembali ke rumah sakit, ia baru saja masuk ke rumah sakit, tetapi ia diseret oleh Andreas untuk menemui Dion. Via diseret dari luar ke kamar dengan dua penjaga di tangan sebelah kanan dan kirinya. Di dalam sana, ada Andreas dan Evans yang menahannya agar ia tidak bisa keluar.
"Apa yang Anda inginkan?" tanya Via dengan ketus kepada Dion. Dion hanya tersenyum kecut dan menatapnya dengan tatapan mematikan.
"Aku ingin kamu menjadi wanitaku," ucap Dion sambil menatap Via.
"Apa Anda gila?" tanya Via dengan dingin. Setelah mendengar bahwa Via ingin menolak, Andreas menatap gadis itu heran.
"Dia gila? Apakah selalu membingungkan ketika wanita dikejar? Gadis kecil ini, ketika Anda mengoperasinya tadi, apakah Anda mengambil otaknya?" Andreas marah sambil melotot ke arah Via.
"Anda berani mengatakannya kepada Tuan Dion seperti itu? Tahukah Anda berapa banyak wanita yang ingin bersama dia? Jangan asal bicara, Anda tidak tahu karena tindakan Anda akan berakhir baik atau buruk!" lanjut Andreas marah. Via berdecak kesal, ia bertepuk tangan tanpa rasa takut.
"Bagaimana jika saya tidak tahu baik atau buruk? Apa yang bisa Anda lakukan pada saya?" tentang Via balik. Dion tersenyum, ia tidak hanya tidak marah, tetapi minatnya kepada gadis itu semakin meningkat.
"Apakah Anda tahu, bagaimanapun kamu menentangku, itu tidak akan membuahkan hasil yang baik?" ucap Dion, suaranya yang mantap terdengar. Via tersenyum kecut dan kemudian menatapnya kembali.
"Kalau begitu saya juga ingin melihat hasil apa yang akan saya peroleh saat melawanmu?" tentang Via lagi. Dion secara bertahap kehilangan kesabaran terhadapnya, auranya semakin dingin dan mencekam.
"Anda harus ingat hanya satu kata dari saya. Saya tidak akan membiarkan orangtua dan saudara perempuan Anda hidup dengan nyaman, bahkan tidak sama sekali!" tegas Dion. Via tenang seolah-olah tidak ada yang terjadi, kata-katanya padanya lewat begitu saja di telinganya, ia tersenyum menyeringai.
"Itu hanya ancaman sederhana, tapi saya bukan tipe orang yang suka diintimidasi oleh orang lain," tegas Via kemudian berbalik untuk pergi.
Andreas bergegas untuk menanganinya, ia menghadang langkah gadis itu. Dengan gesit, Via menatap dengan tatapan yang sangat dingin dengan tangan kirinya meremas leher Andreas, pria itu meringis kesakitan. Padahal, Andreas adalah pria yang kuat, biasanya Andreas hanya bisa menjentikkan jarinya untuk menangani lawannya, tetapi kini ia dikalahkan oleh perempuan. Dion dan Andreas tidak menyangka, seorang gadis bisa memiliki kekuatan yang luar biasa. Via memancarkan aura dingin yang membuat orang lain tidak merasa dingin melainkan gemetar ketakutan.
"Aku benci orang yang menghalangi jalanku."
Setelah mengatakannya, tangannya melepaskan cengkeraman dari leher Andreas. Bahkan sidik jari Via membekas di leher Andreas—sangat menyakitkan. Andreas benar-benar ketakutan di hadapan Via, kecuali Dion.
"Untuk pertama kalinya saya benar-benar takut kepada seseorang, dan ini wanita," ucap Andreas dalam hati.
"Lagi pula, apa yang kamu ingin aku lakukan, yang akan membuatmu menerima menjadi wanitaku?"
Dion berkata dengan suaranya yang pelan sementara bayangan gadis itu meninggalkan matanya, tetapi ia masih tidak bisa meninggalkan tempat tidur rumah sakit itu. Via mendengar ucapan pasien itu, ia berbalik.
"Apakah Anda benar-benar ingin saya menjadi kekasih Anda, seperti itu?" tanya Via sambil menyipitkan matanya. Dion menganggukkan kepalanya dengan ringan, Via berkata sambil tersenyum.
"Baiklah! Jika Anda dapat menjawab tiga pertanyaan saya, dan membuat saya mendengarnya dengan telinga saya sendiri, saya akan menerimanya."