Manda mengerutkan kening, ia takut temannya akan begitu jatuh cinta pada seorang pria. Ia mulai menasihatinya.
"Aku tidak keberatan dengan siapa kamu bersama, tetapi kamu harus memikirkan dia layak atau tidak. Apa kamu masih menyukainya? Angel pernah mendengar bahwa Sinclair mengakui bahwa dia bahagia dan dia tidak tertarik pada lawan jenis. Dia menyukai laki-laki atau homoseksual dengan Ming Chandra. Tapi mereka berpura-pura sebagai sahabat. Kamu harus lebih hati-hati pada Dion," Manda menyipitkan matanya dengan wajah seriusnya.
"Apa lagi ini?" Angel berkicau sambil tertawa terbahak-bahak.
"Jangan menaruh dendam pada laki-laki, terutama yang berada di sebelah Dion ini, adik kecil kamu. Oh ya Via, kamu mengatakan bahwa teman Dion ada empat orang. Apakah kamu tidak akan mengenalkan mereka kepada teman-temanmu ini?" ucap Angel. Via tertawa, kemudian ia mengacungkan jempol.
Di sebelah Angel, tampak wajah Manda sedikit cemberut. Telepon Via berdering, ternyata Harry yang memanggilnya. Via menyentuh layar untuk mendengarkan suara Harry.
"Nona, saat ini waktunya lomba balap, silakan datang ke sini," ucap Harry dengan hormat.
Hanya mendengar tentang balap tak ada pikirannya yang mencegah untuk ragu, pikiran itu langsung setuju.
"Ya! Saya akan segera datang," jawab Via dengan semangat. Ia berdiri dengan gembira dan pamit kepada dua orang di sana.
"Aku ada pekerjaan, aku harus pergi dulu. Bye bye," ucap Via. Tidak menunggu Manda dan Angel mengatakan apa pun, ia segera melangkah keluar dan langsung berkendara ke arena balap.
Untungnya, hari ini Via mengenakan celana hitam dan t-shirt jadi dia tidak perlu mengganti pakaian dengan yang lain. Via pergi ke tempat Dion berdiri, ia menyilangkan tangan sambil tersenyum menyeringai.
"Tidak salah menyuruhku datang ke sini?" tanya Via kepada kekasihnya. Harry yang menjelaskan kepadanya.
"Nona, saat ini, Christ Corporation ingin bekerja sama dengan Billion Corporation tetapi Tuan Billy berkata bahwa jika Tuan Dion bisa bertanding dengan putranya, Tuan Dion akan disetujui bekerja sama dengan perusahaan pria tua itu. Saat ini, hanya satu orang yang hebat dari pihak kami dalam balapan, jadi saya meminta Anda untuk datang. Selain itu juga, putranya Tuan Billy bukan pembalap biasa, saya saja hampir tidak bisa memenangkan pertandingan jika dia ikut dalam pertandingan itu."
Ronald Billy—putra dari ketua Billion Corporation berjalan ke tempat Dion dan yang lainnya berdiri ia berteriak kepada Dion.
"Paman! Apakah kamu sudah menemukan seseorang?" teriak Ronald.
Via menyeringai, ia berbalik untuk melihat Ronald, suara itu terdengar menghina dan mengejek mereka.
"Oh …. Bukankah ini Ronald? Tanpa diduga kita akan bertanding lagi. Hari ini Ronald Billy ingin kehilangan supercar lainnya? Mobil-mobil sebelumnya dari Anda saya gunakan dengan sangat baik," ucap Via. Ronald yang melihatnya, ia hanya berdiri mematung. Ia takut akan kehilangan mobilnya lagi.
"Lawan saya adalah Anda?" tanya Ronald gugup. Via melihat wajahnya seperti itu, ia merasa sangat puas.
"Benar! Lawanmu hari ini adalah aku, ayo cepat ke sana," jawab Via dengan semangat.
Para pengendara melihatnya, mereka terkejut, gemetar dan dengan gugup melangkah ke dalam mobil. Via melangkah ke dalam mobil sambil memegang setir.
"Jangan mempersulit, biarkan Tuan-mu yang memimpin. Kita harus menang," ucap Via kepada setir mobilnya.
Supercar milik Via mulai berputar, kecepatannya sangat lamban, mobilnya sengaja melambat untuk memungkinkan mobil saingannya berlari lebih dekat dengannya. Dengan paksa Via menjatuhkan mobil itu lalu ia meningkatkan kecepatannya lagi, dengan sangat cepat ia melaju.
Setelah sampai digaris finish, wanita itu dengan angkuh keluar dari mobil, ia pergi ke arah Ronald sambil mengangkat alisnya dengan jelas. Ronald mengerti dengan kode itu, ia segera memberikan kunci mobilnya.
"Ini …" ucap Ronald sambil memberikan kunci supercar itu kepada Via. Ronald berjalan menuju Dion dengan wajah yang ditekuk.
"Sepertinya Anda beruntung, jika bukan karena Ratu Balap, pasti bukan Anda yang menang," ucap Ronald kepada Dion. Harry melotot ia tersentak kemudian berbalik untuk melihat Ronald.
"Ratu Balap?" tanya Harry bingung. Ronald mengerutkan kening heran.
"Anda tidak tahu siapa dia? Jadi, mengapa Anda mengundangnya?" tanya Ronald kepada mereka. Dion bersandar pada mobilnya sambil kakinya disilangkan, dan dengan tenang berkata seolah-olah ia adalah orang setenang itu.
"Dia wanitaku," ucap Dion santai.
Dion blak-blakan, para pembalap di sana setelah mendengar itu, langsung mengeluarkan ponselnya untuk memposting berita terbaru ke dunia balap, bahwa Ratu Balap adalah kekasih ketua Christ Corporation. Ronald tak bisa berkata apa-apa lagi ia hanya berbalik dan pergi begitu saja.
Tatapan Harry penuh kekaguman terhadap idolanya. Via sekilas memandang Harry.
"Kamu tahu Nona, kecuali Tuan Dion, ada dua orang lagi yang sangat aku idolakan, yaitu dokter berbakat, Dokter Via, dan yang satu lainnya adalah Ratu Balap, tetapi di luar dugaanku dua orang tersebut ternyata orang yang sama, dan dia adalah kekasih dari Tuan Dion," ucap Harry dengan mata yang berbinar menatapnya.
"Nona! Bisakah Anda menerima saya sebagai murid Anda?" ucap Harry memohon tanpa berkedip sedikit pun. Andreas dan Evans tertawa terbahak-bahak melihat orang yang tidak berkedip sama sekali itu. Via juga tertawa melihatnya.
"Ya," jawab Via singkat.
"Mulai hari ini Anda adalah majikanku yang juga jadi adik ipar pertamaku," jawab Harry dengan senang bukan main.
Begitu Dion mendengar kata-kata ipar Dion memelototi pria itu, Andreas dan Evans juga memelototi Harry, Harry tahu bahwa ia telah salah berkata, ia segera menutup mulutnya, diam-diam Via melihat mereka semua yang sedang memelototinya, tampak pria itu menunjukkan wajah cemberut.
"Kamu tidak perlu berbakti kepadaku, tidak perlu menganggapku sebagai majikanmu," ucap Via kemudian melemparkan kunci mobilnya ke arah Harry.
"Kamu yang menyetir mobilku, bawa pulang," ucap Via.
Via, Harry, dan yang lainnya juga bangkit dan pergi ke tempat parkir di mana terparkir mobil baru milik Via hasil pertandingan tadi. Harry menekan tombol pada kunci mobilnya. Lamborghini hitam mengeluarkan suara, Harry bingung.
"Nona, bukankah mobil Nona sebelumnya tidak seperti ini?" tanya Harry.
"Kamu lupa aturannya?" tanya Via balik. Harry mengangguk pelan, ia membelai dadanya, untungnya ia tidak pernah menantang Via jika ia berani menantangnya balapan sudah dipastikan dirinya bangkrut, pikir Harry. Via masuk ke dalam mobil dan pergi pulang, Harry yang mengendarai mobil itu.
"Apa aturannya?" tanya Dion kepada Harry sambil mengernyitkan keningnya. Harry dengan hormat menjawab pertanyaan boss-nya.
"Tuan, aturannya adalah bahwa mereka yang kalah harus memberinya mobil paling mahal yang dimiliki orang itu kepada pemenangnya dan sebaliknya jika dia menang, itu akan menambah jumlah mobil termahal yang dimilikinya. Tapi aku juga tahu Nona tidak pernah kalah sebelumnya."
Sesampainya di mansion, mereka duduk di meja makan berbentuk bundar itu, makanan lezat telah terhidang di meja mereka, sambil memakannya, Via menatap ke arah kekasihnya.
"Dion, ada yang ingin kutanyakan padamu," ucap Via. Dion mengangkat wajahnya seperti terkejut.
"Apa?" tanya Dion. Via terkekeh melihat ekspresi pria itu.
"Aku ingin memintamu membiarkan beberapa detektif yang menyamar untuk melindungi temanku, Angel," ucap Via dengan cepat.
"Keamanan? Bukankah temanmu sudah memiliki pelindung di Gedung Merpati Putih?" tanya Dion balik.
"Meskipun ada Manda, aku masih memiliki sedikit kegelisahan, bahaya selalu menguntitnya," ucap Via. Dion menatap wajah kekasihnya yang khawatir dan menyedihkan.
"Tapi sebelum mereka melindunginya, aku ingin memeriksa orang-orang itu terlebih dahulu agar pikiranku tenang," ucap Via lagi. Dion tertawa sambil sedikit mengangguk, setelah makan Via berjalan ke kamar.
Sedangkan Dion memanggil Evans untuk mengatur beberapa orang untuk diberikan tes terlebih dahulu sebelum bertugas melindungi Angel.