Dari raut wajah Lily tampak sedih menceritakan tentang kisah hidup seorang dokter berbakat itu.
"Mereka bukan seperti orangtua kandungnya, dan dia tahu itu," tutup Lily menceritakan semuanya, Dion menatapnya dengan mata dingin, Lily mengerti itu kode yang bermaksud menyuruhnya untuk segera turun dari mobil.
Andreas, Evans, dan Harry masuk ke dalam mobil, melihat ekspresi buruk boss-nya, mereka bertiga tidak berani mengatakan apa pun, hanya duduk diam, kemudian Evans melajukan mobil itu. Dion duduk diam beberapa saat, lalu memerintahkan sesuatu.
"Periksa seorang pria yang bernama Jenderal Shen untuk saya."
"Baik," jawab Andreas sambil mengangguk.
***
Via pergi ke mansion milik Manda, gadis itu datang menjemput temannya dari depan mansion dan melihat wajahnya yang tidak sedap dipandang, ia langsung prihatin sekaligus penasaran.
"Ada apa? Wajahmu tampak kusut," tanya Manda kepada temannya. Via duduk di sofa, ia menghela napas dalam-dalam.
"Mereka masih mencari aku."
Manda mengerutkan kening, tak perlu ia tanya, ia sudah tahu siapa mereka.
"Mengapa mereka mencari kamu?" tanya Manda kesal.
"Mereka mencariku karena mereka ingin aku melayani seorang pengusaha untuk biaya rumah sakit. Aku juga dimintai oleh mereka harus mengoperasi gadis itu."
"Ada apa dengan dia?" tanya Manda penasaran.
"Lengan kirinya mengalami patah tulang, aku sudah meminta tim bedah menyambungkan kembali, tetapi keluarga itu menolak," ucap Via.
"Apakah otak mereka bermasalah?" ucap Manda sambil tertawa mengejek.
"Tangannya bisa dioperasi oleh dokter lain, tapi mereka takut pembedahan tidak berhasil. Mereka lucu, tidak percaya pada dokter lain, timnya bukan satu orang. Mereka mudah mengatakan maaf kepadaku, bahkan jika gadis itu berlutut untuk memohon agar aku mengoperasinya, aku tidak akan membantu."
"Itu baru teman sejati Manda," ucap Manda bahwa temannya adalah contoh yang baik dan pantas diacungi jempol.
Tiba-tiba, ekspresi Manda berubah, matanya tidak berkedip menatap leher Via.
"Via! Itu kenapa lebam?" tanyanya sambil menunjuk bekas gigitan anjing tadi malam.
"Aku sudah dimakan olehnya," ucap Via tidak menyembunyikannya, ia berkata jujur. Manda membelalakkan mata, terkejut.
"Beraninya dia!" teriak Manda marah.
"Dia juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas kejadian tadi malam. Aku diberi obat oleh Bang Bang, dia juga menyelamatkanku. Aku lebih baik dimakan oleh dia daripada oleh orang tua itu," ucap Via.
"Jadi, dia yang menangani Bang Bang?" tanya Manda. Via menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Angel yang mengurusnya," jawabnya singkat. Manda mengangkat alisnya dan membuka mulutnya.
"Cepat banget? Berita menyebar dengan cepat bahkan lebih cepat dari yang aku tahu," ucap Manda terkejut.
Tak lama kemudian, telepon Via berdering. Di layar teleponnya yang menampilkan nama Angel, ia menjawab telepon itu dan mendengarkannya.
"Halo. Tim ada di bandara, cepat datang dan sapa segera," Angel berkata dengan suara yang indah kemudian menutup teleponnya. Via belum sempat berbicara, ketika Angel mematikan telepon. Via berdiri dengan wajah bahagia dan berteriak kepada Manda.
"Angel kembali ke sini. Dia di bandara."
"Apa? Ayo cepat kita ke sana," jawab Manda terkejut.
Mereka berdua cepat-cepat meluncur ke bandara, di bandara mereka berdua mencari Angel, tampak Angel melambai dari jauh memanggil dua orang itu.
Manda dan Via dengan cepat menghampiri Angel, mereka berpelukan begitu gembira. Via menarik tangan Angel ke dalam mobilnya. Angel duduk di dalam mobil dan mengangkat wajahnya melihat Manda.
"Cepat masuk mobil, apa Bibi mau berdiri saja di sana?" ledek Angel kepada Manda karena khawatir terhadap cara orang yang menyetir mobil itu—Via.
"Apa yang kamu takuti? Ini hukumannya karena Manda melindungi orang yang diadili kemarin, berulang kali seperti itu bisa jadi kebiasaan," ucap Via. Mendengarkan kata-kata Via dan Manda, ini membuat Angel sedih, ia ingat kenangan mereka dulu saat bersama dalam Gedung Marpati Putih.
Mereka tiba di kediaman Manda—mansion yang sekaligus mereka sebut sebagai Gedung Merpati Putih. Mata Angel takjub dengan mansion itu.
"Ini masih sama seperti dulu meskipun aku sudah lama tidak kembali," ucap Angel terus memandangi bangunan itu. Mereka bertiga masuk dan duduk di sofa.
"Berapa lama kamu akan tinggal di sini? Aku juga tidak bisa menjamin keselamatanmu," ucap Manda.
"Pemimpinnya adalah putri seorang mafia, yang harus bersembunyi di mana-mana karena selalu diburu oleh mereka, aku benar-benar tidak tahu kapan tanggal kematianku," ucap Angel sambil tertawa, menertawakan dirinya sendiri.
Via menarik Angel ke sisinya, gadis itu bersandar di bahu Via dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya, Via mencoba menghibur dan meyakinkan temannya.
"Enak saja! Kamu pasti akan hidup sampai tua dan tidak akan mati. Tidak peduli bagaimanapun, aku pasti tidak akan memaafkan dua orang jahat itu," ucap Via sambil mengelus rambut temannya. Telepon Via tiba-tiba berdering lagi.
"Kamu di mana? Aku akan datang untuk menjemputmu. Malam ini aku ada janji untuk makan malam dengan seseorang. Aku ingin mengajakmu ikut denganku,” ucap seseorang dari dalam teleponnya. Via mendengar suara pria itu, di dalam hatinya merasa sedikit bahagia.
"Aku di Gedung Merpati Putih," ucap Via kemudian mengakhiri panggilannya.
Setelah mendengar ini, Dion diam seribu bahasa dengan ekspresi dinginnya yang membuat orang lain menjadi segan. Ia tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini sebelumnya, duduk di mobilnya dengan wajah menahan amarah.
"Ke Gedung Merpati Putih," ucapnya kepada Andreas.
Via langsung memberikan kunci mobil Ferrari merahnya kepada Angel.
"Selama kamu tinggal di sini, kamu pakai saja mobilku jika kamu mau pergi keluar, dan jangan lupa bawa lebih banyak pengawal," ucap Via. Angel menganggukkan kepala.
"Yang baru saja meneleponmu, itu Dion?" tanya Angel sambil mengerutkan kening. Via mengedipkan sebelah matanya kemudian mengangguk.
"Suatu saat aku harus melihatnya, seperti apa orangnya," ucap Angel sambil cemberut.
Setelah beberapa saat, ada seorang pengawal dari luar masuk terburu-buru.
"Nona … di luar, ada ketua Christ Corporation, ia mengatakan bahwa dia datang untuk menjemput Anda."
Mereka bertiga melangkah keluar, pada waktu yang sama, Via berjalan menuju mobil, dan Andreas membukakan pintu baginya untuk masuk. Manda dan Angel berdiri di pintu luar. Angel menilai Dion dan yang lainnya. Di lain sisi dirinya, diam-diam ia memuji dalam hati.
"Gila! Sangat karismatik, memang seperti orang yang dingin dan kejam. Tapi menurutku ia pasti tunduk dan menyerah pada Via," batin Angel.
Di dalam mobil, Dion menatapnya dan bertanya. "Apakah kamu punya teman lain selain Manda?"
Via mengangguk, kemudian menoleh untuk melihatnya.
"Mengapa kamu harus mengajakku untuk makan bersama orang lain?" tanya Via sambil menyipitkan mata. Dion tersenyum tipis, kemudian mengangkat alisnya.
"Kamu juga akan tahu nanti," jawab Dion.
Setelah beberapa saat, mobil diparkirkan di depan sebuah restoran mewah, Andreas membukakan pintu mobil untuk mereka berdua. Dion berjalan turun terlebih dahulu dan kemudian Via mendekat ke arahnya. Mereka berdua memasuki ruang makan VIP, Via berhenti, tangannya mengepal karena amarah yang mendidih hingga gemetar saat melihat orang itu ada di dalam.
Pria yang di dalam begitu sumringah, bergegas keluar untuk menyambut mereka berdua, Dion dengan dingin memandang pria itu.
"Jenderal Shen, maaf sudah menunggu lama," ucap Dion. Jenderal Shen sebenarnya merasa kesal tetapi mulutnya masih bisa tersenyum.
"Oh tidak. Tidak menunggu lama. Aku merasa sangat terhormat bisa makan bersama Anda," jawab orang tua itu.
Via duduk di samping Dion, sedangkan Jenderal Shen duduk di seberang dua orang itu, ia menatap Via dengan saksama.
"Wanita di samping Tuan Christ, saya merasa wajah Anda sangat tidak asing, tapi tidak tahu saya telah bertemu Anda di mana?" ucap Jenderal Shen kepada Via.
Dion yang duduk di dekat Via, ia segera memeluk bahu wanita itu
"Namanya Vialetta, dia adalah pacarku, apakah Paman Shen mengenal pacarku?"
Jenderal Shen, yang baru saja mendengar namanya, ia terkejut, ia takut akan balas dendamnya di masa lalu.
"Kamu tahu Nona adalah putri teman lamaku," ucap Jenderal Shen sambil mencoba tertawa. Dion mengangkat alisnya sambil tersenyum menyeringai.
"Oh … tapi sejauh yang aku tahu, pacarku memiliki perselisihan yang mendalam dengan Jenderal Shen."
Keringat Jenderal Shen membasahi wajahnya, seluruh tubuhnya gemetar. Dion tersenyum lebih jahat sambil menatap kekasihnya.
"Apakah kamu ingin menyelesaikannya juga di sini?" ucap Dion kepada kekasihnya. Wajah Via sedingin es menatap ke arah Jenderal Shen.
"Ini restoran? Kamu ingin aku berurusan dengannya di sini. Apakah ini tidak masalah?" ucap Via kepada Dion sambil menatap penuh amarah ke arah Jenderal Shen.
Pria tua itu ketakutan, Via beranjak dari kursinya di lantai dengan gemetar karena amarah. Dion mengelus rambut pria tua itu.
"Tidak ada masalah sama sekali, bunuh atau bebaskan dia," ucap Dion dengan sorot mata tajam. Via menyeringai—senyuman yang membuat orang lain merasa ketakutan.
"Baik," jawab Via dengan lembut.